Alumni Alumni Alumni Alumni Alumni Alumni Alumni News

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar kegiatan Rabuan Bersama sekaligus Penganugerahan Penghargaan untuk para Mahasiswa, Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik)  berprestasi. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu (5/2) di Auditorium JHH, Fapet Kampus IPB Darmaga, Bogor. Dalam acara tersebut, sebanyak lebih dari seratus mahasiswa Fakultas Peternakan menerima berbagai kategori penghargaan dari lomba serta kejuaraan di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu apresiasi juga diberikan kepada para Dosen, Tendik, Ketua Organisasi Mahasiswa (Ormawa) beserta jajarannya yang berada di lingkungan Fapet IPB University.

    Dekan Fakultas Peternakan, Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr dalam sambutannya menghaturkan apresiasi kepada seluruh civitas akademika Fapet IPB yang telah bersama-sama menyukseskan berbagai kegiatan dan program yang diselenggarakan di Fapet yang telah berkontribusi terhadap capaian-capaian kinerja IPB.

    Capaian kinerja Fapet IPB pada tahun 2024 juga disampaikan oleh Dekan di hadapan ratusan undangan. “Capaian IKU Fapet di IPB menempati peringkat ke-2 dengan capaian 88,93% dan peringkat ke-3 untuk SIMAKER”jelasnya. Selanjutnya, Prof. Idat mempresentasikan profil Fapet dari mulai bidang Akademik, Kemahasiswaan, Kerjasama hingga prestasi yang sudah diraih baik mahasiswa maupun dosen.

    Pada kesempatan tersebut para Dosen Fapet mendapatkan apresiasi atas prestasi yang sudah ditorehkan. Para Dosen yang menerima penghargaan yaitu Prof. Dewi Apri Astuti untuk kategori Academic Leader Bidang Pertanian 2024. Di tingkat Fakultas, penghargaan juga diberikan kepada dosen dengan EPBM tertinggi. Dosen IPTP dengan IPTP tertinggi yaitu Dr. Tuti Suryati, S.Pt, M.Si, Muhamad Arifin, S.Pt, M.Si dan Edit Lesa Aditia, M.Sc. Sedangkan dari Departemen INTP, dosen dengan EPBM tertinggi diraih oleh Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr, Prof. Dr. Despal, S.Pt, M.Sc.Agr dan Prof. Nahrowi.

    Selanjutnya penghargaan diberikan kepada puluhan mahasiswa Fapet IPB, antara lain kategori Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Tingkat Fapet IPB yaitu M. Ammar Amrulloh, Farhan Arianda dan Manik Nurul Alfiyyah. Kategori lain yaitu PKM masuk PIMNAS Fapet, mahasiswa penyumbang IKU 2 yang berprestasi di kompetisi nasional maupun internasional. Para Ketua Ormawa beserta jajarannya, tidak ketinggalan pula para dosen pembimbing PKM dan PPKO Ormawa Fapet turut diberikan penghargaan. 

    Selain para dosen dan mahasiswa, Fapet IPB juga memberikan apresiasi kepada para tendik. Penghargaan kepada para PLP, tenaga administrasi serta kebersihan dengan prestasi menonjol di di tingkat Fakulta dan Departemen. Acara rabuan ini juga dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris Senat Fapet, para Ketua dan Sekretaris Departemen serta Kepala Divisi di lingkungan Fapet. (Femmy)

  • Budidaya jangkrik merupakan alternatif usaha peternakan yang menguntungkan, karena selain sangat dibutuhkan oleh pasar khusus, juga pemeliharaannya relatif mudah, ramah lingkungan, serta tidak terlalu membutuhkan lahan yang luas. Namun demikian, sebelum memulai usaha salah satu satwa harapan potensial ini, perlu diketahui karakteristik dan cara budi daya jangkrik yang baik.

    Habitat jangkrik adalah pada lingkungan dengan intensitas cahaya rendah bersuhu 20-32°C dan kelembapan 65-80%, menyukai tempat persembunyian, dan hidup berkoloni atau bergerombol. Dalam sebuah training online bertajuk “Satwa Harapan, Harapan Satwa Jangkrik” yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB melalui aplikasi daring pada Sabtu, 8 Agustus 2020 lalu, Dosen Fapet IPB Dr. Yuni Cahya Endrawati, SPt., MSi menjelaskan tentang beberapa perbedaan karakter berbagai jenis jangkrik yang dipelihara di Indonesia.

    Jangkrik cliring atau Gryllus mitratus memiliki sifat gerakannya yang lincah, warna tubuh cokelat, ukuran tubuh lebih kecil daripada jangkrik kalung, tubuh tidak banyak mengandung air, tahan terhadap cuaca, dan masa panen 35 hari. Adapun jangkrik cendawang atau Gryllus testasius bisa dilihat dari gerakannya yang agak lamban, warna tubuh cokelat terang, ukuran tubuh lebih besar dibandingkan dengan jangkrik kalung, ovipositor lebih pendek, rentan terhadap perubahan cuaca, dan masa panen 30 hari.

    Sedangkan jangkrik kalung atau Gryllus bimaculatus, gerakannya juga agak lamban, dengan warna tubuh yang cenderung hitam atau gelap dan ada garis kuning melingkar di pangkal sayap. Ukuran tubuh jangkrik kalung lebih besar dari jangkrik alam, tubuh banyak mengandung air, rentan terhadap perubahan cuaca, dan masa panen 25-28 hari.

    Siklus hidup jangkrik adalah mulai dari telur, nimfa, grower, dan kemudia menjadi induk. Pada media bertelur, Yuni mengingatkan untuk menyiapkan media bertelur dari pasir halus yang steril dengan kelembapan media tepat.

    “Terlalu basah telur berjamur dan busuk, terlalu kering telur dehidrasi,” kata Yuni. Ketika sudah menjadi nimfa, maka biarkan hidup dalam kotak penetasan sampai berumur 15 hari agar tidak stres, dan diberi konsentrat yang digiling halus.

    Baru setelah berumur 15 hari, nimfa bisa dipindahkan ke kandang grower, dan diberi pakan hijauan serta konsentrat yang halus. Ketika memasuki fase grower, berikan pakan yang cukup, baik hijauan dan konsentrat, dan jaga kepadatan dan persembunyian yang cukup.

    Hindarkan pula dari predator seperti semut, cicak, tikus, tokek, atau laba-laba; agar jangan sampai masuk ke kandang. “Rasio jantan adalah 1:5 untuk indukan,” kata Yuni Cahya Endrawati (agropustaka.id)

  • Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (HANTER), Dr (cand) Ir Audy Joinaldy, SPt, MSc, MM, IPM, ASEAN Eng secara resmi dilantik menjadi Wakil Gubernur Sumatera Barat, 25/2. Ia bakal mendampingi Mahyeldi sebagai Gubernur Terpilih Sumatera Barat selama lima tahun mendatang.

    Kehadiran Audy Joinaldy di kancah politik di tanah air terbilang baru. Pasalnya, Audy sempat menolak tawaran dari Mahyeldi untuk maju di pilihan gubernur (Pilgub) Sumbar sebanyak lima kali. Ia menolak tawaran tersebut karena menurutnya dunia politik serba tidak pasti.

