Alumni Alumni Alumni Alumni News

  • Survey karkas tahun 2012 yang dilakukan oleh Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa sapi lokal dari peternakan rakyat di Indonesia berada dalam kondisi kurus 36 persen, sedang 49 persen, dan gemuk 15 persen. Selain itu, sekitar 30 persen sapi dan kerbau siap potong adalah berumur tua dan bobot potong rata-rata yang diperoleh adalah 50 kilogram (kg) di bawah potensi sebenarnya.
     
    Oleh karena itu diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas pakan, lingkungan kandang dan tata laksana pemeliharaan. Permasalahan utama dalam mengembangkan hijauan pakan ternak (HPT) karena terbatasnya ketersediaan lahan. Salah satu lahan yang berpotensi untuk digunakan sebagai lokasi pengembangan HPT di Kabupaten Bogor adalah lahan perhutani Kawasan Penguasaan Hutan (KPH) Bogor. Demikian hal yang mengemuka dalam Diskusi Pakar  “Potensi Pengembangan Hijauan Pakan Ternak di Areal Perhutani”, Kamis (25/2) di Ruang Sidang Rektor Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga, Bogor. Perhutani KPH Bogor menguasai lebih dari 40 ribu hektar areal di Kabupaten Bogor, dan di beberapa lokasi sangat berpotensi untuk pengembangan HPT.
     
    Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) IPB Dr. Dodik Ridho Nurrochmat menyampaikan bahwa KSKP IPB mulai melakukan kajian pemanfaatan lahan tidur. Beberapa kajian  percontohan pemanfaatan lahan tidur dilaksanakan di lahan-lahan milik pribadi atau pengembang, yaitu  di Tanjung Sari Sumedang dan Gunung Putri Kabupaten Bogor. “Ke depan, kami tertarik mengembangkan HPT yang tumbuh di bawah naungan Perhutani,” ujarnya.
  • Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA terpilih sebagai Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Untuk itu, AIPI bekerjasama dengan IPB menggelar Kuliah Inaugurasi di Auditorium Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Dramaga, Bogor, Rabu (3/7).

    Ketua AIPI, Prof. Sangkot Marzuki mengatakan, inaugurasi anggota sangat penting dilakukan sebagai cara memperkenalkan anggota AIPI kepada masyarakat untuk membuktikan kebenaran pilihan dalam memilih anggotanya. Dikatakannya, AIPI didirikan pada tahun 1990 di bawah Undang-undang Republik Indonesia No. 8/1990 tentang Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

    Akademi ini dibentuk sebagai badan independen untuk memberikan pendapat, saran dan nasihat kepada pemerintah dan masyarakat pada akuisisi, pengembangan, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. AIPI terbagi ke dalam lima komisi yaitu Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, Komisi Ilmu Kedokteran, Komisi Ilmu Rekayasa, Komisi Ilmu Sosial dan Komisi Kebudayaan. AIPI berupaya mempromosikan ilmu pengetahuan melalui berbagai aktivitas seperti konferensi ilmiah dan forum diskusi kebijakan, publikasi, serta pengembangan hubungan nasional dan internasional.

    Dalam kesempatan ini Prof. Muladno mengangkat tema pentingnya meningkatkan kemampuan peternak rakyat dari berbagai aspek teknis maupun non teknis, khususnya dalam aspek bisnis.  Menurutnya, eksistensi sapi lokal di Indonesia tergantung jutaan peternakan rakyat. “Tidak ada cara lain dalam meningkatkan kemampuan para peternak kecuali melalui bisnis kolektif,” ujarnya.

    Dengan begitu, terangnya, akan ada skala minimum kepemilikan ternak sehingga dapat dikembangkan dan berdaya saing lebih tinggi. Sayangnya peran dan ketekunan para peternak sapi lokal ini dinilai belum cukup mendapat perhatian dari pemerintah maupun akademisi.

    Di tempat yang sama, Rektor IPB, Prof. Dr. Herry Suhardiyanto menyampaikan ucapan terima kasih kepada AIPI yang telah memberikan kehormatan bagi Prof. Muladno untuk menjadi anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar atas dasar pemikiran atau gagasannya dalam rangka mengatasi ketahanan pangan.  

    Prof. Muladno menginisiasi konsep Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) – 1111 dengan motto 1000 ekor betina produktif, 100 ekor pejantan, 10 strategi, dan 1 visi yaitu mewujudkan peternak yang berdaulat.  Selain itu, tujuan dari SPR-1111 ini adalah menjadi sarana pembelajaran bagi peternak sapi potong skala kecil agar berwawasan lebih baik, lebih profesional, dan lebih cerdas seperti peternak berkualifikasi sarjana dalam menjalankan usaha peternakannya. 

    SPR-1111 ini merupakan salah satu “Teknologi IPB Prima” selain pengembangan Padi IPB 3S, Kedelai Pasang-Surut dan berbagai inovasi serta pemikiran dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan kemandirian pangan nasional.

    Apa yang dilakukan Prof. Muladno selama ini dipahami sebagai sebuah proses pendidikan yang terjadi dalam masyarakat dan sangat relevan dengan tujuan dan semangat IPB dalam pengarusutamaan pertanian dalam rangka memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.

    “Selamat atas prestasi yang membanggakan. Ramaikanlah dunia ilmu pengetahuan dengan inovasi-inovasi yang cemerlang bagi kepentingan bangsa dan negara Indonesia sehingga dapat bersaing dengan negara lain di pasar bebas ASEAN,” ujar rektor. (ipb.ac.id)

  • Lebih dari 250 mahasiswa hadiri Kuliah Pembekalan KKNT (Kuliah Kerja Nyata Tematik) yang digelar oleh Fakultas Peternakan IPB pada Sabtu (12/6). Kuliah pembekalan ini menghadirkan lima orang narasumber dengan tiga materi ilmu peternakan dan dua materi di luar ilmu Peternakan dan berlangsung selama kurang lebih 4 jam secara online melalui aplikasi zoom. dan Kabag Humas IPB

    Hadir pula dalam acara tersebut Dekan Fakultas Peternakan Dr. Ir. Idat Galih. Permana, M. Sc.Agr yang memberikan arahan kepada adik-adik peserta KKNT IPB 2021. “KKN ini suatu wadah yang sangat penting bagi adik-adik semua, terutama bagaimana bisa berinteraksi dengan masyarakat ” ujarnya. Beliau menyampaikan beberapa tujuan yang bisa dicapai dari adanya kegiatan KKNT ini, diantaranya bagaimana mahasiswa dapat meningkatkan rasa peduli dan empati mengenai permasalahan yang ada di masyarakat serta membuat program yang bisa mengungkit potensi desa tersebut atau bahkan mampu menyelesaikan beberapa permasalahan yang terjadi di desa tersebut.

    Materi kuliah pertama disampaikan oleh Dosen Fakultas Kehutanan IPB Dr. Soni Trison, S.Hut, M.Si. mengenai Kewirausahaan dan Pengembangan Jejaring Mitra Kerja. Beliau menyampaikan Materi dipaparkan secara apik dan interaktif membuat mahasiswa begitu antusias mengikuti kuliah di sesi pertama ini. Beliau juga berbagi pengalamannya bekerjasama dengan beberapa kementerian dan juga bagian dari CSR beberapa perusahaan nasional.  

    Sesi kedua kuliah menghadirkan tiga orang Pemateri dari Fakultas Peternakan. Materi pertama disampaikan Dosen Ilmu Produksi Ternak M. Baihaqi, S.Pt, M.Sc mengenai diantaranya pengetahuan tentang bangsa-bangsa ternak “Jangan sampai anak Fapet di lapangan itu tidak bisa membedakan antara kambing dan domba, karena ini sering terjadi di masyarakat” ujarnya.  Materi selanjutnya mengenai Nutrisi dan Teknologi Pakan dipaparkan oleh Prof. Dr. Ir. Asep Sudarman, M.Rur.Sc yang membuka wawasan mahasiswa mengenai jenis-jenis pakan ternak yang biasa digunakan di Indonesia serta fungsi-fungsinya.

