Alumni Alumni Alumni Alumni Alumni Alumni Alumni Alumni Alumni Alumni Alumni News

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University mengadakan pelatihan peningkatan capability stakeholder dalam bidang industri pakan dan peternakan secara hibrid di Ruang Sidang Departemen INTP, Sabtu (15/10). Kegiatan yang mengambil tema “Meningkatkan Produksi Ternak dengan Inovasi Wafer Pakan” ini ditujukan bagi mitra Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) IPB University, khususnya peternak se-Indonesia.

    Dalam pelatihan yang digelar Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) ini, Dr Idat Galih Permana, Dekan Fapet IPB University mengatakan pelatihan ini dalam rangka sosialisasi dan memperluas dampak positif atas inovasi para peneliti di Divisi Industri Pakan, INTP.

    “Tentu kegiatan ini tidak hanya berhenti sampai dengan produksi. Kita juga harus terus memperluas dan mensosialisasikan hasil inovasi ini kepada masyarakat guna mengatasi permasalahan penyediaan pakan yang berkualitas, baik hijauan maupun konsentrat,” ujar Dr Idat dalam sambutannya.

    Dalam pelatihan ini, hadir Prof Yuli Retnani, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan yang menggembangkan inovasi wafer pakan berbasis limbah pangan dari pasar. Ia menjelaskan bahwa inovasi ini dilatarbelakangi oleh ketersediaan pakan bersih berkualitas yang kurang memadai di daerah rawan pakan. Inovasi yang telah dikembangkan sejak 2009 ini dinilai mudah diolah, mudah didapat sepanjang musim, harga bersaing dan mampu mengurangi masalah lingkungan.

    “Kini produksi wafer pakan menggandeng PT Warbis sebagai solusi hilirisasi yang ditawarkan dengan izin edar terstandar. Solusi ini ditawarkan kepada para peternak, koperasi, asosiasi sebagai peternak binaan IPB University,” jelasnya.

    Prof Luki Abdullah, Guru Besar Fapet IPB University turut menjelaskan terkait sistem pengendalian yang terpadu pada produksi ternak melalui manajemen nutrisi dan pakan. Ia menilai perlu mengimplementasikan sistem ini karena salah satu komponen penting dalam sistem produksi ternak adalah pakan.

    “Sistem ini adalah pengendalian yang terintegrasi, mulai dari perencanaan produksi, manajemen nutrisi dan pakan, hingga pengawasan produk ternak, karena ketiganya saling berhubungan,” ujar Prof Luki.

    Ir Budi Hariyanto dari PT Lembu Jantan Perkasa menjelaskan bahwa pakan berkualitas berperan penting untuk meningkatkan produksi ternak. Pakan berkualitas dapat menghasilkan pertambahan berat badan yang baik, terutama pada anakan.  “Permodalan untuk pakan ternak sendiri dapat memakan biaya hingga 80 persen, sehingga inovasi wafer pakan dapat memangkas biaya ini,” ujarnya.

    Dr Heri Ahmad, Dosen IPB University dari Fakultas Peternakan menambahkan, pakan yang berkualitas juga memegang peranan dalam logistik ternak. Konsumsi pakan ternak selama perjalanan perlu diperhitungkan jumlah dan kualitasnya agar dapat memenuhi kebutuhan ternak.  “Pakan ini perlu melalui proses pengendalian dan jaminan mutu dalam rantai pasok pakan,” terangnya.

    Dalam mempromosikan inovasi ini, strategi digital marketing memegang peranan esensial. R Agung Nugraha, Founder Warbis mengatakan strategi ini akan memberikan dampak yang baik untuk kemajuan usaha promosi dari produksi pakan ternak.  “Jika sistem ini dijalankan dengan baik maka dapat meningkatkan pangsa pasar di kalangan peternak hingga memperbaiki rantai suplai,” katanya (ipb.ac.id)

  • Fakultas Peternakan IPB University dengan Konsorsium  Belanda yaitu Nuffic, MSM : Maastricht School of Management, Wageningen dan Aeres groep ini membentuk proyek yang diberi nama Alin (Animal Logistics Indonesia Netherlands).  Kerjasama tersebut diumumkan dalam National Animal Logistics Seminar dengan tema ‘Optimizing the Use of Camara Ships to Improve Efficiency of Livestock Transportation Systems’ di Swiss-Bell Hotel, Bogor,  Kamis (4/7). Seminar ini digelar Fakultas Peternakan IPB bekerjasama dengan Konsorsium  Belanda (Nuffic, MSM : Maastricht School of Management, Wageningen University dan Aeres groep) melalui platformnya yaitu Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI).

