News

  • Sejumlah peneliti dari Fakultas Peternakan (Fapet) dan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedia (SKHB) IPB University mengembangkan ayam lokal pedaging unggul IPB D1. Ayam IPB D1 diklaim tahan penyakit, tumbuh cepat dan memiliki daging berantioksidan tinggi sebagai pangan fungsional. Peneliti yang terlibat dalam perakitan ayam unggul IPB D1 yaitu Prof Cece Sumantri sebagai ketua, Dr Sri Darwati, Prof Niken Ulupi, Prof Sumiati dan Dr Sri Murtini sebagai anggota.  
     
    Prof Cece menerangkan, pembentukan ayam IPB D1 merupakan langkah yang sangat strategis. Hal ini karena dalam rangka menjaga ketahanan pangan dan kemandirian pangan protein hewani yang berasal dari ayam lokal di masyarakat pedesaan. 

    Pakar ayam dari IPB University itu melanjutkan, berkembangnya industri pembibitan, pakan serta teknik budidaya ayam lokal diharapkan dapat mengurangi ketergantungan daging maupun telur dari ayam ras yang bibit dan pakannya masih berbasis impor. Dengan demikian, katanya, agribisnis peternakan ayam lokal dapat berkembang dengan baik terutama di pedesaan yang secara langsung akan menggerakan perekonomian pedesaan.

    Prof Cece menjelaskan, Ayam IPB D1 dikembangkan oleh Tim Fakultas Peternakan IPB University sejak tahun 2010. Ayam lokal tersebut merupakan persilangan dari jantan F1 (Pelung x Sentul) dengan betina F1 (kampung x Parent Stock Cobb pedaging). Secara genetik, ayam IPB D1 mempunyai komposisi gen ayam pelung : sentul : kampung: Cobb, masing-masing sebesar 25 persen. 

    Dosen IPB University itu menjelaskan, ayam IPB D1 disilangkan sesamanya sampai generasi ke-5 dan dilakukan seleksi melalui penggunaan genetika molekuler. 

    Penelitian ayam IPB University untuk bidang Pemuliaan dan Genetika Ternak dikerjakan oleh Prof Cece Sumantri dan Dr Sri Darwati. Sementara, teknik budi daya dikerjakan oleh Prof Niken Ulupi, dan terkait ketahanan penyakit dilakukan oleh Dr Drh Sri Murtini serta untuk bidang pakannya dikerjakan oleh Prof Sumiati. Tak hanya itu, riset ini juga dilengkapi dengan aspek teknologi hasil ternak oleh Prof Irma Isnafia Arief serta aspek sosial ekonomi peternakan dan pemasarannya oleh Dr Lucia Cyrilla.

    Pada Tahun 2019, Ayam IPB D1 telah ditetapkan sebagai rumpun baru ayam lokal pedaging unggul dengan SK No.693/KPTS/PK.230/M/9/2019. Ayam IPB D1 diklaim memiliki kemampuan tumbuh cepat, kualitas daging baik, dan tahan terhadap penyakit Newcastle Disease (ND) dan Salmonella.

    Prof Cece melanjutkan, pengembangan ayam IPB D1 sejak tahun 2020 ditargetkan untuk mendapatkan calon galur induk betina IPB D2 (female line). Indukan tersebut diharapkan dapat lebih tahan lagi terhadap penyakit terutama ND. Serta calon galur pejantan IPB D3 (male line) yang lebih cepat tumbuh lagi. 

    “Dengan demikian, akan menghasilkan ayam IPB D1 upgrade yang lebih unggul, baik dalam ketahanan penyakit, pertumbuhan dan kualitas dagingnya terutama kandungan mineral Fe dan Zn pada dagingnya,” kata Prof Cece.

    Ia berharap, pada tahun 2024 untuk galur IPB D2 dan tahun 2026 untuk galur IPB D3 dapat disetujui untuk dilepas sebagai galur baru oleh Tim Komisi Penetapan dan Pelepasan Rumpun dan Galur Ternak, Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

    Berdasarkan kajian yang sudah dilakukan, ayam IPB D1 memiliki bobot berkisar antara 0,9 - 1,1 kilogram pada umur 10 minggu, ketahanan terhadap penyakit ND tinggi, produksi telur mencapai 45 persen, kandungan mineral pada daging yang tinggi dan proporsi daging dada mencapai 20 persen. 

    Sementara, ayam IPB D2 memiliki bobot sekitar 1,0 - 1,3 kilogram pada umur 10 minggu, ketahanan terhadap penyakit ND yang tinggi, kandungan mineral pada daging yang tinggi dan proporsi daging dada mencapai 20 persen, serta kemampuan produksi telur mencapai 50 persen. 

    Adapun ayam IPB D3 dapat menghasilkan bobot lebih dari 1,3 kilogram pada umur 10 minggu, ketahanan terhadap penyakit ND yang tinggi, proporsi daging dada mencapai 20 persen, serta kemampuan produksi telur mencapai 45 persen.

    Terkait pengembangan, Prof Cece mengaku telah menjalin kerja sama dengan beberapa mitra. Ia menjelaskan, kerjasama dengan mitra dari industri sudah dilakukan sejak tahun 2017 dengan Ir Bambang Krista MM dari UD Citra Lestari Farm sebagai Licensor ayam IPB D1. Dalam pengembangannya selain perbanyakan rumpun ayam IPB D1, calon galur IPB D2 dan calon IPB D3 juga melakukan IPB Final stock, yaitu dengan menyilangkan pejantan IPB D1 dengan betina dari UD Citra Lestari Farm. Program tersebut dilakukan melalui program Riset inovatif Produktif RISPRO-LPDP periode 2020-2023. 

    Tidak hanya itu, tim IPB University juga menjalin kerja sama dengan mitra dari kelompok peternak Sinar Harapan Farm (SHF) dari Jampang Tengah, Sukabumi sejak tahun 2015. Kelompok peternak tersebut diketuai oleh Ali Mustofa, alumnus IPB University dari Fakultas Peternakan. Kerjasama dijalankan melalui skim program CPPBT/Prastartup (Calon Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi) pada tahun 2018 dan program Startup 2021 dan RISPRO-LPDP 2020- 2023. Tim IPB University juga menjalin kerjasama dengan kelompok peternak dari Boyolali yaitu PT Nutfah Unggul Inti Makmur (NUI) melalui program Rispro LPDP 2020-2023 dan program pra startup pada tahun 2022.

