News

  • Bogor, IPB University – Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University berkolaborasi dengan Universitas Pakuan serta mitra UMKM Bogor Sari Nutrisi dan Wahyu Farm Sejahtera menginisiasi program pengembangan produk keju mozzarella dan soft candy berbahan dasar susu sapi lokal di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang didanai melalui Skema Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UBUD) Program BIMA Kemdiktisaintek tahun 2025.

    Program yang berjudul “Pengembangan Produk Keju dan Soft Candy Susu Sapi Lokal sebagai Produk Pangan Sehat Unggulan Daerah Ciawi Bogor” ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian serta memperkuat ekonomi lokal. Ketua pelaksana kegiatan, Prof Dr Irma Isnafia Arief, SPt, MSi dari Fapet IPB University, menuturkan bahwa pelatihan difokuskan pada peningkatan kualitas produksi, pendampingan izin edar rumah produksi, sertifikasi halal, serta perbaikan kemasan.

    Selain itu, pendampingan juga dilakukan pada aspek manajemen peternakan sapi perah di Wahyu Farm Sejahtera, sistem informasi keuangan dan pemasaran digital, manajemen produksi, serta sanitasi lingkungan rumah produksi. Dukungan juga diberikan berupa alat produksi keju, pasteurisasi susu, dan milk can untuk menunjang kualitas produk.

    “Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya mendampingi dari sisi teknis produksi, tetapi juga memastikan produk mitra siap memasuki pasar modern dengan standar mutu yang lebih baik,” jelas Prof Irma.

    Kegiatan PM-UBUD 2025 ini juga melibatkan enam mahasiswa sebagai bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dengan bobot 10 SKS. Mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung melalui praktik lapang, capstone project, serta pelatihan soft skills kewirausahaan.

    Saat ini, produk keju mozzarella dan soft candy susu sapi lokal hasil pendampingan telah mulai dipasarkan melalui pemesanan dan pameran. Produk tersebut sedang dalam proses perizinan edar agar dapat dijual lebih luas di swalayan.

    Tim pelaksana bersama mitra menyampaikan apresiasi kepada Kemdiktisaintek atas dukungan melalui Program BIMA PM-UBUD 2025, yang memungkinkan pengembangan pangan sehat unggulan daerah sekaligus memperkuat ekosistem UMKM berbasis peternakan.  Lihat Video Profile

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University turut berpartisipasi dalam kegiatan Pesta Rakyat Alumni IPB Pulang Kampus 2025 dengan menampilkan berbagai produk inovasi unggulan. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, pada 21–23 Desember 2025, bertempat di Kampus IPB Darmaga, Bogor.

    Pesta Rakyat Alumni IPB Pulang Kampus 2025 menjadi ajang temu kangen alumni IPB dari seluruh angkatan yang dikemas dalam rangkaian kegiatan menarik, mulai dari reuni alumni, pentas seni dan kuliner, hingga pameran yang melibatkan fakultas, himpunan alumni, serta pelaku UMKM.

    Pada kesempatan ini, Fapet IPB University membuka booth yang berlokasi di halaman depan Gedung Rektorat IPB University. Melalui booth tersebut, Fapet memperkenalkan berbagai program studi yang ada di lingkungan Fakultas Peternakan melalui pamflet informatif serta tayangan video profil yang ditampilkan secara interaktif.

    Selain pengenalan program studi, Fapet juga menampilkan sejumlah produk inovasi, di antaranya HMB, wafer pakan, serta berbagai produk dalam bentuk dummy seperti telur omega-3, ayam IPB D1, dan yogurt Dairycious yang telah diproduksi dan dipasarkan secara nasional. Produk-produk ini mencerminkan kontribusi Fapet IPB University dalam pengembangan inovasi berbasis peternakan yang berkelanjutan.

    Antusiasme pengunjung terlihat jelas di booth Fapet. Para pengunjung yang didominasi oleh alumni tampak aktif berdiskusi, menanyakan perkembangan Fakultas Peternakan dan program studi yang ada saat ini. Suasana semakin meriah dengan adanya spot foto menggunakan topi koboy yang disediakan di booth, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para alumni.

    Tidak hanya itu, beberapa pengunjung juga berkesempatan mencicipi kesegaran susu murni yang berasal dari Laboratorium Perah Fakultas Peternakan IPB University. Alumni yang hadir pun beragam, mulai dari alumni senior hingga lulusan baru, tidak hanya berasal dari Fakultas Peternakan, tetapi juga dari fakultas lain yang tertarik dengan inovasi dan produk yang ditampilkan.

    Keikutsertaan Fapet IPB University dalam Pesta Rakyat Alumni IPB Pulang Kampus 2025 diharapkan dapat mempererat silaturahmi dengan alumni sekaligus memperkenalkan peran dan kontribusi Fakultas Peternakan dalam pengembangan pendidikan, riset, dan inovasi kepada masyarakat luas. (Femmy)

  • Himpunan Profesi Mahasiswa Fakultas Peternakan menyelenggarakan kegiatan Festival Ayam Pelung Nusantara (FAPN). Kegiatan berlangsung di Gedung Jannes Humuntal Hutasoit, Fakultas Peternakan (Fapet), Institut Pertanian Bogor pada 15-16 September 2018.

    Dekan Fapet Dr Ir Mohamad Yamin MAgrSc menyambut dan mengapresiasi baik kegiatan ini. Dalam sambutannya, Yamin menyebutkan bahwa ayam Pelung memang perlu dilestarikan. Hal ini mengingat bahwa ayam Pelung merupakan sumber daya genetik (SDG) lokal yang tidak dipunyai oleh negara lain di dunia.

    “Acara ini diharapkan dapat memenuhi kriteria dari 3 learning outcome, yakni pengetahuan, skill dan sikap yang aplikasinya ke arah pemeliharaan dan pengembangannya,” tuturnya.

    Lebih lanjut, Yamin mengemukakan ayam Pelung dapat dijadikan sebagai bibit unggul, lalu digunakan tidak hanya untuk suaranya saja yang merdu, namun juga diharapkan dari produksi dagingnya. Sehingga arah pengembangan ayam pelung ke depan dapat disesuaikan dengan standar pemeliharaan yang sama dengan ayam ras saat ini.

    “Semoga di masa mendatang kegiatan Himpunan Profesi Mahasiswa ke depannya tidak hanya fokus pada ayam Pelung saja, akan tetapi juga SDG ternak Indonesia lainnya juga harus diperhatikan seperti ayam Ketawa, Merawang dan ayam kokok Balenggek,” tandasnya.