    Materi terakhir ilmu Peternakan disampaikan oleh Dr. Epi Taufik, S.Pt., MVPH, M.Si mengenai Budidaya, Pakan dan Pengolahan. Dalam kuliah ini beliau juga mematahkan beberapa anggapan atau stigma negatif mengenai hewan ternak dengan memberikan gambaran nilai gizi serta kemanan produk-produk ternak.

    Sebagai materi penutup, Kabag Humas IPB Ibu Siti Nuryati, S.TP, M.Si hadir berbagi tips dan kiat-kiat dalam menulis berita dengan materi Teknik Penulisan Populer di Media Massa. materi disampaikan secara lengkap dari mulai jenis-jenis tulisan sampai cara mudah menyusun berita berikut dengan contoh berita untuk memudahkan mahasiswa peserta KKNT memahami bahasan yang diberikan. Beliau juga memberikan cara membangun relasi dalam membuat pemberitaan “Pada saat di lokasi dimanapun dalam konteks publikasi, untuk peluang ketermuatan di media lokal datangi redaksi untuk menjalin hubungan dengan media masa” jelasnya. (Femmy)

  • Fakultas Peternakan IPB University melaksanakan Kuliah Pembekalan KKNT (Kuliah Kerja Nyata Tematik) bagi seluruh mahasiswa semester 6 yang mengikuti program KKN  secara daring, (21/5).

    Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Peternakan, IPB University Dr. Idat Galih Permana berharap pada tahun ini peserta bisa betul-betul tune in di lapangan. “KKN merupakan pendidikan di luar kampus (Program MBKM) dan kesempatan besar berinteraksi dengan masyarakat. Suasana KKN dihadapkan dengan masyarakat sesungguhnya, permasalahan real di lapangan. Mahasiswa diharapkan mampu mengimplementasikan program di masyarakat. Ekspektasi masyarakat sangat tinggi terhadap mahasiswa KKN” jelasnya.

    Dekan Fapet juga mengungkapkan pada tahun ini khususnya dalam sektor peternakan, wabah PMK  (Penyakit Mulut dan Kuku) sudah menyebar dan menjadi concern kita sebagai insan peternakan. “Masyarakat saat ini masih panik, baik masyarakat umum maupun peternak. Bagaimana peran mahasiswa ketika ternak sakit, begitu pula dengan produk susu. Mahasiswa harus memahami bagaimana penyakit ini, jangan sampai karena takut PMK, jadi tidak mengkonsumsi produk ternak, tapi jangan abai juga” ujarnya. Lebih lanjut juga ia beresan kepada para mahasiswa untuk melakukan  kegiatan ini dengan senang dan bahagia dalam berinteraksi langsung dengan masyarakat dan menjalankan program .

    Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University,  Dr. drh. Sri Murtini, hadir sebagai narasumber dan memberikan kuliah mengenai pengetahuan tentang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dalam paparannya, Dr. Sri menjelaskan sangat penting bagi mahasiswa yang akan KKN untuk menenangkan masyarakat terutama peternak. Mahasiswa biasanya jadi tempat bertanya. “Penting untuk mahasiswa mendapat informasi yang tepat agar tidak terjadi distorsi berita. PMK menyebabkan kerugian ekonomi tidak hanya untuk peternak, tapi juga untuk petani (terkait pakan/rumput). Kerugian pada hewan langsung bisa berakibat menurunnya produktivitas, karena hewannya tidak mau makan” jelasnya.

    Selanjutnya materi pertama seputar peternakan disampaikan oleh Dr. Epi Taufik, S.Pt, MVPH, M.Si. perihal aspek teknologi hasil ternak dan keamanan produk hasil ternak disaat wabah PMK “Hal terpenting untuk daging dan olahannya adalah harus selalu mengikuti instruksi penanganan. Daging dan produksi susu pasteurisasi dari hewan dengan PMK aman dikonsumsi” ungkap dosen di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi (IPTP) Fapet ini.

    Selain seputar PMK, mahasiswa juga mendapat materi lain seputar peternakan yang tidak kalah menarik. Materi tersebut antara lain mengenai Penerapan Teknologi Pakan dan Nutrisi Ternak di Lokasi KKN oleh Prof. Asep Sudarman.  Selain itu ada juga materi mengenai Produksi dan Manajemen Pemeliharaan Ternak yang disampaikan oleh M. Baihaqi, M.Sc yang memberikan pencerahan kepada mahasiswa seputar hoax-hoax di masyarakat misalnya daging domba atau kambing mempunyai kolesterol yang tinggi serta menyebabkan darah tinggi.

    Materi terakhir terkait laporan pelaksanaan KKN, menghadirkan Kabag IPB TV,  Dr. Dwi Retno Hapsari, SP, M.Si. mengenai Teknik Menulis Berita Populer. Materi disampaikan secara komunikatif dan interaktif kepada para mahasiswa peserta kuliah pembekalan. ‘’Saat ini berita banyak dikemas lebih ke aspek entertainment dan punya peluang di Fapet. Banyak sekali konten mengenai peternakan yang dari tayangan banyak mengadopsi dari media-media besar, setidaknya yang sering mengutip kita adalah Kompas” jelasnya. Secara pembahasan, Retno yang juga merupakan dosen di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB ini menyampaikan pengenalan pengertian berita populer, tips menulis, mendapat ide serta memilih foto. (Femmy)

  • Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University gelar kuliah tamu pada mata kuliah Inovasi Teknologi Pengolahan Serat Ulat Sutra pada Kamis (6/5). Pada kesempatan ini Departemen IPTP menghadirkan seorang expert pada bidang fashion ramah lingkungan yaitu Ahmad Ilvan Dwiputra.

    Tema yang diangkat adalah pewarnaan alam kain sutra melalui Ecoprint. Kuliah tamu ini diadakan untuk meningkatkan minat dan wawasan mahasiswa tentang pengolahan produk peternakan, khususnya pada produk turunan ulat sutra. Ini merupakan kali pertama mengundang langsung Co-founder dari Semilir Ecoprint.

    Ahmad menjelaskan Ecoprint merupakan teknik mentransfer bentuk dan warna daun sebenarnya ke kain tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya atau bahan buatan.

    "Teknik ini memanfaatkan daun sebagai signature motif Ecoprint. Kekayaan flora Indonesia bisa kita eksplorasi untuk diwujudkan dalam fashion," ujarnya.

    Ia melanjutkan pemilihan bahan baku kain dan bahan baku daun menjadi penting dalam teknik ini. Menurutnya kain yang berasal dari serat protein memiliki keunggulan dibandingkan kain dari serat selulosa.

    "Kain berasal dari serat protein itu jauh lebih bagus untuk Ecoprint dan pewarnaan alam, motifnya akan terlihat lebih jelas. Contohnya pada kain sutra, ketika mordantnya cukup maka warna akan lebih kuat menempel dan susah hilangnya," jelasnya.

    Selain itu daun yang digunakan juga memiliki karakteristiknya masing-masing. "Jadi ada jenis-jenis daun yang bagusnya digunakan saat segar dan ketika kering kurang bagus, ada juga daun yang bisa digunakan keduanya baik segar maupun kering, dan ada pula jenis daun yang bagusnya digunakan saat kering. Contohnya daun eucalyptus, dalam kondisi segar atau kering tetap bagus hasilnya, kemudian daun ginitry itu segar bagus digunakan namun ketika kering warnanya mulai berubah,” ujarnya.

    Ada empat tahapan penting dalam teknik Ecoprint yaitu Scouring (pencucian), Mordant, Ecoprinting dan Fixasi.