    Pada 10 Agustus 2022 bertepatan dengan Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas), IPB University melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melakukan launching inovasi varietas ayam ini, bertempat di Gedung rektorat, Kampus Dramaga, Bogor (ipb.ac.id)

  • Tim Program Peningkatan Kapasitas Ormawa (PPKO) Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB University menggelar pelatihan pembuatan eco enzyme dan ecobrick di Desa Sinar Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 25/8. Pelatihan ini sebagai upaya penanganan limbah sampah organik dan sampah anorganik untuk mewujudkan ecopreneur dan green economy.

    Nurlita, mahasiswa IPB University, menyampaikan pelatihan ini bertujuan untuk melatih para Ibu Rumah Tangga untuk memanfaatkan limbah rumah tangga yang mereka hasilkan. Limbah tersebut diolah menjadi eco enzyme dan ecobrick. 

    “Pembuatan eco enzyme memanfaatkan limbah sampah organik, seperti kulit buah dan sayuran. Sedangkan pembuatan ecobrick memanfaatkan limbah anorganik, seperti sampah plastik dan bekas botol air mineral,” kata Nurlita, Ketua Tim PPO Himasiter IPB University.

    Nugrahini Rahayu selaku narasumber mengatakan, eco enzyme merupakan cairan alami serbaguna. Cairan ini dapat diperoleh dari hasil fermentasi campuran gula, sisa buah-buahan atau sayuran, dan air. Ia mengajak para Ibu Rumah Tangga untuk membuat eco enzyme yang berguna dalam kehidupan sehari-hari, seperti cairan pembersih, sabun, shampo, toner, pasta gigi, detoks, hand sanitizer, mengatasi bekas luka, pupuk, dan obat pestisida. 

    Ketua Agrianita Fakultas Peternakan IPB University, Dwi Dasawati, menambahkan pembuatan ecobrick ini berfokus untuk mengurangi sampah plastik. Hasil ecobrick ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai tempat duduk dan meja di taman pojok ‘HAYUK Resik’, serta dapat dijual ke e-commerce.

    Thomas, selaku Ketua RT 05/Rw 01 mengatakan, eco enzyme dan ecobrick memiliki banyak sekali manfaatnya. Eco Enzyme dapat dimanfaatkan sebagai desinfektan yang mampu membunuh kuman dan jamur, sehingga mampu menjadi alternatif pembersih lantai. Selain itu ecobrick dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan untuk membuat kursi, meja, dan kerajinan lainnya.

    “Pengetahuan mengenai eco enzyme dan ecobrick merupakan hal baru yang ada di Desa Sinarsari. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya untuk
    pemberdayaan masyarakat desa,” kata Thomas. 

    Oleh karena itu, katanya, kegiatan eco enzyme dan ecobrick merupakan inovasi baru di Desa Sinarsari dan memiliki manfaat bagi lingkungan dan sosial. Pelatihan ini diharapkan dapat mengubah persepsi masyarakat Desa Sinarsari yang awalnya menganggap bahwa sampah yang dihasilkan dari limbah rumah tangga tidak dapat dimanfaatkan menjadi produk dengan nilai fungsional dan nilai ekonomis (ipb.ac.id)

  • Tim Program Matching Fund Kedaireka tahun 2022 dengan tema Hilirisasi Produk Pakan Ternak dan Hewan Kesayangan Berbasis Black Soldier Fly (Hermetia Illucens) tahun ini menggandeng mitra
    Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Magetan. Upaya tersebut ditempuh untuk menuntaskan masalah sampah organik menjadi kompos dan pakan ternak di Pasar Plaosan. 

    Program yang diketuai oleh Prof Dewi Apri Astuti,  Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University mengawali kegiatan dengan pelatihan pengolahan limbah organik sebagai pakan larva BSF secara hybrid, 17-18/9. Pada hari kedua dilakukan praktik budidaya BSF dan pembuatan pelet pakan ternak di pasar Plaosan, Magetan, Jawa Timur.

    Dekan Fakultas Peternakan IPB University, Dr Idat Galih Permana, mengatakan, pelatihan ini  dalam rangka menyelesaikan masalah sampah organik melalui pengolahan menggunakan BSF. Nantinya, produk turunan yang dihasilkan akan digunakan sebagai pakan ternak untuk memberikan manfaat dan impact bagi masyarakat. 

    Sementara, Wakil Rektor IPB University, Bidang Inovasi dan Bisnis, Prof Erika B Laconi yang bergabung secara virtual, berharap, kegiatan ini dapat memberikan dampak yang besar dalam pengembangan bisnis kompos dan pakan ternak di Kabupaten Magetan.

    Dalam materinya, Prof Arief Sabdo Yuwono, menyampaikan tentang biokonversi limbah organik menjadi protein pakan dan kompos. Sedangkan Prof Dewi Apri Astuti membahas topik tentang pemanfaatan larva BSF dan turunannya sebagai pakan unggas, ruminansia dan ikan.

    Prof Dewi Apri, berharap, setelah pelatihan berlangsung, sampah yang ada di pasar Plaosan bisa termanfaatkan dengan baik. Tidak hanya itu, sampah organik yang diolah dapat menghasilkan maggot serta dapat dimanfaatkan sebagai  pakan ternak dan ikan serta menyediakan kompos untuk pertanian sayuran di lahan sekitar telaga Sarangan (ipb.ac.id)

  • Tim IPB University yang terdiri dari Prof Muladno (penggagas Sekolah Peternakan Rakyat/SPR), Prof Drh Agik Suprayogi (Ketua Unit Penyelenggara SPR) dan Arya W Padmodimulyo (Juru Bicara Solidaritas Alumni SPR Indonesia/SASPRI nasional) hadir dalam Dialog Interaktif dengan topik “Sosialisasi Sekolah Peternakan Rakyat” di Studio Program I Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Fakfak, Papua, (20/4). Kehadiran Tim IPB University ke Papua ini sebagai upaya penyebaran SPR ke seluruh Indonesia.
     
    Kegiatan ini terselenggara berkat Kerjasama Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University dan RRI Fakfak, Papua.
     “SPR IPB University sampai saat ini sudah berkembang menjadi 61 SPR tersebar di 25 kabupaten dan 12 provinsi di Indonesia. Akan terus tumbuh secara progresif di tanah air,” ujar Prof Muladno selaku Kepala PSP3 IPB University.
     
    Menurutnya SPR IPB University merupakan solusi perbaikan untuk peternakan di Kabupaten Fakfak. Mengingat permasalahan peternakan di wilayah ini bukan semata teknologi, namun kapasitas para peternak yang masih lemah dan adanya kesenjangan pemikiran antara birokrat dengan peternak.
     
    “Oleh karena itu di SPR inilah mereka harus sekolah untuk meningkatkan mental, semangat dan percaya diri dalam bisnis kolektif berjamaah di bidang peternakan. Kurikulum di SPR IPB University, 80 persen adalah bertujuan memperbaiki mental menuju karakter baik bagi mereka. Dan hanya 20 persen membahas teknologi,” jelasnya.
     