    Kegiatan FAPN 2018 ini dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Sumberdaya Kerjasama dan Pengembangan yang juga Dosen Dasar Produksi Unggas, Dr. Rudi Afnan SPt, MScAgr dan Pembina Kemahasiswaan Fapet, Dr. Sigit Prabowo SPt, MSc. Panitia Pelaksana menghadirkan Prof. Iman Rahayu, Guru Besar Perunggasan Fapet sebagai pembicara utama dan Cece Suherman dari Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Nusantara sebagai pembicara sekaligus sebagai koordinator penjurian FAPN 2018.

    Ketua Panitia Pelaksana, Berry Sipayung mengatakan kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan sebagai acuan dan pengembangan ayam Pelung yang berkualitas, baik dari suara, bobot badan dan performa lainnya untuk dilestarikan sebagai plasma nutfah Indonesia. Ayo lestarikan ayam Indonesia bersama irama Pelung nusantara! (majalahinfovet.com)

  • Forum Logistik dan Peternakan Indonesia (FLPI) bekerjasama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) menyelenggarakan pelatihan Manajemen Logistik Pakan, yang didukung Direktorat Pakan, Kementerian Pertanian.

    Pelatihan diselenggarakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB Dramaga Bogor, 26-27 Maret 2019. Kegiatan dihadiri Ketua FLPI Prof Luki Abdullah, Ketua AINI Prof Nahrowi Ramli dan Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Peternakan IPB Dr Rudi Afnan.

    Rudi Afnan, dalam sambutannya memberi apresiasi FLPI yang terus mengedukasi insan peternakan. Kali ini FLPI menyasar insan peternakan soal pakan unggas. “Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan untuk berbagi informasi,” katanya.

    Pelatihan menghadirkan tiga narasumber, yakni Kasubdit Bahan Pakan Direktorat Pakan Diner YE Saragih, perwakilan PT Charoen Pokphand Indonesia Istiadi dan dari Laboratorium Industri Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB Dr Heri Ahmad Sukria.

    Pelatihan diikuti oleh peternak, praktisi dan akademisi terkait pakan ternak, khususnya ternak unggas. Diakhir kegiatan, panitia mengajak peserta mengunjungi PT Charoen Pokphand Indonesia, di Balaraja, Tenggerang, Banten. Kunjungan bertujuan untuk memberi informasi nyata kepada peserta mengenai manajemen logistik pakan, penyimpanan dan pergudangannya. (majalahinfovet.com)

  • Transportasi ternak merupakan kunci utama dalam mendistribusikan hal terkait dengan produk peternakan. Kegiatan mendistribusikan ternak dalam kondisi hidup ini memerlukan teknik-teknik khusus, hal ini bertujuan agar ternak yang ditransportasikan merasa nyaman dan aman selama dalam perjalanan. Merujuk pada pentingnya memperhatikan proses transportasi ternak, Forum Logistik dan Peternakan Indonesia (FLPI) menyelenggarakan workshop bertajuk “Meningkatkan Kesejahteraan Hewan pada Transportasi Ternak di Indonesia”, yang diselenggarakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan (Fapet), Institut Pertanian Bogor (IPB), Jumat (12/10).

    Kegiatan ini dihadiri Deny Kusdyana perwakilan Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Ahmad Wiroi dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Drh Afriani dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. Workshop kali ini menghadirkan empat narasumber, diantaranya Edy Wijayanto (PT Sapibagus), Tri Nugrahwanto (PT Tanjung Unggul Mandiri), Soedarno (Logistics Foods PT Sierad Produce Tbk) dan Dr Ross Ainsworth (Australian Veterinary). Acara dimoderatori oleh Dr Rudi Afnan, Wakil Dekan Bidang Sumberdaya Kerjasama dan Pengembangan Fapet IPB.

    Dekan Fapet IPB, Dr Ir Mohamad Yamin, dalam sambutannya menegaskan, FLPI merupakan wadah baru yang memfasilitasi hal terkait dengan logistik peternakan di Indonesia.

    “Keberadaan FLPI dipandang sangat perlu karena fungsinya dapat memberikan masukkan mengenai cara mentransportasikan ternak dari satu tempat ke tempat lain. Transportasi tidak hanya terkait memasukkan ternak ke media angkut, namun lebih intens lagi adalah perlakuan yang perlu diberikan atau yang diterima ternak selama dalam perjalanan hingga sampai tujuan,” ujar Dr Yamin. 

    Sementara itu, Prof Dr Ir Luki Abdullah, Chairman FLPI, turut menyampaikan, sejak didirikan tiga tahun lalu, FLPI telah memberikan warna baru dalam ranah logistik peternakan yang menghasilkan produk pangan Indonesia.

    “FLPI telah mengakomodasi dan merekomendasi berbagai hal yang berhubungan dengan logistik peternakan itu sendiri kepada pemangku kepentingan, sehingga sampai saat ini FLPI telah berkontribusi nyata dan bermanfaat bagi kemajuan logistik peternakan di Indonesia,” kata Prof Luki.

    Acara yang didukung oleh IPB, Animal Logistics (ALIN), Nuffic MSM, Wageningen UR dan Aeres Groep, mendapat perhatian khusus dari perwakilan Kementerian Perhubungan.

    “Banyak hal menarik yang perlu diungkap dan dijadikan bahan agar ranah transportasi ternak ke depannya lebih baik, misal perlu adanya regulasi khusus yang mengatur tata-cara mentransportasikan ternak itu sendiri,” kata Deny Kusdyana.

    Sedangkan dikatakan Dr Ross dalam paparannya, bahwa kesejahteraan ternak selama ditransportasikan berkorelasi positif dengan keuntungan yang diterima oleh para pelaku usaha. Ini artinya jika ternak sejahtera selama proses transportasi, maka keuntungan yang diperoleh pun akan meningkat.(majalahinfovet.com)

  • Tiga mahasiswa IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan yaitu Sandi Nayohan, Irwan Susanto, Hajrian Rizkqi Albarki telah berhasil meraih Juara II dan Best Poster dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) Festival Ilmiah Universitas Negeri Semarang (FILM) di Universitas Negeri Semarang akhir pekan lalu.

    Dalam perlombaan tersebut, mereka menampilkan gagasan berjudul LIVELE (Livestock Logistic Expedition) yaitu sebuah platform online marketing untuk menjual produk komoditas peternakan untuk menjaga kesegaran dari produk hingga sampai ke tangan konsumen. Dengan adanya gagasan ini, diharapkan marketplace tersebut ke depannya dapat direalisasikan dan membantu para peternak kecil yang ada di Indonesia.

