News

  • Dr Afton Atabany, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan (IPTP-Fapet) berbagi tips terkait kepakarannya dalam budidaya kambing perah khususnya kambing peranakan Etawah.

    Indonesia mempunyai kambing lokal yaitu kambing kacang. Kambing jenis ini sedikit memproduksi susu dan lebih diutamakan untuk ternak penghasil daging. Bangsa-bangsa kambing tersebut yang berasal dari Eropa dan India sudah banyak dipelihara di Indonesia dan memproduksi susu. Akan tetapi perkembangannya kurang bagus karena iklim di Indonesia adalah beriklim tropis dengan suhu lingkungan panas dan lembab. 

    “Kambing kacang dikawin tatar (up grade) dengan kambing Etawah dari India menjadi kambing peranakan Etawah (Etawah Grade) yang bertujuan untuk menghasilkan susu. Kambing peranakan Etawah telah banyak dipelihara oleh peternak karena kambing jenis ini lebih mudah beradaptasi dan produksi susu yang dihasilkan lebih menguntungkan. Kambing oeranakan Etawah tergolong kambing dwiguna karena mampu memproduksi susu dan daging yang baik,” tutur Dr Afton.

    Budidaya kambing perah terdiri atas pembibitan, pembiakan, pembesaran dan penggemukan. Budidaya ternak kambing perah akan memproduksi susu dan anak. Ternak untuk memproduksi susu adalah ternak betina dan akan memproduksi susu setelah induk ternak beranak. Produk susu menjadi pendapatan harian dan anak kambing menjadi pendapatan tahunan. Pada budidaya kambing perah ternak yang paling banyak dipelihara adalah ternak betina.

    Untuk itu, menurut Dr Afton, dalam beternak kambing perah, sebaiknya memilih program ternak pembibitan. Karena selain produksi susunya tinggi, juga akan menghasilkan anak ternak betina dan jantan untuk peningkatan populasi ternak kambing perah berkualitas tinggi.
    Pemeliharaan kambing Peranakan Etawah harus secara intensif, yaitu dengan memelihara ternak di dalam kandang dan rutin memberi pakan. Peternakan kambing perah secara intensif berguna untuk meningkatkan produksi, karena ternak lebih mudah dikendalikan secara manajemen. Peternakan kambing peranakan Etawah sebagian besar dilakukan di Pulau Jawa, hanya sebagian kecil dilakukan di luar pulau Jawa. Salah satu alasan utamanya adalah karena potensi pasar yang tinggi serta kemudahan dalam penjualan susu kambing serta penjualan bakalan kambing.

    “Beberapa keunggulan berbudidaya kambing perah jika menggunakan kambing peranakan Etawah bila dibandingkan dengan ternak kambing perah lainnya adalah kambing peranakan Etawah lebih adaptif dengan kondisi iklim di Indonesia yang beriklim tropis,” ujarnya.

    Keunggulan lainnya adalah Kambing peranakan Etawah bersifat dwiguna yaitu mampu memproduksi susu melebihi kebutuhan anaknya dan juga sebagai kambing penghasil daging. Kambing ini juga mempunyai angka kelahiran yang tinggi dan mampu mempunyai anak kembar. Terdapat sekitar 10 persen yang mempunyai anak kembar empat. Selain itu, produksi susunya secara rata-rata adalah 0.99 kilogram per ekor per hari dengan masa laktasi 180 hari (6 bulan). 

    “Kambing oeranakan Etawah mampu mempunyai tinggi pundak 70 sentimeter pada betina dan tinggi pundak 90 sentimeter, sehingga terlihat tinggi. Bobot badannya dapat mencapai 70 kilogram pada ternak betina dan dapat mencapai 120 kilogram pada ternak jantan. Berat tersebut tergolong tinggi, sehingga mempunyai harga jual yang tinggi terutama saat hari raya Iedul Adha. Pemberian pakannya pun tidak sulit karena kambing jenis ini mampu mengkonsumsi pakan hijauan dan macam hijauan yang dikonsumsi lebih banyak jenisnya,” tuturnya.

    Namun menurut Dr Afton, ada beberapa kesalahan umum dilakukan oleh peternak kambing peranakan Etawah antara lain adalah pemilihan bibit untuk dipelihara tidak dilakukan menggunakan pencatatan (recording) tentang silsilah keturunan. Pemilihan lebih banyak menggunakan ciri-ciri dari postur tubuh luar dan tidak menggunakan pengukuran tubuh. Pencatatan oleh peternak sangat jarang dilakukan terutama pencatatan yang berkaitan dengan reproduksi dan produksi susu. Padahal recording ini sangat berguna terutama untuk meningkatkan produktivitas ternak serta untuk memperbaiki managemen pemeliharaan.

    “Melihat keunggulan Kambing peranakan Etawah ini, saya berharap kambing ini bisa menjadi kambing perah lokal asli Indonesia dan menjadi galur tersendiri yang ditetapkan oleh pemerintah dan dapat didaftarkan pada Badan Internasional sebagai kambing perah asli Indonesia dan sebagai hak kekayan asli Indonesia. Selain itu, diharapkan kambing peranakan Etawah dijadikan sebagai sumber bibit ternak kambing perah dan dapat diekspor untuk dikembangkan di negara lain, dengan aturan ekspor yang sudah ditentukan oleh pemerintah,” pungkasnya (ipb.ac.id)

  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) berbagi peran dalam implementasi penelitian aksi Agromaritim 4.0 IPB tahun 2019 di Kabupaten Bojonegoro. Dr Aji Hermawan (Kepala LPPM IPB), Prof. Dr. Agik Suprayogi (Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Penelitian), Prof Dr. Muladno (Ketua Unit Sekolah Peternakan Rakyat/SPR LPPM IPB), Dr. Asep Gunawan (Koordinator Tim Peneliti IPB) melakukan silaturahmi dan sekaligus mengantarkan peneliti IPB kepada pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang diterima langsung Bupati, Dr. Hj. Anna Muawanah. 

    “Penelitian aksi Agromaritim 4.0 IPB pada tahun 2019 dilaksanakan di Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Mega Jaya, Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini diharapkan dapat  meningkatkan kemampuan sistem usaha peternakan di SPR Mega Jaya di era industri 4.0,” ujar Dr. Aji Hermawan. Dalam kesempatan yang sama, Prof. Agik menyampaikan konsep IPB dalam membangun SPR di Kabupaten Bojonegoro juga sekaligus  mengurai tentang prinsip kerjasama empat-serangkai “Quadriple-Helix” atau (ABGC) yang lebih mengedepankan pada prinsip berbagi peran dan tanggungjawab. Capaian keluaran dari penelitian aksi ini adalah terbangunnya SPR Mega Jaya menuju peternakan unggul dan modern dalam 3-4 tahun ke depan.  “Hal ini dicirikan dengan hadirnya berbagai teknologi inovasi diantaranya e-ID ternak, sistem manajemen peternakan berbasis digital, kecukupan pasokan air dan pakan ternak, dan model lanskap ekowisata pendidikan,” ujarnya.

    Pemilihan SPR Mega Jaya dipilih sebagai lokasi penelitian aksi Agromaritim IPB karena sudah lulus sekolah sesuai standar pembinaan dari LPPM IPB. Kesiapan ini disampaikan Prof. Muladno selaku Ketua Unit SPR LPPM IPB, “SPR Mega Jaya di Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro telah mendapatkan Piagam “Karya Satwasentosa” dari IPB pada tahun 2017 yang berarti SPR ini telah lulus sekolah sesuai standar pembinaan dari LPPM IPB, dan kelulusan SPR ini merupakan modal untuk terus berkembang menuju peternakan unggul dan modern berbasis Agromaritim 4.0-IPB,” jelas Prof. Muladno.

    Bupati Bojonegoro, Dr. Hj. Anna Muawanah menyambut dengan baik rencana penelitian aksi di SPR Bojonegoro dan mengucapkan terima kasih pada IPB yang telah proaktif sejak 2014 sampai sekarang memperhatikan peternak di wilayahnya. “Kami memahami peran IPB sangat besar dalam pengembangan SPR melalui kegiatan penelitian aksi yang akan dilaksanakan, mengingat hal ini memang sudah menjadi program Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bojonegoro, namun belum sempat terlaksana mengingat sumberdaya manusia kami belum siap menghadapi era industri 4.0, dan kami bersyukur bahwa IPB proaktif membantu kami,” lanjutnya. Bupati menyampaikan bahwa Pemda akan mengambil peran dalam upaya pengembangan peternakan unggul dan modern yang digagas oleh LPPM IPB.