    Ia menambahkan, dalam SPR, peternak akan didampingi oleh perguruan tinggi dan melibatkan berbagai pihak unsur. Yaitu pemerintah daerah setempat, swasta dan peternak itu sendiri (konsep Academician-Business-Government-Community/ABGC).  Di saat yang sama Prof Agik juga menyampaikan bahwa perguruan tinggi sesuai dengan tugas dan fungsinya, memiliki tanggung jawab besar dan wajib hadir dalam meningkatkan kapasitas peternak rakyat.
     
    “Kehadiran IPB University di Kabupaten Fakfak bertujuan untuk melakukan koordinasi, konsolidasi dan sosialisasi SPR ke berbagai pihak. Diantaranya dengan Pemkab Fakfak (bupati dan dinas terkait), DPRD Kabupaten Fakfak, perguruan tinggi sekitar (Universitas Papua), swasta setempat (PT Rimbun Sawit Papua), masyarakat/peternak di Distrik Bomberay, Distrik Kokas, Kampung Kinam dan Fior,” ujar Prof Agik.
     
    Partisipasi aktif masyarakat Fakfak dalam dialog interaktif ini sangat tinggi, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul.  “Secara umum mereka sangat senang dan berharap banyak pada IPB University sebagai perguruan tinggi besar agar dapat hadir membantu peternakan rakyat di Fakfak. Permasalahan perkandangan, sistem pemeliharaan ranch dan sapi yang masih dilepasliarkan menjadi masalah besar di peternakan sapi di Fakfak. Dampak pemeliharaan sapi yang digembalakan secara lepas liar sangat mengganggu kehidupan bagi masyarakat, mereka tidak bisa berkebun dengan tenang serta mengganggu lalu lintas umum,” ujar Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University ini.
     
    Sementara itu Juru Bicara SASPRI Nasional, Arya menyampaikan bahwa pihak swasta juga sangat diharapkan perannya dalam membangun SPR. Pihak swasta menjadi penghela sisi hilir agar proses bisnis peternakan rakyat dapat berputar terus dan memastikan hilirisasi produksi ternak dapat hadir di tingkat masyarakat konsumen.
     
    Dialog interaktif ini diharapkan mampu menyebarkan informasi sekaligus promosi bagi program unggulan IPB University, yaitu SPR. Kegiatan ini juga menjadi media edukasi bagi warga maupun peternak di Kabupaten Fakfak untuk lebih memahami maksud dan tujuan adanya SPR.  Tindak lanjut dan komitmen IPB University dalam jangka pendek sangat dinanti pemda maupun peternak di Kabupaten Fakfak melalui PSP3 LPPM IPB University sebagai respon dari kegiatan ini (ipb.ac.id)

  • Dalam rangka upaya meningkatkan  kinerja para pegawai agar mampu mengemban    pekerjaannya   dengan   lebih   baik,  efektif    dan efisien, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB menggelar kegiatan Pengembangan Kapasitas atau  Capacity Building  2022 pada 28-30/10. Kegiatan yang bertajuk Fapet Goes to Dieng ini diikuti oleh 44 peserta yang terdiri dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, tenaga kebersihan serta Ketua Agrianita Fapet IPB.

    Pelaksanaan kegiatan dilakukan di kawasan dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah dan bertujuan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia  (SDM) baik sisi pengetahuan, ketrampilan, sikap maupun perilaku dalam proses pengembangan organisasi yang lebih baik. Capacity building "Fapet Goes to Dieng" Fakultas Peternakan IPB memberikan peningkatan kapasitas pengetahuan sosial budaya masyarakat lain, keterampilan untuk meningkatkan kerjasama tim dan problem solving dalam bentuk permainan seru, serta sikap dan perilaku SDM Fapet IPB.

    Salah satu tenaga kependidikan (tendik) yang ikut serta dalam kegiatan capacity building, Pipih Suningsih, S.Pt, M.Si sangat terkesan dengan kegiatan tersebut ‘’Saya  sangat apresiasi dengan kegiatan capacity building di lingkungan kerja Dekanat Fapet. Karena kegiatan ini bertujuan untuk membangun rasa kebersamaan antar pegawai dekanat dalam memecahkan suatu masalah” ujarnya.

    Peserta lain, Mad Haris mengungkapkan kegiatan capacity building ini meningkatkan kinerja pegawai Dekanat Fapet akan bekerja lebih baik dari sebelumnya serta menumbuhkan rasa kebersamaan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan sehingga mencapai keberhasilan dan kemajuan untuk unit Dekanat Fapet.

    Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Peternakan Dr. Sri Suharti mengapresiasi panitia dan tim yg telah mengkoordinasikan kegiatan ini  sehingga bisa berjalan dengan sukses dan lancar.  “ Semoga kebersamaan yang sudah terjalin selama acara tersebut bisa tetap dilanjutkan dalam kegiatan sehari-hari” harapnya.  

    Ketua Panitia Kegiatan yang juga KTU Fapet, Pungki Prayughi, S.Kom, M.Kom, menjelaskan pada malam kebersamaan disampaikan tujuan organisasi dan apresiasi pencapaian SDM selama ini untuk memberikan motivasi dan arah kreativitas, serta upaya meningkatkan prestasi dalam bekerja kedepan. “Syukur Alhamdulillah acara capacity building Fapet dapat berjalan dengan baik, ucapan terima kasih kepada Pimpinan Fakultas Peternakan IPB, Tim panitia Fapet Goes to Dieng, dan rekan peserta semua, serta Tim Navigatour sebagai fasilitator. Semoga program ini dapat terus berlanjut dan berkesinambungan kedepan untuk meningkatkan performa organisasi dengan peningkatan SDM Fakultas Peternakan IPB. Ahooy...Ahooy...Ahooy” tutupnya dengan semangat (Femmy).

  • Demi meningkatkan kompetensi pemulia tanaman (Co-Breeder) dan mengoptimalkan keragaman genetik tanaman Indonesia dalam sektor pertanian, dua dosen IPB University memaparkan pendekatan dan teknik pemuliaan tanaman yang tepat. Harapannya, Indonesia dapat menjadi pusat pengembangan varietas di masa perubahan iklim.

    Prof Sobir, dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian merekomendasikan pemuliaan partisipatif untuk optimalisasi pemanfaatan sumber daya genetik ini.