    Rektor IPB University, Dr. Arif Satria dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap kerjasama ini. Rektor  IPB University mengungkapkan kolaborasi merupakan salah satu upaya untuk merespon situasi terkini terkait perkembangan teknologi industri 4.0. “IPB University mendorong Riset dan Inovasi IPB  University 4.0 yang dicirikan dengan agromaritim presisi tinggi melalui penggunaan teknologi drone, robotika, kecerdasan buatan di hulu sektor pertanian dan kelautan,  agroindustri untuk masa depan, sistem agrologistik digital, dan sistem e-commerce cerdas yang diyakini mampu beradaptasi di era 4.0,” kata Dr. Arif.

    Direktur Netherlands Consortium, Mr. Meinhard Gans  sangat merespon positif apa yang disampaikan Rektor IPB University. Ia menekankan bahwa  kegiatan yang dilakukan ini untuk kemajuan logistik peternakan Indonesia ke depan.

    Direktur proyek ALIN yang merupakan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Luki Abdullah menyampaikan bahwa proyek ALIN digagas atas kerjasama pemerintah Indonesia dan Belanda melalui Kementerian Pertanian dengan Kedutaan Besar Belanda. Pada saat itu  Indonesia dianggap mempunyai masalah mengenai logistik. Masalah tersebut antara lain masih kurangnya fasilitas dan prasarana serta penanganan hewan ternak yang buruk. Ini berdampak pada: (1) biaya logistik dan transportasi yang tinggi, (2) penurunan berat badan yang lebih tinggi, (3) kinerja ternak, (4) kesejahteraan hewan. Faktor ini menyebabkan harga produk yang lebih tinggi bagi konsumen, tetapi juga harga yang lebih rendah untuk produsen, sehingga mengurangi margin mereka. 

    Upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan rantai pasokan ternak sapi domestik terutama dari wilayah timur Indonesia kepada konsumen. Kapal ternak yang dibangun pertama kali diluncurkan pada bulan Desember 2015 bernama Camara Nusantara 1, dan yang kedua, Camara Nusantara 3, diluncurkan pada 2018. Jumlah total akan ditingkatkan menjadi enam unit. Kapal dibangun oleh pemerintah Indonesia dan dioperasikan oleh PT Pelni, sebuah perusahaan pelayaran besar domestik.

    Kapal dirancang untuk memenuhi prinsip kesejahteraan hewan, sehingga penurunan berat badan selama pengangkutan akan diminimalkan dan kinerja meningkat. Selanjutnya, kapal ternak diharapkan untuk meningkatkan rantai pasokan ternak sapi serta untuk mempersingkat rantai distribusi dari produsen ke akhir konsumen. Namun, ada keraguan mengenai dampak proses transportasi dengan menggunakan kapal Camara Nusantara pada aspek kinerja ternak dan kesejahteraan hewan. (ipb.ac.id)

    Sementara Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN), proyek  ini pertama di Indonesia terkait logistik peternakan. Terdapat beberapa fokus yang telah dilakukan dalam proyek yaitu bagaimana mengembangkan sumberdaya manusia dalam bidang logistik peternakan.  Program ini dikembangkan melalui kurikulum  logistik peternakan pada program master (S2) Logistik Peternakan. Program kedua yaitu Sarjana Plus berupa pendidikan selama 6 bulan setelah lulus sarjana, mendapat materi logistik peternakan. Keunggulannya dari S1 plus ini akan memperoleh sertifikat  kompetensi yang  sudah ditetapkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dan Kementerian Tenaga kerja. “Program S1 Plus dapat diikuti oleh lulusan sarjana bidang apa saja, mereka akan di-training melalui 17 unit kompetensi yang sudah dibakukan oleh BNSP. Selama enam bulan mereka dibina dan dididik untuk mendapatkan sertifikat kompetensi,” ucap Prof Luki.