    “Kami berharap dengan adanya inovasi ini, ke depannya aplikasi tersebut dapat direalisasikan kepada para peternak kecil yang ada di Indonesia, sehingga hal ini juga akan mendukung tercapainya swasembada daging nasional di masa yang akan datang,” ujar Sandi Nayohan sebagai Ketua Tim IPB University dalam kompetisi ini.

    Hal ini didukung juga oleh pernyataan Irwan Susanto sebagai salah satu anggota tim. Menurutnya, ide pembuatan gagasan aplikasi ini adalah adanya keresahan dari peternak karena tengkulak yang cenderung membeli produk dari peternak dengan harga yang murah. Tengkulak mendapatkan keuntungan lebih banyak dari peternak. Oleh karena itu, aplikasi ini diharapkan dapat memotong panjangnya rantai pasok produk peternakan sehingga peternak dapat menjual langsung produknya tanpa melalui tengkulak dan harga yang diterima konsumen juga lebih murah (ipb.ac.id)

  • Tim peneliti program Matching Fund tahun 2022 IPB University berkolaborasi dengan Mitra Peternakan Sinar Harapan Farm Sukabumi. Tema risetnya adalah Aplikasi Sistem Free Range Ayam IPB-D1 Penghasil Daging Fungsional melalui Pemberdayaan Kelompok Ternak.
     
    Program yang diketuai oleh Prof Cece Sumantri, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University diawali dengan kegiatan pelatihan formulasi pakan berbasis bahan pakan lokal dan budidaya ayam IPB-D1 sistem free range, (25/9). Kegiatan pelatihan di gelar di Kandang Sinar Harapan Farm, Jampang Tengah, Sukabumi. 
     
    “Ada sekitar 65 peserta yang hadir. Mereka adalah peternak, siswa sekolah, mahasiswa, dosen, perwakilan dari pemerintahan desa serta perwakilan dari pemerintah Kecamatan Jampang Tengah,” ujar Prof Cece.
     
    Prof Cece berharap pelatihan ini memberikan manfaat bagi peternak sehingga bisa menghasilkan pertumbuhan ternak cepat, daging berkualitas tinggi, tahan terhadap beberapa serangan penyakit.
     
    “Peserta mendapatkan materi formulasi pakan berbasis bahan pakan lokal dengan budidaya free range pada ayam IPB-D1. Narasumbernya adalah Prof Sumiati, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University dan Bapak Usep Setiawan, SIP selaku pengelola peternakan di Jampang Tengah,” ujarnya.
     
    Dalam paparannya, Prof Sumiati mengatakan pentingnya formulasi ransum agar ransum yang diberikan kepada ternak memenuhi kebutuhan zat-zat nutrisi dan sesuai dengan kemampuan konsumsinya.
     
    “Formulasi bahan pakan dapat menghasilkan ayam yang tumbuh dengan kualitas daging yang lebih baik serta mudah dalam mendapatkan bahan-bahannya. Peternak bisa menggunakan bahan pakan yang mudah didapat di sekitar kita, seperti jagung, dedak, ampas tahu, tepung ikan, dan bahan pakan lainnya,” ujarnya saat mempraktikkan pencampuran pakan dengan bahan lokal. Prof Sumiati mencampur jagung kuning, dedak padi, ampas tahu, bungkil kacang kedelai, tepung ikan, minyak sawit, CaCo3, NaCl, premix, mintrex Zn 16.
     
    Sementara itu, Usep Setiawan, SIP selaku Pengelola Peternakan di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Peternakan Jampang Tengah menjelaskan tentang pemeliharaan Ayam IPB D-1 Sistem Free Range.
     
    “Pemeliharaan ayam dengan sistem free range memiliki beberapa keunggulan. Ayam akan lebih aktif karena leluasa untuk bergerak serta bisa mendapat pakan tambahan seperti rumput, cacing, serangga. Walaupun ayam kampung tapi kualitasnya tidak kampungan," ujarnya (ipb.ac.id)

  • Namanya Dr Tekad Urip Pambudi Sujarnoko, alumnus IPB University yang menyelesaikan tiga jenjang studi di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan. Pria kelahiran 1990 ini sekarang menjabat sebagai Direktur Utama PT Agro Apis Palacio, sebuah perusahaan yang memproduksi pakan ternak mulai ternak domba dan kambing, keplasmaan, pengolahan limbah non B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) sejak 2015 hingga sekarang. 

    Jejaknya menekuni dunia wirausaha dimulai sejak masih kuliah Sarjana. Ia terjun ke bisnis peternakan domba karena hobi serta ketidakcocokannya terhadap transaksi yang dilakukan tengkulak. Ia mengaku tengkulak di desanya, menentukan harga domba atau kambing dengan melihat langsung ke bentuk fisik, sehingga tidak mempertimbangkan berat hewannya.

    Ketika peternak sedang membutuhkan, tengkulak bisa menekan harga jual ternak dengan harga yang sangat rendah. Contohnya, ketika domba memiliki harga sebenarnya 1,5 juta rupiah, tetapi karena peternak sedang membutuhkan uang, tengkulak bisa memberikan harga 900 ribu bahkan 700 ribu rupiah. Alasannya karena telinga kecil, telinga bengkok atau warnanya yang hitam putih, dan sebagainya.

    "Hal itu yang membuat saya ingin sekali mengubah sistem, akhirnya kita menggunakan sistem timbangan yakni menimbang dagingnya. Selain itu kita membuat program yang namanya keplasmaan dengan peternak-peternak. Melalui program ini, bibit atau anakan dan pakan dijual ke kita atau ke orang lain dengan ditimbang terlebih dahulu," imbuhnya. 

    Menekuni dunia wirausaha tidak menyurutkan semangatnya dalam menuntut ilmu. Ia memiliki keinginan yang besar untuk meneliti dan mengajar di bidang peternakan karena salah satu problematika di Indonesia adalah peternak kurang mengetahui cara beternak dengan baik. Dengan demikian perlu ada yang menjadi jembatan untuk mengajari peternak tata cara beternak yang baik.
     
    "Saya kuliah tinggi mencari ilmu, bukan untuk ijazah atau mendapatkan pekerjaan. Karena ilmu itu akan mengangkat derajat, itu yang saya ingat, jadi bukan masalah dengan ijazah lalu saya harus bekerja seperti apa. Bukan, tetapi memantaskan diri itu yang lebih penting,” tambahnya.

