IPBSDG3

  • Rumah pemotongan hewan unggas (RPHU) merupakan suatu bangunan yang desain dengan syarat tertentu dan digunakan sebagai tempat pemotongan unggas bagi konsumsi masyarakat.

    “Peran RPHU sangat penting, yakni penyedia daging unggas berkualitas, aman, sehat utuh dan halal (ASUH), berdaya saing dan kompetitif,” kata Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB), Prof Dr Ir Niken Ulupi MS, dalam Online Training bertajuk “Manajemen dan Sistem Manajemen Mutu RPHU” pada 22-23 Juli 2020. 

    Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB selama dua hari dengan menghadirkan narasumber penting lain yakni Deputy General Manager Production PT Charoen Pokphand Indonesia-Food Division, Alamsyah.

    Niken menyebutkan, peran RPHU makin nyata terlebih jika melihat fakta produksi ayam broiler (2019) sebesar 3.829.633 ton atau 319.139 ton/bulan, sementara kebutuhan konsumsi daging ayam sebanyak 3.251.750 ton atau 270.979 ton/bulan. Terdapat surplus produksi 17.77%  atau 48.157 ton/bulan.

    “Dampak surplus produksi dan kebijakan pemerintah yakni harga ayam turun dan tidak stabil, penurunan kualitas di pasar tradisional dan bermunculan usaha RPHU,” ucapnya.

    Tidak hanya sebagai tempat pemotongan unggas, Niken menjelaskan fungsi RPHU juga sebagai tempat untuk mendeteksi dan memonitor penyakit, tempat pemeriksaan ante dan post mortem, serta tempat mencegah dan pemberantasan penyakit zoonosis atau penyakit ternak yang bisa menular ke manusia.

    RPHU yang berdaya saing dapat diartikan sebagai suatu usaha pemotongan unggas yang mempunyai kesanggupan, kemampuan dan kekuatan untuk bersaing dengan usaha sejenis yang lain. Untuk mencapai hal itu, sangat diperlukan langkah memaksimalkan peranan RPHU sebagai penyedia daging unggas yang asuh, mengontrol dan meningkatkan pelaksanaan manajemen RPHU, peningkatan sarana dan prasarana proses produksi dan kualitas produk, serta pengembangan inovasi produk, serta peningkatan kemampuan sumber daya manusianya.

  • Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (DPD Hanter) Banten IPB menyalurkan bantuan kepada korban banjir bandang di Cipanas, Lebak, Banten. Bantuan berupa makanan siap saji,telur, obat -obatan mandi  dan peralatan mck. (11/01).
     
    Heri Irawan Ketua DPD Banten mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk membantu mengurangi kesulitan yang dialami korban banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu. Bantuan rencanamya akan dibagi dua tahap. 
     
    “Untuk tahap pertama ini kita mendonasikan berupa makanan dll untuk korban yamg mengunggsi. Sedangkan tahap kedua nanti berupa bantuan dana untuk pemulihan bangunan pasca bencana. Donasi yang didapat berupa sumbangan dari amggota Hanter dan perusahaan peternakan di sekitar wilayah Banten,” ungkapnya.
     
    Ia berharap dengan kegiatan bakti sosial seperti menyalutkan bantuan untuk korban bencana dapat semakin mempererat silaturahmi antar anggota Hanter Banten (troboslivestock.com)
  • Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Himpunan Alumni Peternakan IPB (HANTER) memberikan sumbangsihnya dalam pemberian sembako gratis untuk tenaga kependidikan di lingkungan Fakultas Peternakan IPB (Rabu, 13/05/2020). Pada kegiatan yang diselenggarakan di Auditorium Jannes H. Hutasoit tersebut dibagikan 237 buah paket sembako kepada tenaga kependidikan yang meliputi, staf kependidikan, tenaga penunjang kebersihan, staf keamanan kampus dan lab lapang, pensiunan fapet dan tenaga honorer.

    Sekjen Hanter, Iyep Komala menuturkan, bahwa banyak alumni Fakultas Peternakan yang menjadi sosok sukses di Indonesia. Kesuksesan mereka tidak akan terjadi apabila tidak ada tenaga kependidikan yang  mendukung dalam kegiatan belajar mengajar sewaktu mereka melaksanakan perkuliahan di Fapet "pemberian sembako ini sebagai tanda tali kasih kepada tenaga kependidikan di Fapet IPB" tuturnya.

    Himpunan Alumni Peternakan IPB adalah wadah untuk para alumni Fakultas Peternakan di IPB. Bertujuan untuk menjadi wadah bersilaturahmi, bertukar pikiran, berbagi informasi dan peluang, serta mendapatkan informasi terbaru mengenai kampus kita tercinta.

  • Kamu mungkin sering melihat kotak atau botol susu bertuliskan UHT dan pasteurisasi di rak supermarket. Keduanya merupakan jenis susu kemasan yang diproses dengan cara yang berbeda. Menurut Dr. Epi Taufik, S.Pt, MVPH, M.Si, Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB), ada dua tipe susu berdasarkan proses pengolahannya. UHT merupakan singkatan dari ultra high temperature.

    Kata Epi, susu jenis ini sering juga disebut sebagai susu steril. “ Susu UHT itu dipanaskan 140-an derajat celsius selama 1-2 detik. Karena dia steril, dia sering disimpan di rak tanpa pendingin di supermarket,” ujar Epi pada Kompas.com, Sabtu (30/5/2020). Sementara susu pasteurisasi, adalah susu yang dipanaskan tidak sampai steril seperti UHT. Dinamakan pasteurisasi karena penemu metode pasteurisasi bernama Louis Pasteur yang berasal dari Perancis. “ Susu pasteurisasi dipanaskan 72-75 derajat celsius selama 15 detik saja. Kalau enggak bisa juga 65 derajat celsius selama 30 menit,” papar Epi. “Bedanya, kalau di supermarket pasti dia disimpan di lemari pendingin karena lama umur simpannya itu hanya satu bulan,” lanjutnya. Perbedaan metode yang dilakukan antara keduanya akan memengaruhi masa simpan produk atau yang biasa kamu kenal sebagai tanggal kadaluarsa. Karena sudah dipanaskan lebih dari 100 derajat celsius, maka susu UHT sudah dalam kondisi steril yang membuatnya lebih tahan lama. Susu UHT, kata Epi, bisa selama sekitar 2-3 bulan selama tidak dibuka dari kemasannya.