    "Mordant berfungsi untuk memperbesar daya serap kain untuk menarik zat warna. Bahan yang sering digunakan yaitu tawas, cream of tartar dan iron (tunjung).  Pada kain serat protein seperti sutra, tunjung yang digunakan hanya sedikit, sekitar 2-4 persen, karena jika berlebihan dapat menyebabkan kain keras dan rapuh," ungkapnya.

    Ia menambahkan proses fixasi bertujuan agar warna tahan lama. Pada tahap ini dapat menggunakan air kapur, tawas atau tunjung. Namun untuk kain sutra tidak dapat menggunakan tunjung. Untuk warna gelap dapat digunakan kapur, dan warna cerah digunakan tawas.

    Terdapat dua metode dalam proses Ecoprint, pertama metode pounding menggunakan alat bantu seperti palu untuk memukul daun/bunga agar tercetak di kain. Warna dan motif daun/bunga akan terlihat jelas dan tegas dengan cara ini. Namun metode ini tidak mengeluarkan warna asli daun (dominan warna klorofil) serta akan cepat pudar.

    Berikutnya adalah metode steaming menggunakan alat kukus dengan bantuan suhu tinggi (panas) untuk membantu proses melekatnya zat tanin yang dikeluarkan daun/bunga ke media Ecoprint.

    "Kelebihan cara steaming adalah tidak memerlukan tenaga ekstra seperti pounding, warna yang dihasilkan natural dan asli dari daun/bunga sendiri. Akan tetapi kita tidak bisa memprediksi warna yang akan dihasilkan setelah proses pengukusan," ungkapnya.

    Acara yang diselenggarakan secara daring ini berlanjut dengan sesi tanya jawab dengan antusiasme peserta yang cukup tinggi (ipb.ac.id)

  • Fakultas Peternakan IPB University menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Outlook Perunggasan Indonesia 2026” yang dirangkaikan dengan penyerahan beasiswa dari PT Charoen Pokphand Indonesia  melalui Charoen Pokphand Foundation Indonesia (CPFI), pada Kamis (9/4) pukul 09.30–12.00 WIB di Auditorium J.H.H., Fakultas Peternakan IPB.

    Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari industri perunggasan, yaitu Drh. Bambang Sutrasno, serta dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, dosen, dan ratusan mahasiswa program sarjana (S1), magister (S2), dan doktor (S3).

    Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr, menyampaikan bahwa sektor perunggasan memiliki peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional. Ia menekankan bahwa sekitar 60 persen kebutuhan protein masyarakat Indonesia disuplai dari produk unggas, seperti daging ayam broiler dan telur.

    “Perunggasan merupakan tulang punggung pemenuhan protein masyarakat. Ketika sektor ini mengalami gangguan, maka konsumsi protein nasional juga berpotensi terdampak,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa meskipun Indonesia telah mencapai swasembada untuk daging ayam dan telur, tantangan ke depan masih cukup besar, mulai dari ketergantungan terhadap impor bahan baku hingga dinamika kebijakan dan pasar.

  • Pada hari Kamis, tanggal 17 Maret 2016, bertempat di ruang sidang Fakultas Peternakan IPB, staf dan mahasiswa S2 maupun S3 di Fakultas Peternakan mendapatkan kesempatan kuliah umum dari Ronald Knust Graichen. Ronald Knust Graichen merupakan seorang konsultan pendidikan dari STOAS Vilentum University yang tengah terlibat dalam kegiatan kerjasama "The Neatherlands Initiative for Capacity Development In Higher Education (NICHE)" di IPB. Dalam kesempatan ini Ronald menyampaikan tema mengenai “How to design and improvement of written exams”

    Ronald menjelaskan beberapa jenis tes tertulis yang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan, misalnya jika ingin mengetahui tingkat pengetahuan peserta tes, maka jenis tes yang sesuai diantaranya adalah tes berjenis essay. Ronald juga menjelaskan beberapa perbedaan jenis tes dan juga manfaatnya yang ada saat ini misalnya pilihan ganda, besar/salah, dll. Ronald juga menjelaskan tentang perlunya keselarasan antara hasil belajar dengan pertanyaan dalam tes yang diujikan. Kuliah umum diakhiri dengan sesi tanya jawab dengan peserta. 

     

  • Sebanyak 20 orang mahasiswa dari University of Adelaide mengunjungi Fakultas Peternakan IPB pada tanggal 27-28 November 2014. Rombongan disambut oleh Wakil Dekan dan mahasiswa Fakultas Peternakan IPB di Ruang Sidang Fakultas pada pukul 09:00. Agenda kegiatan yang diadakan di Fakultas Peternakan adalah pengenalan Institusi, collaboration meeting, kunjungan ke laboratorium lapang Fakultas Peternakan IPB.
     

    Acara diakhiri dengan penutupan dan early dinner  pada hari Jumat, 28 November 2014 di Wisma IPB Landhuis.

  • Animal Logistic Indonesia-Netherland (ALIN) merupakan proyek kerjasama di bidang logistik peternakan yang dilaksanakan oleh Fakultas Peternakan IPB (Fapet-IPB) bekerjasama dengan Konsorsium Belanda yang dipimpin oleh Maastricht School of Management (MSM) yang didanai EP-Nuffic, Belanda. Salah satu output dari proyek ALIN adalah Fapet-IPB memiliki kemampuan akademik, organisasional dan manajemen untuk menyampaikan pendidikan dan pelatihan yang memperhatikan aspek gender dalam melaksanakan penelitian dalam bidang logistik peternakan.

    Melalui FLPI (Forum Logistik Peternakan Indonesia), ALIN dan Fapet IPB telah menjalin kerja sama dengan stakeholders, dalam mendukung pembentukan program studi logistik peternakan pada jenjang Sarjana Plus dan Pascasarjana. Tim PAC berasal dari komponen akademisi, industri, pemerintah, dan komunitas untuk mendesain, menyelenggarakan, dan evaluasi pelaksanaan program studi tersebut. Tim PAC terdiri dari 1) Zaldy Ilham Masita (Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia); 2) Prof. Dr. Ir. Senator Nur Bahagia (Direktur Pusat Kajian Logistik dan Supply Chain ITB); 3) drh. Sudirman, MM (Business Development Director PT Sierad Produce, Tbk); 4) Ir. Harianto Budi Raharjo (Operational Direktur PT Lembu Jantan Perkasa); 5) Ir. Fini Murfiani, MSi (Direktur PPHnak, Kementerian Pertanian RI).

    Salah satu agenda PAC adalah memenuhi undangan dari pihak Belanda untuk melakukan exposure visit ke lembaga-lembaga sektor logistik peternakan dan lembaga pendidikan internasional sehingga mampu menyusun standar penyelenggaraan program pendidikan logistik peternakan di Indonesia. Belanda merupakan contoh yang baik di dalam praktik manajemen logistik peternakan dan memiliki universitas kelas dunia dengan fasilitas yang lengkap dan memadai. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 08 s.d. 12 Mei 2017 di Belanda, antara lain kunjungan ke NVWA Utrecht, Cattle and Logistic The Netherlands, STC Education and Training in Transport and Logistics-Rotterdam., Wageningen UR dan lainnya.

    Terdapat poin- poin penting hasil exposure visit antara lain penguasaan karakteristik produk ternak sebagai komoditas merupakan hal terpenting dalam logistik peternakan. “Fapet-IPB telah memiliki bekal dasar menguasai karakteristik produk ternak untuk pengembangan program studi logistik peternakan”, jelas Ir Harianto Budi Raharjo dalam kegiatannya di Belanda pada tanggal 11 Mei 2017. Poin penting lainnya juga dijelaskan oleh Prof Senator bahwa higienitas menjadi prioritas dalam proses logistik peternakan di Belanda, hal ini menjadi pembelajaran penting bagi logistik peternakan di Indonesia. “Pada praktik logistik peternakan di Belanda, setiap ternak dimonitor secara day-to-day melalui fasilitas IT”, jelas Prof Senator. Beliau juga menjelaskan bahwa kegiatan logistik peternakan di Belanda berjalan secara parsial, namun dapat terkelola secara baik karena terjalin kepercayaan yang sangat tinggi antar stakeholders.