    Ia juga memiliki harapan suatu saat nanti memiliki perusahaan yang fokus terhadap penelitian. Ia berharap negara Indonesia itu bukan lagi menjadi negara pengguna inovasi tetapi merupakan negara yang memiliki inovasi untuk diterapkan di negaranya sendiri dan menjual hasil inovasinya tersebut. 

    Melalui usahanya itu Tekad berhasil meraih Penghargaan Petani Milenial dan Petani Andalan Kementerian Pertanian tahun 2019  (ipb.ac.id)

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar kegiatan Rabuan Bersama sekaligus Penganugerahan Penghargaan untuk para Mahasiswa, Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik)  berprestasi (24/1) di Auditorium Jannes Humuntal Hutasoit (JHH), Fapet IPB, Bogor. Dalam acara tersebut, sebanyak puluhan mahasiswa Fakultas Peternakan menerima berbagai kategori penghargaan dari lomba serta kejuaraan di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu apresiasi juga diberikan kepada para Dosen, Tendik, Ketua Organisasi Mahasiswa (Ormawa) beserta jajarannya yang berada di lingkungan Fapet IPB University.

    Dekan Fakultas Peternakan, Dr Idat Galih Permana dalam sambutannya menghaturkan apresiasi kepada seluruh civitas akademika Fapet IPB yang telah bersama-sama menyukseskan berbagai kegiatan dan program yang diselenggarakan di Fapet yang telah berkontribusi terhadap capaian-capaian kinerja IPB.

    Capaian kinerja Fapet IPB juga disampaikan oleh Dekan di hadapan ratusan undangan. “Dalam 3 tahun terakhir setiap Perguruan Tinggi khususnnya PTN diminta untuk memenuhi kinerja melalui indikator kinerja utama. Melalui kemendikbudristek dikti setiap universitas dibebankan untuk memiliki kinerja termasuk kita yang berada di unit-unit dibawah Fakultas dan Departemen termasuk juga mahasiswa. suatu hal yang wajar dimana kita diminta untuk berprestasi, karena IKU ini mengcapture kita mulai dari proses input mahasiswa, kualitas mahasiswa, proses pembelajaran, kualitas dosen, kualitas riset termasuk juga akreditasi dan kerjasama dengan mitra”jelasnya.

    Beberapa hal juga disampaikan terkait dengan semangat belajar mahasiswa Fapet dengan jumlah mahasiswa terbanyak yang mengikuti program fast track. Untuk kerjasama, tiga prodi di Fapet selalu dilibatkan dalam kerjasama dan sampai tahun ini sudah ada 165 kerjasama tercatat di sistem informasi kerjasama IPB. Selain itu Fapet juga termasuk Fakultas yang sangat responsif terhadap model pembelajaran project based learning, bahkan tahun lalu kita termasuk fakultas terbanyak sehingga mendapatkan award oleh IPB. Tak hanya itu, akreditasi tahun ini 2 Prodi di Fapet yaitu TPT dan NTP mendapat akreditasi internasional dari ASIIN, yaitu lembaga akreditasi yang berkedudukan di Jerman dan mengakreditasi perguruan tinggi yang berbasis natural science, matematik dan juga engineering “Jadi untuk mahasiswa lulusan TPT dan NTP sudah setara dengan lulusan luar negeri yang sudah tersertifikasi maupun terakreditasi internasional”jelasnya.

  • PT Medion Farma Jaya (Medion) bekerjasama dengan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University mengadakan Sharing Session dan rekrutmen pegawai pada (1/8) di Ruang Sidang Fapet, Kampus IPB Darmaga, Bogor. Medion merupakan perusahaan multinasional yang bergerak di industri farmasi peternakan dan telah berdiri sejak tahun 1976. Produk Medion telah didistribusikan ke lebih dari 20 negara di Asia hingga Afrika. 

    Pada kegiatan ini, Neneng Arofah, S.Pt yang merupakan alumni Fapet IPB dan kini berkarir di Medion hadir sebagai Narasumber.
    Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Fapet IPB Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt, M.Si hadir memberikan arahan di hadapan lebih dari 30 alumni maupun mahasiswa Fapet yang mengikuti rekrutmen. “Mencari kerja itu pada akhirnya sesuai dengan karakter kita, kalau karakter kita seorang peneliti maka kita akan ketemu bahwa job yang sesuai dengan kita adalah research and development. Kalau karakter kita itu sukanya komunikasi maka kita akan ketemu job yang sesuai itu adalah di bidang human resources dan juga PR” ujarnya. Namun demikian, Prof. Irma juga menyatakan karakter itu akan bisa juga berkembang karena saling membutuhkan. “Jadi jika kita lama kerja sebagai researcher di R&D maka suatu saat harus bisa mengemukakan hasil research nya itu komunitas yang lebih besar. Demikian juga dengan orang PR atau HRD, dia juga harus melakukan riset kecil-kecilan atau mereview beberapa riset supaya dia bisa menyampaikan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh komunitas saat itu jadi kalau misalnya kita diterima di Medion itu insya Allah sesuai dengan kita pada saat ini dan jalannya masih panjang untuk bisa berkembang.” ujar Prof. Irma seraya menambahkan jika (peserta) tidak diterima bukan berarti jelek, tetapi karena jenis pekerjaannya kemungkinan tidak sesuai dengan karakter kita.

    Selanjutnya Neneng Arofah, S.Pt sebagai alumni, berbagi pengalaman dan tips bagaimana mampu berkarir dengan sukses di Medion. Dengan bahasa yang lugas dan interaktif, ia menyampaikan beberapa tips untuk persiapan menghadapi dunia kerja. “Tips dari saya, sebelum wisuda saya menyiapkan diri terlebih dahulu termasuk kesiapan kompetensi seperti hardskill dan softskill, jadi ketika sudah wisuda saya sudah siap untuk bekerja” tuturnya. Selain itu “Sewaktu kuliah kita belajar mengenai hardskill secara teori dan praktik, serta kita juga dapat belajar mengenai kedisiplinan dan bekerja dalam tim dalam kegiatan organisasi di kampus. Hal tersebut sangat bermanfaat karena  saat bekerja di perusahaan dalam bekerja kita tidak hanya menggunakan kompetensi hardskill tapi juga softskill seperti kemampuan untuk bekerja dalam tim untuk menyelesaikan suatu proyek dengan baik sesuai dengan deadline yang sudah ditentukan”.

