Alumni Alumni News

  • Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang menjadi favorit keluarga Indonesia. Mayoritas keluarga di Indonesia akan menyimpan telur di dapur sebagai cadangan makanan. Hal tersebut karena selain harganya yang relatif murah, telur juga merupakan bahan makanan yang mudah diolah menjadi berbagai macam hidangan.

    Sebagai upaya menjaga nilai gizi telur, perlu memastikan telur yang dimasak merupakan telur yang masih berkualitas baik. Oleh karena itu, Dr Zakiah Wulandari, Dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan IPB University, membagikan tips untuk menentukan kualitas telur sebelum diolah.

    Telur dilapisi oleh cangkang yang melindungi bagian dalam telur dari kontaminasi lingkungan. Oleh karenanya, sangat penting memastikan cangkang telur dalam keadaan utuh tanpa adanya keretakan. Selain itu, cangkang telur yang baik akan berwarna cerah dan bertekstur halus tanpa bintik. Selain dari kondisi cangkang, kualitas telur juga dapat diuji dengan tes apung.

    “Telur yang berumur masih baru dan berkualitas baik akan tenggelam dalam air. Sedangkan telur yang berkualitas rendah akan mengapung,” ujarnya.  Dosen IPB University itu melanjutkan, telur yang tenggelam ke dasar dan terletak menyamping (horizontal), menunjukkan bahwa telur sangat segar. Apabila telur tenggelam namun berdiri di salah satu ujung (vertikal), menunjukkan adanya penurunan kualitas telur. Meskipun demikian, telur tersebut masih layak dan enak untuk dikonsumsi.

    Dr Zakiah menjelaskan bahwa telur segar akan tenggelam di dalam air karena kantung udara yang terdapat pada telur masih kecil. Telur tersebut juga belum banyak memiliki uap air dan senyawa gas lain yang menguap. Ia pun menyebut, semakin lama masa penyimpanan menyebabkan membesarnya kantung udara di dalam telur. 

    “Kantung udara semakin membesar disebabkan oleh penguapan air dan gas-gas yang ada di dalam telur seperti CO2 dan gas-gas hasil reaksi zat-zat organik seperti NH3 dan H2S,” papar Dr Zakiah lebih detail.  Semakin lama usia telur, katanya, akan semakin besar pula kantung udara yang terbentuk di dalamnya. Keberadaan kantung udara ini membuat berat telur semakin berkurang sehingga telur akan berangsur naik ke atas permukaan air dan mengapung.

    Merujuk pada test apung di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sebaiknya mengkonsumsi telur yang tenggelam ataupun mengapung di tengah. Tidak hanya itu, perlu dihindari telur yang mengapung di atas. (SWP)

  • Salah satu polemik pertambangan yang saat ini masih terjadi adalah tidak adanya pemanfaatan area bekas tambang. Padahal apabila area tersebut dimanfaatkan, dapat menjadi area bisnis baru.

    Hal ini mendorong, Himpunan Alumni Fakultas (HANTER) bersama dengan Himpunan Alumni IPB University Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kalimantan Timur mengadakan seminar pemanfaatan area bekas tambang, 10/10. Salah satu pemanfaatan bekas tambang adalah sebagai lahan peternakan.
     
    Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), Fakultas Peternakan, Prof Dr Luki Abdullah menyampaikan lahan bekas tambang dapat digunakan untuk peternakan. Dengan demikian, diharapkan mampu menjadi solusi pemulihan ekonomi daerah setempat.

    “Area bekas tambang nikel dan emas memang perlu waktu lama untuk menghilangkan residu pada hijauan pakan. Kalau bekas tambang batu bara relatif lebih aman untuk ditanam tanaman pakan,” kata Prof Luki.
     
    Meskipun demikian, masih ada karakter pembatas pada area bekas lahan untuk menanam. Karakter pembatas itu adalah pH rendah, bahan organik rendah, kapasitas tukar kation rendah, dan daya menggenang air yang eksrim. Daya menggenang air ini bisa sangat tinggi bahkan bisa tidak ada airnya.

    Degan demikian, menurutnya perlu upaya pembenahan tanah agar dapat mendekati karakteristik lahan yang sesuai untuk tanaman. Upaya pembenahan tersebut dapat dilakukan dengan inokulasi mikroba tanam, pengapuran, pemupukan anorganik tanah dan menambah bahan organik atau sumber karbon organik. Bahan organik dapat berasal dari pupuk kandang, kompos, atau asam humat.

    “Apabila area bekas tambang sudah dilakukan perbaikan tanah, ada lima spesies tanaman pakan yang dapat ditanam. Spesies tersebut yaitu, Pennisetum purpureum, Mott dwarf pennisetum (odot), Panicum maximum cv. Mombasa, dan Mulato,” tambah Prof Luki.

    Senada dengan Prof Luki, Ir Dadang Sudaryana, Anggota HA IPB University mengatakan area bekas tambang dapat dimanfaatkan untuk peternakan yang berbasis mini ranch.

    "Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kalimantan Timur telah meneliti di tiga Kabupaten pada tiga lokasi bekas tambang batubara. Berdasarkan penelitian tersebut, lahan dapat digunakan untuk budidaya peternakan khususnya ternak sapi potong,” ungkapnya (ipb.ac.id)

  • Black soldier fly (BSF) atau dikenal sebagai lalat tentara hitam memiliki manfaat yang banyak baik untuk pangan maupun sebagai pakan. Umumnya, BSF dapat ditemukan dan hidup pada limbah organik seperti limbah pertanian, limbah organik rumah tangga maupun limbah organik dari pasar.

    Dosen IPB University dari Fakultas Peternakan, Prof Dr Dewi Apri Astuti menjelaskan lalat BSF juga dapat dibudidayakan pada media limbah sawit. Limbah sawit yang dimaksud adalah bungkil sawit, pelepah sawit, serat, daun sawit (tanpa lidi), tandan kosong maupun batang sawit.

    “Limbah sawit tentunya dihancurkan terlebih dahulu supaya tidak keras bagi larva lalat BSF. Kadar protein dari limbah sawit ini berkisar antara 2-16 persen, kalau serat kasarnya bisa mencapai 48 persen,” jelas Prof Dewi dalam sebuah Online Training yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI).

    Kandungan nutrisi lalat BSF yang tinggi, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam, puyuh, kambing, ikan udang maupun dibuat sebagai bahan chitosan dan anti bakteri. Ekstrak lalat BSF juga dapat digunakan sebagai alternatif pengganti antibiotic growth promoters (AGPs) pada industri pembesaran ayam. Sementara untuk pakan puyuh, formula pakan BSF dapat meningkatkan performa produksi puyuh mencapai 62 persen.

    “Lalat BSF dapat diekstrak dalam bentuk protein murni dan minyak. Kulit pupa BSF juga dapat diekstrak menjadi chitosan,” tambah Prof Dewi.

    Ekstrak kitin maupun chitosan BSF dapat dimanfaatkan pada berbagai bidang seperti pertanian, pangan, farmasi dan medis, kosmetik, bioteknologi, tekstil, industri kertas maupun sebagai purifikasi air (ipb.ac.id)

  • Bagi sebagian orang, cacing tanah identik dengan hewan menjijikkan. Namun, faktanya tak sedikit masyarakat yang membudidayakan cacing tanah sebagai mata pencahariannya. Meskipun menjijikkan, ternyata cacing tanah memiliki nilai ekonomi dan dapat dijadikan sebagai bahan baku obat medis.