    Pada kegiatan seminar ini  para peneliti menyampaikan hasil penelitiannya terkait Traceability, Live Animal Transportation Feed Logistics, Animal Products dan Human Resources dengan narasumber  diantaranya adalah jajaran peneliti IPB seperti Prof Kudang Boro Seminar,  Dr.Rudi Afnan,  Dr. Despal, Prof. Irma Isnafia Arief,  Prof. Asnath M Fuah, Dr. Yunus Triyonggo, Dr. Epi Taufik dan Dr. Moh Yamin. Penelitian ini melibatkan dan didukung oleh anggota FLPI baik dari kalangan bisnis, pemerintah, asosiasi serta komunitas.

  • Ransum Indigofera merupakan hijauan pakan yang berasal dari daun pilihan tanaman indigofera. Ransum ini merupakan teknologi alternatif yang dapat menjadi pengganti bahan hijauan pakan lainnya yang cenderung sulit diperoleh. Teknologi ini telah memiliki patent granted dengan nomor IDP000056252.

    Teknologi produksi biomassa indigofera sendiri telah dikembangkan oleh inventor sejak tahun 2015 bekerja sama dengan masyarakat atau level Usaha Kecil dan Menengah (UKM), namun proses produksi pakan ternaknya belum dilakukan.

    Prof Erika B Laconi, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) selaku Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Bisnis IPB University/Kepala LKST IPB University dalam sambutannya menyampaikan kerjasama ini merupakan langkah maju untuk pengembangan inovasi peneliti perguruan tinggi menuju komersialisasi produk.

    “Dalam dua tahun terakhir, LKST telah menghasilkan 19 inovasi yang telah bekerjasama dengan industri dan memiliki kualitas yang baik. Bermitra merupakan kekuatan IPB University dalam melakukan komersialisasi. Dan pada hari ini IPB University telah berhasil kembali bekerja sama dengan mitra dalam bidang peternakan,” tutur Guru Besar di Fakultas Peternakan IPB University ini.

    Terkait kerjasama ini, inovator ransum indigofera IPB University, Prof Luki Abdullah merasa bangga dengan adanya kerjasama antara IPB University dengan CV Nuansa Baru.

    “Hari ini terasa istimewa karena mendapatkan fasilitasi dari LKST IPB University untuk kerjasama dengan mitra. Terima kasih kepada mitra atas kepercayaan yang diberikan. Hasil akhir dari penelitian bukan hanya sekedar output, tetapi outcome,” ujarnya.

    CV Nuansa Baru merupakan perusahaan yang baru berdiri sejak 2013 dan bergerak di bidang penjualan bahan baku seperti sawit serta pakan jadi. “Kerjasama dengan IPB University ini difokuskan untuk meningkatkan pakan sehingga dapat bermanfaat khususnya bagi pelaku ternak. Saat ini kebutuhkan pakan ternak dinilai sangat tinggi dan menjadi peluang yang cukup baik,” ujar Direktur CV Nuansa Baru, Ifan Nur Irfana, SPt (ipb.ac.id)

  • Bogor, 2 Juni 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara 2025, Fakultas Peternakan IPB University bekerja sama dengan Frisian Flag Indonesia (FFI) menyelenggarakan talk show bertema “From Grass to Glass: Rayakan Kebaikan Susu – Rayakan Kekuatan Untuk Menang.” Kegiatan ini menjadi wadah edukatif bagi mahasiswa dalam menggali informasi seputar manfaat susu dan peran strategisnya dalam pembangunan sektor peternakan dan kesehatan masyarakat.

    Acara yang digelar di Kampus IPB Dramaga ini dipandu oleh Jovial da Lopez dari Narasi dan dihadiri oleh dosen serta lebih dari 550 mahasiswa IPB University. Antusiasme peserta terlihat dari semangat interaksi yang tinggi selama sesi diskusi berlangsung.

    Talk show menghadirkan berbagai narasumber dari lintas sektor, antara lain Widiastuti, S.E., M.Si. (Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Kemenko Perekonomian), Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si. (Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH), Prof. Dr. Epi Taufik, MVPH., M.Si. (Fakultas Peternakan IPB), Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, M.S. (FEMA IPB), Andrew F. Saputro dan Akhmad Sawaldi (FFI), serta peternak muda Tatok Haryato dan Nur Kayin dari KOPSAE Pujon.