  • Indonesia memiliki dua musim yakni musim penghujan dan kemarau. Kedua musim ini cukup memberikan dampak bagi sejumlah sektor pekerjaan. Salah satunya sektor peternakan. Pada musim kemarau, sebagian besar peternak di Indonesia sering mengalami permasalahan terkait pemberian pakan bagi hewan ternaknya. Daerah yang mengalami permasalahan tersebut merupakan daerah yang mengalami kekeringan dan tidak memiliki tanah yang subur di sekitarnya. Guna mengatasi permasalahan tersebut, mahasiswa IPB  University menggagas solusi untuk pakan ternak.

    Mahasiswa IPB University yang terdiri dari: Ananda Putri, Enita Indah, Ika Jenri, dan Farisky Adi Nugroho membuat sebuah produk dari pelepah sawit sebagai pakan ternak. Produk pakan ini berupa olahan pelepah sawit dicampur dengan tumbuhan indigofera yang dibentuk menjadi pellet. Pakan olahan ini merupakan  Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dengan judul “Pellet Sandiago (Pellet Pelepah Sawit dan Indigofera sp): Solusi Pakan Spesial pada Musim Kemarau” di bawah bimbingan dosen IPB, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc.

    “Di Indonesia masih mengalami banyak kekeringan saat musim kemarau, sehingga para peternak tidak bisa mencari rumput hijau saat musim. Maka dari itu, muncullah ide untuk membuat pakan ini dari pelepah sawit karena Indonesia memiliki banyak pohon kelapa sawit yang belum diolah dengan baik,” tutur Ananda selaku Ketua Tim Pellet Sandiago ini.

    Guna memperkaya nutrisi dari pelepah sawit, ditambahkan tumbuhan indigofera yang memiliki kandungan protein tinggi. Proses pembuatan yang dilakukan pun dimulai dengan mencacah pelepah sawit dan indigofera, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari dalam jangka waktu sekitar satu minggu untuk selanjutnya digiling menggunakan mesin. Usai digiling, pelepah sawit dan indigofera dicampurkan dengan bahan perekat dan tahap terakhir yang dilakukan adalah proses pelleting.

    “Sejauh ini, sasaran dari produk kami yakni peternak kecil maupun industri besar. Lalu, sistem penjualan kami lakukan dengan cara penjualan langsung kepada para peternak dengan harga Rp 3.000,- per kilogram,” tambah Ananda.

    Bahan utama dari produk ini yakni pelepah sawit yang digunakan karena ketersediaannya sepanjang tahun dan produksinya cukup melimpah di Indonesia. Selain itu, pelepah sawit memiliki kandungan sumber energi yang tinggi bagi hewan ternak. Dengan begitu, produk Pellet Sandiago diharapkan dapat membantu para peternak yang kesulitan mencari pakan saat musim kemarau tiba. “Selain itu, produk ini diharapkan mampu menjadi inovasi dan pakan baru di bidang peternakan untuk memenuhi kebutuhan hewan ternak,” tutup Ananda (ipb.ac.id)

  • Pakan adalah makanan yang diberikan untuk ternak. Zat terpenting dalam pakan adalah protein. Saat ini bahan pembuatan pakan sebagian besar berasal dari bungkil kedelai yang diperoleh  dari impor. Salah satu dosen Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Luki Abdullah mengembangkan pakan hijauan (green concentrate) berbahan utama berupa daun tanaman indigofera (polong-polongan) sebagai substitusi bungkil kedelai.

    Pakan indigofera mengandung protein tinggi, mampu meningkatkan target produksi ternak, mengurangi biaya produksi dan dapat diberikan pada hampir semua hewan ternak seperti : sapi, kambing, domba, unggas, kelinci serta ikan.

    Prof. Luki  mengungkapkan pemilihan tanaman indigofera sebagai substitusi pakan berbahan bungkil kedelai melalui tahap penelitian panjang untuk mencari bahan yang tepat. Awalnya banyak sekali kemungkinan dari tanaman lain, lalu terpilihlah tanaman indigofera yang  mengandung sekitar 60 persen dari asam amino bungkil kedelai. Selain itu, tanaman indigofera dipilih karena mudah diperoleh, mudah berbiji, mudah menghasilkan benih, mudah dikembangkan dan tersedia di Indonesia, sehingga dapat mengurangi impor.

  • Tim Program Matching Fund Kedaireka Fakultas Peternakan (Fapet)IPB University yang diketuai oleh Prof Iman Rahayu Hidayati Soesanto menggelar Internalisasi Program Kedaireka Tahun 2022 berjudul ‘Optimalisasi Produksi Pakan Bersuplemen Omega-3 Menghasilkan Pangan Fungsional’. Acara berlangsung di Auditorium Jannes Humuntal Hutasoit (JHH), Fapet IPB University (2/11).

    Wakil Rektor IPB University bidang Inovasi dan Bisnis, Prof Erika Budiarti Laconi dalam sambutannya menyampaikan, Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi (LKST) terus berupaya sebaik mungkin memfasilitasi kerjasama antara inventor dengan industri. Hal itu agar hasil inovasi atau karya para inventor bisa dikenang dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

    “Kerjasama antara para inventor IPB dengan dunia usaha (Industri) yang mendapatkan pendanaan Matching Fund Kedaireka harus bisa dirasakan manfaatnya, termasuk telur Omega-3 yang menjadi pangan fungsional dan sumber protein hewani terbaik sekaligus termurah untuk menyehatkan dan mencerdaskan masyarakat," ujarnya.

    Prof Iman Rahayu selaku Ketua Tim Kedaireka mengatakan, Program Optimalisasi Produksi Pakan Bersuplemen Omega-3 didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) dengan mengajak dunia usaha/industri untuk ikut bekerja sama.

    “Program dimulai sejak akhir bulan Juli hingga bulan Desember mendatang, diantara kegiatan yang dilakukan adalah produksi pakan ayam petelur (layer), produksi suplemen omega-3, produksi pakan bersuplemen omega-3, promosi dalam berbagai event diantaranya indolivestock di bulan Juli dan poultry Fashion Week di bulan Oktober,” ungkapnya di hadapan 100 peserta yang hadir.

    Ia menambahkan, pada event ILDEX mendatang (9-11 November), tim Kedaireka akan melakukan soft launching produk pakan bersuplemen omega-3. Selain itu, juga dilakukan kegiatan edukasi berupa webinar, workshop dan internalisasi. Kegiatan Mereka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang melibatkan 11 mahasiswa, 5 dosen pembimbing, 1 praktisi pembimbing dan 4 teknisi pendamping juga menjadi bagian dari program Kedaireka ini.

    Praktisi industri pakan, Indra Perkasa Siregar (Manager Indofeed) yang hadir sebagai narasumber mengungkapkan, krisis pangan saat ini mulai sering dirasakan. Padahal, produk-produk pangan, terutama yang berasal dari ternak sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat.

    “Saat ini masyarakat sudah lebih peduli terhadap pangan yang sehat, pangan fungsional yang tidak hanya mengenyangkan tapi juga menyehatkan. Telur omega-3 menjadi salah satu pangan fungsional yang mudah didapatkan. Selain itu, juga ada domba premium yang diberi pakan berupa pelet. Domba tersebut tidak berisik dan kandangnya pun tidak berbau,” terangnya. 

    Indra juga memberikan motivasi pada para mahasiswa untuk berani mengambil langkah menjadi pengusaha. Ia menekankan, dunia usaha terbuka lebar untuk para sarjana peternakan yang berani mengambil peluang.   “Jadilah yang pertama, jadilah yang membawa inovasi baru. Siapkan pondasi yang mantap dan kuat karena pesaing pasti akan selalu ada dan bermunculan,” pungkas Indra. (ipb.ac.id)

  • Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan PT. Holcim Indonesia Tbk mengadakan panen perdana kebun pembibitan hijauan pakan ternak, yaitu panen rumput gajah mini (odot) dan indigofera (18/1) di lahan bekas tambang Desa Nambo Kecamatan Klapanunggal Bogor.