    “Saya mengusulkan pendekatan baru yaitu pemuliaan partisipatif sehingga pemulia tidak hanya berasal dari perguruan tinggi dan lembaga pemerintahan saja tapi mendorong petani, individu, hobiis dan pemerhati,” ujarnya dalam seminar bertajuk ‘Peningkatan Kompetensi Co Breeder dalam Rangka Pelepasan Varietas’ yang digelar oleh Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian, Kementerian Pertanian RI, belum lama ini.

    Prof Sobir menjelaskan, pemuliaan partisipatif diarahkan menjadi pemuliaan formal. Varietas lokal dikembangkan menjadi varietas baru sehingga dapat memberikan manfaat bagi pemulianya untuk diproduksi sebagai benih.

    “Dengan pemuliaan partisipatif ini, varietas lokal dapat dilepas dan didaftarkan langsung untuk produksi benih sehingga dapat memberikan manfaat langsung kepada petani yang menuntut keunggulan benih yang khusus,” lanjutnya.

    Pendekatan ini dinilai dapat mewujudkan penyediaan varietas baru yang lebih berkelanjutan. Pemulia formal berpartisipasi bersama petani pemulia dalam aspek edukatif, konsultatif, kolaboratif dan kolegial.

    Pada kesempatan sama, Prof Luki Abdullah, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan turut menjelaskan teknik pemuliaan tanaman pakan ternak (TPT). Pemuliaan tanaman pakan menurutnya sangat penting karena berhubungan erat dengan penyediaan tanaman pakan sebagai sumber hijauan. 

    “Varietas yang diunggulkan tidak hanya berorientasi pada produksi biomassa dan adaptasi terhadap cekaman, tetapi juga orientasi terhadap kualitas atau nutrisi dan keamanannya,” tutur Prof Luki.

    Ia membagikan beberapa teknik pemuliaan TPT yang berfokus pada parameter anatomi, pertumbuhan dan kualitas nutrisinya. Keberhasilan pemuliaan TPT dapat dinilai berdasarkan hasil pengujian dengan parameter tersebut.

    Namun, kata dia, keberhasilan tersebut ditentukan oleh teknik sampling dan penanganannya. “Kesalahan umum yang terjadi dalam analisa kualitas hijauan adalah dalam penentuan bahan kering hijauan dan penanganan sampel hijauan segar,” imbuhnya.

    Menurut Prof Luki, pelepasan varietas tanaman pakan juga perlu diarahkan sebagai pakan fungsional untuk menjaga produktivitas dan kesehatan ternak. Peran strategis TPT untuk ketahanan pangan sangat mendesak, sehingga perlu teknik pemuliaan dan pengujian varietas yang tepat (ipb.ac.id)

  • Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan IPB University menggelar International Webinar dengan tema ‘Multiomics Technologies for Genetic Improvement in Livestock’. 

    “Kegiatan ini merupakan komitmen Departemen IPTP IPB University dalam menggabungkan teknologi dasar multiomics dalam sektor peternakan serta sebagai upaya mendorong kemajuan teknologi dan menghadapi berbagai tantangan dalam produksi ternak,” ujar Prof Irma Isnafia Arief, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan IPB University.

    Ia mengatakan, teknologi omics memiliki potensi yang sangat menjanjikan dalam menjelajahi dan meningkatkan kemajuan sektor peternakan. Departemen IPTP IPB University bahan berupaya mengimplementasikan ilmu omics ke dalam dua kelas khusus bagi mahasiswa tingkat sarjana.

    “Kelas tersebut untuk mengungkap prinsip omics dan aplikasinya sehingga lulusan dapat berfokus pada pengembangan teknologi omics dan bioteknologi yang dapat diaplikasikan di sektor produksi ternak,” ungkapnya.

    Ia mengapresiasi dua narasumber yang diundang yakni Asst Prof Autchara Kayan dari Kasetsart University dan Prof MD Aminul Islam dari Departemen Kedokteran Bangladesh Agricultural University yang sebelumnya pernah diundang dalam Summer Course Program. 

    “Merupakan sebuah kebanggaan bagi kami dalam mengupas kompleksitas bidang molekuler dan manfaatnya yang juga sejalan dengan visi kami dalam mendorong kolaborasi multidisiplin secara internasional,” lanjut dia.

    Dalam acara yang dihadiri oleh akademisi dan mahasiswa dari IPB University dan berbagai perguruan tinggi lain dari seluruh Indonesia ini, Asst Prof Autchara membahas terkait genomik dan epigenetik dalam produksi ternak. Sementara Prof MD Aminul membahas terkait pendekatan bioinformatika selama analisis multiomics (ipb.ac.id)

  • Kelinci merupakan salah satu hewan ternak yang berpotensi sebagai penghasil daging dan sumber protein hewani yang baik. Sebagian masyarakat belum mengetahui bahwa daging kelinci memiliki kandungan protein yang tinggi dan rendah kolesterol.

    Umumnya masyarakat memperoleh kebutuhan daging dari daging sapi, kerbau dan unggas. Potensi lain dari ternak kelinci adalah karena ukuran tubuh yang kecil,  sehingga tidak membutuhkan banyak ruang, tidak memerlukan biaya yang besar untuk investasi ternak dan kandang, umur dewasa yang singkat, kemampuan berkembang biak yang tinggi, dan masa penggemukan yang singkat.

    Kelinci pedaging yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah  jenis New Zealand White, namun pertumbuhannya di Indonesia tidak secepat di negara sub tropis. Perbedaan pertumbuhan ini disebabkan karena perbedaan geografis dan lingkungan. Kelinci lebih menyukai suhu lingkungan yang sejuk. Penelitian atau kajian pun sudah banyak dilakukan untuk meningkatkan performa produksi kelinci, salah satu caranya adalah memanipulasi lingkungan.

    Hal inilah yang mendasari mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB), yaitu Randi Novriadi dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB untuk melakukan suatu penelitian untuk meningkatkan produksi kelinci New Zealand White. Di bawah bimbingan Dr. Moh Yamin, dan Dr. Yono C Raharjo, Randi melakukan rekayasa pencahayaan dan memberikan pakan protein tinggi.

    “Cahaya akan menstimulasi pola sekresi beberapa hormon yang mengontrol sebagian besar pertumbuhan, dewasa kelamin dan reproduksi. Tingkat intensitas cahaya pada kelinci yang cukup adalah 30-40 lux atau setidaknya 50 lux. Peningkatan lama pencahayaan diharapkan dapat meningkatkan aktivitas makan kelinci, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan bobot badan kelinci New Zealand White,” ujarnya.

    Pencahayaan selama 24 jam pada kelinci lepas sapih bisa meningkatkan konsumsi pakan harian, meningkatkan pertumbuhan bobot badan harian, dan memberikan income over feed costyang lebih tinggi dibandingkan taraf perlakuan lainnya.