    “Ketika sudah dibuka kan sudah kontak dengan udara, tangan. Jadi walaupun UHT kalau sudah buka kemasan dan ditutup lagi, maka harus disimpan di lemari pendingin supaya bakteri tidak masuk dan berkembang,” papar Epi. Namun pemanasan yang tinggi terhadap susu UHT akan berpengaruh pada zat gizi dan mikronutrisi yang terkandung pada susu. Pemanasan yang dilakukan apalagi sudah lebih dari 100 derajat celsius, akan menghilangkan sebagian vitamin dan zat gizi yang ada pada susu. “Makanya kadang ada susu yang difortivikasi, ditambah vitamin nutrisi suplemen gitu setelah disterilisasi,” ujar Epi. Sementara itu, susu pasteurisasi punya kandungan gizi yang lebih banyak dari pada UHT karena hanya dipanaskan dengan suhu tak lebih dari 100 derajat celsius. (travel.kompas.com)

  • Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (HANTER) IPB University meluncurkan Pakan HANTER IPB University secara daring, 10/9.  Ketua Umum HANTER IPB University, Audy Joinaldy menjelaskan, langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk turut meningkatkan aktivitas perekonomian alumni Fapet IPB University. “Program ini diharapkan dapat bermanfaat dan meningkatkan perkonomian antar alumni, terutama bagi mereka yang memiliki bisnis di sektor peternakan,” ujar alumnus IPB University dari Fakultas Peternakan yang saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumatera Barat ini.  

    Sementera itu, Dekan Fakultas Peternakan IPB University Dr Idat Galih Permana sangat mendukung kehadiran Pakan HANTER. Hal ini karena pakan yang digunakan berbasis kearifan lokal. 

    “Kami berharap, kehadiran program ini dapat mendukung penyediaan pakan di kandang Fakultas Peternakan IPB University,” tegas Dr Idat Galih. 

    Ketua HANTER Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Bogor, Riza Haerudin mengungkapkan bahwa ide Pakan HANTER bermula dari diskusi dengan para pengusaha anggota HANTER. Ia menyebut, Pakan HANTER yang sudah dibuat dan telah dimanfaatkan adalah pakan untuk ayam broiler.

    “Untuk pakan ayam petelur dan ruminansia bisa dibuatkan sesuai dengan kebutuhan pada masing-masing peternakan. Pakan HANTER memiliki harga yang lebih murah dengan kecupukan nutrisi yang lengkap,” jelasnya.
     
    CEO AS Putra Group, Aif Arifin Sidhik turut memberikan testimoninya karena telah menggunakan Pakan HANTER. Ia mengatakan, “Biaya penyediaan Pakan HANTER lebih murah dibanding pakan dari pabrik. Ketika ada permasalahan di lapangan, tim Pakan HANTER segera mengevaluasi pakan sehingga tim tersebut terbuka mengenai kualitas dan formula,” ujarnya.

    Adapun, I Wayan Suadnyana, Anggota HANTER DPD Bogor, mengungkapkan, konsep Pakan HANTER ini merujuk kepada ilmu dasar yang diajarkan ketika kuliah. Ia menjelaskan, ada pakan HANTER-1 sebagai pakan prestarter, HANTER-2 sebagai pakan dan HANTER-3 sebagai pakan finisher. 

    “Selain harga pakan HANTER lebih murah dibanding pakan komersil lainnya, saya telah mencoba menggunakan day old chick (DOC) grade B. Hasilnya sangat membanggakan, dengan menggunakan Pakan HANTER, ayam dengan grade B dapat memiliki performa dan harga jual yang bagus,” ujar I Wayan. 

    Dengan demikian, katanya, penggunaan Pakan HANTER dapat menguntungkan pengusaha ayam broiler. Baik sekala usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) maupun skala besar.

    Sekretaris Jenderal HANTER yang juga dosen   IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Iyep Komala menyampaikan bahwa saat ini pakan HANTER masih terbatas untuk anggota HANTER saja. “Semoga ke depannya bisa diakses oleh para pengusaha lainnya dari luar HANTER,” tutupnya (ipb.ac.id)

  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) berbagi peran dalam implementasi penelitian aksi Agromaritim 4.0 IPB tahun 2019 di Kabupaten Bojonegoro. Dr Aji Hermawan (Kepala LPPM IPB), Prof. Dr. Agik Suprayogi (Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Penelitian), Prof Dr. Muladno (Ketua Unit Sekolah Peternakan Rakyat/SPR LPPM IPB), Dr. Asep Gunawan (Koordinator Tim Peneliti IPB) melakukan silaturahmi dan sekaligus mengantarkan peneliti IPB kepada pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang diterima langsung Bupati, Dr. Hj. Anna Muawanah. 

    “Penelitian aksi Agromaritim 4.0 IPB pada tahun 2019 dilaksanakan di Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Mega Jaya, Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini diharapkan dapat  meningkatkan kemampuan sistem usaha peternakan di SPR Mega Jaya di era industri 4.0,” ujar Dr. Aji Hermawan. Dalam kesempatan yang sama, Prof. Agik menyampaikan konsep IPB dalam membangun SPR di Kabupaten Bojonegoro juga sekaligus  mengurai tentang prinsip kerjasama empat-serangkai “Quadriple-Helix” atau (ABGC) yang lebih mengedepankan pada prinsip berbagi peran dan tanggungjawab. Capaian keluaran dari penelitian aksi ini adalah terbangunnya SPR Mega Jaya menuju peternakan unggul dan modern dalam 3-4 tahun ke depan.  “Hal ini dicirikan dengan hadirnya berbagai teknologi inovasi diantaranya e-ID ternak, sistem manajemen peternakan berbasis digital, kecukupan pasokan air dan pakan ternak, dan model lanskap ekowisata pendidikan,” ujarnya.

    Pemilihan SPR Mega Jaya dipilih sebagai lokasi penelitian aksi Agromaritim IPB karena sudah lulus sekolah sesuai standar pembinaan dari LPPM IPB. Kesiapan ini disampaikan Prof. Muladno selaku Ketua Unit SPR LPPM IPB, “SPR Mega Jaya di Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro telah mendapatkan Piagam “Karya Satwasentosa” dari IPB pada tahun 2017 yang berarti SPR ini telah lulus sekolah sesuai standar pembinaan dari LPPM IPB, dan kelulusan SPR ini merupakan modal untuk terus berkembang menuju peternakan unggul dan modern berbasis Agromaritim 4.0-IPB,” jelas Prof. Muladno.

