IPB University menyelenggarakan Sidang Terbuka dengan acara khusus Orasi Ilmiah Guru Besar pada Sabtu, 12 Juli 2025 di Auditorium Andi Hakim Nasoetion kampus IPB Darmaga. Salah seorang guru besar yang menyampaikan orasinya adalah Prof. Dr. Sri Suharti, S.Pt, M.Si, Guru Besar Bidang Biokimia dan Mikrobiologi Nutrisi Ternak dari Fakultas Peternakan (Fapet). Tampil dengan urutan pertama, Prof. Sri Suharti menyampaikan orasi dengan judul “Strategi Pengembangan Ternak Ruminansia Pedaging Berkelanjutan melalui Integrasi Rekayasa Nutrisi Berbasis Mikroba dan Phytogenic Additive”. Riwayat hidup dibacakan oleh Dekan Fapet Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr dari mulai keluarga, pendidikan yang ditempuh di dalam maupun luar negeri, prestasi yang sudah dicapai hingga kegiatan nasional maupun internasional.
Prof. Sri Suharti mengawali pemaparannya dengan harapan yang besar agar orasi ilmiah ini dapat bermanfaat, terutama bagi peningkatan produktivitas dan kualitas daging tenak ruminansia, serta mitigasi metan. Selanjutnya disampaikan hasil materi orasi yang sebagian besar diperoleh dari hasil penelitian bersama mahasiswa bimbingan S1 hingga S3, serta kolega sesama dosen di IPB maupun luar IPB, yang telah dilakukan sejak tahun 2007.
Di hadapan ratusan undangan yang hadir, Prof. Sri Suharti menyatakan bahwa sektor peternakan ruminansia pedaging seperti sapi, kambing, domba, dan kerbau berperan penting dalam penyediaan protein hewani, penggerak ekonomi masyarakat, dan ketahanan pangan nasional. “Konsumsi daging ruminan yang kaya akan protein hewani berkualitas tinggi sangat penting untuk perkembangan otak, mendukung kecerdasan dan kesehatan manusia”ungkapnya.
Namun demikian, saat ini masih terdapat beberapa permasalahan dalam pengembangan ternak ruminansia. Permasalahan pertama adalah produktivitas ternak lokal masih relatif rendah karena manajemen pemeliharaan yang mengandalkan ransum berkualitas rendah. Permasalahan kedua adalah kualitas produk daging yang dihasilkan dan permasalahan ketiga yaitu emisi metan oleh ternak ruminansia yang dapat menyebabkan pemanasan global. “Tantangan ini mendorong perlunya inovasi strategis yang tidak hanya meningkatkan produktivitas ternak, tetapi juga berkontribusi pada mitigasi metan”jelasnya.
Orasi ini ini kian menarik ketika memasuki poin mengenai saluran pencernaan ruminansia yang unik dan berbeda dengan ternak monogastrik. “Keunikan ternak ruminansia adalah lambungnya yang terbagi menjadi 4 kompartemen, yaitu rumen, reticulum, omasum, dan abomasum. Rumen merupakan bagian terbesar sekitar 10% dari bobot badan ternak dan berfungsi sebagai tempat degradasi fermentasi pakan utama. Komponen lambung ternak ruminansia yang sudah dipotong biasanya diambil berdagang dan diolah menjadi soto babat”jelasnya. Selain itu, komunitas mikroba di rumen dapat mengubah rumput atau pakan menjadi protein berkualitas tinggi seperti daging atau susu.
Namun pada proses pencernaannya yang disebut fermentasi enterik, menghasilkan salah satu produk sampingan yaitu gas metan. Selain dampaknya yang merugikan terhadap lingkungan dan kontribusinya terhadap perubahan iklim, produksi metan juga berdampak langsung terhadap ternak, karena mengurangi sumber karbon yang tersedia bagi tubuh ternak, menyebabkan penurunan energi. Oleh karena itu, upaya menurunkan produksi metan dari ruminansia juga meningkatkan efisiensi sistem produksi dan pemanfaatan pakan. Upaya yang dinahas dalam orasi ini adalah dengan phytogenic additive, yaitu zat tambahan yang berasal dari tumbuhan alami yang digunakan dalam pakan ternak untuk meningkatkan kesehatan, performa, dan efisiensi pencernaan ternak.
“Phytogenic Additive juga menstimulasi metabolisme mikroba, sehingga meningkatkan degradasi pakan dalam rumen, serta meningkatkan performa ternak”jelasnya. Selanjutnya disampaikan strategi peningkatan produktivitas ternak dan kualitas daging yang ramah lingkungan. Strategi pertama dengan pengembangan isolat mikroba sebagai kandidat probiotik selulolitik. Strategi kedua yaitu modifikasi fermentasi di rumen dan mitigasi metan dengan phytogenic additive. “Indonesia kaya akan tanaman yang mempunyai senyawa sekunder tanaman, salah satunya adalah lerak yang pada masyarakat Jawa sering digunakan untuk mencuci batik karena bersifat seperti sabun. Kandungan saponin dalam ekstrak metanol lerak sangat besar, yaitu 81,5%. Penggunaan ekstrak metanol lerak pada sapi bedaging dapat menekan populasi protozoa dan mempengaruhi keragaman mikroba rumen”urainya.
Dengan strategi-strategi tersebut, pengembangan ternak ruminansia pedaging yang berkelanjutan dapat tercapai, dan peternakan bisa menjadi pilar ekonomi serta ketahanan pangan nasional. Indonesia merupakan negara megabiodiversitas yang memiliki kekayaan hayat yang sangat tinggi, termasuk dalam hal keanegaan keamanan mikroorganisme. “Penggunaan phytogenic additive, meskipun menjanjikan sebagai alternatif pengganti antibiotik atau sebagai rumen enhancers, pengembangannya menghadapi sejumlah hambatan teknis dan praktis. Banyak senyawa bioaktif dari tumbuhan bersifat volatil dan menyebabkan masa simpan phytogenic additive menjadi pendek”tambahnya. Maka dari itu, dalam upaya meningkatkan kualitas daging ruminansia, ternak lokal di Indonesia memiliki genetik yang cenderung menghasilkan daging dengan kandungan lemak tidak jenuh intramuskuler yang rendah, sehingga mempengaruhi cita rasa dan kesehatan. Strategi yang ditempuh adalah meningkatkan sintesis dan deposasi lemak di dalam jaringan otot. (Femmy)