    Untuk itu, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan, Verika Armansyah Mendrofa, SPt, MSi memberikan penjelasan tentang budidaya cacing tanah sebagai pakan ternak dan pangan. Menurutnya, cacing tanah memiliki kadar protein sebesar 64-76 persen. Harga jual cacing tanah lumayan fantastis, satu kilogram cacing tanah dihargai 40 ribu sampai 120 ribu untuk di wilayah Bogor. Tidak hanya cacingnya yang bisa dijual, tetapi produk cacing seperti pupuk cair dan bekas cacing (kascing) juga dapat dijual.

    “Pupuk cair dan kascing sangat bermanfaat untuk kesuburan tanah dan tanaman. Ini merupakan peluang usaha yang menjanjikan,” kata Verika dalam Online Training yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) belum lama ini.

    Manfaat cacing tanah, lanjutnya, dapat digunakan sebagai pakan ternak, pangan manusia, obat-obatan, kosmetik, pengolah sampah, pengolah limbah industri, pupuk tanaman dan penyubur lahan pertanian. Sementara, kascing memiliki kandungan N sebesar 1.40 persen, P sebesar 4.33 persen dan K sebesar 1.20 persen. Kandungan ini lebih tinggi daripada kotoran sapi, kuda, kambing maupun kotoran babi.

    Dari sisi medis, cacing tanah mengandung enzim lumbrokinase yang berguna untuk menurunkan tekanan darah, ischemic dan stroke. Cacing tanah juga mengandung enzim peroksidase dan katalase yang berfungsi untuk mengobati penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, kolesterol maupun rematik. Tidak hanya itu, cacing tanah juga mengandung enzim ligase dan selulase yang berfungsi untuk melancarkan pencernaan serta enzim arakhidonat sebagai obat antipiretik.

    Sayangnya, manfaat cacing tanah yang banyak ini belum mampu dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia. Masyarakat di Indonesia umumnya baru memanfaatkan cacing tanah sebatas sebagai pakan ternak maupun sebagai penyubur tanah dan tanaman.

    Supaya cacing tanah memiliki kualitas dan nilai jual tinggi, Verika menjelaskan tentang teknik budidaya yang baik. Sebelum melakukan budidaya, ia menyarankan supaya lokasi budidaya berada di tempat yang teduh dan lembab. Pemilihan lokasi yang teduh dan lembab dimaksudkan supaya cacing tanah tidak kepanasan dan tidak terendam air secara berlebihan.

    “Sekalipun cacing hidup di dalam tanah, sebenarnya cacing itu tidak suka kalau banyak air apalagi sampai tanahnya tergenang air. Air ini bisa menutup lubang-lubang jalur cacing sehingga cacing tidak nyaman dengan air itu. Kalau bisa tempat budidayanya tidak menyerap air,” jelasnya.

    Untuk pakan atau media hidup, ia menjelaskan, dapat berasal dari limbah rumah tangga, rumah makan, pertanian, peternakan dan bahan organik lainnya. Media hidup cacing disarankan bukan dari bahan yang tajam, berduri, berbulu, asam, pedas, mengandung minyak maupun bahan kimia berbahaya. Sebelum diberikan, media tersebut dianjurkan untuk dicacah terlebih dahulu dan sedikit dilembabkan tetapi tidak sampai basah.

    Bibit cacing tanah dapat diperoleh dengan cara mencari di kebun atau tumpukan sampah atau kotoran ternak maupun membeli dari peternak cacing. Bibit cacing sebaiknya diperoleh dari beberapa tempat dan berbagai ukuran.

    Selama budidaya, disarankan untuk melakukan perawatan dengan cara mengaduk media dua minggu sekali agar aerasi media terjaga. Apabila media telah berubah warna menjadi hitam, media bisa dipecah dan ditambahkan dengan media baru.

    “Jangan lupa senantiasa mengecek kelembaban dan pH media. Kalau media terlalu asam, cacing banyak muncul di permukaan media dan aktif bergerak. Sementara kalau media terlalu basa, cacing akan muncul di permukaan tetapi tidak banyak bergerak, berwarna pucat dan kurus,” jelasnya.

    Kegiatan panen cacing tanah dapat dilakukan apabila media telah matang. Tanda media matang adalah warna menjadi coklat kehitaman, teksturnya gembur seperti tanah, bentuknya sudah berbeda dari media awal dan umumnya pH sekitar 7. Untuk panen media atau vermikompos, disarankan supaya media bersih dari cacing maupun kokonnya. Media tersebut selanjutnya dikeringanginkan agar kering, bila perlu media disaring. (ipb.ac.id)

  • Dalam memenuhi kebutuhan akan kalsium dan menjaga stamina tubuh, masyarakat cenderung mengkonsumsi susu sapi. Susu juga bermanfaat untuk mendorong pertumbuhan anak-anak dan remaja. Susu juga dinilai dapat melengkapi kebutuhan gizi selain buah dan sayur. Terlebih di masa pandemi ini, kebutuhan susu lebih kepada untuk menjaga stamina dan daya tahan tubuh.

    Tapi tahukah anda bahwa susu terbagi menjadi dua tipe? Meski semua susu terlihat sama secara kasat mata tetapi di dalamnya memiliki kandungan yang berbeda. Dari kandungan dan asal produksi sapi perahnya, susu pun terbagi menjadi dua yaitu susu A1 dan susu A2.

    Dosen IPB University yang merupakan Guru Besar Divisi Pemuliaan dan Genetika Ternak Departemen llmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Prof Dr Ir Ronny Rachman Noor, MRurSc berikan penjelasan tentang cara tepat dalam memilih susu sapi yang memiliki kandungan kalsium dan memiliki kandungan nilai gizi.

    Menurutnya, susu A1 dan susu A2 dihasilkan dari jenis sapi yang berbeda. Berdasarkan Swarna Kapila, susu biasa (A1) umumnya dihasilkan oleh bangsa sapi Bos Taurus sedangkan susu A2 dihasilkan oleh Bos Indicus. Susu A2 merupakan susu yang diproduksi dari sapi perah hasil seleksi secara genetik yang dilakukan oleh pakar dan pelaku peternakan untuk kepentingan kesehatan.

    “Susu A2 adalah susu premium yang dihasilkan dari sapi yang telah diseleksi secara genetik, memiliki Genotipe A2/A2 dan telah melalui uji DNA yang hanya mengandung protein beta-casein A2. Protein beta-casein A2 nya mengandung 209 asam amino yang pada urutan ke 67 nya memiliki asam amino Proline. Sedangkan susu sapi biasa pada posisi ini asam aminonya.

    Histidine. Susu superfood A2 sangat bagus untuk pencernaan karena mengurangi kembung, diare dan sembelit karena tidak mengandung peptida opinoid C-7. Susu A2 juga mengandung kalsium susu yang tinggi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Selain kandungan gizinya yang lengkap, susu A2 juga mudah diserap dan sangat bermanfaat dalam membantu menjaga kebugaran tubuh,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan (BEM Fapet) IPB University kembali menghadirkan kegiatan Diskusi Kandang dengan tema “Swasembada Daging 2026: Menjadi Nyata atau Hanya Rencana?"  Diskusi yang dilaksanakan pada (4/11) ini menghadirkan Prof Dr Muladno, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan.

    Dalam paparannya, Prof Muladno berharap kegiatan tersebut tidak hanya berakhir sebagai diskusi semata namun juga  dapat terwujud aksi nyata yang dapat memberikan kontribusi dan kritisi terhadap program-program pemerintah yang berkaitan dengan swasembada daging.  Ia juga mengatakan pemerintah harus mencermati landasan hukum yang dipakai dalam mencapai swasembada daging.