    Sekretaris P2SDM LPPM IPB, Warcito, SP, MM mengatakan bahwa program bertajuk stasiun lapang agrokreatif pembibitan pakan hijauan ternak ini dirintis sejak tahun 2016. Program pendampingan yang dilakukan adalah mendampingi petani pengguna lahan PT. Holcim untuk menanam rumput gajah (odot) dan indigofera, sehingga para peternak sapi dan domba dapat dengan mudah mengambil untuk ternak peliharaannya. Selain itu, IPB juga mengembangkan skala usaha  pembangunan stasiun lapang agrokreatif untuk penggemukan ternak domba di wilayah kerja PT. Holcim Tbk.

    Manajer PT. Holcim Indonesia TbkEdi Prayitno menyampaikan program pembibitan rumput gajah mini (odot) dan indigofera merupakan upaya PT. Holcim Tbk dalam membantu menyediakan pakan ternak bagi peternak di sekitar wilayah kerja PT. Holcim Tbk. “Harapannya peternak dapat dengan mudah mencari dan mendapatkan makanan ternak atau  pakan untuk penggemukan ternaknya,” ujarnya.

  • Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (Dit. KSKP) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Divisi Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Antam (Persero) Tbk mencanangkan pengembangan hijauan pakan ternak, Selasa (5/1). Pencanangan yang mengambil tempat di Kebun Bukit Arroyan, Desa Antajaya, Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Bogor ini  diadakan dalam rangka menyongsong swasembada daging dan penguatan potensi ekonomi lokal.
     
    Direktur KSKP IPB Dr. Dodik Ridho Nurrochmat, mengatakan, untuk mendukung program nasional dan menyongsong swasembada daging, IPB mebuat model-model pemanfaatan lahan non-produktif melalui penanaman hijauan pakan ternak skala kecil. Kegiatan ini dilakukan di tiga titik desa yang berada dalam wilayah Kabupaten Bogor dan Sukabumi, diantaranya adalah Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya; Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari dan Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug.
     
    “Model ini akan dikembangkan dalam skala 50 hektar yang akan diimplementasikan secara bertahap. Dalam model pengembangan ini, IPB akan mendampingi petani dalam mengembangkan hijauan pakan ternak bekerjasama dengan PT. Antam yang akan memfasilitasi akses petani terhadap permodalan melalui penyaluran dana bergulir kepada petani,” ujar Dr. Dodik.
  • Bojonegoro (Antara Jatim) - Institut Pertanian Bogor (IPB) mendirikan sekolah peternakan rakyat (SPR) di Kecamatan Kasiman, Kedungadem dan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sebagai usaha membuat pembibitan sapi dengan memanfaatkan induk lokal.

    "IPB tidak akan mendatangkan induk sapi dari luar negeri, tetapi tetap memanfaatkan induk sapi lokal dalam melaksanakan pendidikan di tiga SPR," kata Guru Besar IPB, Prof Mulatno, dalam deklarasi pendirian tiga SPS di Bojonegoro, Rabu.

    Sesuai persyaratan, katanya, jumlah sapi induk di masing-masing SPR 1.000 ekor, yang dikelola 5.000 peternak, dengan masa pendidikan selama tiga tahun.

    "Sifat pendidikan tidak menggurui, sebab peternak sudah berpengalaman, sedangkan ahli peternakan IPB hanya berdasarkan teori," jelasnya.
  • Bogor - Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan budidaya telur semut rangrang (kroto) bernilai tinggi. Petani bisa mendapat laba bersih hingga 50 persen dengan harga jual berkisar dari Rp 30.000 - Rp 50.000.


    Mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB Abdul Rachman menerangkan, bahan yang digunakan yaitu bibit semut rangrang penghasil kroto sebanyak 10 koloni (5 kilogram). Adapun dua jenis pakan yang dipakai adalah cacing tanah dan tulang sapi serta air gula. Ketiganya diberikan secara rutin sebagai sumber energi semut rangrang.

    "Setelah 100 hari, kita dapat memanen setiap hari sekitar 3 kilogram kroto dan bisa dijual Rp 30.000 per kilo. Dan, budidaya semut rangrang tersebut relatif mudah serta tidak menyita waktu banyak," kata Abdul di Bogor, Rabu (13/8).

    Kroto adalah nama yang diberikan orang Jawa untuk campuran larva dan pupa semut penganyam Asia (terutama Oecophylla smaragdina). Campuran ini terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena larva semut populer sebagai umpan ikan, dan juga sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung berkicau.

    Budidaya semut rangrang penghasil kroto masih jarang dilakukan masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kurangnya penelitian dan pengetahuan mengenai pengembangbiakkan semut rangrang.(Sumber:Jakarta Globe)
  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2019, kembali meningkatkan kerjasama dengan Kabupaten Sukabumi dalam Pengembangan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR).  "Melalui kegiatan lapang di bidang peternakan, dalam hal ini membuka SPR  merupakan langkah awal dalam memajukan sektor peternakan, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya di daerah Sukabumi," kata Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Sugeng Heri Suseno  dalam acara diskusi dengan Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami di Pendopo Sukabumi, Jumat (8/3).

    Lebih lanjur Prof. Sugeng mengatakan, LPPM IPB memiliki program pengabdian kepada masyarakat untuk mahasiswa, dosen, dan alumni. Untuk mahasiswa, selain KKN juga ada kegiatan tematik seperti IPB Goes to Field, SUIJI-SLP, KKN-Kebangsaan, dan ASEAN-SLP.  "Sementara untuk dosen dan alumni, selain SPR juga ada program Klinik Pertanian Nusantara, Stasiun Lapang Agro Kreatif (SLAK), Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), IPB Cyber Extension-Tani Center, IPB Peduli Bencana, dan Kemitraan Lingkar Kampus," tutur Prof. Sugeng. Lebih lanjut dikatakannya, SPR yang merupakan program pengabdian dosen dan alumni bertujuan untuk mencerdaskan peternak melalui sekolah rakyat.

    Menanggapi hal tersebut, Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami menyampaikan, di wilayah Kabupaten Sukabumi banyak lahan yang belum termanfaatkan secara efektif. Dengan potensi tersebut, SPR dapat berkembang dengan baik dan membantu para peternak dalam meningkatkan kapasitas usahanya. Marwan akan melakukan penetrasi untuk menggali potensi tersebut melalui Dinas Peternakan.  “Mudah-mudahan  sekolah lapangan seperti Sekolah Peternakan Rakyat bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat, khususnya peternak dengan potensi yang ada di Kabupaten Sukabumi,” ujar Marwan.

    Marwan menambahkan, pemerintah daerah telah berupaya mendorong terwujudnya beberapa program peternakan di lahan perkebunan yang tidak terpakai. Salah satunya dengan mendirikan agrowisata yang di dalamnya terdapat peternakan sapi perah. Harapannya, dengan adanya kerja sama pengelolaan Sekolah Peternakan Rakyat dengan IPB dapat menjadi langkah awal dalam memajukan sektor peternakan. Melalui SPR diharapkan ke depan Kabupaten Sukabumi bisa menjadi sentra peternakan untuk sapi potong. Turut hadir dalam acara tersebut Ketua SPR LPPM IPB, Prof. Muladno (ipb.ac.id)

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University mengadakan pelatihan peningkatan capability stakeholder dalam bidang industri pakan dan peternakan secara hibrid di Ruang Sidang Departemen INTP, Sabtu (15/10). Kegiatan yang mengambil tema “Meningkatkan Produksi Ternak dengan Inovasi Wafer Pakan” ini ditujukan bagi mitra Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) IPB University, khususnya peternak se-Indonesia.

    Dalam pelatihan yang digelar Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) ini, Dr Idat Galih Permana, Dekan Fapet IPB University mengatakan pelatihan ini dalam rangka sosialisasi dan memperluas dampak positif atas inovasi para peneliti di Divisi Industri Pakan, INTP.

    “Tentu kegiatan ini tidak hanya berhenti sampai dengan produksi. Kita juga harus terus memperluas dan mensosialisasikan hasil inovasi ini kepada masyarakat guna mengatasi permasalahan penyediaan pakan yang berkualitas, baik hijauan maupun konsentrat,” ujar Dr Idat dalam sambutannya.