    Tim PAC dan ALIN juga mendapatkan pengetahuan mengenai kesejahteraan hewan yang disampaikan oleh EonA (Eyes on Animals). Lembaga NGO , EonA, menyampaikan materi peningkatan kesejahteraan hewan selama transportasi, membahas masalah-masalah yang sering terjadi dan praktik terbaik yang diterapkan di Eropa. Selain itu, juga membahas permasalahan yang sering terjadi di Indonesia terutama teknik yang digunakan untuk mengangkut hewan dari kapal yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan. “Terdapat pengalaman dari sebuah perusahaan produksi dan perdagangan ternak di Eropa, investasi perusahaan untuk kesejahteraan hewan hasilnya berdampak positif pada tingkat pengembalian finansial perusahaan ” jelas Lesley Moffat sebagai founder dan koordinator EoNa saat menyampaikan kuliah di hadapan tim PAC dan ALIN tanggal 09 Mei 2017 di Harderwijk (NL). Tim PAC dan ALIN sangat terbuka dalam diskusi mengenai hal tersebut untuk menghasilkan logistik peternakan Indonesia yang lebih baik dengan memperhatikan kesejahteraan hewan. (ipb.ac.id)

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University turut berpartisipasi pada kegiatan Jelajah IPB 2024 yang berlangsung di Gedung Grha Widya Wisuda selama dua hari pada 31 Agustus – 1 September. Jelajah IPB merupakan agenda IPB yang memberi kesempatan bagi para siswa siswi SMA sederajat untuk bisa mengenal IPB secara lebih mendalam. Jelajah IPB tahun 2024 ini memiliki rangkaian pra event dan main event nya di hari ini. Pra event terdiri dari Jelajah Goes to You, Jelajah Goes to School, Live Instagram sekali seminggu serta Mini Games. Pra event tersebut membantu para calon mahasiswa untuk tetap terhubung dengan prodi-prodi yang ada di IPB. Untuk main event hari ini akan diselenggarakan Campus Talk, Campus Expo, Campus Tour dan juga Try Out Jelajah IPB x Ruang Guru. 

    Fapet IPB yang terdiri dari 3 Prodi yaitu Teknologi Produksi Ternak (TPT), Nutrisi dan Teknologi Pakan (NTP) dan Teknologi Hasil Ternak (THT) mengenalkan prodi-prodinya melalui presentasi yang disampaikan oleh Dosen Fapet yaitu Dr. Cahyo Budiman, S.Pt., M.Eng dari Departemen IPTP (Prodi TPT dan THT) dan Dr. Annisa Rosmalia, S.Pt, M.Sidari Departemen INTP (Prodi NTP). Di ruang pameran, booth Fapet juga menampilkan beberapa produk dan inovasi antara lain telur omega, permen yogurt, produk pakan ternak dan HMB. Selain itu ada kelinci, tikus dan maggot hidup yang banyak menarik perhatian pengunjung untuk bertanya lebih jauh tentang dunia peternakan.

    Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB Prof. drh. Deni Noviana, PhD, DAiCVIM memberikan kesan yang baik saat berkunjung ke booth Fapet. “Jelajah IPB merupakan media yang paling baik untuk prodi yang berada di Fakultas Peternakan, booth nya keren-keren, topi nya bagus! Semoga banyak siswa yang nanti tertarik masuk di Fakultas Peternakan”ungkapnya.

    Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Fapet Prof. Dr. Irma Isnafia Arief berharap dengan adanya Jelajah IPB ini maka peternakan dapat semakin dikenal luas oleh generasi Z “Karena memang masa depan kecerdasan bangsa salah satunya disupport oleh peternakan yang menyumbangkan daging, susu dan telur dan ini sesuai dengan program pemerintah yang akan datang yaitu makan siang gratis dan juga susu gratis. Ahooy Peternakan!”pungkasnya.

    Ribuan siswa-siswi SMA dan sederajat yang menghadiri pameran ini begitu anusias ketika mengungjungi booth Fapet. Muhammad Alzhar Al Ghany dari SMA Negeri 45 misalnya, sudah bercita-cita ingin masuk prodi THT bahkan sudah banyak riset sebelumnya, alasannya “Pemikiran saya, sederhananya dunia semaju apapun tetap manusia butuh makan, saya memilih untuk berjuang disini, saya punya buku panduannya dan sudah mempelajari semuanya dan sudah membandingkan”jelasnya.

    Siswa lain dari SMAN 1 Cikarang Barat Salwa Fauziah mengatakan tertarik masuk ke INTP karena disini mempelajari nutrisi-nutrisi ternak, pakan hewan, pellet, dan sebagainya. “Prospek kerjanya juga kita bisa jadi pengusaha pakan ternak”tuturnya. (Femmy)

     

  • Tim Program Matching Fund Kedaireka Fakultas Peternakan IPB University yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Iman Rahayu Hidayati Soesanto, MS menggelar Webinar bertajuk  Sosialisasi Prospek Pakan Premium Mengandung Omega-3 untuk Menghasilkan Pangan Fungsional. Acara ini berlangsung secara hybrid di Ruang Sidang Departemen IPTP, Peternakan (Fapet) IPB University pada (6/10) dan terselenggara atas kerjasama Kedaireka yang merupakan program dari Dikti, Fapet IPB, STP (Science Techno Park) IPB, dan Indofeed (sebagai mitra). Peserta yang hadir sekitar 150 orang terdiri dari Mahasiswa, Dosen, Peternak, Peneliti, Instansi Pemerintah, Balai Peternakan, Akademisi Politeknik dan Pengusaha Bidang Peternakan.

    Dekan Fapet Dr. Idat Galih Permana sangat mengapresiasi acara tersebut. Dalam sambutannya ia menguraikan beberapa hal terkait Kedaireka dan Fapet “Pada tahun ini Fapet berhasil meloloskan 9 judul program Kedaireka yang mendapatkan Dana bantuan dari Kemenristek, dosen-dosen di Fapet sangat kompetitif dan produktif menghasilkan riset dan inovasi” ujarnya. Terkait Omega 3, ia  menjelaskan bahwa riset ini sudah dipublikasikan dan mendapat paten dan upaya mensosialisasikan harus lebih luas lagi supaya bermanfaat bagi masyarakat. “Telur ini salah satu produk hewani yang sangat luas permintaannya, trend produk Omega-3 merupakan produk premium yang sangat diminati masyarakat, namun produk-produk ini baru ada di supermarket-supermarket besar dan ini adalah kesempatan kita agar marketnya bertambah dan peternak yang membudidayakan lebih mendapat keuntungan” ungkapnya.

    Webinar yang dimoderatori oleh  Prof. Yuli Retnani dari Divisi Manufaktur dan Industri Pakan Departemen INTP Fapet ini menampilkan 3 Narasumber yang ahli di bidangnya. Narasumber pertama yaitu Prof. Iman Rahayu sebagai Inventor Suplemen Omega-3. Dalam presentasinya, Prof. Iman menceritakan rekam jejak inovasi pakan Omega-3 yang menghasilkan telur Omega-3 sebagai suplemen karena dicampurkan ke dalam pakan, melalui bioproses ke ayam.

     “Penelitian dimulai sejak tahun 1995, melalui rekayasa pakan, membuat suplemen Omega-3  dengan beberapa penelitian antara lain meningkatkan nutrisi makro dan mikro, meneliti teknologi Omega, Kualitas Telur, Suplementasi Omega-3 dan studi perilaku konsumen lalu mendapat paten di tahun 2009”urainya. Guru Besar di Fapet IPB ini juga memastikan bahwa produk yang dihasilkan adalah produk yang ramah lingkungan karena bahan baku suplemennya berasal dari limbah ikan lemuru dan ampas tahu kering fermentasi.