    Sebelum terjun ke dunia politik, Audy telah dikenal sebagai pebisnis sukses di bidang pertanian dan peternakan. Tercatat bahwa dirinya pernah menjadi Komisaris PT Benindo Perkasa Utama, Komisaris Utama PT AA Perkasa Bersaudara, Direktur Keuangan PT Berau Usaha Mandiri, Komisaris Utama PT Makassar Aro Nusa, Direktur Utama PT Lintas Agro Niaga, Komisaris Utama PT Mega Satwa Perkasa, Komisaris Utama PT Sinar Terang Madani dan Manager Feed Technology PT Charoen Pokphand Indonesia. Meskipun sudah disibukkan dengan dunia industri, Audy juga pernah menjadi dosen di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.

    Dengan latar belakang bisnis yang mumpuni, Audy dinobatkan sebagai Wakil Gubernur terkaya dengan laporan kekayaan ke KPK sebanyak Rp 58,11 milyar. Tidak hanya itu, ia juga dinobatkan sebagai wakil gubernur termuda dalam sejarah Provinsi Sumatera Barat dan memiliki gelar akademik terbanyak. Ia juga menjadi satu-satunya Alumni S1 IPB University dan Insinyur Peternakan di Indonesia yang menjadi Wakil Gubernur di Indonesia.

    Sebagai alumnus Fakultas Peternakan IPB University tahun 2005, Audy telah aktif berorganisasi sejak masih kuliah. Dirinya pernah menjadi Kepala Divisi Kewirausahaan Badan Eksekutif Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (BEM TPB) IPB University periode 2001-2002. Ketika melanjutkan studi Master di Wageningen University, Audy dipercaya untuk menjadi Presiden Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Wageningen Netherlands.

    Di tanah Minang, Audy juga pernah dipercaya menjadi Wakil Ketua Umum Perhimpunan Alumni Pelajar Mahasiswa Minang, Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Saudagar Minang Raya dan anggota Tim Bisnis Saudagar Minang Raya. Di samping itu, Audy juga menjadi anggota Persatuan Insinyur Indonesia dan anggota ASEAN Federation of Engineerin Organisations pada tahun 2019

  • Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) menyelenggarakan pertemuan bertajuk “Kick Off Meeting Capacity Building in Animal Logistic of Poultry and Livestock”, Selasa (24/2) di IPB International Convention Center (IICC) Bogor. Kegiatan ini menjadi acara perdana dalam rangka penyelenggaraan Program Studi (Prodi) baru Fapet dalam bidang Animal Logistic. Dalam hal ini IPB bekerjasama dengan Nuffic Belanda untuk pengembangan capacity building di bidang animal logistic terutama untuk livestock dan poultry. 
  • Kikil atau tunjang kerap dikenal sebagai makanan yang kaya kolagen. Kikil merupakan bagian jaringan ikat sapi berupa tulang rawan yang membungkus tulang maupun jari-jari kaki sapi tanpa bulu yang menempel di atasnya.

    Meskipun kandungan lemaknya relatif rendah dibandingkan beberapa bagian daging sapi, konsumsi kikil tetap perlu dibatasi. Hal itu sebagaimana diungkapkan pakar gizi hasil ternak dan teknologi pangan dari Fakultas Peternakan IPB University, Dr Astari Apriantini.

    “Kikil memiliki rasa yang gurih dan mengandung gizi yang cukup tinggi, terutama protein. Protein pada kikil sebagian besar berbentuk kolagen,” ujarnya.

    Dr Astari menjelaskan, sekitar 30 persen kandungan kolagen dapat ditemukan pada kikil hewan mamalia seperti sapi, kambing, dan kerbau. Dalam 100 gram kikil, kandungan protein dapat mencapai sekitar 96 persen, tidak mengandung karbohidrat, dan hanya sekitar empat persen lemak.

    Menurutnya, kandungan kalori kikil juga relatif lebih rendah dibandingkan daging sapi karena komposisinya lebih banyak terdiri atas air dan kolagen. “Kalori pada kikil sekitar 146 kalori per 100 gram, sedangkan pada daging sapi berkisar antara 174 hingga 273 kalori,” jelasnya.

    Selain protein, Dr Astari menuturkan, kikil juga mengandung sejumlah mineral penting seperti natrium, selenium, zat besi, kalium, dan kalsium. 

    “Selenium berperan penting dalam menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh, zat besi membantu mencegah anemia. Sementara kalium berperan dalam menjaga fungsi saraf, kontraksi otot, serta detak jantung yang normal. Kalsium juga penting untuk menjaga kepadatan tulang dan kesehatan gigi,” urainya.

    Meski kaya kolagen, ia menjelaskan bahwa tubuh tidak dapat menyerap kolagen dari makanan dalam bentuk utuh. Kolagen harus dipecah terlebih dahulu menjadi peptida agar dapat diserap melalui usus.

    “Peptida hasil pemecahan kolagen ini kemudian digunakan tubuh sebagai bahan penyusun protein, misalnya untuk membantu pembentukan kulit, rambut, dan kuku,” jelasnya.

    Kolagen sendiri diketahui memiliki berbagai manfaat bagi tubuh, antara lain membantu menjaga elastisitas kulit, memperkuat tulang dan sendi, serta mendukung kesehatan rambut dan kuku. Selain itu, kolagen juga berpotensi membantu mempercepat penyembuhan luka dan menjaga kesehatan jaringan tubuh.

    Ia juga mengingatkan bahwa kikil juga mengandung purin yang dapat diolah tubuh menjadi asam urat serta kolesterol sekitar 79 mg per 100 gram. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan daging sapi yang berkisar 65–90 mg, namun tetap perlu diperhatikan.

    “Kikil mengandung kolesterol dan purin dalam jumlah sedang, sehingga konsumsinya sebaiknya dibatasi, terutama bagi orang dewasa, penderita asam urat, atau mereka yang memiliki riwayat penyakit metabolik,” ujarnya.

    Ia menyarankan satu porsi kikil sekitar 75 gram dalam sekali makan. Selain itu, cara pengolahan juga perlu diperhatikan agar kandungan lemak, kolesterol, dan kalori tidak meningkat.

    “Jika dikonsumsi dalam jumlah kecil dan diolah dengan cara yang lebih sehat, seperti direbus menjadi sop, soto, atau campuran bakso tanpa santan dan minyak berlebih, kikil masih aman untuk dinikmati sesekali,” tutupnya.

  • Prof Dr Ir Ronny Rachman Noor adalah salah satu Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University. Selain menjadi pengajar dan peneliti, Prof Ronny pernah menjadi Atase Pendidikan di Australia. Karena kecintaannya di dunia tulis menulis, Prof Ronny sering membagi ilmu dan pengalamannya di Kompasiana (https://www.kompasiana.com/rrnoor) dengan berbagai topik seperti konservasi lingkungan, sosial, pendidikan, budaya, gaya hidup dan lain-lain.  Hingga akhir Mei 2020, tulisan Prof Ronny telah mencapai 1.063 judul tulisan dan telah dibaca sebanyak 1.881.412 kali.