    Bupati Bojonegoro, Dr. Hj. Anna Muawanah menyambut dengan baik rencana penelitian aksi di SPR Bojonegoro dan mengucapkan terima kasih pada IPB yang telah proaktif sejak 2014 sampai sekarang memperhatikan peternak di wilayahnya. “Kami memahami peran IPB sangat besar dalam pengembangan SPR melalui kegiatan penelitian aksi yang akan dilaksanakan, mengingat hal ini memang sudah menjadi program Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bojonegoro, namun belum sempat terlaksana mengingat sumberdaya manusia kami belum siap menghadapi era industri 4.0, dan kami bersyukur bahwa IPB proaktif membantu kami,” lanjutnya. Bupati menyampaikan bahwa Pemda akan mengambil peran dalam upaya pengembangan peternakan unggul dan modern yang digagas oleh LPPM IPB.

  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2019, kembali meningkatkan kerjasama dengan Kabupaten Sukabumi dalam Pengembangan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR).  "Melalui kegiatan lapang di bidang peternakan, dalam hal ini membuka SPR  merupakan langkah awal dalam memajukan sektor peternakan, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya di daerah Sukabumi," kata Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Sugeng Heri Suseno  dalam acara diskusi dengan Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami di Pendopo Sukabumi, Jumat (8/3).

    Lebih lanjur Prof. Sugeng mengatakan, LPPM IPB memiliki program pengabdian kepada masyarakat untuk mahasiswa, dosen, dan alumni. Untuk mahasiswa, selain KKN juga ada kegiatan tematik seperti IPB Goes to Field, SUIJI-SLP, KKN-Kebangsaan, dan ASEAN-SLP.  "Sementara untuk dosen dan alumni, selain SPR juga ada program Klinik Pertanian Nusantara, Stasiun Lapang Agro Kreatif (SLAK), Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), IPB Cyber Extension-Tani Center, IPB Peduli Bencana, dan Kemitraan Lingkar Kampus," tutur Prof. Sugeng. Lebih lanjut dikatakannya, SPR yang merupakan program pengabdian dosen dan alumni bertujuan untuk mencerdaskan peternak melalui sekolah rakyat.

    Menanggapi hal tersebut, Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami menyampaikan, di wilayah Kabupaten Sukabumi banyak lahan yang belum termanfaatkan secara efektif. Dengan potensi tersebut, SPR dapat berkembang dengan baik dan membantu para peternak dalam meningkatkan kapasitas usahanya. Marwan akan melakukan penetrasi untuk menggali potensi tersebut melalui Dinas Peternakan.  “Mudah-mudahan  sekolah lapangan seperti Sekolah Peternakan Rakyat bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat, khususnya peternak dengan potensi yang ada di Kabupaten Sukabumi,” ujar Marwan.

    Marwan menambahkan, pemerintah daerah telah berupaya mendorong terwujudnya beberapa program peternakan di lahan perkebunan yang tidak terpakai. Salah satunya dengan mendirikan agrowisata yang di dalamnya terdapat peternakan sapi perah. Harapannya, dengan adanya kerja sama pengelolaan Sekolah Peternakan Rakyat dengan IPB dapat menjadi langkah awal dalam memajukan sektor peternakan. Melalui SPR diharapkan ke depan Kabupaten Sukabumi bisa menjadi sentra peternakan untuk sapi potong. Turut hadir dalam acara tersebut Ketua SPR LPPM IPB, Prof. Muladno (ipb.ac.id)

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar seminar penutupan program Sustainable Intensification Dairy Production Indonesia Project (SIDPI), 13/1. Program ini terdiri dari kegiatan riset dan pemberdayaan masyarakat, khususnya peternak sapi perah di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kegiatan penutupan diadakan dalam rangka mensosialisasikan hasil-hasil dari program SIDPI kepada para peternak melalui lembaga di tingkat pusat dan daerah.

    Program SIDPI merupakan program kolaborasi IPB University bersama dengan Wageningen University Research (WUR), Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, PT Trouw Nutrituin Indonesia, dan Frisian Flag Indonesia. Kegiatan ini sudah dilakukan selama 3,5 tahun sejak tahun 2016 hingga tahun 2019.

     Adapun fokus kegiatan adalah peningkatan pendapatan peternak dengan meningkatkan produktivitas susu sapi perah melalui perbaikan pengelolaan pakan ternak.

    Dr Rudi Afnan, Wakil Dekan Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan, Fapet IPB University mengatakan program SIDPI didesain sebagai pilot project di wilayah Lembang. Kegiatannya berupa berbagai program peningkatan pengetahuan peternakan sapi perah, manajemen pengolahan pupuk dari limbah budidaya sapi perah.

    “Program ini  diharapkan dapat meningkatkan kesehatan dan produk sapi perah, mengurangi biaya pakan, meningkatkan efisiensi pengunaan sumberdaya, serta meningkatkan pendapatan peternak sapi perah skala kecil,” terang Dr Rudi.

    Di sisi lain, program ini juga berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca. Dr Rudi berharap, bisa terjalin kerjasama yang lebih erat untuk kemajuan peternakan Indonesia yang berorientasi pada lingkungan yang berkelanjutan.

    Hadir sebagai pemateri utama adalah Dr Nasrullah dari  Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Gemma Verijdt dari Kementerian Pertanian, Alam, dan Kualitas Pangan, Belanda dan Dr Marion De Vries, dari Wageningen University Research (WUR) yang menjelaskan tentang program SIDPI.

    Dalam paparannya, Gemma Verijdt menjelaskan pemerintah Belanda sudah membuat kesepakatan dengan pihak swasta, pemerintah lokal dan masyarakat untuk mengurangi emisi karbon. Melalui kesepakatan ini, ditargetkan dapat mengurangi emisi gas metana dari sektor peternakan hingga 16 persen di tahun 2030. Untuk itu, pendekatan lingkungan terintegrasi terus dilakukan dengan berbagai negara, salah satunya Indonesia.