    Hadir pula Prof. Sumiati sebagai Narasumber yang menjelaskan Aplikasi Penggunaan Inovasi Suplemen Omega-3 pada Pakan Ayam yang menghasilkan telur fungsional yaitu telur yang sudah didesain melalui rekayasa nutrient. Manfaat telur fungsional sendiri, dijelaskan oleh Prof. Sumiati antara lain untuk mengatasi kekurangan protein “Selain itu, kandungan Omega-3 baik untuk memelihara fungsi otak, meningkatkan daya ingat dan konsentrasi, menurunkan risiko terjadinya penyakit pada otak serta menurunkan kolesterol darah” jelasnya. Namun, manusia tidak bisa membentuk Omega-3 dalam tubuhnya, sehingga kita perlu mengkonsumsinya dan dengan kondisi geografis Indonesia sebagian besar adalah lautan yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber Omega-3 dalam pakan ayam petelur.

    Materi terakhir disampaikan oleh CEO PT. Nutricell Pacific yaitu Ir. Suaedi Sunanto, S.Pt., M.BA., IPU, beliau memaparkan mengenai Prospek dan Tantangan Pemanfaatan Inovasi Suplemen Omega-3 di Industri Pakan Ayam Petelur. Secara lugas beliau menggambarkan beberapa fakta menarik mengenai DHA yang menjadi bagian penting dalam Omega-3 yaitu 97% Omega-3 yang ada di otak terdiri dari DHA yang berfungsi mempengaruhi kecepatan informasi dan proses di otak dan bermanfaat bagi ibu hamil, anak-anak dan orang dewasa. “Marketnya yaitu banyak produk makanan yang diklaim mengandung Omega-3 menghasilkan pertumbuhan penjualan sangat bagus dengan klaim DHA dan melebihi produk biasa yang tidak mengandung DHA” jelasnya yang menambahkan bahwa klaim DHA mampu membuat costumer membeli kembali sehingga menjadi parameter yang cukup strategis. (Femmy)

  • Itik merupakan salah satu komoditas peternakan yang cukup dikenal di Indonesia. Kandungan lemak yang tinggi pada bagian bawah kulitnya menyebabkan bau amis sehingga permintaan daging itik menjadi rendah. Tiga mahasiswa IPB University yaitu Binda Octa Rosa Pramesty dan Evri Choiriyah Al Firdaus dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan serta Lelli Hapsari Romadhoni dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, melakukan riset untuk menurunkan kandungan lemak pada itik melalui pakan yang diberi nama water plant dietary.

    Binda selaku Ketua Kelompok menjelaskan kandungan lemak pada daging paha itik berumur delapan minggu sekitar 8.47 persen sedangkan kandungan lemak pada daging paha ayam broiler berumur enam minggu berkisar 6.54 persen. Lemak jenuh yang tinggi akan menyebabkan kandungan kolesterol juga tinggi dan menyebabkan bau amis sehingga akan mempengaruhi permintaan konsumen yang menjadi rendah. 

    Untuk itu tim riset Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKMPE) 2019 ini membuat terobosan pakan untuk mengurangi kandungan lemak tersebut. "Water plant dietary merupakan ransum yang ditambahkan dengan tanaman air yaitu kayu apu. Kami menggunakan tanaman air ini dicampurkan ke pakan komersial yang sering digunakan masyarakat. Pakan komersial yang kami gunakan adalah pakan komersial BR-11,” ujarnya.

    Itik dapat mencerna makanan yang tinggi serat jika dibandingkan dengan ayam. Kayu apu merupakan tanaman air yang sering dianggap menjadi gulma dan tidak memiliki nilai ekonomis. Kayu apu memiliki kandungan serat yang cukup tinggi yang diharapkan dapat mengikat kolesterol pada daging itik. 

    "Kayu apu juga dapat berkembang biak dengan cepat dan kontinyu sehingga tidak akan mengalami kekurangan dan tidak akan bersaing dengan manusia. Yang paling penting kayu apu disukai oleh unggas air,” ungkapnya.

    Saat ini penelitian yang dibimbing oleh Dr Ir Widya Hermana M.Si ini berada pada tahap penentuan dosis penambahan kayu apu yang efektif untuk penurunan kadar lemak dan kolesterol pada daging itik. 

    "Keutamaan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan daging itik yang rendah lemak dan kolesterol namun tidak mengurangi rasa khas yang ada. Selain itu, agar tanaman kayu apu yang awal mulanya dianggap gulma perairan dan tidak memiliki nilai ekonomis dapat dimanfaatkan dengan baik,” tandasnya. (ipb.ac.id)

  • Laeli Komalasari, SP, M.Si, Pranata Laboratorium Pendidikan asal Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menjadi Juara II dalam ajang Pemilihan Pranata Laboratorium Pendidikan Berprestasi Nasional. Inovasinya yang berjudul "Mesin Tetes Inovasi Pendukung Efektivitas Kinerja Akademik di Laboratorium" ini sangat membantu peneliti melakukan risetnya.

    “Kejadian listrik padam di Bogor belakangan lebih sering terjadi dan sulit diprediksi. Kejadian tersebut menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan penetasan telur unggas (secara artifisal). Adanya gangguan listrik berdampak pada perkembangan embrio yang tidak sempurna,  telur gagal menetas dan akhirnya mengganggu proses penelitian,” ujarnya.

    Laeli membuat mesin tetas yang cocok untuk mengatasi permasalahan tersebut. Mesin tetas buatannya memiliki kapasitas 100 dan 200 butir telur. Sumber energi yang digunakan berasal dari listrik PLN dengan mengombinasikan power inverter yang mempunyai fungsi dapat mengkonversikan tegangan 12 volt DC menjadi tegangan 220 volt AC dengan aki sebagai cadangan energi.

    “Dengan demikian, pada saat listrik padam, secara otomatis sumber panas dalam mesin didapatkan dari alat inverter yang bersumber dari aki. Mesin tetas didesain khusus sehingga telur dapat diposisikan secara vertikal dengan kantung udara berada di atas. Keadaan ini membuat  respirasi embrio berjalan optimal. Posisi telur horisontal menyebabkan penyebaran panas tidak merata sehingga perkembangan embrio tidak sempurna. Untuk itu desain mesin ini memposisikan telur secara vertikal,” terangnya.

    Menurutnya, kelebihan inovasi ini adalah sudah teruji dan sudah diimplementasikan serta telah meluluskan banyak sarjana, magister serta menghasilkan publikasi ilmiah.

    Selain menjadi Juara II Pranata Laboratorium Pendidikan Berprestasi Nasional 2018, Laeli juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai The Second Winner in Scientific Paper Award pada Jurnal Nasional Terakreditasi (Media Peternakan).

    Laeli merupakan salah satu dari 49 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Setelah lolos seleksi pada bulan September, Laeli berhasil masuk dalam 10 finalis yang diundang ke Jakarta selama empat hari untuk dilakukan pemilihan peringkat 1, 2, dan 3.

    “Saya merasa sangat beruntung karena support mengalir deras dari berbagai pihak termasuk suaminya tercinta (Melzuardi), Staf  Divisi Unggas terutama Dr. Niken Ulupi, Ketua Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan IPB,  Dr. Irma Isnafia Arief, warga Departemen IPTP, khususnya Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri dan Dr. Ir. Lucia Cyrilla, Pemimpin Fakultas Peternakan (Dekan dan Wakil Dekan) Tim Direktorat Sumberdaya Manusia IPB, Tim Coaching dan Tim Biro Komunikasi IPB,” ujarnya. (ipb.ac.id)

  • Ditengah ancaman penyebaran penularan wabah COVID-19, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk pencegahan. Selain tetap berada di rumah dan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH), memperkuat daya tahan tubuh menjadi cara utama dalam mencegah terinfeksi virus Corona.

