Pengembangan ayam lokal menjadi salah satu isu yang dibahas dalam rangkaian ILDEX Indonesia ke-8. Pameran internasional yang mempertemukan pelaku sektor peternakan, susu, pengolahan daging, dan akuakultur tersebut menjadi ruang diskusi mengenai penguatan industri ayam lokal melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri.

Diskusi strategis bertajuk “Inovasi dan Optimalisasi Potensi Sumber Daya Lokal untuk Mendukung Pengembangan Industri Ayam Lokal yang Mandiri dan Berkelanjutan” digelar pada Rabu, 17 September 2026, pukul 14.00–16.45 WIB di Garuda 6AB, Indonesia Convention Exhibition (ICE), Jakarta. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara ILDEX Indonesia, Fakultas Peternakan IPB University

Akademisi, Pemerintah, dan Praktisi Bahas Ayam Lokal

Forum menghadirkan akademisi, pemerintah, dan praktisi industri untuk membahas pengembangan ayam lokal dari berbagai sisi, mulai dari penelitian dan pemuliaan, teknologi budidaya, pakan, biosekuriti, hingga komersialisasi dan kesiapan pasar.

Sebagai keynote speaker, Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc., Dekan Fakultas Peternakan IPB University, menyampaikan bahwa penelitian mengenai ayam lokal pada dasarnya telah berkembang cukup matang. Tantangan berikutnya adalah mendorong hasil penelitian tersebut agar dapat diterapkan oleh peternak melalui diseminasi, kemandirian pembibitan, serta perbaikan teknologi budidaya. Dengan demikian, ayam lokal diharapkan dapat berkembang menjadi komoditas yang semakin kuat di pasar dalam negeri.

Sementara itu, Dr. Hary Suhada, S.Pt., M.Sc., Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam memperkuat industri ayam lokal. Pemanfaatan sumber daya lokal, inovasi, serta sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mendukung kemandirian pangan nasional.

Pada sesi narasumber, Dr. drh. Agus Susanto, M.Si., Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan, membahas penerapan bioteknologi modern dan penguatan biosekuriti pada sektor unggas. Penerapan teknologi modern yang didukung biosekuriti secara ketat menjadi bagian penting dalam membangun peternakan unggas yang tangguh, efisien, bebas penyakit, dan berkelanjutan.

Dari sisi pemuliaan, Prof. Dr. Muhammad Ihsan Andi Dagong, S.Pt., M.Si., Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, memaparkan keunggulan genetik ayam ALOPE UNHAS-1. Ayam tersebut memiliki potensi sebagai ayam pedaging unggul dengan daya tahan tinggi. Pengembangannya juga diarahkan untuk mendukung kemandirian bibit lokal dan pemberdayaan peternak skala kecil melalui sinergi antara perguruan tinggi, peternak, pemerintah, dan pihak swasta.

Sementara itu, Dr. Ir. Andi Zaenab, M.Si., Kepala Balai Unggas dan Aneka Ternak (BRMP), menyampaikan perkembangan riset dan pengembangan ayam lokal masa kini. Integrasi antara riset, penyediaan bibit, pemanfaatan pakan lokal, dan kandang terstandar dinilai dapat mendorong perubahan pola usaha peternakan menuju sistem yang lebih terukur dan presisi. Pendekatan tersebut sekaligus diarahkan untuk menjamin pasokan ayam lokal secara masif dan kontinu serta mengurangi ketergantungan terhadap galur impor.

Aspek pakan dibahas oleh Prof. Dr. Ir. Sumiati, M.Sc., Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, melalui materi optimalisasi pakan berbasis sumber daya lokal untuk mendukung produksi Ayam IPB D1. Pengembangan Ayam IPB D1 memerlukan formulasi pakan yang disesuaikan dengan keragaman genetik dan potensi pertumbuhannya. Pemanfaatan bahan pakan lokal berkualitas yang diperkaya senyawa bioaktif alami menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan efisiensi biaya sekaligus menunjang pertumbuhan dan produksi telur. Strategi tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah Ayam IPB D1 sebagai produk daging fungsional.

Dari sisi komersialisasi, Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Sc., Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, menyampaikan pentingnya konservasi sekaligus peningkatan populasi ayam lokal. Upaya tersebut perlu melibatkan pemerintah, industri peternakan, dan masyarakat. Pemanfaatan genetika molekuler dalam proses seleksi dapat mempercepat peningkatan produktivitas dan kualitas produk, termasuk pengembangan galur ayam lokal yang memiliki ketahanan penyakit dan potensi menghasilkan pangan fungsional sesuai kebutuhan pasar.

Potensi tersebut selanjutnya dapat dikembangkan melalui industri peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir dalam suatu kawasan. Integrasi ini menjadi salah satu pendekatan untuk menghubungkan aspek pembibitan, produksi, pengolahan, hingga pemasaran sehingga pengembangan ayam lokal tidak berhenti pada aspek penelitian dan produksi semata.

Perspektif pelaku usaha dan peternak disampaikan oleh Herri Irawan, S.Pt., dari Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO). Ia menyoroti pentingnya integrasi industri broiler, pola kemitraan, dan penguatan rantai pasok. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kesiapan pasar sebelum peningkatan produksi dilakukan. Menurutnya, pasar perlu disiapkan terlebih dahulu agar peningkatan produksi tidak berujung pada oversupply. Digitalisasi data dan informasi pasar juga menjadi bagian penting dalam mendukung pengambilan keputusan di sepanjang rantai pasok.

Mendorong Ekosistem Ayam Lokal yang Berkelanjutan

Berbagai paparan dalam forum tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ayam lokal membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Penguatan genetik dan pembibitan perlu berjalan bersama dengan inovasi pakan, teknologi budidaya, biosekuriti, efisiensi produksi, serta pengembangan pasar.

Pemanfaatan sumber daya lokal juga tidak hanya berkaitan dengan bahan pakan atau bibit, tetapi mencakup penguatan kapasitas peternak, teknologi, pengetahuan, dan jejaring usaha di sepanjang rantai nilai. Dengan dukungan riset dan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, peternak, serta masyarakat, potensi ayam lokal dapat dikembangkan secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Forum ini sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan nyata di lapangan. Penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir, disertai kesiapan pasar dan pemanfaatan teknologi, menjadi bagian penting dalam mendorong ayam lokal sebagai komoditas yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan di Indonesia.