    “Melalui penelitian ini, dapat dibuktikan bahwa lama pencahayaan selama 24 jam dan pemberian pakan berprotein tinggi mampu meningkatkan pertumbuhan bobot badan kelinci New Zealand White,” jelasnya. (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University ikuti pelatihan di Kelompok Ternak Mandiri Sejahtera, Desa Cijeruk, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini adalah mahasiswa yang tergabung dalam program Matching Fund Kedai Reka Yogurt Probiotik Rosella.
    Pelatihan ini mengangkat empat sub yaitu siasat menghadapi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sentra peternakan sapi perah, pengujian kualitas susu, pengolahan susu dan good farming practices (GFP) pada peternakan sapi perah.

    Ketua Peneliti Kegiatan Kedai Reka Matching Fund 2022 Prof Irma Isnafia Arief ikut memantau langsung tempat pengolahan susu yang dimiliki Kelompok Ternak Mandiri Sejahtera. Ia juga dan memberikan masukan-masukan agar tempat produksi menjadi lebih baik sehingga lebih mudah untuk mendapatkan sertifikasi yang berkaitan dengan izin edar produk yang di produksi.

    “Terimakasih kepada Kelompok Ternak Mandiri Sejahtera yang telah bersedia menerima kedatangan Tim Kedai Reka dari Fakultas Peternakan dan kesediaannya menerima mahasiswa peternakan yang ingin riset di sini,” ujarnya. 

    Dalam kesempatan ini, Makmur M Komara selaku Ketua Kelompok Ternak Mandiri Sejahtera berbagi pengalaman terkait siasat yang dilakukan dalam penanggulangan PMK. Menurutnya, dalam menghadapi wabah ini perlu kerjasama yang kuat antara pihak peternak, pemerintah desa/kelurahan, dinas dan pihak keamanan (polisi).

    “Keberhasilan ini dapat tercapai tak lepas dari komunikasi yang baik antara pihak-pihak terkait dan kesadaran dari masyarakat sekitar,” ujarnya. 

    Pada kesempatan ini mahasiswa melihat langsung kondisi ternak di kandang, tempat penampungan susu dan pengujian susu.
    Pengujian kualitas susu yang dilakukan menggunakan alat milkotester ini dijelaskan oleh dosen Fakultas Peternakan IPB University, yaitu Dr Iyep Komala, SPt, MSi dan Muhammad Arifin SPt, MSi. Selain pengujian kualitas susu Dr Iyep Komala juga memberikan pelatihan terkait dengan Good Farming Practices pada peternakan sapi perah.

    Menurutnya Kelompok Ternak Mandiri Sejahtera ini sangat baik untuk dijadikan sebagai lokasi riset khususnya untuk mahasiswa peternakan. Selain itu Dr Iyep Komala bersedia mendampingi mahasiswa yang berminat riset dan membina peternak menuju sentra peternakan sapi perah rujukan (ipb.ac.id)

  • Wabah COVID-19 yang terjadi saat ini membuat banyak orang terpaksa harus membatasi aktivitas di luar rumah. Sehingga aktivitas bekerja dan belajar pun harus dilakukan di rumah.
    Berbagai upaya dilakukan agar stamina keluarga tetap sehat, diantaranya dengan mengonsumsi makanan sehat seperti banyak makan sayur, buah, daging, ikan, kacang- kacangan.

    Agar tidak terlalu banyak aktivitas keluar rumah, ibu-ibu sudah mulai menyimpan cadangan makanan di lemari pendingin, salah satunya adalah daging.  Namun untuk proses penyimpanan daging yang baik, tidak banyak masyarakat mengetahui tekniknya dan bagaimana menyiapkan daging beku yang aman dan sehat.

    Menurut Dr Tuti Suryati, SPt, MSi, dosen dari Divisi Teknologi Hasil Ternak, Departemen llmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, cara menyiapkan daging beku yang aman dan sehat adalah beli daging segar atau daging beku yang diproses dengan benar dan higienis. Lalu simpan beku dalam kemasan sesuai porsi kebutuhan per sajian.

    “Sebelum dimasak, daging beku harus di-thawing (disegarkan kembali) kecuali setelah
    dimasak. Thawing dilakukan pada refrigerator atau direndam air dingin tanpa membuka
    kemasannya atau diletakkan pada papan besi khusus yang higienis atau menggunakan
    microwave. Hindari melakukan thawing daging beku pada suhu ruang tanpa kemasan. Selain itu, hindari membekukan kembali daging yang sudah di-thawing,” ujarnya.

    Untuk mengolahnya, hindari memasak daging yang masih beku supaya tidak alot. Gunakan bumbu-bumbu kaya antioksidan pada saat mengolah daging. Masak daging dengan suhu dan lama waktu secukupnya.  “Olahan daging dapat disimpan beku dalam kemasan sesuai porsi per sajian keluarga dan sebelum disajikan, daging olahan beku harus di-thawing dengan cara yang benar dan dipanaskan. Stay at Home, tetap sehat dan semangat dengan gizi produk hasil ternak yang menyehatkan,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Logistik rantai dingin merupakan bagian dari rantai pasok yang bertujuan untuk menjaga suhu agar produk tetap terjaga selama proses pengumpulan, pengolahan, dan distribusi ke tangan konsumen. Adapun Manajemen rantai pendingin, dapat diartikan sebagai pengelolaan seluruh aktivitas rantai pendingin yang dianalisis, diukur, dikontrol, didokumentasikan, dan divalidasi agar berjalan secara efektif dan efisien baik secara teknis dan ekonomis.

    Hal itu disampaikan oleh Irene Natasha, Pimpinan PT Adib Cold Logistics Indonesia Irene Natasha dalam Pelatihan Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging di Kampus Fakultas Peternakan IPB Darmaga Bogor (27/8). Pelatihan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) selama dua hari tersebut juga dilangsungkan kunjungan ke PT Adib Cold Logistics di kawasan Narogong, Bekasi.

     

    Ia mengingatkan tentang empat tahap kritis yang harus dicermati dalam sistem rantai pendingin produk beku, yakni penanganan pada proses awal, penyimpanan dan pengolahan saat tiba di darat, penanganan saat transportasi ke lokasi tujuan, hingga penanganan saat bongkar muat dan sistem distribusi ke konsumen. Khusus untuk transportasi, hal ini perlu digarisbawahi mengingat kondisi medan di Indonesia yang kadangkala sulit diprediksi. “Distribusi merupakan kegiatan dalam supply chain untuk memastikan suatu barang yang diproduksi akan sampai ke pada customer,” kata Irene. Adapun tujuan distribusi yakni memastikan suatu produk bisa sampai ke customer sesuai dengan misi logistik, memastikan penyebaran produk dengan merata, meningkatkan nilai guna suatu produk, dan meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi suatu perusahaan.