    “Riset dan inovasi untuk mengurangi emisi di sektor peternakan terus dilakukan. Khususnya dalam pengelolaan limbah dan sistem perkandangan yang ramah lingkungan. Sistem perkandangan menjadi tantangan utama untuk membentuk mengelola limbah  terintgrasi. Hal ini terus kami kembangkan bersama dengan berbagai pihak,” ungkap Gemma.

    Sementara Dr Marion menjelaskan tentang keberhasilan program SIDPI. Hasil dari program ini menunjukkan bahwa pengelolaan pakan dapat meningkatkan kesehatan hewan ternak dan produk susu. Ia menerangkan, terjadi peningkatan sekitar 0,7 kilogram susu untuk satu ekor sapi per harinya. Melalui program ini juga, efisiensi sumber daya juga membuat biaya pakan berkurang serta itu emisi yang berdampak buruk untuk lingkungan juga berkurang.

    “Pengurangan emisi dilakukan dengan pengelolaan kotoran hewan yaitu mengurangi jumlah kotoran ternak yang dibuang. Upaya ini dapat mengurangi polusi ke sungai dan air tanah. Pilot project ini melibatkan  peternak KSPBU Lembang, serta peneliti dari IPB University dan Wageningen University Research. Ke depannya program ini akan terus dikembangan untuk 4500 peternak di Jawa Barat,” ungkap Dr Marion.

    Kegiatan seminar ini juga menghadirkan beberapa pembicara lain yang terlibat dalam program SIDPI. Diantaranya adalah Windi Al Zahra, Alumni Fapet IPB University yang saat ini menempuh Pendidikan di Wageningen University Research (WUR), Bram Wouters dari Wageningen University Research (WUR) dan Drs Dedi Setiadi dari KPSBU Lembang (ipb.ac.id)

  • Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar International Student Conference (ISC) 2020, (18/9). Kegiatan ini merupakan ajang tingkat internasional yang ditujukan bagi mahasiswa sarjana seluruh dunia. Agenda ini dihadiri oleh 269 peserta dari berbagai negara seperti Thailand, Inggris, Turki, China, Australia dan Indonesia.

    Dalam pembukaannya, Dr Drajat Martianto, Wakil Rektor IPB University Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan mengatakan kegiatan ini sangat didukung oleh institusi, karena selaras dengan misi kampus IPB University yaitu berkomitmen menjadi kampus terbaik di taraf internasional. Ia berharap, kegiatan ini mampu meningkatkan kapasitas dari mahasiswa sekaligus momentum transfer pengetahuan.

    “Harapannya, kegiatan ini mampu memberikan pengetahuan baru sekaligus membentuk jaringan global bagi para mahasiswa lintas negara ini. Selain itu kegiatan ini merupakan ajang bertukar pengetahuan guna meningkatkan inovasi-inovasi yang ada di IPB University. Saya ucapkan selamat melakukan kegiatan presentasi untuk seluruh peserta,” ungkap Dr Drajat Martianto

    Rangkaian kegiatan ISC 2020 meliputi konferensi, diskusi panel, dan summercourse. Sedikitnya ada 130 mahasiswa dari berbagai negara yang sudah mengirimkan karyanya untuk dipresentasikan selama kegiatan.

    Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan pembukaan adalah Prof Dr Jeremy Huckins dari Departemen Psikologi dan Neurosains, Darthmouth College Hanover, United States. Materi yang disampaikan tentang kesehatan mental dan perilaku selama masa Pandemi COVID-19.

    Prof Dr Jeremy  menjelaskan penelitiannya tentang kesehatan mental mahasiswa khususnya terkait dengan dampak stres bagi tubuh selama masa pandemi. Menurutnya, masa pandemi membuat kesehatan mental mahasiswa menjadi terganggu. Ia menerangkan, tingkat kecemasan mahasiswa meningkat karena perubahan pola hidup dan berbagai informasi negatif tentang COVID-19. Tercatat ada 40 persen mahasiswa Indonesia yang mengalami gangguan kecemasan.

    “Selain di Indonesia, lebih dari 50 persen mahasiswa di Bangladesh juga mengalami kecemasan yang berlebih. Hal serupa juga dialami oleh 25-50 persen mahasiswa yang ada di China. Permasalahan ini akan terus mengalami peningkatan selama masa pandemi yang dialami secara global. Terjadi perubahan pola perilaku yang signifikan selama masa lockdown," ungkap Prof Jeremy .

    Selain itu Prof Jeremy juga memperkenalkan alat ukur tingkat kecemasan pada siswa selama pembelajaran daring. Menurutnya,  penggunaan media sosial yang meningkat mempengaruhi kesehatan mental siswa. "Media sosial banyak memberikan informasi-informasi negatif terkait pandemi dan menurunkan aktivitas fisik. Dampak negatif ini paling banyak ditemukan pada orang usia muda," pungkasnya (ipb.ac.id)

  • Ditengah ancaman penyebaran penularan wabah COVID-19, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk pencegahan. Selain tetap berada di rumah dan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH), memperkuat daya tahan tubuh menjadi cara utama dalam mencegah terinfeksi virus Corona.

    Prof Iman Rahayu Hidayati Soesanto, Kepala Divisi Produksi Ternak Unggas, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB University mengatakan mengonsumsi makanan seimbang menjadi salah satu cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Ini karena, nutrisi dan protein yang baik sangat penting untuk sistem kekebalan tubuh yang kuat.

    Mengonsumsi makanan bergizi seperti telur omega-3 secara rutin ternyata bisa menjadi solusinya.  Menurutnya, mengkonsumsi telur omega-3 setiap hari akan semakin melengkapi zat gizi yang didapat tubuh untuk membantu memperkuat daya tahan tubuh.

    "Untuk membentuk daya tahan, tubuh tak hanya membutuhkan vitamin saja, melainkan lebih banyak dari itu seperti telur omega-3 yang mengandung 10 kali kandungan DHA dan EPA dari telur biasa. DHA atau docosahexaenoic acid dan EPA atau eicosapentaenoic acid merupakan asam lemak tidak jenuh esensial yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. DHA dan EPA juga berfungsi sebagai antioksidan  untuk mencegah stres dan menjaga kesegaran kulit," katanya.