    Sheila Fanie Putri, S.Psi selaku HRD Medion yang juga hadir dan menyeleksi langsung para kandidat menyampaikan bahwa agenda sharing alumni dalam rangkaian rekrutmen ini dilakukan agar para kandidat bisa mengetahui gambaran kerja dari posisi yang ditawarkan dan mereka bisa lebih mengetahui tentang peluang karir di Medion. “Lalu pada saat sharing alumni, Neneng menyampaikan juga materi kuliah apa saja yang relevan dengan pekerjaannya sehingga para kandidat bisa mempersiapkan juga untuk menghadapi dunia kerja nantinya di Medion” tuturnya.
    Untuk proses rekrutmen Medion di Fapet IPB sendiri sebetulnya sebelum pandemi sudah pernah ke Fapet, “Pada saat pandemi kita ganti jadi online lalu karena sekarang sudah bisa ke kampus lagi jadi kita mulai lagi secara offline”jelasnya. Sheila juga mengungkapkan jika Fapet IPB termasuk kampus yang paling banyak peminatnya pada saat rekrutmen dan perekrutan ini dilakukan tentunya karena alumni dari Fapet IPB terbukti memiliki kualitas yang sangat baik saat bekerja di Medion. (Femmy)


  • Di era disrupsi seperti saat ini, manusia dituntut untuk bisa dinamis, kreatif, serta adaptif. Kemampuan merancang bisnis merupakan salah satu modal yang penting untuk dimiliki agar mampu beradaptasi. Untuk itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan, IPB University menyelenggarakan webinar Business Plan and Career Development, (22/08).

    Kegiatan ini diselenggarakan sebagai wadah bagi mahasiswa IPB University, khususnya yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Fakultas Peternakan, untuk mempersiapkan bekal dalam menghadapi dunia pasca kampus.  Webinar yang mengangkat tema Career Revolution in Pra and Post Pandemic Era tersebut mengundang Frans Marganda Tambunan, Direktur Komersial PT Rajawali Nusantara Indonesia (persero) sebagai pembicara.

    “Skill business plan ini sangat penting bagi mahasiswa baik yang akan lulus maupun yang baru memasuki perkuliahan di departemen agar adik-adik mahasiswa mempunya life mapping. Mau seperti apa kehidupan di masa depan nanti, ini harus direncanakan,” kata Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan IPB University, Prof Irma Isnafia Arief.

    Sejalan dengan yang disampaikan Prof Irma, Wakil Dekan bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Peternakan, Dr Sri Suharti menyebutkan bahwa sebanyak dua belas persen alumni peternakan berkarir di bidang wirausaha. Angka tersebut cukup tinggi, baik di IPB University sendiri maupun di tingkat nasional. Mahasiswa yang memiliki passion wirausaha juga mendapat dukungan dengan adanya program merdeka belajar.

    “Kurikulum K2020 memberi keleluasaan bagi para mahasiswa terutama yang ingin mengambil merdeka belajar di bidang kewirausahaan. Ada satu channel tersendiri yang disetarakan dengan 20 SKS (Satuan Kredit Semester),” papar Dr Sri Suharti.

    Sementara itu, Frans Marganda menyebutkan bahwa meski di tahun 2020-2021 terjadi disrupsi yang sangat besar dan cepat, namun justru di tahun-tahun tersebut banyak orang yang berani memulai wirausaha. Hal tersebut dibuktikan dengan data yang dikeluarkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2020 pengajuan Nomor Induk Berusaha (NIB) justru didominasi oleh Usaha Mikro Kecil menengah (UMKM) yakni sebesar 81 persen.

    Menurutnya, dari data tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa untuk memulai wirausaha perlu keberanian untuk mengambil risiko. Membuat perencanaan yang terbaik serta tidak menunda-nunda. Bisa memanfaatkan waktu yang dimiliki saat ini untuk meningkatkan skill baik itu soft skill maupun hard skill.

    Hal tersebut karena ia percaya bahwa keberuntungan ialah formulasi antara kesiapan dan kesempatan. Keberuntungan akan terwujud saat kita mampu mempersiapkan diri ketika kesempatan itu datang. Membangun relasi atau jejaring juga tak kalah penting, yakni dengan aktif di berbagia kegiatan sesuai dengan passion yang dimiliki.

    “Kemudian cari mentor yang sesuai dengan passion kalian. Tirulah 60 persen langkah mentor tersebut dan kreasikan 40 persen dengan gaya kalian sendiri,“ ujar Alumnus Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan IPB University Angkatan 33 ini.

    Di akhir sesi ia mengingatkan kepada peserta untuk banyak berdoa dan mendekatkan diri dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Hal tersebut ia ambil dari pengalaman pribadi maupun koleganya bahwa banyak sekali hal-hal di luar kontrol yang mana hanya tangan Tuhan yang mampu menyelesaikannya(ipb.ac.id)

  • Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter), Fakultas Peternakan IPB University gelar webinar “Revitalisasi Pakan dan Teknologi Presisi sebagai Alternatif Swasembada Unggas di Era Society 5.0”, (26/6). 

    Webinar ini menghadirkan Prof Sumiati, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University dan Dr Audy Joinaldy, Ketua Umum Himpunan Alumni Peternakan IPB University (HANTER) sekaligus Wakil Gubernur Sumatera Barat sebagai pembicara.
     
    Prof Sumiati memberikan materi mengenai revitalisasi bahan baku pakan lokal menuju swasembada unggas. Menurutnya, permasalahan terkini pada peternakan salah satunya adalah kebutuhan beberapa raw material atau bahan baku pakan ternak unggas yang masih mengandalkan dari pasokan impor.
     
    "Beberapa fakta terkait hal ini, bahwa bahan baku pakan, terutama soybean meal 100 persen impor. Secara volume, bahan baku impor itu hanya sekitar 35 persen dari formula memproduksi pakan ternak. Tapi secara value, komposisi nilainya itu bisa 50-60 persen dari total feed (pakan) yang dibuat. Tahun 2022/2023, Indonesia diprediksi akan membutuhkan 5,6 juta ton pasokan soybean meal," jelas Prof Sumiati.
     
    Menurut Prof Sumiati, salah satu solusi mengatasi permasalahan pakan adalah dengan revitalisasi bahan pakan lokal. Contoh bahan baku lokal potensial sumber energi seperti jagung, dedak padi, sorgum dan gaplek/singkong. Serta bahan pakan sumber protein seperti kacang koro pedang, maggot serta bungkil inti sawit.
     