    Dalam sistem logistik, transportasi berperan dalam perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian aktivitas yang berkaitan dengan moda, vendor, dan pemindahan persediaan masuk dan keluar suatu organisasi. Daging sebagai produk yang mudah rusak dalam proses pendistribusiannya harus menggunakan truk berpendingin. “Truk berpendingin sudah menjadi kebutuhan umum guna mentransportasikan bahan makanan melalui jarak yang cukup jauh. Selain meminimalkan atau meniadakan pertumbuhan mikroorganisme, pendinginan yang dihasilkan oleh teknologi refrigerasi juga diperlukan untuk mencegah terjadinya reaksi kimiawi/biologis yang bisa merusak kondisi suatu zat,” tandas Irene. (agropustaka.id)

  • Fakultas Peternakan IPB menyelenggarakan kegiatan Training of Trainer(ToT) Kebijakan dan Implementasi Gender pada tanggal 1 dan 8 Februari 2019. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Kerjasama Fakultas Peternakan IPB. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Dr.Ir.Moh Yamin, MAgrSc selaku dekan Fakultas Peternakan IPB. “Berbagai pelaksanaan kegiatan Fapet IPB baik akademik, riset dan pemberdayaan masyarakat melibatkan SDM yang kompeten sesuai dengan kualifikasi dan keahlian baik laki-laki maupun perempuan yang tidak terlepas dari peran dan faktor gender”, jelas Dekan.

    Fasilitator pada kegiatan ToT ini adalah  Prof.Dr.Ir.Asnath M Fuah, MS selaku ketua program Gender dan Dr.Ir Ekawati Wahyuni, MS selaku konsultan ahli program gender dari FEMA-IPB. Keduanya tergabung dalam tim pada program gender yang merupakan bagian dari proyek NICHE-Fapet IPB.  Prof Asnath menjelaskan bahwa kebijakan gender Fapet IPB telah dirumuskan oleh tim expert gender Fapet IPB bekerjasama dengan tim expert IPB dan internasional dalam kerjasama proyek NICHE. Eka menyatakan bahwa  Fakultas Peternakan IPB sebagai salah satu unit kerja dalam Perguruan Tinggi di IPB telah berupaya menyusun kebijakan gender sebagai pilot project yang dapat diikuti oleh fakultas lainnya di IPB.

    Pelatihan ditujukan kepada  pemangku kepentingan representatif di Fapet IPB untuk mensosialisasikan kebijakan gender sehingga implementasi kebijakan diharapkan berjalan secara efektif. Kegiatan diikuti oleh 14 peserta yang  terdiri dari perwakilan  dosen, tenaga kependidikan dan pegawai pada masing-masing Departemen IPTP, Departemen INTP dan Fakultas Peternakan IPB. ToT ini bertujuan untuk mensosialisasikan kebijakan gender yang telah dirumuskan tim expert dan disahkan oleh Dekan Fapet kepada para pemangku kepentingan sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi.  

  • Keberhasilan para ahli bedah di Amerika Serikat melakukan transplantasi ginjal dari babi hasil rekayasa genetika ke manusia hidup pada bulan Maret lalu menimbulkan harapan baru bagi jutaan pasien gagal ginjal di seluruh dunia. Walaupun pasien ini akhirnya meninggal dunia setelah bertahan hidup selama dua bulan, momen ini dipandang sebagai lompatan yang sangat penting dalam mengatasi kekurangan organ di seluruh dunia.

    Menurut Ahli Genetika IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, perkembangan ilmu pengetahuan terkait transplantasi ginjal babi ke manusia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Salah satu teknologi yang digunakan adalah teknologi pengeditan gen yang dapat memecahkan masalah penolakan organ.

    “Pada dasarnya teknologi pengeditan gen agar organ dari babi dapat diterima tubuh manusia melalui tiga tahapan, yaitu menghilangkan gen tertentu dari babi yang bereaksi terhadap antibodi manusia. Selanjutnya ditambahkan gen tertentu dari manusia untuk meningkatkan kecocokan ginjal dengan manusia. Tahap terakhir adalah menonaktifkan virus yang ada di semua genom babi untuk menghilangkan risiko infeksi pada penerimanya,” ujar Prof Ronny.

    Menurut Prof Ronny perkembangan teknologi yang sangat cepat ini menimbulkan harapan baru bagi pasien yang menunggu donor organ secara konvensional karena kekurangan organ donor. Saat ini, kata dia, para peneliti sedang memfokuskan untuk mengeksplorasi transplantasi organ babi sebagai solusi terhadap kekurangan donor ginjal di seluruh dunia.

    “Data menunjukkan bahwa kekurangan organ untuk transplantasi seperti misalnya ginjal dari manusia memang sangat kronis. Sebagai contoh di Australia terdapat sebanyak 1.400 pasien yang menunggu transplantasi ginjal, sedangkan di Amerika angkanya mencapai 96.500 orang,” sebutnya.

    Dari berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti menunjukkan bahwa transplantasi merupakan cara yang dinilai efektif ketika pasien mengalami gagal ginjal akut sehingga perlu dilakukan cuci darah secara rutin.

    Di samping itu, hasil studi yang dilakukan oleh National Kidney Foundation di Australia juga menunjukkan bahwa orang dengan transplantasi ginjal hidup lebih lama dibandingkan mereka yang menjalani dialisis (cuci darah).

    Prof Ronny menyebut, transplantasi organ antar spesies yang dikenal sebagai xenotransplantasi memang mengundang kontroversi karena menyangkut masalah etika. Masyarakat umumnya tidak menyukai jenis hewan yang digunakan dalam penelitian dan juga donor.

    Bagi umat muslim tentunya akan menolak jika organ yang dicangkokkan berasal dari babi karena masalah kehalalnya. Di samping bagi aktivis dan pecinta hewan memandang bahwa hewan sekalipun tidak layak dikorbankan untuk kepentingan manusia.

    “Selama beberapa dekade, para peneliti telah mengeksplorasi penggunaan organ dan jaringan hewan yang ditransplantasikan pada manusia. Sebagai contoh, di tahun 1984 tercatat bayi pertama menjalani xenotransplantasi dengan menerima jantung babon dan dapat bertahan hidup selama 21 hari,” ungkap Prof Ronny.

    Ia menjelaskan, ukuran organ babi memiliki ukuran yang hampir serupa dengan manusia sehingga bagian tubuh babi sudah banyak digunakan untuk tujuan pengobatan pada manusia, seperti insulin diabetes dan jaringan untuk katup jantung.