    “Pertama kali menulis di Kompasiana pada tanggal 10 Oktober 2014 lalu. Saat itu saya sedang mengemban tugas sebagai Atase Pendidikan di Australia. Saya juga tidak pernah membayangkan bahwa Kompasiana akan menjadi wahana tulisan ilmiah popular saya untuk masyarakat umum. Tulisan pertama saya berjudul “Lonceng Kematian Penghuni Kebun Binatang”. Tulisan ini memberikan informasi ilmiah bagaimana penghuni kebun binatang di Indonesia pada umumnya mengalami stres yang ditandai dengan tidak dapat bereproduksinya satwa liar. Hal ini penting untuk disampaikan, karena jika pengelolaan kebun binatang tanpa memperhatikan ilmu genetika ekologi, niat baik untuk melakukan konservasi justru akan berakibat fatal bagi satwa liar,” ujarnya.

    Tulisan lainnya yang pernah menjadi pemberitaan nasional adalah terkait benda purbakala bersejarah Indonesia yaitu berupa patung perunggu kecil yang harganya sangat fantastis yang berakhir di National Gallery of Australia. 
    Tulisan Prof Ronny yang berjudul “Sang Penenun” ini membuat beberapa pejabat kementerian datang ke National Gallery of Australia untuk mencocokkan bukti patung yang berada di Indonesia dan patung yang berada di Australia. Hasil penyelidikan ini membuktikan bahwa patung yang ada di Indonesia merupakan duplikasi dan bukan patung yang asli.

    Tulisan Prof Ronny di Kompasiana banyak dijadikan sebagai bahan rujukan untuk penulisan skripsi, tesis, disertasi serta buku. Ini karena bentuk tulisannya yang dikemas dalam bentuk ilmiah popular dan mengacu pada berbagai publikasi ilmiah yang diterbitkan di jurnal internasional.
    Contohnya adalah pakar Indonesia yang namanya mendunia, Prof Tim Lindsey dan Dave McRae dari University of Melbourne Australia dalam buku terbarunya yang berjudul "Strangers Next Door?: Indonesia and Australia in The Asian Century". Beberapa pustakanya mengacu pada tulisan Prof Ronny yang terkait dengan penyuapan dan korupsi yang terjadi di Indonesia.

  • Kendati menyandang status sarjana peternakan, tak pernah terlintas dalam benak Budi Susilo Setiawan bakal memiliki usaha peternakan dengan omzet miliaran rupiah.Di bawah bendera CV Mitra Tani Farm, ia kini sukses menjadi juragan ternak dengan ribuan ekor kambing dan sapi, lengkap dengan berbagai produk turunannya.

    Sukses besar yang diraihnya ini berawal dari keinginan mencari uang tambahan semasa kuliah di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), sekitar tahun 2002. Saat itu, bersama ketiga temannya, ia mendapat ide untuk coba-coba memasarkan kambing dan domba milik para peternak di Bogor dan sekitarnya.

    “Saat teman-teman liburan, kita main ke pasar kambing,” kenangnya.

    Namun, saat turun ke lapangan memasarkan domba ternyata tidak semudah yang dibayangkannya. Seminggu hingga dua bulan pertama, mereka belum berhasil menjual satu pun hewan ternak. Namun, mereka tak patah arang dan terus mencoba memasarkan door to door, karena dulu di tahun 2002 belum ada media penjualan online seperti saat ini.

    Baru memasuki bulan ketiga ia berhasil menjual dagangannya. Sepanjang tahun pertama, ia mampu menjual 13 ekor domba dan kambing. Tahun berikutnya penjualan mampu meningkat hingga tiga kali lipat.

    “Kami sudah belajar bagaimana metode menjual hewan ini dengan baik,” ujarnya.

    Dari keuntungan penjualan tersebut, pada tahun 2004 ia dan rekan-rekannya mulai memberanikan diri untuk melakukan penggemukan domba sendiri di Tegalwaru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tentu saja langkah ini bukan tanpa perhitungan. Pemilihan usaha domba tak lepas dari dua alasan penting. Pertama, alasan ideologis. Ia mengatakan bahwa dalam ajaran Islam, menjadi peternak domba itu akan melatih seseorang memiliki karakter lembut hati, tekun, rajin, dan mampu belajar menghargai proses. Kedua, alasan peluang. Berdasarkan hitungan Budi, bisnis peternakan – khususnya jenis domba, kambing, dan sapi – sangat prospektif di Indonesia.

    Ia melihat, potensi dan peluang bisnis peternakan ini sangat besar, karena jumlah penduduk di Indonesia sangat besar, sehingga kebutuhan hewan ternak juga tinggi. Di sisi lain, hasil ternak ini tidak hanya untuk kebutuhan pokok, melainkan untuk kebutuhan spiritual atau momen-momen keagamaan. Misalnya, untuk akikah dan kurban bagi umat muslim.

    Budi bilang, di Indonesia ada 260 juta penduduk, sementara populasi kambing hanya 18 juta ekor, domba 17 juta ekor, dan sapi 17 juta ekor per tahun. Artinya, ketersediaan hewan ternak berbanding dengan penduduk Indonesia hanya 1:10. Dengan asumsi itu, jika 10% saja penduduk Indonesia berkurban, maka stok domba dalam negeri sudah habis.

    “Jadi satu kali event hari raya kurban saja sudah habis, maka tak heran Indonesia menjadi target pasar negara lain,” jelasnya.

    Analisis bisnisnya tidak meleset. Terbukti, hanya dalam kurun waktu setahun, bisnisnya telah bertumbuh pesat. Tahun 2005, ia sudah memiliki 500 ekor kambing dan berhasil menjual 800 ekor kambing.

    "Selain dari kocek sendiri, kami juga mendapat bantuan dana dari kampus senilai Rp10 juta,” kenangnya.

    Konsumennya juga tidak hanya sebatas di Bogor, melainkan juga mulai merambah ke luar kota, seperti Jabodetabek dan sebagian Jawa Tengah. Namun, porsi luar kota masih minim, sekitar 10% saja.

    Namun, pada periode 2011–2014, penjualan merosot jadi rata-rata 1.400 ekor per tahun. Penurunan ini dikarenakan pola penjualan menggunakan sistem grosir. Memang, penjualan sekali berangkat bisa banyak, namun kadang pembayaran telat. Maka, Mitra Tani (MT) Farm memutuskan fokus pada ritel atau langsung end user. “Pembayaran lebih nyaman dan kerja lebih ringan,” jelasnya.

    Pasar memang penting. Namun, sektor hulu tak kalah penting buat mengamankan pasokan. Untuk itu, MT Farm pun melakukan sistem kemitraan dengan para peternak. Bahkan, strategi bermitra dengan peternak menjadi kunci keberhasilan Budi dalam mengamankan pasokan. Hingga saat ini, ia sudah bermitra dengan 100 peternak di wilayah Bogor, Lampung, dan Papua. Di Bogor sendiri, sudah ada sekitar 40 peternak yang bergabung dalam sistem kemitraan ini.

  • Bisnis di sektor peternakan masih dianggap menguntungkan, khususnya ternak kambing. Hal ini diungkap oleh Budi Susilo Setiawan, salah seorang peternak kambing dan domba di Desa Tegalwaru, Bogor. Budi merupakan salah satu mitra nasabah mikro Bank Syariah Mandiri (BSM) sejak tahun 2010. Selain dari investor pribadi, sumber modal utama Budi adalah dari pinjaman mikro di BSM. Modal ini digunakannya untuk mengelola lahan miliknya seluas 12 hektare (ha).