    Dr Audy memberikan materi mengenai potensi pengembangan teknologi presisi dalam peternakan unggas era society 5.0. Ia memaparkan, revolusi society 5.0 bertujuan untuk mempercepat transformasi masyarakat yang mendukung kemajuan ekonomi dan sosial dengan mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik. 

    “Faktanya, industri unggas merupakan sektor utama perekonomian nasional yang memasok 65 persen protein hewani bagi masyarakat Indonesia. Industri unggas juga berkontribusi sebesar 10 persen dalam penyerapan tenaga kerja nasional,” ungkap Dr Audy.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk meningkatkan value dan standar produk perunggasan dapat dilakukan dengan menggunakan Internet of Things (IoT) dalam Good Farming Practices (GFP) certificate. 

    Beberapa manfaat implementasi IoT antara lain pemeliharaan yang sehat, mengurangi beban kerja, mengurangi cost, meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, meningkatkan kualitas data dan pengambilan keputusan berdasarkan data. 

    “Adanya krisis akibat pandemi COVID-19 menyebabkan perubahan besar dalam pola hidup konsumen. Orang yang dapat membaca situasi perubahan pola tersebut dapat memanfaatkannya sebagai peluang bisnis dan dapat menggerakkan ekonomi lebih, termasuk dalam industri perunggasan” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (Himaproter) Fakultas Peternakan IPB University belum lama ini mengadakan Webinar Unggas Nasional 2020 dengan mengusung tema Menilik Dampak Pasca Pelarangan Antibiotic Growth Promotor (AGP) Terhadap Peternakan Unggas. Kegiatan ini menghadirkan salah satu Guru Besar Fakultas Peternakan, IPB University Prof Dr Niken Ulupi dan Lulusan Terbaik Program Magister IPB University 2019 yaitu Brahmadhita Pratama Mahardika, SPt, MSi.

    Dalam paparannya, Prof Niken menyampaikan materi mengenai sistem kekebalan unggas dan peran Imunomodulator sebagai pengganti Antibiotic Growth Promotor (AGP). Dijelaskan bahwa konsumsi protein hewani dari ternak unggas di Indonesia mencapai 87.94 persen, sehingga untuk menghasilkan produk olahan dari unggas yang aman untuk dikonsumsi manusia harus dilakukan manajemen ternak yang cukup baik.

    Sementara itu, Brahmadhita Pratama Mahardika menyampaikan materi mengenai dampak dan alternatif penggunaan AGP. Menurutnya, penggunaan AGP pada pakan ternak unggas akan menimbulkan beberapa masalah seperti menyisakan residu pada produk ternak yang dihasilkan.

    “Sehingga kita sebagai anak muda bangsa Indonesia harus menciptakan inovasi agar penggunaan AGP ini tidak ada lagi, tetapi dari sisi produksi tetap menguntungkan bagi peternak atapun konsumen,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar kegiatan Gerakan Fapet Sehat yang diawali dengan Jalan Pagi Sehat (Japas) dengan rute sekitar kampus IPB Darmaga. Sebanyak 86 orang warga Fapet yang terdiri dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, tenaga kebersihan serta Agrianita mengikuti kegiatan tersebut pada 25/3.

    Gerakan Fapet Sehat diinisiasi oleh Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Peternakan Dr. Sri Suharti “Acara jalan pagi sehat merupakan rangkaian gerakan fapet sehat. Selama masa pandemi aktivitas terbatas secara offline, ketika sudah mulai relaksasi kita lakukan jalan pagi sehat” jelasnya.  Selain itu, Fakultas Peternakan juga mengadakan lomba kebersihan untuk memberi penghargaan kepada para tenaga kebersihan supaya mereka lebih termotivasi lagi di dalam kinerjanya dan menjaga kebersihan di lingkungan Fakultas Peternakan.

    Dekan Fakultas Peternakan IPB University, Dr Idat Galih Permana hadir dan memberikan semangat kepada para peserta seusai mengelilingi kampus sejauh 2 kilometer. “Sudah kedua kali kita mengadakan japas, sudah lama kita tidak melakukan kegiatan bersama. Hari ini juga kita akan mengumumkan juara lomba kebersihan yang beberapa waktu lalu kita lakukan penilaian oleh ibu-ibu agrianita yang bertujuan untuk kita menciptakan kebersihan dari seluruh lingkungan kampus. Pada akhirnya yang paling penting adalah kebersamaan dan silaturahmi kita” ungkapnya. 

    Dalam kesempatan tersebut hadir pula WR 4 IPB Prof. Erika B. Laconi. “Silaturahim ini harus tetap terjaga, karena dengan tugas yang banyak, kita harus sehat. Oleh sebab itu jalan pagi ini kalau bisa dirutinkan saja sebulan sekali, karena dengan keluar mungkin virus tidak akan ikut kita. Semakin banyak kita di rumah semakin banyak penyakit yang ada di kita. Saran saya semuanya mari kita mulai masuk ke kampus” ujarnya. Beliau juga berpesan agar  semua dosen dan tendik bekerjasama membantu fakultas peternakan untuk berkembang dan maju karena kita adalah Godfathernya untuk di peternakan.

    Acara ini juga menghadirkan tausiyah Ramadhan oleh Prof. Anuraga Jayanegara. Dalam tausiyahnya beliau menyampaikan perihal kewajiban berpuasa. “Ternyata puasa itu lintas syariat, lintas umat, tujuannya agar kita semua menjadi orang yang bertakwa” jelasnya setelah mengutip surat Al Baqarah ayat 183. Prof. Anuraga juga dengan mengurai mengenai ketakwaan baik secara vertikal, horizontal maupun berkaitan dengan lingkungan/alam semesta serta menjelaskan mengenai tingkatan ibadah puasa, apa-apa saja yang dilakukan selama bulan ramadhan serta  kaitan sejarah dan kejadian yang terjadi pada bulan ramadhan. (Femmy).

  • Dalam rangka meningkatkan kesehatan dan kebugaran, sebanyak 75 orang civitas akademika Fakultas Peternakan IPB yang terdiri dari pimpinan, dosen tenaga kependidikan, tenaga kebersihan serta Agrianita di lingkungan Fakultas Peternakan IPB, mengikuti Gerakan FAPET Sehat berupa Jalan Pagi Sehat (Japas) yang dilaksanakan pada Jumat (14/1) pagi.

    Dekan Fakultas Peternakan IPB Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr hadir dan memberikan semangat kepada para peserta Japas serta menjelaskan maksud dan tujuan diadakannya acara tersebut.  “Karena kita akan melaksanakan pembelajaran tatap muka, SDM di Fapet punya stamina yang bagus, maka dilakukanlah kegiatan ini” ungkapnya.