    Dalam perkembangannya, ginjal babi yang mengalami proses pengeditan gen telah berhasil ditransplantasikan ke monyet yang dapat bertahan hidup selama rata-rata 176 hari. Bahkan pada kasus lainnya dapat bertahan hidup selama lebih dari dua tahun.

    Dalam perkembangannya tidak hanya ginjal saja yang ditransplantasikan ke manusia namun juga organ lainnya seperti jantung dengan menggunakan teknologi yang hampir sama.

    “Keberhasilan transplantasi ginjal babi ke manusia memang menimbulkan harapan baru bagi jutaan pasien di seluruh dunia yang menderita gagal ginjal. Namun di balik kisah sukses ini masih diselimuti berbagai kontroversi yang kemungkinan besar tidak pernah sirna,” ujar Prof Ronny. (ipb.ac.id)

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menyelenggarakan pelatihan komunikasi dan pengembangan diri, (05/09). Pelatihan yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru angkatan ke-57 ini menghadirkan Wawan Wicky Adrian yang merupakan seorang news anchor dan executive producer di IDX Channel.

    Prof Irma Isnafia Arief selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fapet IPB University menyampaikan dukungan atas diselenggarakannya pelatihan tersebut. Ia berharap pelatihan dapat membantu mahasiswa baru meningkatkan rasa percaya diri serta kemampuan berbicara di depan publik.

    “Tentunya sudah banyak sekali pengalaman yang dimiliki oleh Kak Wawan. Semoga kiat dan ilmunya dapat meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa. Semoga acaranya berjalan dengan sukses, kami segenap tim di dekanat senantiasa memantau dan mendukung kegiatan adik-adik mahasiswa,” ujar Prof Irma.

    Dalam kesempatan tersebut Koordinator Komisi Kemahasiswaan Fapet IPB University, Iyep Komala, SPt, MSi juga menyampaikan harapannya bahwa melalui pelatihan ini mahasiswa menjadi lebih cakap dalam berkomunikasi. Baik komunikasi dengan sesama mahasiswa maupun dengan para dosen dan tenaga kependidikan. 

    “Semoga mahasiswa juga menjadi lebih termotivasi untuk mengejar kesuksesan. Karena kemampuan komunikasi serta personality yang baik sangat mendukung kita dalam mencapai kesuksesan,” tandasnya di hadapan 350 peserta pelatihan.

    Wawan Wincky Adrian SKom MKP yang selanjutnya dipanggil dengan sapaan Wicky memulai pemaparannya dengan beberapa alasan atau ketakutan yang dimiliki mayoritas orang dalam public speaking. Ia menyampaikan bahwa secara umum ketakutan tersebut di antaranya takut dengan pelafalan yang buruk, takut dianggap tidak nyambung dengan penonton, serta takut tidak dihiraukan oleh audien.

    “Hal pertama yang harus diubah adalah mengubah mindset kita. Katakan kalau kita harus berani melakukan public speaking. Kalau tidak maka akan terlalu banyak kesempatan yang akan saya lewatkan. Kalau tidak, maka orang-orang tidak akan mengetahui ide-ide yang saya miliki dan ingin saya bagikan kepada dunia,” papar penyiar Berita Satu tersebut.

    Selanjutnya Wicky menguraikan satu per satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi ketakutan tersebut sebelum memulai public speaking. Kekhawatiran terhadap kesalahan berbicara dapat diatasi dengan melakukan riset yang maksimal terhadap topik yang akan disampaikan. Kemudian lakukan latihan di depan cermin sembari memperhatikan gestur tubuh dalam membawakan materi.

    “Ketakutan selanjutnya adalah khawatir belibet atau pelafalan yang tidak jelas. Hal ini bisa diatasi dengan senam mulut. Untuk menghasilkan artikulasi yang jelas maka kita tidak boleh malas untuk membuka mulut dan menggerakkan wajah saat mengatakan sesuatu,” ujarnya.

    Rasa takut tidak dihiraukan oleh audien bisa diatasi dengan melakukan kontak mata serta bahasa tubuh yang terbuka. Sesekali dapat menyampaikan pertanyaan untuk kembali memfokuskan perhatian para audien. Tidak kalah penting juga untuk menanamkan keyakinan dalam diri sendiri bahwa kita hadir untuk memberikan manfaat kepada audien.

    “Terakhir, adanya rasa tidak percaya diri. Solusi untuk ini adalah groom yourself. Gunakan pakaian terbaik saat akan tampil. Sesuaikan outfit yang dikenakan dengan tema acara. Terakhir gunakan make up secukupnya,” pungkas Kak Wicky. 

    Peserta terlihat sangat antusias mengajukan pertanyaan. Acara pelatihan pada minggu pagi tersebut diakhiri dengan pembagian kelompok menjadi 20 kelompok. Setiap kelompok didampingi oleh seorang mentor yang merupakan kakak tingkat yang tergabung dalam Public Relation Fakultas Peternakan IPB University.

    Masing-masing kelompok berdiskusi dalam breakout room untuk membuat video promosi dengan topik peternakan secara luas sebagai praktikum dari pelatihan yang diikuti (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa Indonesia memang tiada hentinya berusaha menciptakan beragam inovasi yang mampu menjadi solusi dari permasalahan yang ada di lingkungan sekitar. Kadangkala, inovasi yang diciptakan mahasiswa itu berupa pemanfaatan bahan-bahan yang tak terpikirkan sebelumnya. Seperti inovasi di bidang penelitian karya mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) ini. Mereka membuat perekat organik dari limbah bulu ayam dan tulang sapi.

    Inovasi penelitian ini berhasil mendapatkan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti RI) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di bidang Penelitian pada tahun 2018. Mereka adalaha  Rahayu Lestari, Erik Kurniawan dan Hasana Aqiroh di bawah bimbingan Iyep Komala, SPt, M,Si. mereka berhasil memanfaatkan limbah yang mengganggu kondisi lingkungan sekitar menjadi inovasi yang bernilai ekonomi.

    Ayam dikenal sebagai unggas yang daging maupun telurnya digemari oleh masyarakat. Penjualan dan konsumsi ayam terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan meningkatnya konsumsi ayam oleh masyarakat maka meningkat pula limbah yang akan dihasilkan sehingga mengalami penumpukan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan inovasi terhadap limbah dari hasil konsumsi ayam agar tidak terjadi penumpukan.

    “Bulu ayam adalah bagian limbah ayam yang banyak menghasilkan sampah dalam jumlah cukup besar. Sehingga kami berpikir untuk memanfaatkan limbah bulu ayam ini menjadi sesuatu yang bernilai secara ekonomi dan mengurangi sampah akibat limbah bulu ayam. Bulu ayam mengandung protein keratin yang berdaya rekat cukup baik. Selain itu, kami mengombinasikan dengan tulang sapi. Tulang sapi mengandung kolagen yang juga memiliki daya rekat tinggi. Oleh karena itu kedua limbah ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk perekat (glue),” papar Rahayu sebagai ketua program penelitian ini.