    Dalam diskusi, para narasumber menyoroti bahwa susu memiliki nilai gizi tinggi yang penting dalam mendukung pertumbuhan, menjaga daya tahan tubuh, serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, terutama bagi generasi muda. Selain kandungan kalsium dan protein, susu juga mengandung berbagai vitamin dan mineral penting yang berperan dalam fungsi otak dan pembentukan tulang.

    Narasumber dari pemerintah memaparkan upaya strategis untuk meningkatkan produksi dan konsumsi susu nasional melalui penguatan kemitraan antara peternak, industri, dan akademisi. Pembangunan peternakan sapi perah yang lebih modern dan efisien dinilai penting untuk mencapai kemandirian susu dalam negeri.

    Dari sisi teknologi, disampaikan bahwa inovasi dalam pengolahan susu menjadi faktor penting untuk memastikan kualitas, higienitas, dan daya saing produk susu di pasar. Teknologi juga mendukung keamanan pangan dan memperpanjang masa simpan tanpa mengurangi nilai gizi.

    Para ahli gizi dari IPB University menekankan bahwa konsumsi susu sebaiknya menjadi kebiasaan masyarakat di semua kelompok usia, tidak hanya anak-anak. Peningkatan literasi gizi dan pola makan sehat menjadi bagian penting dalam mencegah masalah kekurangan gizi dan stunting di Indonesia.

    Pihak FFI juga menyampaikan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara industri dan peternak lokal. Dukungan melalui pelatihan dan pendampingan teknis menjadi salah satu strategi utama dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas susu segar nasional. Program pembinaan peternak muda dinilai dapat memperkuat regenerasi sektor peternakan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

    Peternak muda dari KOPSAE Pujon berbagi pengalaman mengenai praktik peternakan yang efisien dan ramah lingkungan. Mereka menunjukkan bahwa dengan manajemen yang baik, peternakan susu dapat menjadi sektor yang menjanjikan dan berkelanjutan.

    Sebagai simbol semangat dan kebersamaan, seluruh peserta melakukan Milk Toast secara serentak di akhir acara.

    Peringatan Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga penguatan sinergi antara akademisi, industri, pemerintah, dan peternak muda. Melalui semangat “From Grass to Glass”, diharapkan tumbuh komitmen bersama dalam mewujudkan ekosistem susu yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

  • Desa Wawasan, Lampung Selatan — Dalam upaya meningkatkan pemahaman peternak mengenai pentingnya kesejahteraan ternak dalam sistem budidaya sapi pedaging, IPB University melalui program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) 2025 menyelenggarakan kegiatan edukatif yang berfokus pada penerapan prinsip animal welfare di tingkat peternak rakyat.

    Kegiatan ini dilangsungkan pada Sabtu, 19 Juli 2025, di Koperasi Produksi Ternak (KPT) Maju Sejahtera, Desa Wawasan, Kecamatan Tanjung Sari. Acara ini diikuti oleh 46 peternak dari lima kelompok ternak anggota KPT, serta didukung penuh oleh pemerintah desa setempat yang hadir melalui Kepala Desa dan Sekretaris Desa Wawasan.

    Sebagai narasumber kali ini adalah, Edit Lesa Aditia, S.Pt., M.Sc., dosen dari Divisi Produksi Ternak dan Aneka Ternak (Proterdkat), Fakultas Peternakan IPB University, menyampaikan materi bertajuk "Kesejahteraan Ternak untuk Mendukung Pencegahan Stunting dan Mortalitas Pedet". Dalam paparannya, Edit menegaskan bahwa prinsip animal welfare bukan sekadar isu etika, namun juga berkaitan erat dengan produktivitas, daya tahan ternak, dan keberhasilan sistem budidaya secara menyeluruh.

    Materi yang disampaikan berpusat pada lima kebebasan pokok hewan (five freedoms), yakni:

    1. Kebebasan dari rasa lapar dan haus
    2. Kebebasan dari ketidaknyamanan fisik
    3. Kebebasan dari rasa sakit dan penyakit
    4. Kebebasan mengekspresikan perilaku alami
    5. Kebebasan dari rasa takut dan stress

    Edit menekankan bahwa ketika prinsip-prinsip ini diterapkan dengan benar, maka sapi pedaging akan tumbuh lebih sehat, mampu bereproduksi optimal, dan memiliki risiko kematian pedet yang jauh lebih rendah. Peternak diajak untuk memperhatikan kondisi lingkungan kandang, sanitasi, pemberian pakan dan air bersih, serta cara penanganan yang tidak menyebabkan trauma pada ternak.