    Prof Iman menuturkan, telur omega 3  ini bagus untuk meningkatkan kesehatan dan kecerdasan anak. Yang paling penting adalah kandungan kolesterolnya rendah. Telur omega-3 juga memiliki karakter khusus yang tidak dimiliki telur biasa. Yakni warna kuning lebih pekat karena mengandung B-caroteen (betakaroten) yang akan semakin menambah selera makan. Tidak hanya itu, protein telur dan asam lemak sebagai lipoprotein, dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan sebagai anti bakterial.

    “Perlu diketahui bahwa COVID-19 dapat menyerang sel darah, kemudian merusak pembuluh darah di dalamnya. Berkaitan dengan hal tersebut, maka DHA dan EFA sangat dibutuhkan tubuh guna menjaga pembuluh darah agar terhindar dari kerusakan akibat virus, termasuk virus COVID-19," ungkapnya.

    Salah satu inovasi Prof Iman adalah Telur Omega 3 IPB. Telur ini mengandung omega-3 sebagai asam lemak tidak jenuh dan kandungan gizi lengkap serta sumber protein tinggi. “Dianjurkan konsumsi tiap hari tanpa takut kolesterol. Disarankan dikonsumsi oleh lansia, balita, ibu hamil dan penderita penyakit degeneratif. Bisa dikatakan bahwa proses penyembuhan virus COVID-19 akan bertumpu pada kekuatan sistem imunitas tubuh masing-masing pengidap (ipb.ac.id)

  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University mengunjungi Universitas Lampung (Unila) untuk mengembangkan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) di Lampung, awal pekan ini. Dalam Kunjungan ini LPPM IPB University diwakili oleh Dr Sofyan Sjaf (Wakil Kepala Bidang Pengabdian kepada Masyarakat), Prof Muladno (Ketua SPR) dan Danang Aria Nugroho, SE. 
    “Sekolah Peternakan Rakyat ini memiliki nilai yang mulia untuk mensejahterakan rakyat, untuk itu LPPM Unila bersama Fakultas Pertanian siap membantu mengembangkan SPR di Lampung,” ujar Ketua LPPM Unila, Dr Lusmeilia Afrian.

    Dr Lusmeilia Afrian juga mengatakan bahwa pertemuan ini sebagai langkah awal untuk LPPM Unila berkolaborasi dengan LPPM IPB University dalam hal transfer pengetahuan dan aksi diseminasi kepada masyarakat Lampung dan juga untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di Propinsi Lampung.

    Dalam kesempatan ini Dr Sofyan Sjaf mengungkapkan bahwa LPPM yang berada di perguruan tinggi di seluruh Indonesia harus bersinergi untuk bersama-sama mewujudkan kesejahteraan kehidupan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa. “Perguruan tinggi khususnya LPPM sebagai institusi yang memiliki peran strategis mengemban amanah pendidikan, memiliki tugas untuk dapat menghadirkan ilmu pengetahuan dan juga inovasi sebagai basis pembangunan di masyarakat,” ujar Dr Sofyan Sjaf.

    Sekolah Peternakan Rakyat selama ini menjadi salah satu aksi nyata LPPM IPB University yang hadir di masyarakat untuk menerapkan kerja-kerja kolektif, berjamaah, guna mencapai kesejahteraan bersama.  Prof Muladno sebagai Ketua SPR berharap LPPM Unila bisa menjadi mitra ilmu pengetahuan bagi masyarakat daerah Lampung sehingga bisa bersama-sama untuk membangun peternak agar berdaulat dan mandiri (ipb.ac.id)

  • Manajemen logistik yang sembarangan bisa mengakibatkan buruknya kualitas pakan yang diterima peternak. Turunnya kualitas pakan yang diproduksi dapat terjadi misalnya karena adanya kontaminasi mikrobia merugikan seperti kontaminasi salmonella, escericia colli, clostridia, listeria dan camphylobacter yang bisa berefek pada kejadian penyakit pada manusia (food borne disease) yang mengonsumsi daging atau telur ayam yang pakannya terkontaminasi mikroba merugikan tersebut.

    Untuk meminimalkan risiko itu, General Manager PT Charoen Pokphand Indonesia Istiadi dalam sebuah pelatihan tentang manajemen logistik pakan yang diselenggarakan di Kampus IPB Darmaga Bogor menjelaskan ada beberapa hal yang harus diantisipasi dalam hal manajemen logistik pakan ini. Acara diselienggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Kampus IPB Darmaga, pada 26-27 Maret 2019.

    Beberapa upaya yang disarankan Istiadi antara lain kemasan pakan yang dipakai harus higienis, selalu menjaga kebersihan truk atau sarana transportasi pakan yang lain, penerapan biosekuriti yang ketat antar lokasi produksi dan pergudangan pakan, senantiasa menjaga higiene dan sanitasi gudang, serta penerapan prinsip first in first out (FIFO) pakan. Pakan yang dikeluarkan atau dikirim ke konsumen adalah yang paling awal masuk gudang, bukan malahan sebaliknya. Selain menjaga agar tidak terjadi banyak risiko kontaminasi mikrobia merugikan, penerapan FIFO juga dimaksudkan untuk menjaga kesegaran produk pakan yang diterima konsumen.

    Sumber-sumber risiko munculnya kontaminasi harus dapat diidentifikasi sehingga dapat diminimalkan kemunculannya. Hal ini disebabkan sumber-sumber kontaminasi bisa berasal dari mana saja, seperti dari bahan baku pakan itu sendiri, gudang yang tidak bersih, atau sumber daya manusia yang menangani bahan baku yang tidak menjaga higiene dan sanitasi.

    Proses distribusi bahan baku pakan ke pabrik atau dalam proses produksi pakan juga dapat terjadi kontaminasi mikrobia berbahaya, yang berasal dari debu yang bertebangan, tikus, serangga, burung-burung liar ataupun hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. (livestockreview.com)

  • Oleh Epi Taufik, SPt, MVPH, M.Si, Ph.D Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak,
    Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, 
    Fakultas Peternakan, IPB University  

    Akhir abad ke-19 di Eropa, tingkat mortalitas bayi dalam tahun pertama kehidupannya sangat tinggi hingga mencapai 30%. Saat itu, pemberian Air Susu Ibu (ASI) tidak terlalu dianggap penting hingga didapatkan data bahwa bayi yang tidak mendapatkan ASI angka kematiannya tujuh kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan yang mendapat ASI. Hingga pada akhirnya para ilmuwan di Eropa, terutama di Jerman, menyadari bahwa adanya hubungan komposisi ASI terutama karbohidratnya dengan ketahanan tubuh bayi.

