Departemen IPTP

Producing Professionals
in Livestock Industry

Departemen INTP

Better Feed for Better
Animal Product

 

Pascasarjana

Kuliah Pascasarjana ?
Fapet IPB tempat yang tepat

Pendaftaran

Universitas Berkelas Dunia, Berkualitas, dan Terakreditasi Internasional

Bagi para pecinta kuliner, mendengar kata "Wagyu" langsung terbayang potongan daging dengan guratan lemak putih yang cantik, atau yang biasa disebut marbling. Daging ini sudah lama menyandang predikat sebagai rajanya daging sapi dunia karena kelembutannya yang seolah lumer di lidah. Namun, di balik popularitasnya, ada sebuah fakta yang jarang diketahui konsumen: tidak semua daging berlabel Wagyu benar-benar diterbangkan dari Jepang.

Prof. Ronny Rachman Noor, Pakar Genetika Ekologi dari Departemen  IPTP, Fapet IPB University, memberikan pencerahan mengenai fenomena ini. Menurutnya, mayoritas daging wagyu yang beredar secara global, termasuk yang sering kita temukan di pasar Indonesia, sebenarnya bukan berasal dari negeri asalnya, melainkan hasil budidaya dari negara lain.

Secara etimologi, nama Wagyu sendiri berasal dari kata "Wa" yang berarti Jepang dan "Gyu" yang berarti sapi. Namun, identitas asli ini mulai bergeser ketika sapi-sapi Jepang ini mulai dikembangkan di luar negeri. Di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Australia, sapi Wagyu umumnya tidak lagi murni, melainkan hasil persilangan.

Paling sering, sapi Wagyu disilangkan dengan sapi lokal seperti Angus dengan komposisi genetik 50:50. Hasilnya adalah sapi yang secara fisik lebih "berdaging" namun tetap memiliki jejak lemak wagyu. Hal ini tentu berbeda dengan di Jepang, di mana kemurnian genetik dijaga sangat ketat dan proses pemeliharaannya diatur sedemikian rupa untuk menghasilkan marbling yang padat dan halus.

Menariknya, Australia kini tercatat sebagai produsen wagyu terbesar di luar Jepang dengan menguasai sekitar 18 persen stok global. Diikuti oleh Amerika Serikat dan Selandia Baru, negara-negara ini memasok kebutuhan daging wagyu untuk kelas restoran menengah.

Di pasar internasional, Amerika Serikat bahkan memiliki standar penilaian sendiri melalui USDA Prime atau Choice. Itulah sebabnya, tekstur wagyu dari Amerika atau Australia sering kali terasa berbeda dibandingkan wagyu asli Jepang. Tak hanya negara besar, wilayah seperti Kanada, Inggris, hingga Singapura pun mulai mencoba peruntungan dengan memproduksi wagyu skala kecil melalui metode persilangan serupa.

Bagaimana cara kita sebagai konsumen agar tidak membayar harga selangit untuk barang yang salah? Prof. Ronny menekankan pentingnya memeriksa sertifikat resmi dari Japan Meat Grading Association (JMGA).

Sertifikat asli dari Jepang bukan sekadar kertas, melainkan "paspor" yang memuat 10 digit nomor identitas sapi. Dengan nomor ini, konsumen bahkan bisa melacak asal prefektur sapi tersebut, mulai dari Hyogo, Miyazaki, hingga Kagoshima, bahkan sampai ke peternakan asalnya.

Satu hal yang perlu diwaspadai adalah permainan kata dalam pemasaran. Istilah-istilah seperti "Kobe Style", "Wagyu Inspired", atau "Wagyu Type" adalah indikator kuat bahwa daging tersebut bukan berasal dari Jepang. Label "A5" pun sebenarnya hanya sah secara hukum jika penilaiannya dilakukan langsung di Jepang. Di luar itu, label A5 hanyalah strategi marketing untuk menarik minat pembeli.

Pada akhirnya, harga memang tidak pernah berbohong. Wagyu Jepang asli dengan kualitas A5 memiliki harga pasar minimal sekitar US$200 atau sekitar Rp3,1 juta per kilogram untuk potongan steak. Jika Anda menemukan tawaran "Wagyu A5" dengan harga yang terlalu miring, besar kemungkinan itu adalah daging hasil persilangan atau yang diproduksi di luar Jepang.

Menikmati wagyu Australia atau Amerika tentu sah-sah saja karena rasanya pun tetap lezat. Namun, menjadi konsumen yang cerdas berarti tahu persis apa yang masuk ke dalam piring kita. Seperti pesan Prof. Ronny, "Periksalah sertifikatnya, jangan hanya terpukau oleh fotonya."

 


Riset & Kepakaran

Wednesday, 20 May 2026 13:39

Di beberapa wilayah di Indonesia, kerbau kerap menjadi pilihan utama sebagai hewan kurban selain kambing atau domba. Selain karena faktor tradisi di daerah tertentu, harganya yang relatif lebih...

Wednesday, 20 May 2026 12:39

Dalam industri peternakan modern, baik komoditas ayam ras petelur (layer) maupun ayam ras pedaging (broiler), optimalisasi efisiensi pakan memegang peranan yang sangat krusial. Guna mencapai...

Wednesday, 20 May 2026 11:30

IPB University terus mendorong inovasi untuk meningkatkan daya saing industri peternakan nasional. Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof Despal, mengusulkan penerapan teknologi...

Wednesday, 20 May 2026 11:22

Dalam beberapa hari terakhir, media di Australia menyoroti keberangkatan MV Al Kuwait, salah satu kapal pengangkut ternak hidup terbesar di dunia, dari Pelabuhan Darwin menuju Indonesia. Kapal...

Events

 

Lensa Inspirasi

Dalam dunia industri manufaktur pangan, konsistensi dan keamanan adalah segalanya. Bagi seorang pakar teknologi susu, perjalanan karier bukan sekadar tentang angka produksi, melainkan tentang...

Kapsul Inovasi

Innovator : Dr Iyep Komala, S.Pt, M.Si Dr Mohammad Fayruz, CEO PT Lana Ratifa D-Ruminansia adalah inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk memantau mikroklimat...

Video Highlight

Ayam IPB D1 adalah hasil inovasi yang dikembangkan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Cece Sumantri beserta tim, merupakan ayam lokal pedaging unggul dengan pertumbuhan cepat,...