    Lahan milik Budi ini berada di kawasan Agrowisata Waru Farm Land, di desa wisata sentra UKM Tegal Waru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.

    “Di lahan ini, selain untuk bisnis ternak kambing, juga ada bisnis ternak sapi dan domba. Saya juga merambah bisnis properti, jual tanah kavlingan,” katanya saat ditemui di peternakannya di Desa Tegalwaru, Bogor, Rabu (26/6).

    Budi bercerita sudah 16 tahun menekuni bisnis ternak kambing dan domba. Awalnya pria lulusan Fakultas Peternakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini hanya menjual kambing titipan petani di tahun 2002 lalu.

    “Dulu tahun 2002 itu mulai jual kambing orang ada sekitar 13 ekor untuk kurban. Lalu, dapat untung dan tahun 2003 mulai ternak 40 ekor kambing dan masih jual sebanyak 86 ekor kambing,” katanya. Setiap tahun, jumlah ternak kambing Budi bertambah. Tahun 2004, tercatat kambing ternak Budi bertambah menjadi 100 ekor dan yang siap dijual sebanyak 106 ekor.

    “Di tahun 2005 itu memutuskan untuk perbesar kandang, dengan begitu jumlah kambing yang diternak sebanyak 500 ekor dan dijual 800 ekor,” kisahnya.

    Lalu, pada 2006 jumlah kambing ternaknya bertambah hingga mencapai 800 ekor dan dijual sebanyak 2.700 ekor kambing. Kemudian, pada 2007 dia merawat 700 ekor kambing, menjual 1.700 ekor kambing.

    Budi juga masuk ke peternakan sapi sejak tahun 2007 dengan menjual sebanyak 7 ekor. Kemudian di tahun 2008, jumlah sapi Budi bertambah menjadi 4 ekor.

  • Rasa haru sekaligus bangga terasa ketika pembawa acara menyebut nama Susi Sianturi serta nama orangtuanya saat upacara wisuda mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB).

    Susi, mahasiswi S-2 IPB, berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat cum laude. Gelar S-2 itu tidak ia peroleh dengan mudah dan main-main.

    "Saat S-1, saya kuliah di IPB juga ambil jurusan peternakan. Terus saya nyambung S-2 lagi di IPB," katanya kepada TribunnewsBogor.com, Rabu (23/3/2016).

    Ia melanjutkan, saat kuliah S-1 sekitar sembilan tahun lalu, ia harus bersusah payah berjualan pisang goreng. Susi terpaksa berjualan karena orangtuanya yang berada di Tapanuli Utara, Medan, hanya memberinya uang bulanan Rp 300.000.

    Setiap subuh selama semester I dan II, ia berjualan pisang goreng di lingkungan asrama putri. Hasilnya lumayan, Rp 30.000 per hari. Uangnya ia gunakan untuk biaya sehari-hari dan membeli perlengkapan kuliah.

    Masuk di semester III, ia menjalani usaha kecil-kecilan bersama rekannya. Setiap hari Minggu, ia berjualan perabotan yang diperlukan oleh mahasiswa.

    "Jadi, tiap Minggu, saya dan teman saya berjualan sambil buka stan gitu. Hasilnya juga lumayan," katanya.

  • Di saat pandemi Covid-19 ini, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB)  melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) di Pekanbaru, Riau. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak Covid-19, melalui program pemberdayaan masyarakat dalam mengatasi masalah Covid-19.

    Kegiatan KKN-T IPB di Pekanbaru secara daring dengan tema Pemanfaatan Sumber Daya Wilayah dan Pemberdayaan Masyarakat melalui Techno Social Entrepreneurship untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada Masa Pandemi Covid-19.

    Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan IPB Idat Galih Permana mengharapkan, mahasiswa dapat membantu memberikan pemahaman serta solusi kepada masyarakat bagaimana cara beradaptasi dengan kebiasaan baru serta melakukan pemberdayaan masyarakat yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, pertanian dalam arti luas, industri dan lingkungan secara terintegrasi. 

    "Semoga mahasiswa kami ini dapat membantu masyarakat di Kota Pekanbaru," katanya.

    Sementara itu, perwakilan Pemerintah Kota Pekanbaru Zulfahmi Adrian mengungkapkan, Kota Pekanbaru tidak memiliki sumber daya alam (SDA), berbeda dengan kabupaten/kota yang ada di sekitar Pekanbaru. Di Kota Pekanbaru, yang lebih diiutamakan adalah kegiatan perdagangan, jasa, dan industri. 

    "Bapak Walikota Pekanbaru saat ini sedang gencar-gencarnya untuk mewujudukan Pekanbaru sebagai pusat investasi, yang nantinya dapat mensejahterakan masyarakat,” ujarnya. 

    Zulfami menjelaskan, saat ini Pekanbaru telah mengeluarkan perwako 104/2020 tentang berperilaku hidup bersih dan sehat sebagai tindak lanjut setelah lebih kurang 3 bulan menjalankan pembatasan berskala besar. Kepada mahasiswa yang akan melakukan KKN-T di Kota Pekanbaru, ia berharap agar memperhatikan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 yang telah ditetapkan Pemerintah Kota Pekanbaru. 

    "Kami berharap mahasiswa KKN ini nantinya menjadi pionir atau agen informasi, memberikan penyadaran dan advokasi kepada masyarakat agar  mematuhi protokol kesehatan pencegahan COVID-19 di Pekanbaru,” harapnya.

    Adapun program-program yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa IPB Pekanbaru dimulai dari kelompok 1 yang akan melakukan KKN di Desa Limbungan Baru dengan tema Peningkatan Perekonomian Masyarakat Pasca Covid-19 dengan pemanfaatan halaman rumah yang mencakup empat buah program yaitu sosialisasi menjaga kebersihan dan pencegahan Covid-19, program sehat bergizi, kebun keluarga, serta pengembangan usaha peternakan ayam dan pengelolaan limbah. 

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University berpartisipasi dalam pameran The 5th International Livestock, Dairy, Meat Processing and Aquaculture Exposition (ILDEX) Indonesia yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Banten (9-11/11). Pameran ini dibuka Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian RI, Dr Nasrullah yang mewakili Menteri Pertanian. Dirjen PKH juga menyempatkan untuk mengunjungi booth Fapet bersama Dirut PT. Permata Kreasi Media (penyelenggara ILDEX di Indonesia) Dr. drh. Widiyanto Dwi Surya.

    Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, yang hadir dalam pembukaan acara tersebut mengatakan bahwa semua sektor peternakan memiliki peran yang strategis dan penting untuk mencerdaskan kehidupan bangsa “Sektor peternakan dalam penyediaan protein hewani harus ditunjang dengan inovasi. ILDEX memotivasi dan memberikan semangat dalam upaya tersebut’’ jelasnya.

    Dalam kegiatan yang sudah berlangsung sejak tahun 2013 ini, turut hadir Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P Utoyo selaku pihak yang menginisiasi kegiatan tersebut, selain itu hadir juga Managing Director VNU Asia Pacific Mr. Igor Palka selaku penyelenggara ILDEX di tingkat ASEAN. Acara yang diikuti oleh 117 peserta pameran yang berasal dari 25 negara ini ini diharapkan akan menjadi ajang promosi dan bertemunya pelaku usaha global dan memberikan dampak positif, efisien dan berdaya saing. Target acara yang akan menghadirkan 30 topik seminar ini diharapkan mampu menyaring 5000 pengunjung.