    Beberapa keunggulan perekat organik dari limbah bulu ayam dan tulang sapi ialah bahan utamanya diperoleh dari limbah yang mudah didapatkan, kemudian proses pembuatan yang tidak rumit. Salah satu cara ekstraksi kolagen adalah dengan cara asam untuk dipekatkan menjadi perekat. Bulu ayam yang digunakan merupakan limbah dari tempat pengolahan ayam, restoran, rumah makan dan juga limbah rumah tangga.

    Mereka berharap perekat organik dari limbah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan juga kesadaran dan wawasan pemanfaatan limbah menjadi barang daya guna di masyarakat harus lebih dioptimalkan (ipb.ac.id)

  • Kucing adalah hewan yang sangat menggemaskan.  Kucing-kucing yang beruntung tidak sulit untuk mencari makan, karena sang pemilik akan selalu merawat dan menyediakan makanan untuk mereka. Pada umumnya kucing-kucing yang dipelihara ini adalah kucing Ras. Berbeda dengan Kucing liar (stray cat) atau kucing jalanan yang hidup di perkampungan dan perkotaan masih kerap dipandang buruk oleh banyak orang.

    Kucing-kucing liar tersebut harus mencari makan sendiri manakala merasa lapar. Tak jarang kucing liar tersebut kerap datang ke tempat-tempat yang banyak orang berkumpul untuk mencari sisa makanan. Namun terkadang orang tidak merasa iba, tetapi justru mengusir dan tak sedikit juga yang melakukan tindakan kasar.

    Kondisi kampus yang menerapkan work from home (WFH) membuat kucing-kucing liar ini kehilangan sumber pangan. Seorang dosen IPB University terketuk hatinya melihat nasib kucing-kucing ini.

    "Saya adalah pecinta kucing, jadi sudah terbiasa memberi makan kucing jalanan, dengan memberikan makanan ala kadarnya. Termasuk kucing-kucing yang hidup di dalam kampus IPB Dramaga. Pada awalnya memang sudah menjadi kebiasaan saya untuk memberi makan kucing yang sempat ketemu saja dan tidak menyempatkan diri keliling kampus untuk memberi makan kucing," ungkap Iyep Komala, SPt, MSi, salah satu dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University.

    Awalnya, lanjut Iyep, saya memiliki dua ekor kucing Ras, tetapi ketika melihat beberapa kucing yang ada di dalam kampus yang lapar, saya membawa sebagian kecil kucing-kucing tersebut ke rumah. "Sempat ada 23 ekor kucing kampung di rumah dan dua kucing ras. Sekarang kucing kampungnya tersisa 18 ekor," tambah Iyep.

    Ia menjelaskan, biasanya kucing-kucing yang tersebar di berbagai wilayah kampus ini mendapatkan makanannya dari sisa-sisa makanan yang ada di kantin, sehingga kucing-kucing tersebut dapat hidup dan berkembang biak dengan baik di kampus.  Sejak merebaknya wabah COVID-19 dan diberlakukan Work from Home (WFH), kantin yang ada di kampus tutup. Tidak hanya itu, tempat penampungan sampah di kampus saat ini sudah lama kosong, sehingga kucing-kucing ini tidak lagi mencari makanannya di tempat-tempat yang biasa dikunjungi.

  • Masyarakat mengenal kambing hanya sebagai hewan ternak. Kambing hampir tidak pernah dibahas sebagai hewan yang pintar. Padahal tingkat kepintarannya lebih tinggi dibandingkan jenis hewan ternak lainnya. 

    Muhamad Baihaqi, SPt, MSc, pakar bidang produksi ternak ruminansia kecil, Fakultas Peternakan IPB University mengungkapkan bahwa karena kepintarannya, di Negara Barat muncul istilah’ Think Like a Goat’ atau berpikir layaknya kambing berpikir. Faktanya, karena kecerdasan dan keunikannya, di Inggris kambing telah dijadikan sebagai hewan peliharaan. Kambing mudah diajari dan mudah membangun hubungan dengan pemiliknya. 
    Namun, lanjutnya, sebagai hewan peliharaan, tidak sembarang jenis kambing yang dipilih. Kambing yang bisa dijadikan sebagai hewan peliharan adalah kambing mini atau pigmy goat. Selain pintar, kambing mini ini memiliki ukuran tubuh yang mungil sehingga terlihat imut dan menggemaskan.

    “Kepintaran kambing ini terbukti karena memang ternyata dapat dijadikan hewan peliharaan. Walau tidak secerdas anjing, tingkat kepintarannya hampir setara dengan kucing dan bisa memiliki bonding dengan manusia sebagai pemiliknya,” terangnya ketika diwawancarai terkait tingkat kecerdasan kambing yang jarang diketahui masyarakat awam. 

    Dibandingkan dengan domba, imbuhnya, tingkah laku kambing lebih ekpresif dan banyak akalnya. Kambing juga memiliki tingkah laku stereotyping atau meniru. Kemampuan ini bisa membuat kambing pintar meniru dan dilatih suatu trik. Seperti mengajari letak pakannya dan letak toiletnya. Dibanding domba dan sapi, kambing juga memiliki kemampuan memanjat pohon untuk memenuhi kebutuhan pakannya. 
    “Tidak ada jenis ruminansia lain yang memiliki kemampuan seekstrim itu. Sehingga kambing cenderung mudah dikembangbiakkan dan mampu bertahan hidup di daerah ekstrim, seperti lahan kering, karena mampu mencari pakannya sendiri,” tambahnya.

    Fakta unik lainnya adalah dari sisi taktik dan insting. Baihaqi mengatakan bahwa kambing lebih pintar daripada ternak lainnya. Secara manajemen, hal ini dapat memberikan nilai plus dan minus bagi para peternak. Bila kualitas kandang tidak bagus, kambing akan mudah lolos. Kambing juga agak rewel dari sisi pakan karena lebih menyukai jenis dedaunan yang berbeda. 

    “Namun dengan kepintarannya, baik dipelihara secara intensif atau ekstensif akan memberikan beberapa keuntungan. Bila kambing dipelihara dengan sistem diumbar, kambing akan lebih waspada terhadap serangan predator. Kambing juga dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya sendiri dengan mencari pakan sendiri. Kambing juga mampu membedakan pemilik dengan bukan pemilik, sehingga cenderung sulit dicuri,” tandasnya (ipb.ac.id)