    Prof Iman Rahayu Hidayati Soesanto, Kepala Divisi Produksi Ternak Unggas, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB University mengatakan mengonsumsi makanan seimbang menjadi salah satu cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Ini karena, nutrisi dan protein yang baik sangat penting untuk sistem kekebalan tubuh yang kuat.

    Mengonsumsi makanan bergizi seperti telur omega-3 secara rutin ternyata bisa menjadi solusinya.  Menurutnya, mengkonsumsi telur omega-3 setiap hari akan semakin melengkapi zat gizi yang didapat tubuh untuk membantu memperkuat daya tahan tubuh.

    "Untuk membentuk daya tahan, tubuh tak hanya membutuhkan vitamin saja, melainkan lebih banyak dari itu seperti telur omega-3 yang mengandung 10 kali kandungan DHA dan EPA dari telur biasa. DHA atau docosahexaenoic acid dan EPA atau eicosapentaenoic acid merupakan asam lemak tidak jenuh esensial yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. DHA dan EPA juga berfungsi sebagai antioksidan  untuk mencegah stres dan menjaga kesegaran kulit," katanya.

    Prof Iman menuturkan, telur omega 3  ini bagus untuk meningkatkan kesehatan dan kecerdasan anak. Yang paling penting adalah kandungan kolesterolnya rendah. Telur omega-3 juga memiliki karakter khusus yang tidak dimiliki telur biasa. Yakni warna kuning lebih pekat karena mengandung B-caroteen (betakaroten) yang akan semakin menambah selera makan. Tidak hanya itu, protein telur dan asam lemak sebagai lipoprotein, dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan sebagai anti bakterial.

    “Perlu diketahui bahwa COVID-19 dapat menyerang sel darah, kemudian merusak pembuluh darah di dalamnya. Berkaitan dengan hal tersebut, maka DHA dan EFA sangat dibutuhkan tubuh guna menjaga pembuluh darah agar terhindar dari kerusakan akibat virus, termasuk virus COVID-19," ungkapnya.

    Salah satu inovasi Prof Iman adalah Telur Omega 3 IPB. Telur ini mengandung omega-3 sebagai asam lemak tidak jenuh dan kandungan gizi lengkap serta sumber protein tinggi. “Dianjurkan konsumsi tiap hari tanpa takut kolesterol. Disarankan dikonsumsi oleh lansia, balita, ibu hamil dan penderita penyakit degeneratif. Bisa dikatakan bahwa proses penyembuhan virus COVID-19 akan bertumpu pada kekuatan sistem imunitas tubuh masing-masing pengidap (ipb.ac.id)

  • Salah satu metode pengolahan sampah organik, seperti sampah dapur, adalah biokonversi dengan metode BSF (Black Soldier Fly). Produk yang dihasilkan antara lain maggot dan kompos. Produk ini dapat bernilai ekonomi tinggi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan kegunaan lainnya.

    Prof Dewi Apri Astuti, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan mengatakan bahwa maggot BSF memiliki keunggulan sebagai pakan ternak. Eropa bahkan telah memanfaatkan larva sebagai salah satu pakan ternak berkelanjutan demi menunjang kebutuhan pangan. Terlebih kebutuhan akan protein hewani meningkat seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan populasi.

    Menurutnya, kehadiran pakan berkontribusi signifikan untuk menghasilkan produksi ternak yang optimum. Dikarenakan biaya pemberian pakan yang cukup tinggi, dunia peternakan mencari alternatif pakan yang efisien, salah satunya BSF. Solusi ini dapat mengatasi tingginya angka impor tepung ikan yang menyebabkan defisit negara.

    Dalam Webinar Paguyuban Pegiat Maggot bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berjudul “Pengurangan Sampah dengan Biokonversi BSF Menuju TPA Bebas Sampah Organik, (16/04), ia menjelaskan beberapa keunggulan larva BSF. Yakni sebagai pakan ternak adalah mengandung nutrien berkualitas, mudah dipelihara, murah dan memberi solusi dalam masalah lingkungan.  “Kehadiran BSF sebagai pakan ternak ini memiliki potensi untuk mengolah limbah menjadi rupiah,” katanya.

    Menurutnya, sampah organik dapat digunakan sebagai media pertumbuhan larva. Produknya dapat dikomersialisasikan dalam larva segar, larva kering, tepung maggot dan sisa limbah seperti kitin dan kitosan. Sisa limbah ini dapat dipergunakan di bidang kosmetik dan makanan.

    “Media sangat mempengaruhi bagaimana kualitas larva. Bagusnya limbah-limbah dapur atau pasar dikombinasikan dengan sumber-sumber protein yang lebih tinggi,” sebutnya.  Prof Dewi menambahkan, media sampah organik sekitar 800 kg dapat menghasilkan 300 kilogram larva. Harga media dan biaya operasionalnya berbeda-beda tergantung lokasi. Namun kombinasi dengan bungkil sawit dinilai lebih baik karena dapat menghasilkan larva berprotein tinggi.  “BSF sudah merambah ke industri yang menjanjikan. Pembudidaya pemula maggot dapat memulainya dengan cukup mengumpulkan (larva) untuk pakan ikan dan unggasnya,” tambahnya.

    IPB University juga memiliki rumah BSF dan produksinya sudah kontinyu. Di rumah BSF, ia mengkombinasikan limbah ternak yang biasanya berkadar nitrogen tinggi dengan limbah sayuran/hijauan atau cacahan sisa pakan ternak. Rasio ini dapat menghasilkan komposisi larva yang berkualitas baik.

    “Nutrisi larva BSF sebagai pakan ternak sudah terbukti nyata memiliki keunggulan. Pemberian pada unggas tidak memberikan perbedaan yang nyata dalam hal konsumsi. Bahkan, dapat menekan biaya produksi serta menghasilkan berat telur lebih tinggi serta rendah kolesterol dan tingkat imunitas yang baik,” ujarnya.

    Selain itu, lanjutnya, dapat diolah sebagai susu pengganti anak ternak dan menjadi produk pakan tinggi energi bagi ruminansia. Produk samping kitosannya juga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi pertumbuhan bakteri metanogen pada limbah ternak yang berpengaruh buruk pada kualitas lingkungan (ipb.ac.id)

  • Bertempat di Plaza Depan Fakultas Peternakan, IPB University yang diprakarsai oleh Badan Pengelola Investasi dan Dana Sosial (BPIDS) IPB resmi meresmikan fasilitas air bersih siap minum gratis (Water Station) pada 18/5. Water station Fapet IPB merupakan program wakaf yg dikelola BPIDS dengan sumber dana dari Bank Syariah Indonesia (BSI). Peresmian acara berupa seremoni gunting bunga yang dilakukan oleh Dekan Fapet, Area Manager BSI Bogor dan Wakil Kepala BPIDS.

    Dr. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr, Dekan Fapet IPB University menyambut dengan baik keberadaan water station yang bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk Fapet tapi juga fakultas yang berkegiatan atau berada di sekitar Fapet. “Dengan adanya water station, menjadi hemat dan sangat bermanfaat khususnya untuk mahasiswa. water station juga merupakan program IPB green campus movement” jelasnya.

    Wakil kepala BPIDS Dr. Alla Asmara, S.Pt, M.Si yang juga hadir mewakili kepala BPIDS mengungkapkan penghargaan untuk Fapet dan apresiasi kepada BSI. Alla berharap keberadaan water station bisa memberikan kebermanfaatan bagi siapapun, selain itu ia juga menyampaikan untuk selanjutnya akan diadakan juga water station di FEM dan FKH.