    Menurutnya, selama ini Indonesia telah mengimpor daging hingga ratusan ribu ton, namun kebutuhan masyarakat masih belum terpenuhi. Sementara, posisi Indonesia saat ini masih jauh dari angan-angan swasembada daging yang ditargetkan terwujud di tahun 2026. Prof Muladno juga menjelaskan, sejak kemerdekaan hingga saat ini, rasio jumlah sapi terhadap jumlah penduduk hanya meningkat 1,05 persen.

    Dengan angka tersebut, ia mengatakan bahwa mustahil apabila Indonesia ingin mencapai swasembada daging di tahun 2026. Lebih lanjut ia menandaskan, swasembada daging yang dikelola oleh peternak lokal di jaman kemerdekaan dinilai lebih baik meskipun tanpa ada campur tangan pemerintah.

    “Kini, peternak lokal sering tidak diperhatikan bahkan di saat kebutuhan pasokan daging meningkat. Pemerintah menggeser potensi perkembangan bisnis daging sapi kepada pihak luar dengan jalan impor sapi dari Australia, bukan pada peternak lokal,” kata Prof Muladno. Ia menilai, pemerintah harus mulai berorientasi pada bisnis dengan penggunaan regulasi yang kondusif sehingga peternak lokal akan merasa nyaman.

    Sementara, Kepala Sub Direktorat Standarisasi Mutu Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI, M Imron turut menanggapi pernyataan Prof Muladno. “Sangat sulit bagi pemerintah untuk menyusun regulasi dari hulu ke hilir yang dapat memuaskan tiap stakeholder. Namun begitu, impian swasembada daging 2026 tetap akan didorong melalui kebijakan pengembangan sapi potong,” katanya.

    Ia menegaskan, dengan grand design pengembangan sapi 2026, pemerintah menargetkan populasi sapi di Indonesia akan mencapai angka 33 juta. Percepatan peningkatan rasio populasi sapi juga didorong dengan program kinerja Sikomandan yang baru-baru ini diluncurkan.

    Selain itu, intervensi terbaru berupa program 1000 Desa Sapi 2020 melalui pemberian indukan dan pengadaan sapi juga dilakukan untuk pengelolaan peternakan yang lebih komersial. Namun demikian, pendekatan kooperatif dengan orientasi keuntungan tersebut belum sempat diketuk palu oleh DPR.  

    Ia juga mengatakan, perlu dukungan rakyat terutama kaum milenial. "Kaum milenial diharapkan mampu membungkus peternakan yang selama ini dikelola secara sederhana di level rakyat yang hanya 2-3 ekor, dengan bungkus-bungkus teknologi yang baru, dengan pemikiran yang sekarang mungkin bisa lebih menarik dan menguntungkan,” jelasnya.

    Di sisi lain, Teguh Boediyana, Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSI) menegaskan bahwa swasembada daging 2026 sulit untuk diwujudkan. Menurutnya, roadmap yang dibentuk oleh pemerintah tidak masuk akal dan masih berdasarkan pada asumsi dan data-data yang tidak akurat.

    “Program swasembada daging  sapi sejak tahun 2005 hingga saat ini tidak memberikan hasil yang diinginkan. Di tahun 2026, walaupun Indonesia berencana mengimpor indukan hingga  2 juta ekor sapi, dinilai tetap tidak akan mencapai swasembada daging. Pembuatan roadmad seharusnya berangkat dari data populasi dan produksi sapi yang faktual bukan data yang menjerumuskan,” sebutnya (ipb.ac.id)

  •  

    Prof Nahrowi, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University tetap dampingi Pesantren Darul Falah, Bogor meski ada kebijakan PPKM Darurat. Pendampingan berupa pelatihan dan pabrikasi bahan pakan dilakukan secara daring.
    “Keputusan ini diambil berdasarkan Surat Keputusan Rektor yang menghimbau kepada seluruh warga IPB University untuk tetap di rumah dan menunda seluruh kegiatan akademik yang dilaksanakan secara langsung,” ujar Prof Nahrowi.

    Dalam pelatihan ini Prof Nahrowi dan tim dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB University memberikan materi pengenalan dan uji cepat bahan pakan serta materi tentang penyediaan dan pengawetan bahan pakan.

    “Terlepas dari program yang kami jalankan secara online, kami harapkan ilmu ini bisa terus diterapkan dan diturunkan pada setiap generasi di yayasan ini. Sehingga ilmu yang diberikan tidak hanya bermanfaat bagi dunia namun juga dapat memberikan manfaat di akhirat nanti. Saya berharap program ini dapat terus berlanjut hingga agenda akhir. Selain itu, ilmu yang diberikan dapat dirasakan dampaknya oleh masyarakat di lingkungan Yayasan Pesantren Darul Falah. Khususnya pada para santri sehingga dapat memberikan manfaat di dunia atau diakhirat,” ucap Pakar Nutrisi Pakan Ternak IPB University ini.

    Dekan Fakultas Peternakan IPB University, Dr Idat Galih Permana dalam sambutannya mengatakan bahwa pelaksanaan program ini menjadi bagian penting dari keberlanjutan kerjasama yang dilakukan oleh Fakultas Peternakan dengan Pondok Pesantren Darul Falah. “Ke depan pembinaannya adalah menjalankan produksi peternakan serta cara mengolah hasilnya sehingga dapat dijual,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Yayasan Pesantren Darul Falah, H Abdul Hanan mewakili yayasan mengucapkan terimakasih dan mendukung bentuk kerjasama ini. “Terima kasih kepada IPB University yang telah mendidik dan mengajari kami dalam mengelola hasil ternak kami,” ujar H Abdul Hanan

  • Dalam rangka Stasiun Lapang Agrokreatif (SLAK) program Dosen Mengabdi  tahun 2019, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University mengirimkan dua dosen ke Desa Sinarsari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, (22/11). Program Dosen Mengabdi merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi dosen non Guru Besar dan Dosen Guru Besar. Salah satu tujuan dosen mengabdi adalah mendorong dan memfasilitasi dosen dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

    Sosialisasi dilaksanakan di Kantor Desa Sinarsari dengan dua narasumber yaitu Dr Sri Murtini  dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University dan Dr Sri Darwati dari Fakultas Peternakan (Fapet). Sosialisasi dihadiri sebanyak 40 peserta dari Desa Sinarsari dan sekitarnya. Peserta yang hadir merupakan tokoh masyarakat, peternak ayam kampung, anggota masyarakat, dan masyarakat umum.

    Dr Sri Murtini menyampaikan tentang pencegahan zoonosis untuk mewujudkan keluarga sehat melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). “Perilaku hidup bersih dan sehat adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan,” tuturnya.

    Salah satu jenis zoonosis yang disampaikan adalah penularan cacing dari hewan ke manusia. Penularan cacing dari hewan ke manusia dapat secara langsung tidak sengaja seperti tertelan telurnya dan melalui media makanan seperti sayuran yang terkontaminasi telur atau larva cacing.

  • Kegiatan Dosen Mengabdi IPB University kembali hadir menyapa masyarakat. Kali ini, para peternak dan pecinta kelinci dari berbagai wilayah Bogor dan sekitarnya mendapatkan ilmu mengenai budidaya kelinci dari dua orang narasumber yang berasal dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB University. Acara yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan bertemakan  "ASUH Kelinci Kita" ini digelar di Ruang Sidang Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3), Kampus Baranangsiang, Bogor (14/12).