    Dalam pelatihan ini, hadir Prof Yuli Retnani, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan yang menggembangkan inovasi wafer pakan berbasis limbah pangan dari pasar. Ia menjelaskan bahwa inovasi ini dilatarbelakangi oleh ketersediaan pakan bersih berkualitas yang kurang memadai di daerah rawan pakan. Inovasi yang telah dikembangkan sejak 2009 ini dinilai mudah diolah, mudah didapat sepanjang musim, harga bersaing dan mampu mengurangi masalah lingkungan.

    “Kini produksi wafer pakan menggandeng PT Warbis sebagai solusi hilirisasi yang ditawarkan dengan izin edar terstandar. Solusi ini ditawarkan kepada para peternak, koperasi, asosiasi sebagai peternak binaan IPB University,” jelasnya.

    Prof Luki Abdullah, Guru Besar Fapet IPB University turut menjelaskan terkait sistem pengendalian yang terpadu pada produksi ternak melalui manajemen nutrisi dan pakan. Ia menilai perlu mengimplementasikan sistem ini karena salah satu komponen penting dalam sistem produksi ternak adalah pakan.

    “Sistem ini adalah pengendalian yang terintegrasi, mulai dari perencanaan produksi, manajemen nutrisi dan pakan, hingga pengawasan produk ternak, karena ketiganya saling berhubungan,” ujar Prof Luki.

    Ir Budi Hariyanto dari PT Lembu Jantan Perkasa menjelaskan bahwa pakan berkualitas berperan penting untuk meningkatkan produksi ternak. Pakan berkualitas dapat menghasilkan pertambahan berat badan yang baik, terutama pada anakan.  “Permodalan untuk pakan ternak sendiri dapat memakan biaya hingga 80 persen, sehingga inovasi wafer pakan dapat memangkas biaya ini,” ujarnya.

    Dr Heri Ahmad, Dosen IPB University dari Fakultas Peternakan menambahkan, pakan yang berkualitas juga memegang peranan dalam logistik ternak. Konsumsi pakan ternak selama perjalanan perlu diperhitungkan jumlah dan kualitasnya agar dapat memenuhi kebutuhan ternak.  “Pakan ini perlu melalui proses pengendalian dan jaminan mutu dalam rantai pasok pakan,” terangnya.

    Dalam mempromosikan inovasi ini, strategi digital marketing memegang peranan esensial. R Agung Nugraha, Founder Warbis mengatakan strategi ini akan memberikan dampak yang baik untuk kemajuan usaha promosi dari produksi pakan ternak.  “Jika sistem ini dijalankan dengan baik maka dapat meningkatkan pangsa pasar di kalangan peternak hingga memperbaiki rantai suplai,” katanya (ipb.ac.id)

  • Fakultas Peternakan IPB University dengan Konsorsium  Belanda yaitu Nuffic, MSM : Maastricht School of Management, Wageningen dan Aeres groep ini membentuk proyek yang diberi nama Alin (Animal Logistics Indonesia Netherlands).  Kerjasama tersebut diumumkan dalam National Animal Logistics Seminar dengan tema ‘Optimizing the Use of Camara Ships to Improve Efficiency of Livestock Transportation Systems’ di Swiss-Bell Hotel, Bogor,  Kamis (4/7). Seminar ini digelar Fakultas Peternakan IPB bekerjasama dengan Konsorsium  Belanda (Nuffic, MSM : Maastricht School of Management, Wageningen University dan Aeres groep) melalui platformnya yaitu Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI).

    Rektor IPB University, Dr. Arif Satria dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap kerjasama ini. Rektor  IPB University mengungkapkan kolaborasi merupakan salah satu upaya untuk merespon situasi terkini terkait perkembangan teknologi industri 4.0. “IPB University mendorong Riset dan Inovasi IPB  University 4.0 yang dicirikan dengan agromaritim presisi tinggi melalui penggunaan teknologi drone, robotika, kecerdasan buatan di hulu sektor pertanian dan kelautan,  agroindustri untuk masa depan, sistem agrologistik digital, dan sistem e-commerce cerdas yang diyakini mampu beradaptasi di era 4.0,” kata Dr. Arif.

    Direktur Netherlands Consortium, Mr. Meinhard Gans  sangat merespon positif apa yang disampaikan Rektor IPB University. Ia menekankan bahwa  kegiatan yang dilakukan ini untuk kemajuan logistik peternakan Indonesia ke depan.

    Direktur proyek ALIN yang merupakan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Luki Abdullah menyampaikan bahwa proyek ALIN digagas atas kerjasama pemerintah Indonesia dan Belanda melalui Kementerian Pertanian dengan Kedutaan Besar Belanda. Pada saat itu  Indonesia dianggap mempunyai masalah mengenai logistik. Masalah tersebut antara lain masih kurangnya fasilitas dan prasarana serta penanganan hewan ternak yang buruk. Ini berdampak pada: (1) biaya logistik dan transportasi yang tinggi, (2) penurunan berat badan yang lebih tinggi, (3) kinerja ternak, (4) kesejahteraan hewan. Faktor ini menyebabkan harga produk yang lebih tinggi bagi konsumen, tetapi juga harga yang lebih rendah untuk produsen, sehingga mengurangi margin mereka. 

    Upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan rantai pasokan ternak sapi domestik terutama dari wilayah timur Indonesia kepada konsumen. Kapal ternak yang dibangun pertama kali diluncurkan pada bulan Desember 2015 bernama Camara Nusantara 1, dan yang kedua, Camara Nusantara 3, diluncurkan pada 2018. Jumlah total akan ditingkatkan menjadi enam unit. Kapal dibangun oleh pemerintah Indonesia dan dioperasikan oleh PT Pelni, sebuah perusahaan pelayaran besar domestik.

    Kapal dirancang untuk memenuhi prinsip kesejahteraan hewan, sehingga penurunan berat badan selama pengangkutan akan diminimalkan dan kinerja meningkat. Selanjutnya, kapal ternak diharapkan untuk meningkatkan rantai pasokan ternak sapi serta untuk mempersingkat rantai distribusi dari produsen ke akhir konsumen. Namun, ada keraguan mengenai dampak proses transportasi dengan menggunakan kapal Camara Nusantara pada aspek kinerja ternak dan kesejahteraan hewan. (ipb.ac.id)

    Sementara Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN), proyek  ini pertama di Indonesia terkait logistik peternakan. Terdapat beberapa fokus yang telah dilakukan dalam proyek yaitu bagaimana mengembangkan sumberdaya manusia dalam bidang logistik peternakan.  Program ini dikembangkan melalui kurikulum  logistik peternakan pada program master (S2) Logistik Peternakan. Program kedua yaitu Sarjana Plus berupa pendidikan selama 6 bulan setelah lulus sarjana, mendapat materi logistik peternakan. Keunggulannya dari S1 plus ini akan memperoleh sertifikat  kompetensi yang  sudah ditetapkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dan Kementerian Tenaga kerja. “Program S1 Plus dapat diikuti oleh lulusan sarjana bidang apa saja, mereka akan di-training melalui 17 unit kompetensi yang sudah dibakukan oleh BNSP. Selama enam bulan mereka dibina dan dididik untuk mendapatkan sertifikat kompetensi,” ucap Prof Luki.

    Pada kegiatan seminar ini  para peneliti menyampaikan hasil penelitiannya terkait Traceability, Live Animal Transportation Feed Logistics, Animal Products dan Human Resources dengan narasumber  diantaranya adalah jajaran peneliti IPB seperti Prof Kudang Boro Seminar,  Dr.Rudi Afnan,  Dr. Despal, Prof. Irma Isnafia Arief,  Prof. Asnath M Fuah, Dr. Yunus Triyonggo, Dr. Epi Taufik dan Dr. Moh Yamin. Penelitian ini melibatkan dan didukung oleh anggota FLPI baik dari kalangan bisnis, pemerintah, asosiasi serta komunitas.

  • Ransum Indigofera merupakan hijauan pakan yang berasal dari daun pilihan tanaman indigofera. Ransum ini merupakan teknologi alternatif yang dapat menjadi pengganti bahan hijauan pakan lainnya yang cenderung sulit diperoleh. Teknologi ini telah memiliki patent granted dengan nomor IDP000056252.

    Teknologi produksi biomassa indigofera sendiri telah dikembangkan oleh inventor sejak tahun 2015 bekerja sama dengan masyarakat atau level Usaha Kecil dan Menengah (UKM), namun proses produksi pakan ternaknya belum dilakukan.