    Theodor Escherich (yang namanya diabadikan dalam bakteri Escherichia coli) adalah salah satu ilmuwan yang menemukan fakta bahwa terdapat perbedaan komposisi mikroorganisme dalam feses bayi yang diberi ASI dengan yang tidak. Dibantu oleh ilmuwan lain seperti Justus Liebig (yang namanya diabadikan menjadi nama Justus Liebig Universitaet Giessen, Jerman) menemukan indikasi bahwa perbedaan komposisi mikroorganisme dalam feses tersebut terkait dengan komposisi susu (ASI).

    Persentase karbohidrat dalam kolostrum/susu mamalia berkisar dari jumlah yang sangat kecil (trace) sampai sekitar 10%, dalam hal ini laktosa (disakarida) biasanya menjadi bagian terbesar. Selain laktosa, komponen karbohidrat lainnya terdiri atas berbagai jenis gula yang biasanya disebut oligosakarida (OS).

  • FLPI bekerjasama dengan Fapet IPB, BBPKH Cinagara, LSP-PI , BNSP menyelenggarakan Pelatihan Dan Sertifikasi Kompetensi Bidang Pemotongan Daging (Butcher) Level Junior Sesuai SKKNI – Batch 2 yang berlangsung mulai dari tanggal 03 s.d. 09 Februari 2020.

    Pelatihan diikuti oleh 6 orang peserta dengan latar belakang dari Rumah Potong Hewan milik swasta dan Pemerintah Daerah. Pelaksanaan kegiatan pelatihan dilakukan di di Laboratorium Ruminansia Besar dan RPH Fakultas Peternakan IPB. Selama kegiatan pelatihan peserta mendapatkan informasi mengenai titik kritis yang dapat mempengaruhi kualitas daging, pengemasan dan penyimpanan daging yang sesuai standar dan juga bagaimana jenis potongan daging yang memenuhi kualifikasi standar internasional. Keseluruhan materi yang diberikan sudah sesuai dengan SKKNI Sektor Peternakan Bidang Pemotongan Daging (Butcher).

    Hal ini nantinya diharapkan dapat mendorong pengusaha lokal untuk dapat memenuhi permintaan kualifikasi produk daging baik di dalam maupun di luar negeri, jelas Prof Luki Abdullah selaku Ketua FLPI saat pembukaan pelatihan. Kegiatan juga dihadiri oleh Prof. Sumiati selaku Dekan Fakultas Peternakan IPB yang sangat mendorong kolaborasi kegiatan seperti ini yang melibatkan multistakeholder dalam rangka meningkatkan kapasitas SDM. (flpi-alin.net)

  • Penanganan ternak dengan memperhatikan kesejahteraan hewan (kesrawan) akan menghasilkan kinerja yang efisien, aman bagi sapi dan operator, serta meningkatkan kualitas daging yang dihasilkan. Dengan demikian, penanganan hewan yang apik akan terwujud pula kesejahteraan hewan yang baik.

    Hal itu disampaikan Neny Santy Jelita dalam sebuah pelatihan daring yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB. Pelatihan berlangsung selama dua seri dan dilakukan selama dua hari waktu pelatihan, yakni pada 13-14 Mei 2020 dengan mengangkat topik “Penerapan Animal Welfare pada Rantai Pasok Sapi Potong”.

    Neny memaparkan, prinsip dasar kesrawan yakni ternak harus bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit dan cedera, bebas dari rasa takut dan tertekan, serta bebas untuk menampilkan perilaku alaminya.

    Saat berada di rumah penampungan, sapi harus diberikan penerangan yang baik agar operator bisa melakukan penanganan dengan optimal.

    “Kami terbiasa ke rumah pemotongan hewan (RPH) dan melihat perlunya edukasi dan bantuan penyediaan fasilitas yang memadai. Penanganan sapi di RPH ini merupaan fase akhir yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Stres pada saat pemotongan akan menyebabkan daging akan berwarna kehitaman, bukan merah,” kata Neny.

    Ia menambahkan, pada saat yang dijadwalkan di RPH juga harus seminimal mungkin, agar sapi tidak mengalami stres. Neny menyarankan supaya ternak harus segera disembelih secara cepat, baik menggunakan metode pembiusan ataupun tidak. Proses penyembelihan ini akan menentukan kualitas daging yang akan dibeli oleh konsumen.

    Neny pun mengingatkan bahwa dalam hal kesrawan pada peternakan sapi potong ini harus bisa diterapkan pada lima hal utama, yakni pada saat penanganan hewan ternak, transportasi, penanganan di feedlot, penerapan di RPH, serta pada saat penyembelihan dengan pemingsanan (majalahinfovet.com)
  • Good Slaughtering Practices (GSP) merupakan sebuah pedoman tertulis mengenai tata cara atau prosedur produksi pemotongan ternak yang baik, higienis dan halal. GSP merupakan menjadi syarat untuk mendapatkan sertifikasi nomor kontrol veteriner (NKV) agar keamanan daging yang dihasilkan dapat terjamin. Dalam Permentan nomor 13/2010, izin pendirian usaha rumah potong hewan (RPH) akan dicabut jika belum memiliki NKV pada jangka waktu yang ditentukan. RPH dikatakan sebagai RPH modern jika telah menerapkan standard GSP secara menyeluruh dan memiliki fasilitas yang memadai, serta minimal memiliki sertifikasi NKV diatas level 2.

    “Sehingga GSP merupakan prasyarat paling dasar dan wajib dilaksanakan dalam industri pemotongan hewan ternak (RPH),”kata Manager Produksi PT Cianjur Arta Makmur (Widodo Makmur Group) Mukhlas Agung Hidayat S,Pt dalam
    pelatihan online yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB. Acara yang berlangsung selama dua hari, yakni pada 13-14 Mei 2020 tersebut mengangkat tema tentang penerapan kesejahteraan hewan pada rantai pasok sapi potong.