    Dalam forum tanya jawab yang berlangsung setelah pemaparan materi, para peternak aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi di lapangan, seperti kesulitan mengenali tanda stres pada sapi, cara mengatur kepadatan kandang, dan bagaimana menerapkan prinsip kesejahteraan dengan sumber daya terbatas. Diskusi ini memperlihatkan semangat tinggi dari para peserta untuk melakukan perubahan yang positif dan berkelanjutan dalam sistem pemeliharaan mereka.

    Program ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat Dospulkam IPB University 2025, di bawah kepemimpinan Dr. Sigid Prabowo, S.Pt., M.Sc., bertema “Diseminasi inovasi sistem seleksi dan budidaya ternak untuk menurunkan stunting serta mortalitas pedet di KPT Maju Sejahtera Lampung Selatan” yang secara khusus dirancang untuk membawa hasil penelitian, inovasi, dan pendekatan ilmiah IPB ke komunitas desa, terutama di daerah asal para dosen.

    Melalui kegiatan ini, IPB University menegaskan komitmennya dalam mendampingi peternak rakyat untuk mengadopsi praktik beternak yang lebih manusiawi, adaptif, dan produktif. Ke depan, penerapan prinsip kesejahteraan hewan diharapkan mampu menjadi fondasi utama dalam menurunkan angka stunting dan kematian pedet, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak itu sendiri. (Edit Lesa Aditia)

  • IPB University menggelar rapat bersama Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Senegal merangkap Gambia, Guinea, Guinea-Bissau, Mali, Côte d’Ivoire, Sierra Leone, dan Cape Verde, H.E. Ardian Wicaksono. Pertemuan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini membahas inisiasi kerja sama antara IPB University dengan Cheikh Anta Diop University, Dakar, Senegal (16/03).

    Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak mendiskusikan peluang kolaborasi strategis di bidang pertanian, perikanan, dan peternakan. Fakultas Peternakan IPB University dalam rapat ini diwakili oleh Prof. Asep Gunawan selaku Wakil Dekan bidang Sumberdaya, Kerjasama, dan Pengembangan (SKP).

    Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat sinergi akademik, riset, serta pengembangan sumber daya manusia di kedua institusi. Inisiasi ini juga menjadi langkah awal dalam membangun hubungan internasional yang lebih erat antara IPB University dan institusi pendidikan tinggi di kawasan Afrika Barat, khususnya Senegal.

    Sebagai tindak lanjut, direncanakan pada Mei 2026 akan dilakukan kunjungan delegasi dari Senegal ke Indonesia. Kunjungan tersebut bertujuan untuk melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara IPB University dan Cheikh Anta Diop University, serta perjanjian kerja sama (SPK) di tingkat fakultas terkait, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Perikanan, dan Fakultas Peternakan.

    Melalui kerja sama ini, IPB University terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring global dan meningkatkan peran aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta inovasi di tingkat internasional.

  • IPB University melalui Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi (LKST) menjalin kerja sama lisensi inovasi sorinfer dengan PT Prima Agrostis Nusantara. Penandatangan lisensi inovasi dilakukan oleh Wakil Rektor bidang Inovasi dan Bisnis/Kepala LKST IPB University, Prof Erika B Laconi dengan Direktur PT Prima Agrostis Nusantara, Bogor (21/4).
     
    Dalam sambutannya, Prof Erika B Laconi mengatakan bahwa IPB University tidak bisa berkembang banyak tanpa adanya para mitra. Ia menyebut, dosen IPB University akan terus mengembangkan di bidang keilmuannya dan tentunya mitra yang mempunyai peran melihat market di lapangan.
     
    Prof Erika berharap, dengan adanya kerjasama ini dapat terus dikembangkan ide maupun temuan baru. “Perusahaan yang sudah berjalan akan mengembangkan riset berdasarkan market driven sehingga akan timbul sebuah kekayaan intelektual yang terintegrasi,” tambahnya.
     