    Prof Erika B Laconi, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) selaku Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Bisnis IPB University/Kepala LKST IPB University dalam sambutannya menyampaikan kerjasama ini merupakan langkah maju untuk pengembangan inovasi peneliti perguruan tinggi menuju komersialisasi produk.

    “Dalam dua tahun terakhir, LKST telah menghasilkan 19 inovasi yang telah bekerjasama dengan industri dan memiliki kualitas yang baik. Bermitra merupakan kekuatan IPB University dalam melakukan komersialisasi. Dan pada hari ini IPB University telah berhasil kembali bekerja sama dengan mitra dalam bidang peternakan,” tutur Guru Besar di Fakultas Peternakan IPB University ini.

    Terkait kerjasama ini, inovator ransum indigofera IPB University, Prof Luki Abdullah merasa bangga dengan adanya kerjasama antara IPB University dengan CV Nuansa Baru.

    “Hari ini terasa istimewa karena mendapatkan fasilitasi dari LKST IPB University untuk kerjasama dengan mitra. Terima kasih kepada mitra atas kepercayaan yang diberikan. Hasil akhir dari penelitian bukan hanya sekedar output, tetapi outcome,” ujarnya.

    CV Nuansa Baru merupakan perusahaan yang baru berdiri sejak 2013 dan bergerak di bidang penjualan bahan baku seperti sawit serta pakan jadi. “Kerjasama dengan IPB University ini difokuskan untuk meningkatkan pakan sehingga dapat bermanfaat khususnya bagi pelaku ternak. Saat ini kebutuhkan pakan ternak dinilai sangat tinggi dan menjadi peluang yang cukup baik,” ujar Direktur CV Nuansa Baru, Ifan Nur Irfana, SPt (ipb.ac.id)

  • Bogor, 2 Juni 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara 2025, Fakultas Peternakan IPB University bekerja sama dengan Frisian Flag Indonesia (FFI) menyelenggarakan talk show bertema “From Grass to Glass: Rayakan Kebaikan Susu – Rayakan Kekuatan Untuk Menang.” Kegiatan ini menjadi wadah edukatif bagi mahasiswa dalam menggali informasi seputar manfaat susu dan peran strategisnya dalam pembangunan sektor peternakan dan kesehatan masyarakat.

    Acara yang digelar di Kampus IPB Dramaga ini dipandu oleh Jovial da Lopez dari Narasi dan dihadiri oleh dosen serta lebih dari 550 mahasiswa IPB University. Antusiasme peserta terlihat dari semangat interaksi yang tinggi selama sesi diskusi berlangsung.

    Talk show menghadirkan berbagai narasumber dari lintas sektor, antara lain Widiastuti, S.E., M.Si. (Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kemenko Perekonomian), Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si. (Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH), Prof. Dr. Epi Taufik, MVPH., M.Si. (Fakultas Peternakan IPB), Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, M.S. (FEMA IPB), Andrew F. Saputro dan Akhmad Sawaldi (FFI), serta peternak muda Tatok Haryato dan Nur Kayin dari KOPSAE Pujon.

    Dalam diskusi, para narasumber menyoroti bahwa susu memiliki nilai gizi tinggi yang penting dalam mendukung pertumbuhan, menjaga daya tahan tubuh, serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, terutama bagi generasi muda. Selain kandungan kalsium dan protein, susu juga mengandung berbagai vitamin dan mineral penting yang berperan dalam fungsi otak dan pembentukan tulang.

    Narasumber dari pemerintah memaparkan upaya strategis untuk meningkatkan produksi dan konsumsi susu nasional melalui penguatan kemitraan antara peternak, industri, dan akademisi. Pembangunan peternakan sapi perah yang lebih modern dan efisien dinilai penting untuk mencapai kemandirian susu dalam negeri.

    Dari sisi teknologi, disampaikan bahwa inovasi dalam pengolahan susu menjadi faktor penting untuk memastikan kualitas, higienitas, dan daya saing produk susu di pasar. Teknologi juga mendukung keamanan pangan dan memperpanjang masa simpan tanpa mengurangi nilai gizi.

    Para ahli gizi dari IPB University menekankan bahwa konsumsi susu sebaiknya menjadi kebiasaan masyarakat di semua kelompok usia, tidak hanya anak-anak. Peningkatan literasi gizi dan pola makan sehat menjadi bagian penting dalam mencegah masalah kekurangan gizi dan stunting di Indonesia.

    Pihak FFI juga menyampaikan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara industri dan peternak lokal. Dukungan melalui pelatihan dan pendampingan teknis menjadi salah satu strategi utama dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas susu segar nasional. Program pembinaan peternak muda dinilai dapat memperkuat regenerasi sektor peternakan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

    Peternak muda dari KOPSAE Pujon berbagi pengalaman mengenai praktik peternakan yang efisien dan ramah lingkungan. Mereka menunjukkan bahwa dengan manajemen yang baik, peternakan susu dapat menjadi sektor yang menjanjikan dan berkelanjutan.

    Sebagai simbol semangat dan kebersamaan, seluruh peserta melakukan Milk Toast secara serentak di akhir acara.

    Peringatan Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga penguatan sinergi antara akademisi, industri, pemerintah, dan peternak muda. Melalui semangat “From Grass to Glass”, diharapkan tumbuh komitmen bersama dalam mewujudkan ekosistem susu yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

  • Desa Wawasan, Lampung Selatan — Dalam upaya meningkatkan pemahaman peternak mengenai pentingnya kesejahteraan ternak dalam sistem budidaya sapi pedaging, IPB University melalui program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) 2025 menyelenggarakan kegiatan edukatif yang berfokus pada penerapan prinsip animal welfare di tingkat peternak rakyat.

    Kegiatan ini dilangsungkan pada Sabtu, 19 Juli 2025, di Koperasi Produksi Ternak (KPT) Maju Sejahtera, Desa Wawasan, Kecamatan Tanjung Sari. Acara ini diikuti oleh 46 peternak dari lima kelompok ternak anggota KPT, serta didukung penuh oleh pemerintah desa setempat yang hadir melalui Kepala Desa dan Sekretaris Desa Wawasan.

    Sebagai narasumber kali ini adalah, Edit Lesa Aditia, S.Pt., M.Sc., dosen dari Divisi Produksi Ternak dan Aneka Ternak (Proterdkat), Fakultas Peternakan IPB University, menyampaikan materi bertajuk "Kesejahteraan Ternak untuk Mendukung Pencegahan Stunting dan Mortalitas Pedet". Dalam paparannya, Edit menegaskan bahwa prinsip animal welfare bukan sekadar isu etika, namun juga berkaitan erat dengan produktivitas, daya tahan ternak, dan keberhasilan sistem budidaya secara menyeluruh.

    Materi yang disampaikan berpusat pada lima kebebasan pokok hewan (five freedoms), yakni:

    1. Kebebasan dari rasa lapar dan haus
    2. Kebebasan dari ketidaknyamanan fisik
    3. Kebebasan dari rasa sakit dan penyakit
    4. Kebebasan mengekspresikan perilaku alami
    5. Kebebasan dari rasa takut dan stress

    Edit menekankan bahwa ketika prinsip-prinsip ini diterapkan dengan benar, maka sapi pedaging akan tumbuh lebih sehat, mampu bereproduksi optimal, dan memiliki risiko kematian pedet yang jauh lebih rendah. Peternak diajak untuk memperhatikan kondisi lingkungan kandang, sanitasi, pemberian pakan dan air bersih, serta cara penanganan yang tidak menyebabkan trauma pada ternak.

    Dalam forum tanya jawab yang berlangsung setelah pemaparan materi, para peternak aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi di lapangan, seperti kesulitan mengenali tanda stres pada sapi, cara mengatur kepadatan kandang, dan bagaimana menerapkan prinsip kesejahteraan dengan sumber daya terbatas. Diskusi ini memperlihatkan semangat tinggi dari para peserta untuk melakukan perubahan yang positif dan berkelanjutan dalam sistem pemeliharaan mereka.

    Program ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat Dospulkam IPB University 2025, di bawah kepemimpinan Dr. Sigid Prabowo, S.Pt., M.Sc., bertema “Diseminasi inovasi sistem seleksi dan budidaya ternak untuk menurunkan stunting serta mortalitas pedet di KPT Maju Sejahtera Lampung Selatan” yang secara khusus dirancang untuk membawa hasil penelitian, inovasi, dan pendekatan ilmiah IPB ke komunitas desa, terutama di daerah asal para dosen.