    Mukhlas menjelaskan, penerapan GSP di RPH modern diaplikasikan pada proses pra pemotongan, pada saat pemotongan, dan pasca pemotongan. Sebelum dipotong, sapi ditempatkan pada kandang istirahat, lakukan pendataan sapi dan pengecekan kesesuaian sapi dengan dokumen, pengaturan sapi pada setiap pen kandang pengistirahatan, dan pengelompokan berdasarkan jenis dan waktu pemotongan. Lakukan juga, “Pengecekan kondisi dan kesehatan sapi, penentuan layak tidaknya sapi untuk dipotong, pemisahan sapi pada hospital pen jika ditemukan syarat-syarat tidak layaknya sapi dipotong,” papar Mukhlas.

    Adapun pada saat proses pemotongan sapi, dilakukan secara islami dan berdasarkan syarat-syarat pemotongan halal, yakni penyembelihan dengan memutus saluran makanan (mari’/esophagus), saluran pernafasan (hulqum/trakea), dan dua pembuluh darah (wadajain/vena jugularis dan arteri carotid).

    Setelah proses penyembelihan dijalankan, untuk meningkatkan kualitas daging, maka dilakukan proses penyimpanan karkas pada suhu 0°C – 4°C selama minimal 18 jam untuk menyempurnakan proses biokimia daging atau rigormortis (agropustaka.id)

  • Produksi jagung untuk pakan di Indonesia telah meningkat secara nyata dalam kurun 25 tahun terakhir. Pada 1993 produksi jagung hanya 6,36 juta ton, pada 2018 tercatat produksinya telah mencapai 30,06 juta ton. Produksi sebanyak itu secara relatif telah terjadi pergeseran wilayah produksi, dimana pada 1993 Pulau Jawa berkontribusi 62% terhadap total produksi jagung, dan pada 2018 menurun menjadi 41%. Hal itu merupakan dampak dari pengembangan sentra produksi jagung baru, terutama di lahan areal di luar Pulau Jawa.

    Hal itu disampaikan oleh Diner Y.E Saragih, Kasubdit Bahan Pakan, Direktorat Pakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam sebuah pelatihan tentang manajemen logistik pakan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Kampus IPB Darmaga, Kabupaten Bogor, pada 26-27 Maret 2019. Diner menambahkan, pada sisi lain, pabrik pakan sebagai pengguna jagung ternyata masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal itu membawa konsekuensi perlunya penerapan secara ketat manajemen logistik yang baik untuk dapat meningkatkan efisiensi produksi pakan, sehingga memiliki daya saing yang baik di pasar.

    Dalam hal logistik ini, efisiensinya diukur dengan logistics performance index (LPI), dimana untuk wilayah Asean, Indonesia menempati peringkat 5 di bawah Singapura, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Diner menjelaskan, LPI merupakan indeks kinerja logistik negara-negara di dunia yang dirilis oleh Bank Dunia setiap dua tahun sekali. Saat ini terdapat 160 negara yang masuk dalam penilaian tersebut.

    Untuk dapat meningkatkan performa sistem logistik nasional, perlu dilakukan pembenahan dalam hal efisiensi bea cukai, kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi, kemudahan pengaturan pengiriman internasional dengan harga bersaing, peningkatan kompetensi dan kualitas jasa logistik, serta frekuensi pengiriman yang tepat waktu. (poultryindonesia.com)

  • Hingga saat ini vaksin COVID-19 belum ditemukan. Kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat harus mengalami perubahan selama masa pandemi. Penyebaran virus ini sangat cepat bahkan berdasarkan hasil penelitian, virus ini mampu bertahan pada permukaan benda selama waktu tertentu. Hal ini membuat banyak perusahaan meningkatkan standar sistem manajemen mutunya.

    “Hingga kini vaksin belum ditemukan sehingga kita harus hidup berdampingan dengan virus. Perusahaan pangan khususnya peternakan kami merespon dengan membuat penyesuaian baru. Ada risiko virus ini mampu menular melalui kontak dengan permukaan yang terkontaminasi,” ungkap Alamsyah, Deputi General Manager (DGM) Production, PT Charoen Pokphand Indonesia.

    Alamsyah menyampaiakan hal ini saat menjadi pemateri dalam kegiatan pelatihan online Sistem Manajemen Ternak Unggas, (23/7). Pelatihan daring ini diadakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) bekerja sama dengan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University. Kegiatan yang digelar melalui aplikasi zoom ini mengambil tema “Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu Rumah Potong Hewan Unggas”.

    Alamsyah mengungkapkan selama masa pandemi, ada protokol khusus penangan COVID-19 di perusahaan. Salah satunya adalah membuat tim gugus tugas covid di setiap level karyawan. Selain itu ada penyesuaian lainnya seperti pengukuran jarak antar karyawan harus lebih dari satu meter. Lalu dipersiapkan dokter dan ambulan yang siap siaga di perusahaan.

    “Penyemprotan disinfektan dilakukan setiap 30 menit sekali dan seluruh karyawan diwajibkan memakai masker yang berbeda di area produksi dan luar produksi. Bahkan karyawan yang ketahuan tidak memakai masker di luar area kerja akan mendapatkan teguran hingga sanksi. Sistem manajemen yang ketat ini untuk mencegah penularan virus,” ungkap Alamsyah.

    Pelatihan daring ini mengajak peserta untuk mengetahui perubahan sistem manajemen perusahan Rumah Potong Hewan (RPH) Unggas selama masa pandemi. Peserta juga diajak untuk mempelajari persyaratan, standar mutu, hingga praktik pengelolaan ayam hingga siap dijual kepada konsumen. Bahkan peserta juga diajarkan strategi mengelola pemotongan ayam untuk skala ekspor.

    “Era new normal membuat banyak sekali perbedaan. Perusahaan pangan harus tegas dalam penanganan COVID-19. Hal ini untuk menjaga kesehatan dan mencegah penularan virus,” tutup Alamsyah (ipb.ac.id)

  • oleh : Yuni Cahya Endrawati (D-IPTP Fapet IPB)

    Tidak dapat dipungkiri pandemi Covid-19 telah merubah gaya hidup kita. Kita yang tadinya tidak terlalu perduli dengan kebersihan  kini sudah mulai terbiasa dengan mencuci tangan secara rutin dan juga menjaga kebersihan rumah dan lingkungan kita. Di sisi lain pembatasan pergerakan dan aktivitas keseharian kita tentunya membuat kita harus menyesuaikan pola hidup kita walaupun tentunya sangat berat.