    Pada pameran ini, Fapet bersama Himpunan Alumni Peternakan (HANTER) IPB menampilkan beberapa produk, antara lain pakan ternak Sorinfer, Herbal Mineral Blok (HMB), magot, wafer ternak dan beberapa pakan ternak lain. Produk ternak lain juga tersedia berupa daging sapi dari Hijrah Food yang juga bagian dari HANTER dengan produk unggulan mereka seperti wagyu steak, daging has dan saikoro beef. Ada juga olahan daging lain yaitu dendeng, rendang, bumbu nasi gorang domba serta nasi kebuli kemasan kaleng yang juga merupakan produk dari beberapa alumni Fapet IPB. (Femmy)

  • Fakultas Peternakan IPB University berkolaborasi dengan PT. Bogor Sari Nutrisi dan CV. Wahyu Farm Sejahtera dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan potensi mitra. PT. Bogor Sari Nutrisi merupakan perusahaan yang bergerak dibidang produksi susu dimana salah satu brandnya bernama Yess Yoghurt. CV. Wahyu Farm Sejahtera merupakan mitra utama PT. Bogor Sari Nutrisi, yang menjadi penyuplai bahan baku utama berupa susu. CV. Wahyu Farm Sejahtera merupakan peternakan berskala kecil yang memerlukan perbaikan teknologi, manajemen pengelolaan peternakan dan penanganan susu yang baik. Standar kualitas susu sesuai SNI hanya dapat diperolehkan ketika peternakan mampu menjalankan GMP yang baik. Peran Fakultas Peternakan IPB ialah untuk mendampingi peternak supaya menghasilkan produk pangan yang sehat dan berkualitas. 

    Pelaksanaan pendampingan berupa pemberdayaan berbasis kewirausahaan untuk mitra usaha produk unggulan daerah yang dilaksanakan melalui beberapa tahapan metode. Tahap pertama adalah sosialiasi kepada karyawan produksi yang berada pada PT. Bogaor Sari Nutrisi serta pada peternak yang menjadi supplier utama dari PT. Bogor Sari Nutrisi pada (14/7) di Ciawi, Bogor. Sosialisasi meliputi pemetaan proses produksi dan GMP di PT. Bogor Sari Nutrisi, sedangkan pada Wahyu Farm Sejahtera dilakukan sosialisasi mencangkup proses pemerahan dan pemeliharaan sapi perah sehingga mampu menghasilkan susu yang berkualitas. 

    Selanjutnya pelatihan diberikan oleh ahli dari Fapet IPB, dimulai dengan pembuatan soft candy pada (25/7) oleh Dr. Moch. Sriduresta Soenarno, S.Pt., M.Sc dan Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt., M.Si. Pada (26/7), pelatihan pembuatan Keju Mozzarella diberikan oleh Muhamad Arifin, S.Pt. M.Si dan didampingi Prof. Irma Isnafia Arief. Pelatihan dilaksanakan di Fapet IPB, Dramaga. Selanjutnya yaitu pelatihan Sistem Informasi Menejemen (SIM) Keuangan dan SIM Manajemen dari pelatihan soft candy yang dilakukan pada (31/7) di PT. Bogor Sari Nutrisi dan diberikan oleh dosen anggota Dr. Tjut Awalaiyah Zuraiyah., S.Kom., M.Kom dan Nurul Hidayati S.E., M.Si.

    Setelah pelatihan, langkah selanjutnya adalah penerapan pada proses porduksi di PT. Bogor Sari Nutrisi dalam skala kecil. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai cita rasa yang sesuai untuk konsumen sehingga dilakukan trial and error terlebih dahulu melalui produksi dalam skala yang kecil baru selanjutnya akan dilakukan proses produksi dalam skala besar. Selain itu hal yang sangat penting untuk dilakukan adalah pendampingan melalui konsultasi dengan pihak mitra saat proses trial dan error serta evaluasi kualitas susu sebagai bahan baku serta perancangan desain kemasan.

    Adapun beberapa luaran target kegiatan ini antara lain adalah hak cipta tersertifikat, paten terdaftar, peningkatan income generating dan varian  produk. Artikel ilmiah di jurnal nasional SINTA atau  di seminar nasional/internasional serta media massa. Ketua dosen pengusul kegiatan ini, Prof. Dr. Irma Isnafia Arief berharap program ini dapat terus memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan sektor peternakan di Ciawi, Bogor, serta memperkuat posisi produk berbasis susu sapi lokal sebagai unggulan daerah.

    Dosen pengusul yang terlibat di kegiatan ini adalah Nurul Hidayati S.E., M.Si dengan bidang tugas yang berkaitan dengan Manajemen, Dr. Zaenal Abidin, M.Agr pada bagian Kimia dan Lingkungan dan Dr. Tjut Awaliyah Zuraiyah., S.Kom., M.Kom pada bidang Ilmu Komputer. (Maul/Femmy)

     

  • Fakultas Peternakan (Fapet) bersama Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) berpartisipasi dalam pameran Indolivestock yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) selama 3 hari pada (17-19/7). Di bawah payung IPB University, keduanya berhasil menampilkan berbagai produk dan inovasi dengan booth yang ramai dikunjungi oleh pengunjung dari berbagai kalangan mulai dari akademisi, pengusaha, pemerintahan dan mansyarakat umum.

    Dr. drh.  Ridi Arif, ketua pelaksana dari booth IPB University menyampaikan apresiasi terhadap semua pihak yang terlibat “Senang sekali melihat pengunjung yang antusias dan meramaikan booth kita. Semoga semakin banyak karya IPB yang dapat melayani dan diberikan kepada masyarakat.  Kegiatan pameran kolaborasi antara SKHB bersama Fapet dalam acara Indo Livestock 2024 di JCC berjalan dengan baik. Banyak produk, inovasi, dan karya yang bisa ditampilkan bersama-sama di booth kita”ungkapnya. Dosen SKHB ini juga berharap agar kegiatan ini dapat memfasilitasi penyebaran informasi dan diseminasi dari karya-karya dosen di IPB. 

    Produk Fapet yang ditampilkan dalam pameran ini antara lain adalah pakan ternak sorinfer, herbal mineral blok (HMB), magot, wafer ternak dan beberapa pakan ternak lain. Selain itu ada juga madu, yogurt rosella candy, telur dan inovasi tepung telur. Di hari pertama kegiatan bahkan disediakan telur rebus omega inovasi Guru Besar Fapet IPB University Prof. Iman Rahayu Hidayati Soesanto untuk dinimkati pengunjung secara gratis. Untuk produk SKHB ditampilkan berbagai buku seputar kedokteran hewan sepert antara lain Katuk in Science, Diagnosis USG Hewan Kecil, Meet the Meat, Buku Saku Kurban, Farmasi Obat Hewan dan Diagnostik Klinik Hewan Kecil.