    Apresiasi juga disampaikan oleh area manager BSI Bogor Ricky Rikardo Mulyadi. “Alhamduliilah water station ini bisa dioperasikan dan dipergunakan, wakafnya menginspirasi semua. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita dan semoga IPB dan BSI semakin kuat kerjasamanya. ” ungkapnya. (Femmy)

  • Jelang hari raya Idul Fitri atau lebaran, biasanya kebutuhan masyarakat akan daging sapi potong kian meningkat. Tren seperti ini cenderung tetap setiap tahunnya. Namun, di saat pandemi ini apakah akan berpengaruh terhadap tren tersebut? Menjawab hal itu, Fakultas Peternakan IPB University menggelar rembug online membahas strategi penyediaan pakan dan bisnis sapi potong dalam menyongsong lebaran di tengah pandemi COVID-19.

    Dalam kesempatan ini, Ir Sugiono, MP selaku Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian mengungkapkan, populasi sapi potong terjadi peningkatan, dengan total jumlah 17 juta ekor dengan daerah andalan di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.

    “Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) adalah penghasil bibit. Walaupun jumlahnya masih kecil, tapi sudah ada secara signifikan. Kalau kita lihat tahun-tahun sebelumnya, sejak melejitnya Padang Mengatas dari sapi 40 ekor, tahun 2012 sekarang 1400 ekor. Jadi nanti masyarakat bisa membeli bibit dari BPTU. BPTU Sembawa dan Sapi Bali juga signifikan sekali,” ujar Sugiono.

    Sementara untuk pakan ternak, sebagaimana disampaikan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ir Fini Murfiani, MSi bahwa di tahun 2019 produksi pakan mencapai 20,5 juta ton. Tahun 2020 ada peningkatan menjadi 21,5 ton dan diproyeksikan tumbuh 6 persen. Fini juga mengatakan, ketersediaan pakan ternak selama masa COVID-19 ini relatif aman.

    “Rata-rata peternak di beberapa provinsi saat ini, umumnya tidak ada masalah. Mereka tetap bekerja sebagai penyedia pakan dalam kondisi apapun, termasuk kondisi saat ini. Kondisi pakan ruminansia di kelompok penggemukan skala menengah di Provinsi Jawa Barat, apabila dibandingkan sebelum dan sesudah COVID-19, untuk rumput segar tidak ada kendala. Kalau sebelum pandemi menggunakan onggok dengan harga 1.700 rupiah, saat ini menggunakan jagung karena sekarang sedang masa panen dan penambahan dedak. Lalu jika sebelumnya COVID-19 menggunakan molases seharga 4.000 rupiah, kini menggunakan limbah kecap atau separator dengan harga 5.500 rupiah,” ujar Fini.

    Mengenai strategi penyediaan pakan pada masa pandemi COVID-19, Fini mengatakan bahwa yang dilakukan adalah dengan pembuatan silase/hay (pengawetan hijauan), bekerjasama untuk pemanfaatan lahan untuk penanaman dengan BUMN, Kemen-LHK, Perhutani, perusahan eks tambang dan perusahaan perkebunan. Selain itu, bisa juga dengan pemanfaatan legume, distribusi benih, perbaikan vegetasi padang penggembalaan, integrasi sapi tanaman, dan utamanya pemanfaatan bahan pakan lokal.

    Ir Harianto Budi Raharjo, dari PT Lembu Jantan Perkasa mengatakan, selama COVID-19, pintu tertutup untuk penjualan daging secara drastis. Dari 100 ekor per hari, kini hanya menjadi 30-40 ekor penjualan. Hal ini tak lepas dari banyak restoran atau rumah makan tutup. Pesta dan bisnis usaha catering juga banyak berhenti.

    Namun, Budi memastikan stok lebaran tahun ini relatif cukup aman. Karena biasanya menjelang lebaran, tepatnya tiga hari sebelum hari raya, penjualan sapi dalam periode tersebut melonjak lima sampai enam kali lipat dari hari biasa. Karena lebaran identik dengan daging.

    “Kalau untuk stok daging, insya Allah lebaran tahun ini cukup aman. Stok di setiap feedlot cukup bagus. Tinggal bagaimana nanti pasar konsumen memerlukan daging ini. Siapa yang membeli selama lebaran ini, sudah kita plotkan dan proyeksikan. Artinya jangan takut daging tidak tersedia. Hanya kalau nanti harganya lebih mahal, yang jelas kita dari feedlot tidak pernah menaikkan harga. Yang membuat harga naik itu pasar, sesuai supply-demand. Tapi sepertinya tidak naik banyak,” ujar Budi. (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny Rachman Noor, pakar genetika lingkungan IPB University mengatakan, dunia peternakan kini mendapat tantangan baru dengan adanya permintaan lemak untuk bahan dasar biofuel. Ia menyebut, lemak hewan terutama babi, dapat menjadi andalan untuk menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan.

    “Perkembangan teknologi saat ini memerlukan perubahan visi dan revolusi cara berpikir multidimensi, karena ternyata lemak hewan utamanya babi memiliki nilai ekonomis tinggi dan lebih ramah lingkungan,” ujar Prof Ronny.

    Ia menjelaskan, secara teknis lemak babi dan juga lemak hewan lain dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar ramah lingkungan, termasuk untuk bahan bakar pesawat jet. Ide penggunaan lemak hewan ini pun memiliki dasar yang sangat kuat.

    “Berdasarkan hasil penelitian di berbagai negara, dari segi lingkungan bahan bakar yang terbuat dari lemak babi ini lebih ramah lingkungan karena emisi karbon yang dihasilkannya lebih rendah jika dibandingkan dengan bahan bakar lainnya seperti fosil, minyak goreng bekas pakai dan minyak sawit,” paparnya.

    Prof Ronny mengungkapkan, sudah berabad-abad lamanya lemak hewan, utamanya lemak babi telah digunakan untuk membuat lilin, sabun dan keperluan lainnya seperti industri kosmetik. Namun, tren peningkatan penggunaannya semakin tajam dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini di era biofuel yang ramah lingkungan.

    Eropa merupakan wilayah dengan penggunaan lemak hewan sebagai bahan bakar yang mengalami peningkatan paling pesat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Angkanya mencapai 40 kali lipat.

    “Sehingga tidak heran jika pakar penerbangan memprediksi bahwa penggunaan bahan bakar dari lemak hewan ini akan meningkat tiga kali lipat dalam dunia penerbangan di tahun 2030 mendatang,” tuturnya.

    Dunia penerbangan memang kini sedang menjadi sorotan karena menjadi salah satu satu sumber polusi dan emisi karbon terbesar, sehingga penggunaan biofuel yang lebih ramah lingkungan dinilai menjadi suatu keharusan dalam upaya untuk mengurangi pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim.

    Prof Ronny menyebut, salah satu tantangan terbesar bagi dunia peternakan adalah menyedikan lemak hewan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biofuel karena jumlah yang dibutuhkan sangat banyak.

    “Para peneliti dan pakar penerbangan menyimpulkan bahwa untuk memenuhi bahan bakar pesawat dari Paris ke New York membutuhkan lemak 8.800 babi jika semua bahan bakar berasal dari sumber hewani,” terangnya.

    Oleh sebab itu, kata dia, dalam jangka pendek langkah yang paling realistis dalam menghasilkan biofuel untuk pesawat adalah dengan mencampur lemak babi ini dengan sumber biofuel lainnya seperti minyak sawit.

    “Penggunaan lemak babi dan lemak hewan lainnya sebagai komponen utama biofuel yang ramah lingkungan tentunya akan meningkatkan permintaan akan lemak hewan ini secara tajam. Tentu hal itu akan memengaruhi industri yang selama ini secara tradisional menggunakan lemak hewan,” ujar Prof. Ronny.

    Sebagai contoh, industri pakan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing selama ini menyerap lemak babi dan lemak hewan sangat besar dan sulit untuk digantikan.