    Kegiatan bimbingan teknis (bimtek) ini dihadiri oleh 30 peserta yang mayoritas merupakan para peternak kelinci. Hadir sebagai salah satu narasumber, Dr Ir Henny Nuraini, MSi membawakan materi tentang "Sertifikasi Halal pada Industri Peternakan Kelinci" dan "Teknik Pemotongan yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal)".

    Dr Henny memaparkan bahwa daging kelinci memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan daging dari jenis ternak lain. Daging kelinci memiliki kadar protein lebih tinggi, memiliki kadar lemak, kolesterol dan garam lebih rendah serta mengandung senyawa kitotefin yang disinyalir merupakan obat dari penyakit asma. Namun masyarakat di Indonesia belum begitu awam dengan jenis daging yang satu ini. Salah satu penyebab kurang minatnya masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi daging kelinci adalah terkait dengan status kehalalan dagingnya.

    Pada bimtek ini, para peserta diedukasi mengenai standar penentuan kehalalan suatu makanan, khususnya daging. Selain mengedukasi bagaimana teknik pemotongan kelinci yang benar, konsep ASUH ini sendiri merupakan suatu standar kualitas daging kelinci nantinya.  “Penerapan standar Aman, Sehat, Utuh, dan Halal ini akan semakin membuat masyarakat lebih yakin untuk mengkonsumsi daging kelinci karena kualitasnya akan lebih terjamin,” ujarnya.

    Sementara itu, Dr Ir Komariah, MSi menyampaikan materi terkait "Teknologi Pengawetan dan Penyamakan Kulit". Menurutnya selama ini para peternak kelinci memang lebih memfokuskan untuk menghasilkan produk berupa daging  beserta olahannya. Padahal, kulit dari kelinci pun akan memiliki nilai tambah yang menarik jika dikelola secara tepat. Selain dijadikan bahan dasar pada Industri pembuatan tas, sepatu, ataupun jaket, kulit kelinci yang sedikit baret tampilannya tetap dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi kerupuk kulit atau krecek untuk dikonsumsi. Hal ini pun termasuk ke dalam upaya pengurangan limbah hasil produksi.

    Kegiatan ini pun turut menjadi wadah penyampaian aspirasi para penggiat usaha kelinci terhadap pemerintah. Turut hadir sebagai salah satu partisipan, drh Patriantariksina Randusari, MSi yang berasal dari Dinas Pertanian Kota Bogor. Menurutnya kegiatan seperti ini dapat dijadikan agenda rutin. Dengan adanya kegiatan seperti ini, industri kelinci akan semakin dikenal di kalangan masyarakat luas dan pemerintah.

    “Saya menghimbau agar wacana-wacana bagus yang hadir di sini dapat ditindaklanjuti, khususnya untuk rumah potong kelinci. Semoga peternakan kelinci di Indonesia akan terus berkembang dan maju menjadi sebuah industri yang besar, layaknya industri dari berbagai ternak seperti ayam dan sapi. Dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak agar usaha peternakan kelinci dapat menjadi industri besar,” ujarnya.

    Sementara itu, Ahmad Syahril, salah satu peserta yang berasal dari komunitas Bogor Rabbit Center mengatakan bahwa tanpa adanya dukungan dari pemerintah, peternak seperti mereka akan sulit sekali maju.(ipb.ac.id)

  • Program Dosen Pulang Kampung IPB University tahun 2025 hadir membawa dampak positif bagi masyarakat desa. Kali ini, kegiatan berlangsung di Desa Cijeruk, Kabupaten Bogor, dengan fokus pada pelatihan budidaya dan pengolahan tanaman kelor (Moringa oleifera). 

    Kegiatan ini diinisiasi oleh Dr. Ir. Heri Ahmad Sukria, M.Sc,.Agr, dosen dari Departemen Nutrisi dan Teknologi pakan IPB University, yang juga merupakan warga asli daerah Desa Tamansari Ciapus Kab. Bogor, mengajak warga untuk memanfaatkan potensi tanaman kelor yang kaya manfaat.

    Tanaman kelor yang juga dikenal sebagai "pohon ajaib" karena kandungan gizinya yang luar biasa. Daunnya kaya akan vitamin A, C, dan E, serta kalsium, zat besi, dan antioksidan alami. Namun, dibalik manfaat kesehatannya, kelor juga memiliki potensi ekonomi besar, karena selain untuk konsumsi pribadi, produk olahan dari kelor seperti teh daun kelor, kapsul herbal, bubuk daun kelor, hingga sabun kelor memiliki nilai jual tinggi di pasar lokal maupun nasional, bahkan diekspor ke luar negeri dengan harga yang kompetitif.

    Dalam sambutannya, Dr. Ir. Heri Ahmad Sukria, M.Sc.Agr menyampaikan, “Program Pengabdian Pada Masyarakat ini merupakan bentuk komitmen IPB University  dalam membantu masyarakat dalam penerapan inovasi hasil penelitian untuk meningkatkan pendapatan melalui budidaya dan pengolahan daun kelor sebagai suplemen pakan. Pada program ini para petani dilatih dan diberikan bibit tanaman kelor untuk dibudidaya sehingga dapat menyediakan daun kelor sebagai salah satu sumber bahan pakan dan menjadi peluang usaha serta tambahan pendapatan petani.”

    Pelatihan berlangsung selama dua hari dan dibagi dalam dua sesi utama. Sesi pertama menghadirkan materi tentang potensi dan manfaat kelor yang disampaikan langsung oleh Dr. Ir. Heri Ahmad Sukria. Selanjutnya, Dr. Ir. Asep Tata Permana, M.Sc., memberikan penjelasan teknis mengenai budidaya kelor yang baik dan efisien di lahan pekarangan maupun lahan terbuka, termasuk teknik pemilihan bibit unggul, penanaman, pemupukan, dan pengendalian hama secara alami. Materi lainnya juga mencakup dinamika komunikasi kelompok, untuk membentuk jaringan kolaborasi antar warga dalam pengembangan budidaya kelor secara berkelanjutan oleh Dr. Nandang Mulyasantosa, M.M., M.Si.

    Sesi kedua difokuskan pada praktik lapangan, di mana peserta diajak langsung menanam kelor, mulai dari proses penyemaian benih, penanaman, hingga teknik perawatan agar kelor tumbuh optimal dan berkualitas tinggi. Antusiasme warga sangat tinggi terlihat dari partisipasi aktif selama pelatihan berlangsung.

    Salah satu peserta, Pak Engkus, menyampaikan, “Dengan adanya pelatihan ini saya menjadi tahu bagaimana menanam kelor yang baik. Harapan saya selain bisa membudidayakan tanaman kelor juga bisa menjualkan hasil panen kelor sehingga bisa menjadi sumber pendapatan.”

    Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi langkah awal pemberdayaan masyarakat berbasis tanaman kelor. Dengan peningkatan kapasitas petani dalam budidaya dan pengolahan kelor di Desa Cijeruk.

  • Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr Afton Atabany menjadi salah satu narasumber pada Forum Dialog Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), (29/3). Dalam kegiatan yang mengangkat tema “Mahalnya Harga Daging Sapi dan Kerbau, Apa Solusinya?” tersebut, Dr Afton memberikan pandangan terhadap fenomena kenaikan harga daging sapi dan kerbau.  Dalam paparannya, Dr Afton memberikan skenario solusi jangka pendek dan panjang untuk menjadi masukan bagi keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

    “Skenario untuk jangka pendek ialah pertama sapi reconditioning (penambahan biaya), maksudnya datang sapi dan dipelihara untuk pemulihan maka menambah biaya, kedua mengurangi penyusutan daging dalam transportasi (penyusutan bisa mencapai 30 persen) dan lakukan penggemukan di daerah sumber ternak. Terakhir tidak ada transportasi ternak hidup, jadi sapi atau ternak yang dikirim ke kota/konsumen sudah dalam bentuk daging beku. Jadi di sini diperlukan edukasi kepada konsumen khususnya ibu rumah tangga, bahwa daging beku itu sehat,” tuturnya.

    Solusi jangka panjang adalah “Breeding is Leading”. Menurutnya, jika Indonesia tidak mempersiapkan industri pembiakan sapi potong, maka akan selamanya tergantung pasokan daging dari luar negeri. Kekuatan breeding tidak hanya akan memperkokoh industri peternakan tetapi juga memperkuat sektor lainnya.

    Menurutnya, program yang bisa dilakukan dalam breeding  di antaranya agribisnis (pola kemitraan), sistem produksi (teknologi terapan yang proven), pasar (kerjasama supplier), cross breed Sapi Bali atau lokal dengan Sapi Angus, Limmosin dan Simmental, penyediaan pakan (integrasi), dan pasar (kerjasama supplier).

    “Solusi yang dapat dilakukan saat ini, jangka pendek dan jangka panjang, yang pertama menghadapi Idul Fitri, melakukan impor daging beku dari luar negeri atau dalam negeri. Kedua melibatkan pengusaha, koperasi dan asosiasi. Ketiga melakukan breeding sapi lokal atau sapi silangan dengan pola intensifikasi dan ekstensifikasi terintegrasi dengan perkebunan, kehutanan dan pertanian,” lanjutnya.

    Menurutnya Indonesia bisa mencapai swasembada daging pada tahun 2026 jika ada kenaikan (produksi) empat persen per-tahun, dengan populasi sapi sebanyak 37 juta ekor. Hal ini harus diimbangi dengan peningkatan jumlah peternak di Indonesia, salah satu caranya dengan memfasilitasi lulusan peternakan untuk memelihara 100 ekor, juga diberi insentif dan lainnya. Selain itu kelahiran ternak harus mencapai 70 persen dan kematian induk sekitar 30 persen.

    Selain Dr afton, kegiatan ini juga menghadirkan Luluk Nur Hamidah selaku Anggota Komisi IV DPR RI, Joni Liano dari Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (GAPUSPINDO), Harry Warganegara selaku Direktur Utama PT. Berdikari (persero), Ishana Mahes selaku Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA) dan Ir Ahmad Hadi selaku Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ipb.ac.id)

  • Pemanasan global membuat suhu bumi semakin meningkat. Kondisi ini  menyebabkan penurunan produktivitas dari sektor pertanian dan peternakan. Jika terus dibiarkan, pemanasan global akan mengancam food security. Namun di sisi lain, sektor peternakan juga ikut menyumbang dalam proses pemanasn global. “Emisi gas rumah kaca sektor pertanian menyumbang 24 persen dari total gas rumah kaca. Sementara itu Gas Metana dari peternakan saja sudah menyumbang sebanyak 16 persen. Peternakan penyumbang nomor dua emisi gas rumah kaca. Akumulasi gas metan terus meningkat secara drastis,” ungkap Dr Anuraga Jayanegara dalam Webinar Potensi Green Bisnis dalam Dunia Peternakan yang diselanggarakan oleh Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka (10/4).

    Dr Anuraga merupakan Pakar Teknologi Pakan Ternak sekaligus Ketua Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University. Menurutnya isu peternakan yang paling utama adalah produktivitas pangan yang memadai. Kedua adalah kualitas dari produk peternakan. Bukan hanya mencukupi secara kualitas tapi kuantitas.

    “Ketiga adalah isu lingkungan yang berkaitan dengan emisi metan. Isu lingkungan ini yang banyak dibicarakan dan perlu dicari solusinya. Selain menyebabkan global warming, gas metan ini menyebabkan ternak kehilangan energi sebanyak empat sampai 16 persen. Jika proses ini bisa dikurangi maka produktivitas ternak bisa ditingkatkan,” ujarnya.

    Menurutnya, ada tiga tahap penting yang bisa mengurangi produksi gas metana di bidang peternakan. Yakni menurunkan produksi hidrogen. Lalu dicari alternatif pengganti hidrogen. Dan yang terakhir adalah menghambat metanogen sebagai mikroba yang memproduksi gas metana.

    “Mitigasi emisi ini pertama adalah menggunakan zat adaptif alami yaitu polifenol. Zat ini berfungsi sebagai anti mirkoba yang menghambat metanogen. Kami sudah melakukan penelitian dari tahun 2008 hingga sekarang terkait hal ini. Hasilnya adalah gas metan akan berkurang saat pakan dicampurkan dengan polifenol,” ungkap Dr Anuraga.

    Ia menjelaskan bahwa penambahan zat polifenol memberikan efek yang sinergitis. Saat gas metan turun ternyata akan menambah nilai ternak, baik secara kualitas dan kuantitas. Keuntungan pertama adalah berat badan naik sekitar 0,35 kilogram (kg) per ekor per hari. Penggunaan zat polifenol juga menambah keuntungan peternak sebanyak 500 rupiah per kilogram pakan.

    Ekstrak polifenol menambah kualitas produk peternakan. Pengurangan gas metan dapat mengurangi asam lemak jenuh yang berbahaya bagi kesehatan. Daging ternak akan lebih banyak mengandung lemak tidak jenuh yang bagus untuk kesehatan. Kualitas daging yang dihasilkan peternak akan semakin baik dengan inovasi ini.

    Produk inovasi untuk membuat ekstrak polifenol ini tidak sulit untuk diproduksi. Salah satunya  adalah dengan memanfaatkan limbah pengolahan kulit kayu. Limbah ini mengandung polifenol yang tinggi, salah satu yang paling bagus adalah kayu akasia.

    Kayu ini diekstrak dari dari potongan limbah kayu. Caranya dengan direbus dalam suhu tinggi dan diambil airnya. Selanjutnya ditepungkan dan diekstrak sampai siap digunakan  dalam bentuk cair.

    “Kami juga terus berupaya agar inovasi ini bisa sampai di masyarakat. Salah satunya adalah melakukan diseminasi inovasi bekerja sama dengan bebera lembaga industri peternakan. Selain itu kami juga mengikuti kegiatan expo pengenalan inovasi–inovasi teknologi peternakan. Perlu upaya upaya kolaboratif agar inovasi ini bisa terus dikembangkan dan bisa dimplementasikan di masyarakat (ipb.ac.id)

  • Belakangan ini sebagian masyarakat mengalami panic buying terhadap susu merek tertentu. Masyarakat berspekulasi bahwa susu dapat menjadi penangkal bahkan obat bagi virus COVID-19.

    Menanggapi fenomena ini, Dr Epi Taufik, dosen IPB University menegaskan bahwa susu bukan obat maupun vaksin. Menurutnya, susu merupakan bahan pangan seperti lainnya yang memiliki sumber nutrisi bagi tubuh. Sumber nutrisi ini bermanfaat dalam menjaga proses metabolisme, meningkatkan imunitas tubuh dan mencegah inflamasi.