    Melalui kegiatan ini, IPB University menegaskan komitmennya dalam mendampingi peternak rakyat untuk mengadopsi praktik beternak yang lebih manusiawi, adaptif, dan produktif. Ke depan, penerapan prinsip kesejahteraan hewan diharapkan mampu menjadi fondasi utama dalam menurunkan angka stunting dan kematian pedet, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak itu sendiri. (Edit Lesa Aditia)

  • IPB University menggelar rapat bersama Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Senegal merangkap Gambia, Guinea, Guinea-Bissau, Mali, Côte d’Ivoire, Sierra Leone, dan Cape Verde, H.E. Ardian Wicaksono. Pertemuan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini membahas inisiasi kerja sama antara IPB University dengan Cheikh Anta Diop University, Dakar, Senegal (16/03).

    Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak mendiskusikan peluang kolaborasi strategis di bidang pertanian, perikanan, dan peternakan. Fakultas Peternakan IPB University dalam rapat ini diwakili oleh Prof. Asep Gunawan selaku Wakil Dekan bidang Sumberdaya, Kerjasama, dan Pengembangan (SKP).

    Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat sinergi akademik, riset, serta pengembangan sumber daya manusia di kedua institusi. Inisiasi ini juga menjadi langkah awal dalam membangun hubungan internasional yang lebih erat antara IPB University dan institusi pendidikan tinggi di kawasan Afrika Barat, khususnya Senegal.

    Sebagai tindak lanjut, direncanakan pada Mei 2026 akan dilakukan kunjungan delegasi dari Senegal ke Indonesia. Kunjungan tersebut bertujuan untuk melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara IPB University dan Cheikh Anta Diop University, serta perjanjian kerja sama (SPK) di tingkat fakultas terkait, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Perikanan, dan Fakultas Peternakan.

    Melalui kerja sama ini, IPB University terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring global dan meningkatkan peran aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta inovasi di tingkat internasional.

  • IPB University melalui Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi (LKST) menjalin kerja sama lisensi inovasi sorinfer dengan PT Prima Agrostis Nusantara. Penandatangan lisensi inovasi dilakukan oleh Wakil Rektor bidang Inovasi dan Bisnis/Kepala LKST IPB University, Prof Erika B Laconi dengan Direktur PT Prima Agrostis Nusantara, Bogor (21/4).
     
    Dalam sambutannya, Prof Erika B Laconi mengatakan bahwa IPB University tidak bisa berkembang banyak tanpa adanya para mitra. Ia menyebut, dosen IPB University akan terus mengembangkan di bidang keilmuannya dan tentunya mitra yang mempunyai peran melihat market di lapangan.
     
    Prof Erika berharap, dengan adanya kerjasama ini dapat terus dikembangkan ide maupun temuan baru. “Perusahaan yang sudah berjalan akan mengembangkan riset berdasarkan market driven sehingga akan timbul sebuah kekayaan intelektual yang terintegrasi,” tambahnya.
     
    Sementara, Prof Luki Abdullah, Dosen Fakultas Peternakan IPB University menjelaskan bahwa teaching factory IPB University yang bekerjasama dengan PT Prima Agrostis Nusantara sudah sah untuk meningkatkan skala usahanya. Ia mengatakan, kemitraan dengan masyarakat di sekitar Jonggol terus berkembang dengan adanya mitra industri dan Corporate Social Responsibility (CSR) yang mensuplai bahan baku.  "Kawasan Jonggol ini sudah termanfaatkan dengan baik dari segi sosial, ekonomi maupun edukasi,” kata Prof Luki.
     
    Adam Mirza, Direktur PT Prima Agrostis Nusantara mengatakan bahwa perusahaannya sudah membina dua stakeholder di kawasan Jonggol. “Stakeholder pertama yaitu petani yang menanam sorgum yang mampu menghasilkan panen sebanyak 50 ton per hektar dalam 65 hari. Stakeholder selanjutnya adalah peternak tentang animonya bahwa dengan menggunakan pakan sorinfer itu beternak menjadi lebih mudah,” kata Adam.
     
    Dr Sri Suharti, Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Peternakan, IPB University mengapresiasi gebrakan proses hilirisasi inovasi Sorinfer yang berjalan lancar. Ia berharap, akan tercipta inovasi-inovasi baru dari Fakultas Peternakan IPB University yang bisa diterapkan dan dirasakan langsung oleh masyarakat. 
     
    “Ini akan menjadi satu hal yang luar biasa dan menjadi legasi dan lisensi untuk inovasi Sorinfer ke depannya,” tutupnya (ipb.ac.id)

  • Ini juga salah satu bentuk ikhtiar IPB University dalam mengembangkan kemandirian keuangan. Dengan berkembangnya dana sosial dan wakaf, diharapkan dapat memiliki sumber-sumber pembiayaan.
     
    Program water station dikembangkan demi memenuhi kebutuhan air minum mahasiswa beserta seluruh warga IPB University. Serta demi mendukung gaya hidup ramah lingkungan karena dapat mengurangi pengeluaran air minum dalam kemasan. Hal ini sejalan dengan IPB University sebagai Green Campus yang telah konsisten dalam menggalakkan program pengurangan sampah plastik selama tiga tahun terakhir.

    Sedangkan program 1000 beasiswa mahasiswa IPB University akan disalurkan pada mahasiswa yang membutuhkan.

    Rektor IPB University diwakili oleh Sekretaris Institut, Dr Aceng Hidayat dalam sambutannya saat secara resmi meluncurkan program tersebut mengatakan, terdapat dua aspek yang terkait dengan program tersebut. Kedua aspek tersebut yakni aspek kebermanfaatan dan kemuliaan. Program beasiswa ditujukan pada sejumlah besar mahasiswa yang terdampak COVID-19. Diharapkan mahasiswa dapat melanjutkan studi tanpa rasa cemas sehingga menjadi sumber daya manusia yang unggul.  Sedangkan program water station dapat membantu IPB University untuk mengurangi sampah plastik terutama dari air kemasan.

    “Program BPIDS ini yakni program 1000 beasiswa dan pemasangan water station di masing-masing fakultas merupakan program yang sangat mulia dan sangat bermanfaat bagi warga IPB University. Saya ingin berterimakasih khususnya pada alumni yang telah berkontribusi,” ungkapnya.    

    Dr Idat Galih Permana, Dekan Fakultas Peternakan IPB University memberikan testimoni. Selaku penerima manfaat atas penyelenggaraan program BPIDS, ia sangat mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, fakultas di IPB University memang membutuhkan uluran tangan terkait kesejahteraan mahasiswa. "Terjadi peningkatan jumlah mahasiswa yang perekonomiannya terdampak COVID-19,” ujarnya.  

    Hal senada disampaikan Dr Berry Juliandi, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) IPB University yang mengatakan bahwa ia selalu memiliki visi bahwa warga IPB University harus selalu memberi dan melayani terutama bagi mahasiswa. Ia menyadari betapa besarnya potensi dana yang dihimpun oleh masyarakat terutama yang terkait dengan wakaf dan hal tersebut disambut baik oleh BPIDS. Ia menyebutkan bahwa penggunaan water station tidak akan mengenal fakultas. Sehingga dapat dinikmati oleh seluruh warga IPB University walaupun lokasi peletakannya di Fakultas Peternakan dan FMIPA.

    “Saya sangat mendorong pada seluruh warga IPB University termasuk mahasiswa sebagai yang akan menerima manfaat untuk juga memberi wakaf pada program ini. Bisa jadi kita berpikir bahwa potensi besar hanyalah di dosen, alumni, dan staf penunjang, padahal mahasiswa dapat juga berwakaf untuk menyukseskan program ini walaupun hanya dengan dana yang tidak terlalu besar,” ungkapnya.

    Dengan program tersebut yang didorong adalah semangat kebersamaan dan berbagi. Ia turut mendorong pula program 1000 beasiswa sebagai contoh bagi alumni untuk melakukan mobilisasi horisontal sehingga strata sosialnya lebih baik. Karena bukan hanya berpengaruh pada pemberi manfaat, namun juga lingkungan masyarakat secara umum.