    Menurut Prof Ronny, kekhawatiran lainnya adalah jika biofuel berbasis lemak babi dan lemak hewan ini diproduksi untuk bahan bakar alat transportasi lainnya seperti mobil dan kendaraan lainnya, maka tentunya permintaannya akan lebih tinggi lagi dan industri lainnya tidak akan dapat bersaing.

    “Bagi dunia peternakan, fenomena ini menjadi tantangan tersendiri karena di samping untuk keperluan manusia dan pemenuhan protein hewani, dunia peternakan juga harus memenuhi permintaan akan industri transportasi sebagai penyedia lemak dalam jumlah yang sangat besar,” urainya.

    Hal lain yang perlu diantisipasi menurut Prof Ronny adalah muncul kontroversi, perdebatan dan juga permasalahan terkait apakah biofuel berbahan lemak babi ini halal untuk digunakan? (ipb.ac.id)

  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University mengunjungi Universitas Lampung (Unila) untuk mengembangkan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) di Lampung, awal pekan ini. Dalam Kunjungan ini LPPM IPB University diwakili oleh Dr Sofyan Sjaf (Wakil Kepala Bidang Pengabdian kepada Masyarakat), Prof Muladno (Ketua SPR) dan Danang Aria Nugroho, SE. 
    “Sekolah Peternakan Rakyat ini memiliki nilai yang mulia untuk mensejahterakan rakyat, untuk itu LPPM Unila bersama Fakultas Pertanian siap membantu mengembangkan SPR di Lampung,” ujar Ketua LPPM Unila, Dr Lusmeilia Afrian.

    Dr Lusmeilia Afrian juga mengatakan bahwa pertemuan ini sebagai langkah awal untuk LPPM Unila berkolaborasi dengan LPPM IPB University dalam hal transfer pengetahuan dan aksi diseminasi kepada masyarakat Lampung dan juga untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di Propinsi Lampung.

    Dalam kesempatan ini Dr Sofyan Sjaf mengungkapkan bahwa LPPM yang berada di perguruan tinggi di seluruh Indonesia harus bersinergi untuk bersama-sama mewujudkan kesejahteraan kehidupan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa. “Perguruan tinggi khususnya LPPM sebagai institusi yang memiliki peran strategis mengemban amanah pendidikan, memiliki tugas untuk dapat menghadirkan ilmu pengetahuan dan juga inovasi sebagai basis pembangunan di masyarakat,” ujar Dr Sofyan Sjaf.

    Sekolah Peternakan Rakyat selama ini menjadi salah satu aksi nyata LPPM IPB University yang hadir di masyarakat untuk menerapkan kerja-kerja kolektif, berjamaah, guna mencapai kesejahteraan bersama.  Prof Muladno sebagai Ketua SPR berharap LPPM Unila bisa menjadi mitra ilmu pengetahuan bagi masyarakat daerah Lampung sehingga bisa bersama-sama untuk membangun peternak agar berdaulat dan mandiri (ipb.ac.id)

  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University dalam program pengabdian kepada masyarakat menyelenggarakan kegiatan Penyuluhan Pembuatan Ransum Suplementasi Maggot untuk Pakan Itik Petelur di Balai Desa Ringinanyar Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar, Jawa Timur, akhir tahun lalu. Tujuannya  adalah untuk membantu peternak dalam pembuatan ransum, supaya tidak terikat lagi dengan tengkulak.
     
    Tim yang terdiri dari Prof Sumiati (Fakultas Peternakan) dan Kepala bidang Program Pelayanan kepada Masyarakat LPPM, Dr Prayoga Suryadharma disambut oleh Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, Drh Adi Andaka, MSi, Kepala Desa Ringinanyar, Supangat, Sekretaris Desa Ringinanyar, Abdul Muis, SPd dan Mantri Peternakan Kecamatan Ponggok, Gunawan, SPt.

    Prof Sumiati, ahli nutrisi unggas khususnya bebek menjelaskan permasalahan yang dihadapi peternak itik di Desa Ringinanyar yaitu peternak masih tergantung pakan dari tengkulak yang selama ini beredar. Mereka terikat kontrak dengan tengkulak yakni peternak diberikan pakan oleh tengkulak kemudian telurnya dibeli lagi oleh tengkulak. Akibatnya peternak tidak dapat berdikari, kemerdekaan peternak direnggut oleh tengkulak.

    Oleh karena itu fasilitator Stasiun Lapang Agrokreatif (SLAK) membuatkan ransum untuk bebek. Harapannya adalah agar peternak tidak tergantung lagi dengan pakan dari tengkulak. Telurnya juga bisa dimanfaatkan menjadi tepung telur sehingga mendapatkan nilai lebih dalam produk telur.

    “Pakan yang digunakan adalah pakan dengan suplementasi maggot. Selain protein maggot yang tinggi, maggot juga bermanfaat untuk mengurangi sampah rumah tangga. Media yang digunakan dalam budidaya maggot di desa ini adalah sampah rumah tangga. Pakan sudah diujikan ke salah satu peternak di Desa Ringinanyar dan didapatkan hasil telur yang produksinya stabil bahkan cenderung naik dibandingkan dengan pakan dari tengkulak. Bobot telur yang dihasilkan juga sama dengan pakan dari tengkulak. Artinya pakan ini telah berhasil untuk diproduksi secara massal dan dapat digunakan di Desa Ringinanyar,” ujarnnya.

    Sementara itu, Dr Prayoga menjelaskan mengenai produk pertanian seperti cabai yang merupakan salah satu komoditas pertanian masyarakat Desa Ringinanyar. Pemanfaatan cabai yang masih kurang menjadi salah satu permasalahan masyarakat Desa Ringinanyar.
    Permasalahan ini dapat diatasi dengan cara mendirikan koperasi cabai. Koperasi berperan sebagai jembatan penghubung antara petani dengan pembeli. Sehingga harga cabai lebih stabil dibandingkan dengan sebelumnya.
    “Selain itu, warga juga bisa membuat produk olahan seperti tepung cabai dan bumbu instan. Tepung cabai dapat diproduksi dengan melewati beberapa tahapan antara lain penyortiran, pencucian, pengeringan, pengilingan, penyaringan dan pengemasan. Sedangkan bumbu instan diproduksi dengan cara cabai dilakukan penyortiran, pembersihan, penghancuran, penambahan gula, dipanaskan dalam wajan sampai terbentuk kristan. Selanjutnya disaring dan dikemas,” tuturnya.

    Ia menambahkan untuk bidang peternakan, menurutnya telur dapat diolah menjadi tepung telur. Tepung telur diproduksi secara mengunakan spray dryer atau dengan oven. Tepung telur dapat diolah menjadi brownis, donat, mie, spagheti dan lain-lain.
     
    Sementara itu, Kepala Desa Ringinayar, H Supangat menyampaikan bahwa Desa Ringinanyar mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Yang mendominasi adalah pertanian cabai, peternakan bebek dan sapi. Berdasarkan potensi sumber daya yang ada di Desa Ringinanyar, desa ini mampu bersaing dengan desa lain, bahkan desa ini tergolong lebih maju daripada desa di sekitarnya.

    “Harapannya ke depan masyarakat bisa menerapkan ilmu yang telah diberikan oleh IPB University kepada warga kami, sehingga potensi di desa bisa dimaksimalkan dan tentunya bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat,” tuturnya.

    Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Kabupaten Blitar, Drh Adi Andaka menyampaikan bahwa kedatangan IPB University di desa Ringinanyar diharapkan mampu menjawab permasalahan yang sedang dihadapi terutama dalam bidang peternakan. Khususnya pakan dan bidang pertanian khususnya pengolahan paska panen. Dengan demikian Desa Ringinanyar menjadi desa yang mandiri. (ipb.ac.id)