    Dr. Drh. Ligaya Ita Tumbelaka, Sp.MP, MSc yang juga dosen SKHB IPB turut berkunjung ke booth IPB sangat terkesan dengan kolaborasi tersebut. “Sangat bagus, orang bisa tahu untuk urusan hewan kita memang bekerja sama, hewan ternak yang sehat menghasilkan produk yang sehat. Ada kegiatan bersama, dari farm sampai ke meja, jadi produksinya bisa oleh Fapet karena ada pakan dan lainnya sedangkan kita (SKHB) ada kesehatannya. Jadi dengan kolaborasi ini goal itu bisa tercapai”harapnya. (Femmy)

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar seminar penutupan program Sustainable Intensification Dairy Production Indonesia Project (SIDPI), 13/1. Program ini terdiri dari kegiatan riset dan pemberdayaan masyarakat, khususnya peternak sapi perah di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kegiatan penutupan diadakan dalam rangka mensosialisasikan hasil-hasil dari program SIDPI kepada para peternak melalui lembaga di tingkat pusat dan daerah.

    Program SIDPI merupakan program kolaborasi IPB University bersama dengan Wageningen University Research (WUR), Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, PT Trouw Nutrituin Indonesia, dan Frisian Flag Indonesia. Kegiatan ini sudah dilakukan selama 3,5 tahun sejak tahun 2016 hingga tahun 2019.

     Adapun fokus kegiatan adalah peningkatan pendapatan peternak dengan meningkatkan produktivitas susu sapi perah melalui perbaikan pengelolaan pakan ternak.

    Dr Rudi Afnan, Wakil Dekan Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan, Fapet IPB University mengatakan program SIDPI didesain sebagai pilot project di wilayah Lembang. Kegiatannya berupa berbagai program peningkatan pengetahuan peternakan sapi perah, manajemen pengolahan pupuk dari limbah budidaya sapi perah.

    “Program ini  diharapkan dapat meningkatkan kesehatan dan produk sapi perah, mengurangi biaya pakan, meningkatkan efisiensi pengunaan sumberdaya, serta meningkatkan pendapatan peternak sapi perah skala kecil,” terang Dr Rudi.

    Di sisi lain, program ini juga berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca. Dr Rudi berharap, bisa terjalin kerjasama yang lebih erat untuk kemajuan peternakan Indonesia yang berorientasi pada lingkungan yang berkelanjutan.

    Hadir sebagai pemateri utama adalah Dr Nasrullah dari  Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Gemma Verijdt dari Kementerian Pertanian, Alam, dan Kualitas Pangan, Belanda dan Dr Marion De Vries, dari Wageningen University Research (WUR) yang menjelaskan tentang program SIDPI.

    Dalam paparannya, Gemma Verijdt menjelaskan pemerintah Belanda sudah membuat kesepakatan dengan pihak swasta, pemerintah lokal dan masyarakat untuk mengurangi emisi karbon. Melalui kesepakatan ini, ditargetkan dapat mengurangi emisi gas metana dari sektor peternakan hingga 16 persen di tahun 2030. Untuk itu, pendekatan lingkungan terintegrasi terus dilakukan dengan berbagai negara, salah satunya Indonesia.

    “Riset dan inovasi untuk mengurangi emisi di sektor peternakan terus dilakukan. Khususnya dalam pengelolaan limbah dan sistem perkandangan yang ramah lingkungan. Sistem perkandangan menjadi tantangan utama untuk membentuk mengelola limbah  terintgrasi. Hal ini terus kami kembangkan bersama dengan berbagai pihak,” ungkap Gemma.

    Sementara Dr Marion menjelaskan tentang keberhasilan program SIDPI. Hasil dari program ini menunjukkan bahwa pengelolaan pakan dapat meningkatkan kesehatan hewan ternak dan produk susu. Ia menerangkan, terjadi peningkatan sekitar 0,7 kilogram susu untuk satu ekor sapi per harinya. Melalui program ini juga, efisiensi sumber daya juga membuat biaya pakan berkurang serta itu emisi yang berdampak buruk untuk lingkungan juga berkurang.

    “Pengurangan emisi dilakukan dengan pengelolaan kotoran hewan yaitu mengurangi jumlah kotoran ternak yang dibuang. Upaya ini dapat mengurangi polusi ke sungai dan air tanah. Pilot project ini melibatkan  peternak KSPBU Lembang, serta peneliti dari IPB University dan Wageningen University Research. Ke depannya program ini akan terus dikembangan untuk 4500 peternak di Jawa Barat,” ungkap Dr Marion.

    Kegiatan seminar ini juga menghadirkan beberapa pembicara lain yang terlibat dalam program SIDPI. Diantaranya adalah Windi Al Zahra, Alumni Fapet IPB University yang saat ini menempuh Pendidikan di Wageningen University Research (WUR), Bram Wouters dari Wageningen University Research (WUR) dan Drs Dedi Setiadi dari KPSBU Lembang (ipb.ac.id)

  • Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) dan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar acara International Symposium On Innovative Approaches to Livestock Industry (ISIALI)  2025. Kegiatan ini dilaksanakan pada (21/1) di IPB International Convention Center (IICC) Bogor, Indonesia dan didukung oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA).

    Dalam sambutannya, Prof. Byung-Chul Park dari Graduate School of International (GSIAT) Seoul National University (SNU) menyampaikan bahwa acara ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas litbang dan kinerja penelitian dengan membangun Pusat Pertanian dan Biosains di IPB serta memberikan program pelatihan kepada ilmuwan dan peneliti di Indonesia. “’Simposium ini menampilkan presentasi dari para pembicara yang akan berbagi pengetahuan dan keahlian berharga mereka di bidang pertanian dan biosains. Semoga para peserta dapat memperoleh wawasan dan pengetahuan yang bermakna dari simposium ini”jelasnya.

    Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB University Prof. Drh. Deni Noviana, PhD, DAiCVIM hadir mewakili Rektor untuk memberikan sambutan pembukaan serta apresiasi pada acara tersebut. “Merupakan suatu kehormatan khusus untuk menyambut rekan-rekan terhormat kami dari Seoul National University (SNU), Kami juga merasa terhormat untuk menghadirkan Prof. Ahmad Sofyan (BRIN, Indonesia), Mr. Kwang Soo An (Wakil Direktur Negara, KOICA Indonesia), dan Prof. Ho Sang Kang (Manajer Proyek, KOICA-ICAB), bersama dengan pembicara dan peserta terhormat lainnya. Kehadiran Anda menggarisbawahi kemitraan yang mendalam dan berkembang antara IPB University dan SNU, dan saya yakin simposium ini akan semakin memperkuat kolaborasi kita, membuka jalan bagi inisiatif penelitian yang berdampak”ungkapnya.

    Pada simposium ini, para pembicara baik dari dalam maupun luar negeri mempresentasikan materi sesuai bidangnya masing-masing. Pembicara dari SNU antara lain Prof. Kyoung Hoon Kim, Prof. Sang Kee Kang dan Prof. Gap-don Kim. Pembicara dalam negeri yang hadir antara lain Prof. Ahmad Sofyan, S.Pt, M.Sc., Ph.D dari BRIN, para guru besar IPB yaitu Prof. Dr. Despal, S.Pt. MSc.Agr, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc, Prof. drh. Arief Boediono, PhD PAVet, Dr. drh. Okti Nadia Poetri, M.Si. M.Sc, Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS, dan Prof. Dr.agr Asep Gunawan, S.Pt., M.Sc. 