    Rute Japas diawali di titik kumpul parkiran Fapet IPB, para peserta berjalan menyusuri rute jogging track melintasi Fakultas Kedokteran Hewan lalu berbelok menuju laboratorium lapangan dari Blok A sampai ke blok C dan kembali lagi berakhir di D-Ranch Kebun Agrianita Fapet IPB. Para peserta beristirahat dan menikmati hidangan yang tersedia setelah menempuh kurang lebih 4 Km berjalan kaki.

    Salah satu tendik yang hadir yaitu Eka Koswara mengaku sangat antusias mengikuti acara ini “Saya harap kegiatan ini dapat berlanjut demi kesehatan dan kebersamaan dan juga untuk meningkatkan imun di saat pandemi dan juga untuk eksistensi dari Fapet” jelas tendik yang juga sebagai Pengelola Laboratorium Lapangan Terpadu Fapet IPB. (Femmy/Sri Suharti)

  • Pembukaan Gerakan Protein Sehat (GPS) 2017 telah dilakukan di Yayasan RA dan MI Yapemas di Desa Situ Udik, Cibungbulang, Bogor pada hari Minggu,  7 Mei 2017. Acara pembukaan  diawali dengan pembukaan dari panitia GPS 2017, sambutan dari Dekan Fakultas Peternakan yang diwakili oleh Iyep Komala, S.Pt., M.Si., sambutan dari Bpk.Agus Thoriqin selaku ketua RW, dan sambutan dari Sekretaris Desa Situ Udik.

    Acara kemudian dilanjutkan dengan senam bersama yang diikuti oleh Warga Desa Situ Udik, siswa yayasan Yapemas, panitia GPS 2017. Lalu dilanjutkan dengan pembagian susu dan telur gratis untuk seluruh warga Desa Situ Udik dan siswa Yayasan Yapemas. Rangkaian acara selanjutnya adalah lomba mewarnai untuk siswa RA, menggambar untuk siswa MI Yapemas kelas 1,2 dan 3, menonton film untuk siswa kelas 4,5, dan 6, dan demo membuat kerupuk susu untuk para warga desa. Acara ditutup dengan pengumuman pemenang lomba dan pemberian hadiah kepada pemenang.

    Gerakan Protein Sehat adalah mega program kerja dari fakultas peternakan yang melibatkan 3 organisasi kemahasiswaan di  FAPET IPB, yaitu BEM, HIMAPROTER, dan HIMASITER. Kegiatan ini merupakan yang pertama di Fakultas Peternakan. Dengan adanya gerakan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya protein sehat bagi tubuh manusia.

  •  

    Gerakan Protein Sehat, Ormawa Fapet IPB University Ajak Masyarakat Rutin Konsumsi Susu dan TelurDalam rangka meningkatkan konsumsi susu dan telur di Indonesia, organisasi mahasiswa (Ormawa) se-Fakultas Peternakan IPB University bersama Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (Ismapeti) dan Dedikasi Kita mengadakan kegiatan Gerakan Protein Sehat di Desa Sinarsari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor (4/11).

    Ormawa Fapet IPB University tersebut meliputi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Produksi Peternakan (Himaproter) serta Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter). Kurang lebih 40 kilogram telur, sumbangan dari alumni Fapet IPB University dan 6 karton susu dibagikan secara gratis.

    “Kami telah melaksanakan kegiatan sosialisasi terkait pentingnya konsumsi susu dan telur ini kepada mahasiswa, anak-anak dan masyarakat Desa Sinarsari. Pada akhir Oktober lalu, kami menyosialisasikan serta membagikan susu dan telur kepada mahasiswa IPB University di event Agrisymphony 2023 di pelataran koin IPB University,” ungkap Dodi selaku koordinator kegiatan.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi susu di Indonesia per kapita pada 2021 mencapai 16,27 kilogram per tahun. Jumlah ini tergolong rendah jika merujuk pada standar Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO). FAO menetapkan batas rendah konsumsi susu sebesar 30 kilogram per kapita per tahun.

    Adapun data United Nation Development Program (UNDP), Indonesia menempati peringkat 114 berdasarkan Indeks Pembangunan Asean (HDI Rank) tahun 2021. Peringkat ini jauh di bawah negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapura (peringkat 12), Brunei (peringkat 51), Malaysia (peringkat 62) dan Thailand (peringkat 66).

    “Di samping itu, studi menunjukkan konsumsi protein hewani yang rendah pada anak usia prasekolah dapat mengakibatkan mereka berbakat normal menjadi subnormal atau bahkan defisien. Oleh karena itu, perlu adanya upaya peningkatan konsumsi protein hewani sebagai program pencerdasan masyarakat Indonesia,” tambah Dodi.

    Kegiatan serupa juga dilaksanakan bersama ibu dan anak di Desa Sinarsari. Acim selaku Kepala Seksi (Kasi) Pemerintah Desa Sinarsari menyampaikan, “Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini. Semoga kegiatan seperti ini rutin dilakukan oleh mahasiswa untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar dapat menerapkan gaya hidup sehat (ipb.ac.id)

  • Prof. Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Sc.Agr, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, berhasil meraih Indolivestock Innovation Awards 2026 pada kategori Inovasi Pangan Berbasis Peternakan. Penghargaan tersebut diberikan atas pengembangan Green Concentrate Indigofera (GCI), sebuah inovasi pakan berbasis sumber protein lokal yang berperan dalam mendukung kemandirian pakan dan ketahanan pangan nasional. Ajang penghargaan ini diikuti oleh sekitar 40 inovator dari 21 perguruan tinggi dan 11 lembaga filantropi di Indonesia, sehingga menjadi wadah apresiasi bagi berbagai inovasi yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sektor peternakan dan pangan.

    Prof. Luki Abdullah merupakan Guru Besar di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB, yang dikenal luas sebagai pelopor pengembangan tanaman pakan Indigofera di Indonesia. Selama lebih dari dua dekade, beliau aktif melakukan penelitian mengenai sumber protein hijauan tropis, pengembangan konsentrat hijau, serta inovasi pakan berbasis sumber daya lokal. GCI yang dikembangkannya telah memperoleh perlindungan paten sejak tahun 2019 dan menjadi fondasi bagi berbagai inovasi hilirisasi pakan ternak yang ramah lingkungan dan berdaya saing tinggi.

  • Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keanekaragaman hayati, salah satunya tanaman herbal. Tanaman herbal yang memiliki kegunaan dan nilai lebih, sering digunakan sebagai pengobatan alternatif. Namun, saat ini masyarakat Indonesia semakin kurang mengenal manfaat dan khasiat dari tanaman herbal. Guna mengatasi permasalahan tersebut, lima mahasiswa IPB University membuat sebuah green souvenir berupa benih tanaman herbal dengan tujuan untuk meningkatkan kembali eksistensi dari tanaman tersebut.

    Lima mahasiswa tersebut adalah Deo Prastyo, Tri Widya Putri, Ainur Rahmah, Yoga Dwi Syahputra, dan Muhammad Surya Fadhlurrohman. Produk green souvenir berupa bola-bola benih tanaman herbal yang dibuat oleh tim tersebut digagaskan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) dengan judul “SEBAP (Seed Bombs Herbal Plants): Inovasi Green Souvenir Berbasis Benih Praktis dalam Meningkatkan Eksistensi Tanaman Herbal Nusantara”. PKM-K tersebut di bawah bimbingan dosen IPB University yakni Muhammad Baihaqi, S.Pt, M.Sc.

    “Ide ini bermula dari banyaknya permasalahan lahan tandus di luar negeri dan masyarakatnya mulai menghijaukan lahan dengan membuat bola benih tanaman. Bola benih tersebut bertujuan menjaga benih agar tidak rusak atau dimakan serangga. Oleh karena itu, kami mencoba membuat bola benih tanaman berisi benih tanaman herbal untuk mengenalkan kembali tanaman herbal pada masyarakat Indonesia,” tutur Deo selaku ketua tim SEBAP ini.

    Green souvenir yang dirancang oleh Tim SEBAP ini terdiri atas beberapa jenis tanaman herbal, seperti akar kucing, kemangi wulung, mahkota dewa, sawi, okra, cabe jawa, dan sambiloto. Sasaran pembuatan green souvenir ini adalah orang tua yang memiliki anak usia 7-15 tahun serta mahasiswa. Hal tersebut ditujukan agar edukasi terkait khasiat dan manfaat tanaman herbal masyarakat Indonesia semakin meningkat.

    “Produk ini kami bandrol sebesar Rp 6 ribu - Rp 12 ribu tergantung jenis benih tanaman herbal dan kemasannya. Kami menyediakan dua kemasan, yakni gelas kaca kecil dan kain perca. Sejauh ini, kami sudah menjual produk ini di media sosial seperti line, whatsapp, dan instagram kami di @obombs.store,” tambah Deo.

    Konsumen yang membeli green souvenir tanaman herbal tersebut dapat melakukan perawatan selanjutnya. Dimulai dengan penyiraman rutin dua kali sehari hingga benih tanaman mengalami pertumbuhan. Berikutnya, benih tersebut bisa dipindahkan ke lahan dan dirawat hingga tanaman herbal siap dipanen. 

    “Harapan kami dengan adanya produk green souvenir ini dapat menginspirasi masyarakat luas untuk turut mengembangkan dan menginovasi produk semacam ini, serta dapat mendukung gerakan back to nature,” tutup Deo (ipb.ac.id)

  • Sekitar 50 Persen penyumbang protein dalam pakan unggas berasal dari bungkil kedelai yang masih bergantung pada impor. Perlu dicari bahan potensial pengganti protein bungkil kedelai. Tiga mahasiswa IPB University, Program Studi Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan yaitu Muhammad Agung Dwi Putra, Rina Sri Wulandari dan Ani Damayanti mencoba membuat ransum untuk unggas menggunakan sumber protein hijauan. 

    Kelompok Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian (PKM-PE) 2019 yang mendapat pendanaan dari Kemenristekdikti ini memanfaatkan indigofera sebagai sumber protein dalam pakan unggas. Agung selaku ketua menjelaskan bawa ada empat kriteria bahan dapat dijadikan bahan baku pakan yaitu ketersediaan, zat anti nutrisi, harga dan kemudahan pengolahan. "Kita temukan bahan baku potensial yaitu indigofera. Indigofera memenuhi keempat kriteria tersebut. Selain kadar proteinnya yang tinggi, tanaman ini sudah banyak dibudidayakan, kadar antinutrisi indigofera sangat kecil dibandingkan hijauan lain, harganya sekitar Rp 4 ribu per kilogram dan pengolahannya cukup dikeringkan. Karena itu indigofera dipilih sebagai pensubstitusi protein bungkil kedelai,” ujarnya.

    Namun pada indigofera terdapat kendala yaitu tingginya serat yang membuat sulit dicerna oleh unggas. Hal ini menjadi tantangan bagi tim yang dibimbing oleh Dr Ir Muhammad Ridla ini. Untuk mengatasi ini Agung dan tim menambahkan beberapa enzim dalam ransum untuk meningkatkan kecernaan pakannya. "Untuk meningkatkan kecernaan kita coba tambahkan tiga macam enzim pada ransum ini.  Enzimnya yaitu protease, phytase dan Non Starch Polysaccharide (NSP).  Setelah diuji coba ditemukan bahwa kecernaan ransum bungkil kedelai masih terbaik. Pada ransum berbasis indigofera tanpa penambahan enzim kecernaannya sedikit turun. Namun setelah diberikan enzim ternyata mampu meningkatkan kecernaan ransum berbasis indigofera. "Ketiga enzim ini meningkatkan kecernaan dengan nilai yang berbeda karena keefektifan tiga enzim tersebut juga berbeda. Dari ketiga enzim, NSP yang paling efektif diberikan pada ransum berbasis indigofera berdasarkan nilai kecernaannya,” tuturnya.

    Enzim yang diberikan dalam bentuk serbuk dicampurkan ke dalam ransum ayam. Umumnya bahan ransum yang tinggi serat membuat unggas makan sedikit, cepat kenyang namun kebutuhan nutrisi belum tercukupi. "Dengan adanya enzim ini ternyata mampu meningkatkan konsumsi ransum. Selain itu enzim mampu mempertahankan zat makanan dalam tubuh untuk dicerna sehingga tidak ikut terbuang menjadi kotoran,” jelasnya. Tim peneliti ini menyimpulkan bahwa indigofera dapat mensubstitusi protein dari bungkil kedelai sehingga mampu menurunkan jumlah pemakaian bungkil kedelai pada ransum. "Namun saran dari kami untuk tetap menggunakan enzim untuk meningkatkan kecernaannya, karena penggunaan enzim mampu meningkatkan efisiensi penggunaan nutrien,” tandasnya (ipb.ac.id)