    Sementara, Prof Luki Abdullah, Dosen Fakultas Peternakan IPB University menjelaskan bahwa teaching factory IPB University yang bekerjasama dengan PT Prima Agrostis Nusantara sudah sah untuk meningkatkan skala usahanya. Ia mengatakan, kemitraan dengan masyarakat di sekitar Jonggol terus berkembang dengan adanya mitra industri dan Corporate Social Responsibility (CSR) yang mensuplai bahan baku.  "Kawasan Jonggol ini sudah termanfaatkan dengan baik dari segi sosial, ekonomi maupun edukasi,” kata Prof Luki.
     
    Adam Mirza, Direktur PT Prima Agrostis Nusantara mengatakan bahwa perusahaannya sudah membina dua stakeholder di kawasan Jonggol. “Stakeholder pertama yaitu petani yang menanam sorgum yang mampu menghasilkan panen sebanyak 50 ton per hektar dalam 65 hari. Stakeholder selanjutnya adalah peternak tentang animonya bahwa dengan menggunakan pakan sorinfer itu beternak menjadi lebih mudah,” kata Adam.
     
    Dr Sri Suharti, Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Peternakan, IPB University mengapresiasi gebrakan proses hilirisasi inovasi Sorinfer yang berjalan lancar. Ia berharap, akan tercipta inovasi-inovasi baru dari Fakultas Peternakan IPB University yang bisa diterapkan dan dirasakan langsung oleh masyarakat. 
     
    “Ini akan menjadi satu hal yang luar biasa dan menjadi legasi dan lisensi untuk inovasi Sorinfer ke depannya,” tutupnya (ipb.ac.id)

  • Ini juga salah satu bentuk ikhtiar IPB University dalam mengembangkan kemandirian keuangan. Dengan berkembangnya dana sosial dan wakaf, diharapkan dapat memiliki sumber-sumber pembiayaan.
     
    Program water station dikembangkan demi memenuhi kebutuhan air minum mahasiswa beserta seluruh warga IPB University. Serta demi mendukung gaya hidup ramah lingkungan karena dapat mengurangi pengeluaran air minum dalam kemasan. Hal ini sejalan dengan IPB University sebagai Green Campus yang telah konsisten dalam menggalakkan program pengurangan sampah plastik selama tiga tahun terakhir.

    Sedangkan program 1000 beasiswa mahasiswa IPB University akan disalurkan pada mahasiswa yang membutuhkan.

    Rektor IPB University diwakili oleh Sekretaris Institut, Dr Aceng Hidayat dalam sambutannya saat secara resmi meluncurkan program tersebut mengatakan, terdapat dua aspek yang terkait dengan program tersebut. Kedua aspek tersebut yakni aspek kebermanfaatan dan kemuliaan. Program beasiswa ditujukan pada sejumlah besar mahasiswa yang terdampak COVID-19. Diharapkan mahasiswa dapat melanjutkan studi tanpa rasa cemas sehingga menjadi sumber daya manusia yang unggul.  Sedangkan program water station dapat membantu IPB University untuk mengurangi sampah plastik terutama dari air kemasan.

    “Program BPIDS ini yakni program 1000 beasiswa dan pemasangan water station di masing-masing fakultas merupakan program yang sangat mulia dan sangat bermanfaat bagi warga IPB University. Saya ingin berterimakasih khususnya pada alumni yang telah berkontribusi,” ungkapnya.    

    Dr Idat Galih Permana, Dekan Fakultas Peternakan IPB University memberikan testimoni. Selaku penerima manfaat atas penyelenggaraan program BPIDS, ia sangat mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, fakultas di IPB University memang membutuhkan uluran tangan terkait kesejahteraan mahasiswa. "Terjadi peningkatan jumlah mahasiswa yang perekonomiannya terdampak COVID-19,” ujarnya.  

    Hal senada disampaikan Dr Berry Juliandi, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) IPB University yang mengatakan bahwa ia selalu memiliki visi bahwa warga IPB University harus selalu memberi dan melayani terutama bagi mahasiswa. Ia menyadari betapa besarnya potensi dana yang dihimpun oleh masyarakat terutama yang terkait dengan wakaf dan hal tersebut disambut baik oleh BPIDS. Ia menyebutkan bahwa penggunaan water station tidak akan mengenal fakultas. Sehingga dapat dinikmati oleh seluruh warga IPB University walaupun lokasi peletakannya di Fakultas Peternakan dan FMIPA.