    Pada simposium yang dihadiri oleh puluhan peserta ini, Wakil Rektor Bidang Konektivitas Global, Kemitraan, dan Alumni, IPB University Prof. Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc, IPU, ASEAN Eng menyampaikan harapannya dalam simposium yang bertujuan untuk bertukar ide, mendorong dialog, dan mengeksplorasi solusi transformatif untuk praktik peternakan yang berkelanjutan dan efisien ini. “Saya berharap simposium ini berfungsi sebagai platform tidak hanya untuk berbagi pengetahuan tetapi juga untuk menjalin hubungan baru yang akan mengarah pada kolaborasi yang bermakna antara peneliti di Universitas IPB dan profesor dari SNU.”tuturnya (Femmy).

  •  

    Dirinya juga menyebut, pandemi COVID-19 turut mengubah tatanan sosial masyarakat. Seperti rutinitas kegiatan sehari-hari maupun upaya untuk bersilaturahim dan berinteraksi. Dengan bermodal teknologi yang ada, diharapkan silaturahim akan tetap terjaga meskipun belum bisa bertatap muka secara langsung.

    Sebagai upaya menyambut kuliah tatap muka, Dr Idat menyebut, pihaknya telah menghimpun dana untuk pembangunan water station dan dana sosial untuk beasiswa. Ia juga menyebut, para alumnus telah berpartisipasi aktif dalam mendukung Fapet IPB University.

    Ketua Senat Fapet IPB University, Prof Nahrowi menyebut, setelah mendapat tempaan bulan ramadhan, sudah waktunya berkomitmen untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang lebih baik. “Apabila komitmen ini bisa dilakukan secara serempak, saya yakin Fapet IPB University dapat menjadi institusi terdepan dalam pengembangan ilmu dan teknologi peternakan,” ujar Prof Nahrowi.

    Dalam upaya menciptakan suasana kerja yang lebih kondusif dan menanggulangi permasalahan yang timbul akibat perkembangan teknologi yang cepat, Prof Nahrowi berpesan supaya saling menjaga silaturahim. “Mari kita maksimalkan teknologi yang ada untuk meningkatkan silaturahim secara online. Jika nanti pandemi COVID-19 sudah terkendali, kita bisa kembali silaturahim secara offline,” ujar Prof Nahrowi.

    Dirinya juga berpesan, dalam bersilaturahim dapat menggunakan bahasa yang baik. Tidak hanya itu, ia juga berpesan supaya menjadikan ajang sulaturahim untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. “Jika itu semua dilakukan, maka silaturahim ini dapat digunakan sebagai wadah untuk mendukung penelitian, pendidikan serta mencapai target-target kinerja yang sudah ditetapkan,” ujar Prof Nahrowi.

    Ketua Umum Hanter IPB University, Audy Joinaldy turut berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung Hanter IPB University untuk terus berkontribusi bagi almamater. Sampai saat ini pihaknya telah mengumpulkan dana untuk beasiswa bagi mahasiswa melalui Tali Kasih Hanter IPB University.

    “Kami juga ingin mengadakan Hari Pulang Kandang, semoga nanti bisa terwujud setelah pandemi COVID-19,” ujar Audy.

    Alumnus Fapet IPB University itu juga menjelaskan, dirinya turut mengundang para dosen Fapet IPB University untuk ikut memberikan sosialisasi tentang Fapet IPB University bagi siswa-siswi SMA di daerahnya. “Jadi sosialisasinya adalah khusus tentang Fapet IPB University di SMA Sumatera Barat. Dengan demikian diharapkan akan banyak siswa-siswi yang tertarik dengan peternakan dan mau masuk ke Fapet IPB University,” pungkas Audy Joinaldi, Alumnus IPB University sekaligus Wakil Gubernur Sumatera Barat.

    Pesan-pesan penting ini mengemuka saat berlangsung Halal bi Halal Fakultas Peternakan IPB University beberapa waktu lalu (ipb.ac.id)

  • Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar International Student Conference (ISC) 2020, (18/9). Kegiatan ini merupakan ajang tingkat internasional yang ditujukan bagi mahasiswa sarjana seluruh dunia. Agenda ini dihadiri oleh 269 peserta dari berbagai negara seperti Thailand, Inggris, Turki, China, Australia dan Indonesia.

    Dalam pembukaannya, Dr Drajat Martianto, Wakil Rektor IPB University Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan mengatakan kegiatan ini sangat didukung oleh institusi, karena selaras dengan misi kampus IPB University yaitu berkomitmen menjadi kampus terbaik di taraf internasional. Ia berharap, kegiatan ini mampu meningkatkan kapasitas dari mahasiswa sekaligus momentum transfer pengetahuan.

    “Harapannya, kegiatan ini mampu memberikan pengetahuan baru sekaligus membentuk jaringan global bagi para mahasiswa lintas negara ini. Selain itu kegiatan ini merupakan ajang bertukar pengetahuan guna meningkatkan inovasi-inovasi yang ada di IPB University. Saya ucapkan selamat melakukan kegiatan presentasi untuk seluruh peserta,” ungkap Dr Drajat Martianto

    Rangkaian kegiatan ISC 2020 meliputi konferensi, diskusi panel, dan summercourse. Sedikitnya ada 130 mahasiswa dari berbagai negara yang sudah mengirimkan karyanya untuk dipresentasikan selama kegiatan.

    Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan pembukaan adalah Prof Dr Jeremy Huckins dari Departemen Psikologi dan Neurosains, Darthmouth College Hanover, United States. Materi yang disampaikan tentang kesehatan mental dan perilaku selama masa Pandemi COVID-19.

    Prof Dr Jeremy  menjelaskan penelitiannya tentang kesehatan mental mahasiswa khususnya terkait dengan dampak stres bagi tubuh selama masa pandemi. Menurutnya, masa pandemi membuat kesehatan mental mahasiswa menjadi terganggu. Ia menerangkan, tingkat kecemasan mahasiswa meningkat karena perubahan pola hidup dan berbagai informasi negatif tentang COVID-19. Tercatat ada 40 persen mahasiswa Indonesia yang mengalami gangguan kecemasan.

    “Selain di Indonesia, lebih dari 50 persen mahasiswa di Bangladesh juga mengalami kecemasan yang berlebih. Hal serupa juga dialami oleh 25-50 persen mahasiswa yang ada di China. Permasalahan ini akan terus mengalami peningkatan selama masa pandemi yang dialami secara global. Terjadi perubahan pola perilaku yang signifikan selama masa lockdown," ungkap Prof Jeremy .

    Selain itu Prof Jeremy juga memperkenalkan alat ukur tingkat kecemasan pada siswa selama pembelajaran daring. Menurutnya,  penggunaan media sosial yang meningkat mempengaruhi kesehatan mental siswa. "Media sosial banyak memberikan informasi-informasi negatif terkait pandemi dan menurunkan aktivitas fisik. Dampak negatif ini paling banyak ditemukan pada orang usia muda," pungkasnya (ipb.ac.id)

  • Bogor – Konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat, rata-rata konsumsi susu nasional baru 16,5 liter per kapita per tahun. Angka ini sedikit naik dari 16,27 liter pada 2022, namun masih jauh di bawah Thailand (33 liter), Malaysia (50 liter), apalagi negara maju yang melampaui 100 liter per kapita per tahun.