    “Oleh karena itu, konsumsi susu dapat membantu menjaga kondisi fisiologis tubuh dan meningkatkan imunitas tubuh untuk mencegah infeksi COVID-19,” ujar Dr Epi Taufik, Koordinator Mata Kuliah Inovasi dan Teknologi Susu, Fakultas Peternakan, IPB University.

    Terkait panic buying terhadap susu dengan merek tertentu, Dr Epi mengakui bahwa susu tersebut salah satu jenis susu steril. Dalam konteks kandungan nutrisinya, susu tersebut tidak berbeda nyata dengan jenis susu steril maupun UHT dari merek-merek lain.

    “Perbedaan yang ada biasanya pada bahan baku atau formulasi susu steril maupun UHT. Kita bisa menemukan di pasar, ada merek susu dengan 100 persen berbahan baku susu segar, ada juga merek susu yang menggunakan bahan tambahan lain seperti susu bubuk skim, laktosa maupun penstabil,” kata Dr Epi, Kepala Divisi Ternak, Fakultas Peternakan IPB University.

    Biasanya, susu mengandung komponen makronutrien seperti protein, karbohidrat dan lemak. Susu juga mengandung mineral, vitamin dan mikronutrien lainnya.

    Ia juga menjelaskan, protein susu memiliki kandungan asam amino esensial dan nilai biologis atau net protein utilization sebesar 90%. Nilai ini lebih tinggi dibanding sumber protein lainnya. Nilai biologis menunjukkan persentase protein yang benar-benar diserap dan digunakan oleh tubuh.

    Selain menjadi sumber nutrisi, susu juga memiliki karakteristik bio-fungsional atau bioaktif. Bio-fungsional atau bioaktif artinya komponen atau senyawa asal susu turut berkontribusi terhadap perbaikan fungsi fisiologis tubuh. Dengan demikian dapat meningkatkan status kesehatan tubuh. Di samping itu, komponen bioaktif yang terkandung dalam susu juga berfungsi sebagai antikanker, antipatogen, antiinflamasi, dan aktivitas antioksidan.

    Untuk memenuhi kebutuhan gizi, dosen IPB University itu menyarankan supaya masyarakat memperhatikan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan. Nilai AKG yang dianjurkan untuk masyarakat Indonesia adalah suatu nilai yang menunjukkan kebutuhan rata-rata zat gizi tertentu yang harus dipenuhi setiap hari bagi hampir semua orang dengan karakteristik tertentu yang meliputi umur, jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi fisiologis, untuk hidup sehat.

    Dengan demikian, kata Dr Epi, masyarakat tidak perlu panik. Hal ini karena semua jenis olahan susu cair baik itu pasteurisasi, steril maupun UHT memiliki kandungan gizi yang hampir sama. Sehingga manfaat kesehatan yang didapatkan pun relatif sama.

    Terkait panic buying yang terjadi, Dr Epi menghimbau supaya para pelaku pasar tidak mengambil keuntungan sesaat dengan menaikkan harga jual produk susu di luar kewajaran. Ia juga menghimbau agar pemerintah bersama industri pangan dan peternak dapat menjamin pasokan produk-produk olahan pangan. Hal ini dalam rangka membantu menjaga status kesehatan masyarakat sehingga ketersediaan dan keterjangkauan belinya dapat terjaga bagi masyarakat secara umum.

    “Bagi masyarakat atau konsumen, teruskan mengonsumsi susu dan protein hewani lainnya, tentunya protein nabati juga sebagai sumber serat yang tidak dimiliki susu, dalam rangka melakukan pola makan yang sehat beragam dan seimbang,” pungkas Dr Epi (ipb.ac.id)

  • Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terkait manfaat susu bagi kesehatan, penjualan susu terutama drinking milk seperti susu UHT dan pasteurisasi mengalami peningkatan tajam. Menurut data BPS dan Kemenperin pada tahun 2021 kebutuhan susu nasional adalah sejumlah 4,19 juta ton sedangkan kemampuan produksi SSDN (susu segar dalam negeri) hanya 0,87 juta ton. Dengan kata lain produksi SSDN hanya mampu memenuhi 79 persen kebutuhan susu nasional, selebihnya harus dipenuhi melalui import.

    “Kementerian Perindustrian pada tahun 2022 menyebutkan bahwa kebutuhan susu dalam enam tahun terakhir mengalami peningkatan dengan rata-rata enam persen per tahun, sedangkan produksi susu segar dalam negeri hanya tumbuh satu persen saja,” ujar Dr Epi Taufik, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 menyebutkan bahwa pada tahun 2021 populasi sapi perah di Indonesia hanya sebesar 578.579 ekor. Dari jumlah tersebut, sapi betina dewasa laktasi (yang sedang memproduksi susu) hanya sekitar 252.467 ekor dengan rata-rata produksi susu sekitar 12,47 liter per ekor per hari. Angka produksi susu harian per ekor tersebut jauh jika dibandingkan dengan peternakan sapi perah rakyat di Jepang yang mampu memproduksi sampai 50 liter per ekor per hari.

    “Kesenjangan supply dan demand ini diperparah dengan adanya serangan penyakit mulut dan kuku (PMK). Menurut Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) per 22 September 2022 tercatat sebanyak 122.742 ekor sapi yang terserang PMK. Dari angka tersebut, 8.812 ekor sapi dipotong paksa dan 4.353 ekor sapi mati. Ini adalah sebuah kerugian besar yang harus ditanggung para peternak,” paparnya lebih lanjut.

    Ia menyebutkan setidaknya terdapat tiga strategi yang dapat dilakukan guna menutup jurang kesenjangan supply-demand susu di Indonesia. Pertama, meningkatkan populasi sapi perah melalui meningkatkan kapasitas perbibitan di dalam negeri dengan dibantu oleh impor sapi perah indukan atau dara. Setelah jumlah sapi perah meningkat, hal yang selanjutnya dilakukan ialah memastikan kualitas peternakan sehingga produktivitas susu sapi perah meningkat.

    Di dalam pemaparannya Dr Epi menyatakan sekitar 25 persen produksi susu dipengaruhi oleh kenyamanan sapi (cow comfort). Sapi akan mencari kenyamanan sendiri di dalam kandangnya, sehingga perlu disediakan tempat kering yang cukup di dalam aendang untuk merebahkan badannya tanpa harus mengantri. Sapi memerlukan waktu paling tidak 7 jam untuk beristirahat, setelah 7 jam maka setiap tambahan 1 jam istirahat mampu meningkatkan produksi susu sekitar satu kilogram.

    “Strategi kedua adalah dengan memilih rumpun baru sapi perah yakni sapi Jersey. Sapi ini memiliki banyak kelebihan dibandingkan sapi perah hitam putih atau Friesian Holstein. Bobotnya lebih ringan sehingga jarang terjadi kasus kepincangan. Fertilitas juga tinggi, karena jarak waktu mengandung lebih pendek. Kandungan nutrisi susu pada sapi Jersey juga lebih tinggi. Sapi ini juga mudah beradaptasi dengan suhu panas sehingga tahan stress,” katanya.

    Kemampuan sapi Jersey dalam menghadapi cuaca panas membuatnya memiliki tingkat konversi pakan menjadi nutrisi yang lebih efisien, limbah lebih sedikit. Hal ini tentu merupakan sebuah kabar gembira mengingat peternakan sapi seringkali dijadikan sebagai salah satu sumber emisi gas rumah kaca (greenhouse gas emission).