    Pada kegiatan tersebut diadakan pula pernyataan dukungan dari para alumni IPB University yang hadir seperi Ir R Fathan Kamil, Ketua Umum Himpunan Alumni (HA),  Audy Joinaldy, Ketua Umum Himpunan Alumni Peternakan (HANTER) yang juga Wakil Guburner Sumatera Barat, serta Dr Adnan Nursal, Ketua Umum HA  FMIPA. Juga diadakan sekapur sirih dari donatur oleh Anton Sukarna, Direktur Distribusi dan Sales PT Bank Syariah Indonesia (BSI), yang merupakan alumni Fapet IPB University.

    Pada kegiatan ini juga diadakan penggalangan dana wakaf yang dipimpin oleh Iyep Komala, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan sekaligus Sekjen HANTEr dan Nelly Oswini, Wakil Ketua Umum DPP HA IPB University.

    “Dana yang terkumpul sampai dengan 6 Mei 2021, dari Bank Syariah Indonesia (BSI) memberikan sponsor satu water station yang akan ditempatkan di Fakultas Peternakan senilai 300 juta rupiah. Dari Direktur Eksekutif Laznas BSM Umat, Suko Riyanto Saputro yang merupakan alumni dari Fakultas Pertanian menyatakan Laznas BSM Umat memberikan beasiswa sebesar 200 juta rupiah,” jelas Iyep.

    Selain itu, pada penggalangan dana wakaf terkumpul dana untuk Fakultas Peternakan sebesar Rp 40.401.121, untuk FMIPA sebesar Rp 32.000.000 (untuk water station) dan Rp 2.300.000 untuk beasiswa.

    “Terkumpul juga dari para alumni yaitu dari Angkatan 32 Juara,  alumni Fapet angkatan 25,  Aninsya Farm dan alumni INMT 32.  Arga Citra 23 berkomitmen akan memberikan sponsor satu water station. Komitmen lainnya yaitu Himpunan Alumni Statistik akan menggalang wakaf untuk FMIPA dan Zoom Komputer akan support untuk program wakaf water station dan 1000 beasiswa. Penggalangan dana wakaf akan terus kami lanjutkan,” terangnya.

    Para alumni IPB University sangat mengapresiasi program tersebut dan berharap agar dapat berjalan dengan sukses ke depannya

  • Bertempat di Gedung Rektorat Andi Hakim Nasution, Rektor IPB University, Prof Arif Satria me-launching SORINFER dan Herbal Mineral Blok (HMB) yang merupakan produk hasil inovasi peneliti dari Fakultas Peternakan IPB yang dapat membantu untuk meningkatkan produksi dan imunitas ternak dan mencegah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hari Rabu 29 Juni 2022.

    Sorinfer merupakan formulasi pakan komplit berbahan sorgum dan indigofera dengan tim peneliti diketuai oleh Prof Luki Abdullah dan anggota tim yang terdiri dari Prof Panca Dewi Manu Hara Karti, Prof Rudy Priyanto, Dr Adi Hadianto. Ketua Tim Peneliti, Prof Luki Abdullah mengatakan bahwa inovasi ini diharapkan bisa menjadi penentu keberlanjutan usaha peternakan.  Pasalnya, industri pakan komplit untuk ternak ruminansia di Indonesia masih belum berkembang karena terlalu kompleks dalam penyediaan bahan pakan sumber serat.  “Umumnya hijauan pakan diproduksi secara tradisional dan dalam skala kecil oleh peternak bukan produsen khusus, “ ungkapnya.

    Dengan kondisi seperti ini, sebutnya, beternak menjadi lebih sulit dan tidak efisien, padahal di sisi lain minat beternak masyarakat terutama generasi milenial semakin tinggi, karena keuntungan yang menjanjikan dari bisnis ini. “Perusahaan peternak yang pemiliknya kaum milenial cenderung lebih menyukai cara beternak yang mudah, praktis namun harus menguntungkan, “ jelasnya.

    Ia menambahkan, berdasarkan testimoni di lapangan, Sorinfer disukai ternak. "Sebagian besar ternak yang memulai mengkonsumsi Sorinfer akan langsung memakannya. Hal ini disebabkan oleh aromanya yang wangi seperti aroma tape dan tekstur yang mewakili pakan hijauan berkualitas tinggi perpaduan sorgum dan Indigofera yang dipanen pada waktu yang tepat, sehingga disukai oleh ternak" tuturnya. Dengan kondisi tersebut, sebutnya, peternak tidak perlu repot-repot untuk mengarit atau mencari hijauan pakan, karena produk ini dapat disimpan hingga satu tahun selama plastik kemasannya tidak bocor, sehingga saat musim kemarau pun akan tetap tersedia bagi ternak.

    Keunggulan lain adalah kemasan Sorinfer terdiri dari dua jenis, yaitu menggunakan kantong ganda dengan bagian dalam (inner) kedap udara dan air, dan kantong bagian luar yang melindungi kantong bagian dalam. Dengan segala keunggulan yang ada, diharapkan Sorinfer bisa menjadi solusi permasalahan pakan bagi peternak dan memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat perdesaan dalam memasok biomassa sorgum dan Indigofera.

    Selain Sorinfer, inovasi menarik dan solutif untuk mengatasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) juga diperkenalkan pada kegiatan tersebut yaituHerbal Mineral Blok (HMB). HMB ini ditemukan oleh para peneliti dari departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi pakan, Fakultas PeternakanProf Dewi Apri Astuti dan Dr Sri Suharti .  Bahan herbal yang telah dicoba untuk dicampurkan dalam pakan antara lain kunyit, jahe, dan lerak. Bahan herbal tersebut digunakan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan mineral sekaligus untuk  meningkatkan imunitas.   Penelitian ini telah dimulai sejak tahun 2008.

    Prof Dewi Apri Astuti, Anggota Tim Peneliti HMB IPB University mengatakan, “Pada masa merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) saat ini, kami dari pasukan bidang peternakan mencoba mengantisipasi dalam bentuk usaha preventif/pencegahan dengan pemberian pakan yang dapat meningkatkan imunitas ternak’’ jelasnya.  Selain itu dijelaskan oleh Prof Dewi bahwa pola pemeliharaan ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba pada peternakan rakyat yang masih mengandalkan rumput sebagai pakan utama, sering menyebabkan ternak kekurangan nutrien. Kekurangan nutrien tersebut seperti energi, protein dan mineral.

    “Mineral merupakan unsur nutrient yang sangat diperlukan dalam proses fisiologis ternak. Mineral dibutuhkan bagi ternak yang sedang tumbuh dan untuk pembaharuan sel-sel yang berlangsung terus-menerus, serta untuk keperluan berproduksi. Apabila ternak kekurangan mineral, dapat menyebabkan kelainan proses fisiologis yang disebut defisiensi mineral, “ ungkapnya.

    Dr Sri Suharti, anggota Tim Peneliti lainnya turut menambahkan, salah satu pencegahan defisiensi mineral adalah dengan pemberian mineral blok. Menurutnya, mineral Blok Herbal mengandung mineral baik makro maupun mikro serta bahan herbal. “Bahan herbal tersebut seperti kunyit, temulawak dan bahan anti cacingan.  Bahan lain yang ditambahkan antara lain pollard/dedak sebagai sumber energy, maggot/BSF sebagai sumber protein, molasses sebagai sumber energi dan meningkatkan palatabilitas, garam serta kapur sebagai pengikat sekaligus sumber kalsium. Bahan-bahan tersebut dipres sehingga berbentuk padat yang berfungsi sebagai suplemen pakan untuk menjaga kesehatan ternak dan performa ternak meningkat, “ jelasnya.

    Lebih lanjut dikatakannya, pemberian Herbal Mineral Blok untuk dikonsumsi ternak dan diberikan dengan cara digantung di kandang sejajar dengan kepala sapi dan diusahakan agar dapat dijilati atau dijangkau oleh ternak. “Saat sapi menjilat-menjilat, sapi akan mengeluarkan air liur yang efektif sebagai buffer untuk menstabilkan pH rumen. Pada ternak ruminansia, pasokan nutrien lebih banyak bergantung pada mikroba rumen dan produk fermentasinya, “ jelasnya.