    Hal itu disampaikan Prof. Dr. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr., Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Peternakan IPB, dalam Orasi Ilmiah Guru Besar di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, IPB, Sabtu (30/8/2025). Ia menekankan bahwa rendahnya konsumsi susu menjadi tantangan serius dalam pemenuhan gizi masyarakat.

    Permintaan Naik, Produksi Stagnan

    Prof. Idat menjelaskan, kebutuhan susu nasional diproyeksikan melonjak tajam seiring pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, serta kesadaran gizi. Dari sekitar 4,4 juta ton saat ini, konsumsi bisa tembus 5,5 juta ton pada 2030, bahkan berpotensi mencapai 8,9 juta ton dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.

    Namun, produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi. Populasi sapi perah Indonesia pada 2024 hanya sekitar 485 ribu ekor, atau satu ekor sapi untuk 470 penduduk. Produksi susu stagnan di kisaran 485 ribu ton per tahun, sehingga lebih dari 80 persen kebutuhan industri masih bergantung pada impor dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

    “Ketergantungan pada impor membuat industri persusuan kita rentan terhadap fluktuasi harga global, nilai tukar rupiah, hingga gangguan pasokan internasional,” ujarnya.

    Rekayasa Nutrisi Presisi, Kunci Kemandirian Susu Nasional

    Prof. Idat menambahkan, persoalan lain yang dihadapi adalah sapi perah di Indonesia umumnya masih kekurangan nutrien, terutama protein dan mineral, sehingga produktivitasnya belum optimal. Kondisi ini menuntut adanya strategi baru dalam pengelolaan pakan dan gizi ternak.

    Sebagai solusinya, Prof. Idat menegaskan perlunya terobosan melalui rekayasa nutrisi presisi. Menurutnya, pendekatan ini merupakan kunci peningkatan efisiensi nitrogen sekaligus produktivitas ternak perah tropis. Rekayasa nutrisi presisi dilakukan dengan mengoptimalkan keragaman bahan pakan tropis, menyinkronkan RDP, NFC, dan sulfur dalam ransum, meningkatkan fraksi RUP melalui teknologi proteksi, serta menerapkan formulasi pakan secara terpadu agar hasilnya lebih efisien dan berkelanjutan.

    “Rekayasa nutrisi presisi adalah solusi nyata untuk meningkatkan efisiensi pakan, memperbaiki kualitas susu, dan mengurangi ketergantungan impor. Dengan langkah ini, kita bisa memperkuat kemandirian susu nasional,” tegas Prof. Idat.

  • Bisnis peternakan di Indonesia saat ini menghadapi permintaan yang terus meningkat pada produk-produk hasil ternak. Namun tingginya tingkat permintaan produk ternak masih terkendala dalam pengelolaan distribusi pasokan yang menyebabkan tingginya biaya logistik. Kendala dalam pengembangan logistik peternakan adalah infrastruktur, manajemen dan sumberdaya manusia. 

    Fakultas Peternakan  IPB sebagai institusi pendidikan dan penelitian telah berkomitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan logistik peternakan di Indonesia. “Bagi Fapet IPB , logistik tidak hanya sekedar memindahkan produk ternak dari satu tempat ke tempat lain tetapi logistik terkait dengan aspek keamanan dan ketahanan pangan”, jelas Dr.Yamin sebagai Dekan Fapet IPB.

    IPB telah membuka program S1 plus Logistik Peternakan yang bertujuan  untuk menghasilkan kompetensi para lulusan untuk mampu mengimplementasikan keahlian, ilmu pengetahuan, teknologi dan sains di bidang logistik peternakan. Pembentukan program studi ini didukung oleh Asosiasi Logistik Indonesia (ALI). “ALI juga mendukung jika program studi memerlukan dosen tamu dari anggota ALI terkait logistik secara umum”, jelas Zaldy Ketua ALI saat meeting bersama  tim Fapet IPB pada  Februari 2017 lalu.

    Perkuliahan perdana program Sarjana Plus Logistik Peternakan akan dimulai pada awal tahun ajaran baru 2017-2018, di bulan Juli 2017. Logistik peternakan merupakan area multidisiplin ilmu, antara lain ilmu peternakan, logistik, pengolahan, teknologi rantai dingin, ekonomi dan ritel.  Oleh karena itu Program S1 Plus ini terbuka bagi lulusan S1 dari jurusan yang relevan (Peternakan, Kedokteran Hewan, Logistik, Transportasi, Ekonomi, Teknik Industri, Ilmu Konsumen dan Keluarga) fresh graduate ataupun sudah bekerja.

  • Jangkrik (Gryllidae) adalah serangga yang berkerabat dekat dengan belalang. Memiliki tubuh rata dan antena panjang. Jangkrik adalah omnivora. Dikenal dengan suaranya yang hanya dihasilkan oleh jangkrik jantan. Suara ini digunakan untuk menarik betina dan menolak jantan lainnya. Suara jangkrik ini semakin keras dengan naiknya suhu sekitar.  Umumnya jangkrik dianggap sebagai salah satu jenis pakan burung atau hewan hias lainnya.

    Padahal jangkrik memiliki berbagai manfaat dengan kandungan gizi yang kaya. Kandungan nutrisi penting pada jangkrik adalah protein, asam lemak essensial, vitamin serta mineral. Pada jangkrik yang masih segar kandungan proteinnya sekitar 40%, namun apabila sudah diolah menjadi jangkrik kering atau jangkrik panggang, kandungan protein akan meningkat hingga 64%. Selain protein ternyata jangkrik juga mengandung zat kitosan seperti yang terkandung pada udang dan memenuhi 15-25% kebutuhan vitamin A.  Kebanyakan masyarakat di Indonesia belum memanfaatkan potensi jangkrik yang sangat menjanjikan ini.

    Lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yakni Uswatun Khasanah, Muhamad Suhendra, Andini Siwi Pratama, Triyana Nur  Rizki dan Iza Fitria Husna menciptakan Snack JunkKrips yang kaya protein, bahan dasarnya jangkrik. JunkKrips merupakan suatu inovasi yang sangat unik dan memiliki rasa yang enak dan renyah serta kandungan gizi yang sangat baik untuk tubuh.

    Di bawah bimbingan M Sriduresta Soernarno, Spt MSc selaku dosen pembimbing, Uswatun dan tim terus berinovasi dengan mengeluarkan berbagai macam varian produk olahan JunkKrips, diantaranya adalah StickKrips dan BasKrips. Kedua varian produk ini  memiliki rasa dan tekstur yang unik dan berbeda. Konsumen juga dapat memilih pilihan rasa yang disajikan dari Baskrips dan StickKrips, diantaranya adalah rasa barbeque, jagung bakar, pedas, original dan balado.

    Dalam waktu dekat Uswatun dan tim akan mengeluarkan varian produk JunkKrips ke-3 setelah Baskrips dan StickKrips. Produk Barunya diberi nama Choco JunkCho siap diluncurkan menjadi produk baru dan tentunya memanfaatkan jangkrik sebagai bahan dasar. Nah nantikan terus inovasi dari lima mahasiswa IPB ini ya... (ipb.ac.id)