    Stress dan perubahan gaya hidup

    Sebagai orang yang terbiasa aktif tentunya perubahan gaya hidup terutama pembatasan pergerakan dan aktivitas ini dapat saja membuat frustrasi karena ada sebagian dari kebiasaan rutin kita yang berkurang intensitasnya atau bahkan tidak dapat dilakukan lagi. Tidak banyak yang mengetahui bahwa dari segi kumunikasi ternyata kaum wanita tingkat stress nya lebih tinggi akibat pembatasan komunikasi yang kini sebagian besar hanya dapat dilakukan melalui media sosial tanpa berkomunikasi secara langsung.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam satu hari rata rata wanita mengucapkan  kata kata sebanyak 20.000 kata sebaliknya kaum laki laki hanya sekitar 7.000 kata kata per hari. Perbedaan jumlah kata kata yang diucapkan oleh wanita dan pria ini menurut hasil penelitian  yang dipublikasikan di Journal of Neuroscience erat kaitannya  dengan keberadaan protein FOXP2. Level protein FOXP2 di otak wanita lebih tinggi dibanding dengan laki laki.  Hal inilah yang mendasari wanita lebih banyak mengungkapkan perasaannya melalui ucapan.

    Kondisi saat ini memaksa wanita agar dapat terbiasa  lebih  pendiam karena adanya keterbatasan lawan bicara yang tentunya secara emosional akan berbeda.

    Saat berkomunikasi tidak langsung kita hanya dapat mengartikan ekspresi lawan bicara atas dasar ucapannya saja. Namun sebaliknya melalui komunikasi langsung emosi dan tingkat hormon yang diproduksi oleh otak kita saat berkomunikasi akan lebih dinamis karena disamping mendengarkan kata juga dapat melihat dan mengartikan bahasa tubuh lawan bicara kita.

    Bagi orang yang terbiasa aktif baik secara sosial maupun aktif di tempat kerja dan melakukan pergerakan fisik yang cukup dalam kesehariannya maka level dopamine di otak akan meningkat.  Dopamine ini bermanfaat bagi otak  kita karena termasuk kategori sistem reward yang akan membuat kita lebih  segar, lebih senang dan lebih ceria.

    Di masa pandemi dimana aktivitas dan pergerakan kita  akan sangat terbatas maka tubuh kita kurang dalam memproduksi dopamine.

    Gejala penurunan kesehatan otak itu sebenarnya dapat dengan mudah kita deteksi seperti misalnya  jika kita sudah merasakan sering lupa, kelelahan  dan sangat mudah terpicu emosinya. Masalah kesehatan otak  dikategorikan dalam tahap yang membahayakan jika sudah  terkait dengan mulai melemahnya fungsi kognitif.

    Hubungan antara stress dan penurunan fungsi kognitif ini  bukanlah sesuatu yang baru namun   sudah mulai terindentifkasi dan dipelajari ratusan tahun yang lalu dan dengan semakin berkembangan ilmu kesehatan rahasianya sudah mulai terkuak.

    Stress yang berlanjutan akan sangat berdampak pada wanita tidak saja secara emosional namun juga secara fisik.

    Salah satu dampat stress yang paling ditakuti kaum wanita adalah perubahan elastisitasitas dan struktur kulit wajah yang berdampak pada munculnya kerutan.

    Stress pada wanita  memicu munculnya kerutan pada wajah ini  tentunya sangat tidak diharapkan oleh kaum wanita karena akan menyebabkan penampilannya tampak jauh lebih tua.

     Bagaimana cara Mengatasinya?

  • Berdasarkan hasil penelitian Prof. Erika B Laconi, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan tim, limbah pertanian dan perkebunan memiliki faktor pembatas jika dijadikan sebagai pakan ternak. Yaitu komponen lignoselulosa yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan ruminansia dan menyebabkan produktivitas hewan rendah. Oleh karena itu, penting untuk melakukan teknik pengolahan tertentu pada limbah untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan pada gilirannya akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas hewan. Teknik pengolahan untuk limbah pertanian dan perkebunan sendiri terdiri dari teknik fisik, kimia dan biologi. 

    Salah satu riset mahasiswa program doktoral IPB, Sari Putri Dewi, berjudul Increasing the Quality of Agricultural and Plantation Residues Using Combination of Fiber Cracking Technology and Urea for Ruminant Feeds ini terungkap bahwa teknologi yang bernama Fiber Cracking Technology (FCT) mampu menurunkan fraksi serat dan meningkatkan kecernaan pada ternak ruminansia. 

    Menurut lulusan Terbaik Doktor pada wisuda Januari 2019 ini, penurunan fraksi serat ditunjukkan dari kerusakan ikatan lignoselulosa jelas terbukti pada metode Scanning Electron Microscopy (SEM), X-Ray Difraction (XRD) dan metode spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR). 

    Sari dan tim pembimbing yang terdiri dari Dr. Anuraga  Jayanegara,  Dr. M. Ridla, Prof. Erika B Laconi ini membuat inovasi baru berupa teknologi FCT. Alat ini berguna untuk memecah serat pada bahan berserat tinggi yang biasanya terdapat dalam produk hasil ikutan pertanian dan perkebunan. Seperti jerami padi, pelepah sawit, tandan kosong sawit, kulit buah kakao, kulit kopi, jerami jagung klobot jagung, tongkol jagung, pucuk tebu dan ampas tebu. 

    “Eksperimen ini bertujuan untuk mengevaluasi efek teknologi FCT dan penambahan urea pada nilai gizi jerami padi, daun kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit, kakao dan sekam kopi,” ujarnya. 

    Dalam penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa kombinasi antara suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea telah terbukti meningkatkan nilai gizi jerami padi dan tandan kosong kelapa sawit. Urea lebih disukai daripada amonia karena aman, mudah digunakan dan mudah diperoleh. 

    “Eksperimen ini adalah kelanjutan dari studi sebelumnya untuk menjelaskan mekanisme lebih dalam mengenai peningkatan nilai gizi limbah pertanian dan perkebunan menggunakan kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea. Berdasarkan hasil penelitian dalam disertasi saya, saya yakin inovasi ini akan berguna bagi masyarakat bahwa hasil ikutan (by-product) pertanian dan perkebunan dapat digunakan sebagai pakan alternatif bagi ternak ruminansia,” imbuhnya. (ipb.ac.id)

Page 2 of 4