    Strategi terakhir adalah dengan mulai melakukan pemerataan lokasi peternakan di Indonesia. Saat ini lokasi peternakan sapi terfokus di Pulau Jawa. Sedangkan masih banyak wilayah terutama di pulau Sulawesi dan juga Sumatera yang potensial untuk dijadikan pusat peternakan sapi perah karena ketersediaan sumber daya pakan yang tinggi (ipb.ac.id)

  • Selama ini kita semua mengenal susu sebagai minuman yang sangat menyehatkan karena mengandung sejumlah besar nutrisi yang diperlukan oleh tubuh, seperti vitamin, mineral, protein, lemak, dan karbohidrat.  Susu adalah sekresi kelenjar ambing hewan mamalia atau dalam hal ini lebih spesifik lagi sapi atau ternak perah lain (kambing, unta, kerbau) yang sehat.

    Dr Epi Taufik, SPt, MVPH, MSi, Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB University uraikan manfaat konsumsi susu dan produk-produk olahannya.

    Secara taksonomi, manusia termasuk dalam kelas mamalia yaitu ditandai dengan adanya produksi susu dari ibu (air susu ibu tentu merupakan susu terbaik untuk bayi karena dapat merangsang pelepasan hormon), kekebalan tubuh, kesehatan mental plus ikatan ibu dan anak. Namun demikian, ketika bayi mulai lepas sapih, kemudian menjadi balita lalu tumbuh dewasa, maka kebutuhan akan susu dapat dipenuhi dari ternak perah.

    "Di antara ternak perah, susu asal sapi perah (termasuk produk-produk olahannya) merupakan yang terbanyak dikonsumsi manusia, diikuti dengan susu kambing, kerbau, domba, unta. Bahkan di beberapa daerah susu keledai, kuda dan rusa juga dikonsumsi oleh manusia," katanya.

    Lantas untuk apa kita masih harus minum susu, termasuk produk-produk olahannya? Dalam konteks pola makan yang beragam dan berimbang yang telah disinggung sebelumnya, di zaman dulu dikenal konsep 4 Sehat 5 Sempurna. Kesempurnaan tadi itu adalah dipenuhi dengan minum susu. Oleh karena itu minum susu adalah seperti meminum suplemen nutrisi cair yang dibutuhkan dalam pola makan yang beragam dan berimbang tadi.

    Para ahli nutrisi pun merekomendasikan untuk meminum susu 1-3 porsi per hari. Satu porsi susu setara dengan sekitar 200 mililiter susu cair. Selain komponen makronutrien seperti protein (kasein dan whey), karbohidrat (gula susu sama dengan laktosa) dan lemak, susu juga mengandung banyak komponen mikronutrien.  Susu dianggap salah satu sumber protein yang terbaik selain telur.  

  • Pernahkah Anda mengkonsumsi daging kerbau? Ternyata ada banyak manfaat kesehatan bila anda mengkonsumsi daging kerbau. Daging kerbau kaya akan nutrisi terutama kandungan protein.

    Dr Ir Komariah, MSi, Dosen Divisi Produksi Ternak Daging, Kerja dan Aneka Ternak Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University ungkap fakta kandungan daging kerbau yang baik untuk kesehatan. Menurutnya daging kerbau mengandung protein tinggi untuk pertumbuhan sel bagi anak-anak dan dewasa, menjaga sistem peredaran darah dan juga dapat meningkatkan massa otot. Selain itu, konsumsi daging kerbau ternyata dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh karena mengandung mineral zink (Zn),” ujarnya.

    Tidak hanya itu, daging kerbau juga mengandung Asam Lemak Linoleat yang dibutuhkan tubuh dan mengandung vitamin B1 dan B12 yang bagus untuk pertumbuhan otak janis dan kesehatan ibu hamil. Untuk itu Dr Komariah menghimbau agar masyarakat jangan sampai melupakan daging kerbau untuk konsumsi protein hewani kita. Nah jika anda berada di daerah penghasil daging kerbau jangan ragu untuk mengkonsumsi daging kerbau. "Mari konsumsi kerbau ternak lokal Indonesia," ucapnya.(ipb.ac.id)

  • Burung kicau merupakan spesies burung yang masuk dalam ordo Passeriformes. Burung dapat menghasilkan suara dengan metode vokalisasi. Tujuan vokalisasi ini untuk berkomunikasi, baik sebagai penanda wilayah teritorial, untuk menarik perhatian pasangan, penanda adanya makanan, navigasi dan juga sebagai tanda adanya bahaya (alarm call). 
     
    Dr Maria Ulfah, Dosen Fakultas Peternakan IPB University menerangkan tentang jenis suara kicau yang dihasilkan burung yaitu song dan call. “Song pada umumnya dihasilkan oleh burung jantan untuk menarik perhatian betina pasangannya pada saat musim reproduksi dan juga sebagai penanda wilayah teritori (kekuasaan burung). Sedangkan alarm call dipakai oleh burung untuk menunjukkan adanya bahaya yang mengancam,” terangnya. 
     
    Sementara itu, lanjutnya, burung kicau bermanfaat untuk tujuan lomba/kontes burung, pengisi (master) suara untuk burung kicau, sebagai pet (hewan hobi) di rumah, sebagai hewan model untuk penelitian tentang gangguan perkembangan vokal dan komunikasi pada manusia dan alternatif solusinya. 
     
    “Suara burung dihasilkan oleh syrinx yang terletak pada pangkal trakea. Syrinx tersusun dari jaringan tulang rawan dan jaringan lunak yang kompleks. Setiap individu burung memiliki anatomi syrinx yang spesifik sehingga setiap individu burung menghasilkan vokalisasi yang berbeda sesuai dengan anatomi syrinx-nya,” ungkap Dr Maria Ulfa. Menurutnya, faktor-faktor yang mempengaruhi suara burung kicau antara lain adalah genetik, umur burung, karakteristik syrinx, hormon, serta manajemen pemeliharaan burung kicau.  

    “Kualitas suara song (kicauan) burung kicau tergantung pada proses pemilihan burung kicau, manajemen pemeliharaan yang baik dan proses pemasteran (proses meniru suara burung yang telah ahli) burung kicau. Pada masa pemeliharaan, diperlukan pakan dan vitamin untuk persiapan kontes, perawatan harian, serta pelatihan untuk burung kicau,” imbuhnya.  Selain itu, lanjutnya, agar lebih objektif, kontes burung kicau bisa menggunakan teknologi akustik yang dapat memberikan penilaian suara secara lebih akurat.
     
    Terkait dengan kontes burung kicau, Dr Maria berharap burung tersebut tidak berasal dari tangkapan alam, melainkan merupakan hasil penangkaran. Hal ini bertujuan untuk menjaga populasi burung yang sudah mulai langka di Indonesia (ipb.ac.id)

  • Umat Islam di seluruh dunia akan merayakan hari raya Idul Adha yang di dalamnya terdapat syariat kurban. Pada momen tersebut keluarga muslim biasa menghidangkan olahan daging di rumah-rumah mereka.

    Daging kurban merupakan daging merah (daging kambing, domba, sapi dan unta) yang memiliki tekstur yang lebih alot. Oleh karenanya daging merah perlu mendapat perlakuan khusus dalam proses pengolahan agar kesulitan mengunyah dapat diatasi dan daging dapat dinikmati.

    Nanas telah dikenal secara luas oleh masyarakat terutama para ibu rumah tangga sebagai buah yang bermanfaat dalam proses pengempukan daging. Lalu kandungan apa yang terdapat di dalam nanas sehingga mampu melunakkan daging?

    Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Dr Tuti Suryati memberikan penjelasan ilmiah mengenai proses pengempukan dengan menggunakan buah nanas.  "Jadi di dalam buah nanas terkandung enzim bromelin yang termasuk jenis enzim protease yang dapat memutuskan ikatan peptida pada protein,” papar Dr Tuti.

    Dikatakannya, terputusnya ikatan peptida pada protein menyebabkan hidrolisis atau degradasi protein sehingga menjadi potongan-potongan peptida atau bentuk lebih sederhana dari protein. Bromelin juga dapat bekerja pada jaringan kolagen yang merupakan protein pada jaringan ikat, protein miosin, protein miofibrilar, atau serabut daging.

    “Enzim bromelin sendiri dapat ditemui pada daun, batang, serta buah tanaman nanas,” ujar Peneliti dari Divisi Teknologi Hasil Ternak IPB University ini.
    Meski begitu, buah nanas merupakan bagian tumbuhan yang lebih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam membantu proses pengempukan daging. Hal tersebut karena daun dan batang tanaman nanas dapat berpotensi mengubah cita rasa daging. Buah nanas  mampu menambah kelezatan rasa pada hasil olahan daging. Dari sisi kandungan nutrisi, daging yang telah diberi tambahan buah nanas tidak mengalami perubahan yang nyata.

    “Sebaliknya, enzim bromelin yang merupakan salah satu jenis protein dapat menambah kandungan protein pada olahan daging meski tidak signifikan,” tambah Dr Tuti.

    Sebagaimana protein pada umumnya, bromelin memiliki suhu optimal untuk bekerja dan memiliki suhu maksimal agar tidak terdenaturasi atau rusak. Suhu yang optimal bagi bekerjanya enzim bromelin pada olahan daging ialah pada suhu ruang hingga 50 derajat celsius. Adapun jika suhu telah melebihi 70 derajat celsius maka enzim bromelin akan mengalami penurunan aktivitas akibat kerusakan atau denaturasi.

    Tingkat kealotan daging sangat beragam bergantung kepada jenis dan bangsa, jenis kelamin, umur,  manajemen pemeliharaan dan pakan, aktivitas, status fisiologis ternak dan bagian daging. Umumnya daging merah direndam dalam parutan nanas selama 15 hingga 30 menit di suhu ruang sebelum dimasak. Namun menjadi catatan agar tidak terlalu lama menyimpan daging mentah pada suhu ruangan. Hal tersebut karena daging dapat terkontaminasi oleh bakteri yang ada di lingkungan sekitar (ipb.ac.id)

  • Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.ScAgr  telah resmi dilantik menjadi dekan baru Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, menggantikan pejabat lama Prof Dr. Ir. Sumiati, M.Sc  periode 2021 hingga 2025. Pelantikan dilaksanakan pada hari Jumat, 29-01-2021 WIB di Gedung Andi Hakim Nasution, IPB Darmaga Bogor.

    Dr. Idat lahir di Serang, 6 Mei 1967,  menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor pada tahun 1990. Pendidikan S2 di Goettingen University, Germany pada tahun 1995 dan S3-nya beliau selesaikan di Universitas yang sama dengan strata S2-nya, pada tahun 2002.  Beliau memiliki keahlian di bidang Nutrisi Ternak.  Dengan keahlian tersebut, beliau memiliki peran penting bagi kemajuan bidang peternakan di Indonesia.

    Beliau juga memiliki banyak  pengalaman pada bidang manajemen perguruan tinggi dan organisasi, diantaranya: Koordinator Program Hibah Kompetitif  Due-Like (2004-2006), Sekretaris Departemen INTP, Fapet IPB (2004-2007),  Ketua Departemen INTP, Fapet IPB  (2007-2011 dan 2011-2013),Direktur Integrasi Data dan Sistem Informasi IPB (2013-2018), Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan  (2020-2021).

    Rencana Program kerja yang akan dijalankan diantaranya adalah Peningkatan Mutu pendidikan berskala internasional melalui penerapan Smart Technology, Peningkatan mutu penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi penguatan inovasi, peningkatan jumlah dan mutu publikasi nasional dan internasional melalui kerjasama dan pengembangan keilmuan lintas disiplin, peningkatan kualitas SDM (dosen dan tendik) dalam penguasaan keahlian baru, Peningkatan pembinaan dan prestasi kemahasiswaan, peningkatam kapasistas dan penguatan manajemen, dan perluasan jejaring kerjasama dan peningkatan peran fakultas di masyarakat.

     Selamat menjalankan tugas Pak Idat, Semoga Amanah…

     

  • Virus Corona telah menginfeksi jutaan orang di seluruh dunia. Memperkuat sistem imun tubuh merupakan salah satu cara yang  bisa dilakukan untuk menangkal penularan virus ini. Tidak hanya terhadap COVID-19, sistem imun tubuh yang kuat juga dapat melindungi tubuh dari berbagai penyakit lainnya.

    Untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona, salah satunya adalah dengan melakukan Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. Supaya mengoptimalkan pencegahan terinfeksi virus COVID-19, tidak hanya upaya dari luar yang perlu dilakukan, upaya dari dalam juga perlu ditingkatkan. Diantaranya dengan konsumsi protein hewani.

    Peneliti di Fakultas Peternakan IPB University, Dr Rudi Afnan, SPt, MSc mengatakan salah satu caranya adalah mengonsumsi berbagai jenis makanan sehat yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kerja sistem imunitas tubuh tergantung pada pola hidup yang dilakukan. Karena itu, asupan makanan penuh protein hewani sangat disarankan. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk membuat kerja imunitas tubuh tetap terjaga dengan baik dan memiliki kerja yang optimal.

    "Konsumsi makanan bergizi yang baik sangat penting dalam membentuk sistem imun tubuh yang kuat. Dengan gizi yang baik, maka sistem kekebalan tubuh akan lebih kuat sehingga bisa memberikan perlindungan ekstra bagi tubuh dari berbagai virus penyakit termasuk virus COVID-19," ungkap Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Pengembangan dan Kerjasama  Fakultas Peternakan IPB University ini.
             
    Menurutnya ada beberapa rekomendasi jenis makanan penunjang kekebalan tubuh yang mengandung gizi tinggi dan bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Di antaranya, kandungan protein dari telur ayam dan bebek, susu full cream, daging sapi dan daging ayam.

    "Kandungan gizi yang ada dalam protein hewani tersebut yaitu asam amino esensial, protein, lemak, mineral (kalsium, besi, folat, fosgor, yodium dan selenium). Konsumsi makanan yang kaya akan asupan protein hewani yang cukup, dapat menjaga imunitas tubuh dari virus COVID-19 yang sangat membahayakan kesehatan," ujarnya.

    Dr Rudi menambahkan manfaat protein hewani bagi tubuh adalah dapat meningkatkan daya tanan tubuh, menyediakan asam amino esensial, membangun jaringan tubuh dan pembentukan darah, mendukung kerja sistem syaraf dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Mengkonsumsi protein hewani menjadi cara memperkuat sistem imun untuk mencegah virus COVID-19.

    “Pada dasarnya tubuh manusia memiliki sistem imun untuk melawan virus dan bakteri penyebab penyakit. Namun ada hal-hal yang dapat melemahkan sistem imun atau daya tahan tubuh seseorang. Antara lain penuaan, kurang gizi, penyakit, bahkan obat-obatan tertentu. Oleh karena itu, fungsi sistem imun perlu senantiasa dijaga agar daya tahan tubuh kuat diantaranya  dengan konsumsi protein hewani. (ipb.ac.id)