    Selain itu, lanjutnya, bahan-bahan yang terdapat pada suplemen blok dapat dijadikan tambahan nutrien dan mineral sehingga diharapkan dapat meningkatkan produksi. “Dalam produk Mineral Herbal Blok ini juga ada tambahan herbal berupa kunyit yang berfungsi sebagai antibakteri patogen alami, meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan nafsu makan, “ tambahnya.

    Ia menyebut, pemberian HMB berbahan baku herbal kunyit yang dilengkapi dengan protein asal tepung black soldier fly (BSF) serta mineral Ca, P, Zn, Cr dan Se dapat meningkatkan imunitas. Produk dikemas dalam bentuk pakan blok dengan berat 2,5 sampai 3,0 kilogram per blok. Blok tersebut diberikan pada ternak sapi untuk dijilat sampai habis yang memakan waktu sekitar satu bulan.  Ia berharap dengan pemberian HMB dan pakan utama berupa konsentrat dan hijauan yang kaya vitamin A dan C dapat meningkatkan imunitas ternak sehingga terhindar dari serangan virus PMK.

    “Pakan blok ini dapat diformulasikan sesuai kebutuhan, contoh kasus defisiensi Yod, Fe, Mg, Zn ataupun dengan mencampurkan herbal untuk meningkatkan ketahanan tubuh. Herbal Mineral Blok merupakan campuran herbal dan mineral fungsional yang dibuat dalam bentuk pakan padatan (blok/pres), “ jelasnya. (SSI/Femmy)

  • Black Soldier Flies (BSF) yang diperoleh dari proses biofermentasi limbah organik memiliki potensial sebagai bahan pakan ternak karena memiliki kandungan protein yang tinggi (42 persen), lemak tinggi (37 persen) dan kandungan asam laurat sebagai antimikroba yang tinggi pula (40 persen). Larva BSF telah banyak diproduksi dan dikembangkan menjadi salah satu bahan pakan ternak, baik untuk unggas, hewan air, ruminansia dan hewan kesayangan. 

    Tim dosen IPB University dari Divisi Nutrisi Ternak Pedaging dan Kerja (NTDK), Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), Fakultas Peternakan (Fapet) berhasil mengembangkan pakan berbasis BSF, antara lain BSF-Milk Replacer (susu pengganti), BSF-Starter Complete Feed dan BSF-Cat Food.

    Ketiga produk tersebut telah melalui kajian riset BSF sejak tahun 2014 hingga sekarang dilanjutkan dengan produksi pakan berbasis BSF serta aplikasi di lapang. Program ini di bawah kolaborasi riset tim dosen Divisi NTDK Fapet IPB University, antara lain untuk produk Milk Replacer (Prof Dewi Apri Astuti dan Kokom Komalasari, SPt MSi bekerjasama dengan PT Biocycle Indonesia), produk BSF-Starter Complete Feed (Prof Dewi Apri Astuti, Dr Didid Diapari dan Dr Dilla M bekerjasama dengan PT Biocycle Indonesia) serta produk BSF-Cat Food (Prof Dewi Apri Astuti dan Dr Sri Suharti bekerjasama dengan PT Bahagia Satwa Indonesia).

    “Pakan berbasis BSF ini memiliki keunggulan sebagai pakan anti diare yang dikhususkan untuk anak domba/kambing dan kucing. Produk pakan BSF-Milk Replacer dan BSF-Starter complete Feed ini diharapkan dapat turut menyelesaikan permasalahan pada peternakan ruminansia kecil,” kata Prof Dewi Apri Astuti saat Launching Inovasi Unggulan IPB Batch 8 yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University di Kampus Dramaga, Bogor, 4/10.

    Ia menjelaskan, salah satu permasalahan ternak ruminansia kecil, diantaranya tingkat kematian anak pra-sapih yang cukup tinggi hingga mencapai 20 persen. Di samping itu, ketersediaan pakan kucing yang didominasi produk impor dapat dikurangi dengan menghadirkan pakan kucing produk lokal.

    Dalam kesempatan itu, Prof Dewi menerangkan, BSF-Milk Replacer terbuat dari bahan BSF meal, minyak BSF, skim, tepung kuning telur, full krim, minyak bunga matahari, premix, CaCO3 dan DCP. Formula tersebut menciptakan susu pengganti yang menyerupai kandungan susu kambing/domba dengan kandungan protein 27 persen, lemak 20 persen, kalium 1,50 persen dan fosfor 0,70 persen, sesuai rekomendasi Food and Agriculture Organization (FAO) kandungan nutrient susu pengganti. 

    “Cara pemberian susu pengganti bagi ternak pra-sapih mulai umur satu minggu sebanyak 6 kali sehari dan berkurang terus hingga umur menjelang sapih, yaitu 8 minggu sebanyak 2 kali sehari. Pemberian susu pengganti ini dengan cara dilarutkan pada air hangat dengan perbandingan susu dan air sebanyak 1: 4 dan dimasukkan ke botol yang telah disterilkan,” ungkapnya.

    Lebih lanjut ia menguraikan, ternak akan mengkonsumsi susu tersebut sejumlah kurang lebih 3 persen bahan kering dari bobot badan ternak tersebut. Minyak BSF yang digunakan, memiliki kandungan asam laurat yang tinggi dan telah terbukti dapat mematikan bakteri e-coli. “Karena itu, produk BSF-Milk Replacer ini dijamin dapat mencegah diare, salah satu penyebab tertinggi pada kematian anak pra-sapih ruminansia,” sebut dia.

    Produk ini telah didaftarkan paten dengan nomor PID201806537 dan mendapatkan penghargaan karya inovatif 113.  BSF-Milk Replacer juga telah dikerjasamakan dengan pihak Industri PT Biocycle Indo yang selanjutkan akan memasarkan produk tersebut secara komersial.

    Lebih lanjut Prof Dewi menuturkan, BSF-Starter Complete Feed merupakan pakan pemula untuk anak ruminansia lepas sapih. Pakan ini terbuat dari bahan BSF meal, minyak BSF, dedak halus, tepung jagung, polard, bungkil kedelai, minyak sawit, premix, CaCO3 dan garam. Formula pakan starter ini mengandung 17 persen protein, 7 persen lemak, 75 persen Total Digestible Nutrient (TDN), 0,5 persen kalsium, 0,6 persen phosphor serta glisin dan methionine yang mencukupi untuk pertumbuhan anak domba/kambing fase starter. 

    Pakan starter ini, sebutnya, diberikan pada anak yang lepas sapih untuk mengawal pertumbuhan yang cepat dan menekan kematian. Kehadiran minyak BSF ditujukan untuk menekan kematian akibat diare yang sering terjadi pada anak lepas sapih, terutama di musim hujan.

    “Data menunjukkan anak domba lepas sapih yang diberi pakan BSF-Starter Complete Feed mengalami pertumbuhan 112 -120 g/ekor/hari. Pertumbuhan ini sangat mendukung program pemenuhan daging asal lokal dengan target bobot potong umur 5 bulan (balibu  atau kalibu) sebesar 21 kilogram.  Produk ini dalam tahap pengajuan paten dan selanjutnya akan dikerjasamakan dengan pihak industri terkait,” ulasnya.

    Sementara itu, untuk mengurangi ketergantungan dengan luar negeri, maka IPB University menghadirkan BSF-Cat Food untuk mengurangi kelangkaan pakan hewan kesayangan lokal. Pasalnya, selama ini pakan hewan kesayangan yang beredar di Indonesia kebanyakan merupakan produk impor. 

    “Kandungan nutrient dari BSF-Cat Food ini cukup mendukung pertumbuhan kucing, bulu yang halus dari kehadiran taurine didukung kehadiran protein sebesar 25 persen, fat 11 persen, serat 5 persen dan vitamin dan mineral yang mendukung pertumbuhan tulang yang kuat,” imbuh Prof Dewi.

    BSF-Cat Food terbuat dari bahan BSF meal, minyak BSF, tepung jagung, dedak halus, tepung udang, tepung daging ayam, meat bone meal, squid oil, bubuk saripati ayam, sari pati keju, pet basemix, taurine dan minyak ayam. 

    Produk BSF-Cat Food ini telah dikerjasamakan produksi komersilnya dengan PT Bahagia Satwa Indonesia (BSI) dengan pemasaran dibantu oleh kolega para dokter hewan praktik di sekitar Jabodetabek (ipb.ac.id)