    “Saya sangat mendorong pada seluruh warga IPB University termasuk mahasiswa sebagai yang akan menerima manfaat untuk juga memberi wakaf pada program ini. Bisa jadi kita berpikir bahwa potensi besar hanyalah di dosen, alumni, dan staf penunjang, padahal mahasiswa dapat juga berwakaf untuk menyukseskan program ini walaupun hanya dengan dana yang tidak terlalu besar,” ungkapnya.

    Dengan program tersebut yang didorong adalah semangat kebersamaan dan berbagi. Ia turut mendorong pula program 1000 beasiswa sebagai contoh bagi alumni untuk melakukan mobilisasi horisontal sehingga strata sosialnya lebih baik. Karena bukan hanya berpengaruh pada pemberi manfaat, namun juga lingkungan masyarakat secara umum.

    Pada kegiatan tersebut diadakan pula pernyataan dukungan dari para alumni IPB University yang hadir seperi Ir R Fathan Kamil, Ketua Umum Himpunan Alumni (HA),  Audy Joinaldy, Ketua Umum Himpunan Alumni Peternakan (HANTER) yang juga Wakil Guburner Sumatera Barat, serta Dr Adnan Nursal, Ketua Umum HA  FMIPA. Juga diadakan sekapur sirih dari donatur oleh Anton Sukarna, Direktur Distribusi dan Sales PT Bank Syariah Indonesia (BSI), yang merupakan alumni Fapet IPB University.

    Pada kegiatan ini juga diadakan penggalangan dana wakaf yang dipimpin oleh Iyep Komala, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan sekaligus Sekjen HANTEr dan Nelly Oswini, Wakil Ketua Umum DPP HA IPB University.

    “Dana yang terkumpul sampai dengan 6 Mei 2021, dari Bank Syariah Indonesia (BSI) memberikan sponsor satu water station yang akan ditempatkan di Fakultas Peternakan senilai 300 juta rupiah. Dari Direktur Eksekutif Laznas BSM Umat, Suko Riyanto Saputro yang merupakan alumni dari Fakultas Pertanian menyatakan Laznas BSM Umat memberikan beasiswa sebesar 200 juta rupiah,” jelas Iyep.

    Selain itu, pada penggalangan dana wakaf terkumpul dana untuk Fakultas Peternakan sebesar Rp 40.401.121, untuk FMIPA sebesar Rp 32.000.000 (untuk water station) dan Rp 2.300.000 untuk beasiswa.

    “Terkumpul juga dari para alumni yaitu dari Angkatan 32 Juara,  alumni Fapet angkatan 25,  Aninsya Farm dan alumni INMT 32.  Arga Citra 23 berkomitmen akan memberikan sponsor satu water station. Komitmen lainnya yaitu Himpunan Alumni Statistik akan menggalang wakaf untuk FMIPA dan Zoom Komputer akan support untuk program wakaf water station dan 1000 beasiswa. Penggalangan dana wakaf akan terus kami lanjutkan,” terangnya.

    Para alumni IPB University sangat mengapresiasi program tersebut dan berharap agar dapat berjalan dengan sukses ke depannya

  • Bertempat di Gedung Rektorat Andi Hakim Nasution, Rektor IPB University, Prof Arif Satria me-launching SORINFER dan Herbal Mineral Blok (HMB) yang merupakan produk hasil inovasi peneliti dari Fakultas Peternakan IPB yang dapat membantu untuk meningkatkan produksi dan imunitas ternak dan mencegah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hari Rabu 29 Juni 2022.

    Sorinfer merupakan formulasi pakan komplit berbahan sorgum dan indigofera dengan tim peneliti diketuai oleh Prof Luki Abdullah dan anggota tim yang terdiri dari Prof Panca Dewi Manu Hara Karti, Prof Rudy Priyanto, Dr Adi Hadianto. Ketua Tim Peneliti, Prof Luki Abdullah mengatakan bahwa inovasi ini diharapkan bisa menjadi penentu keberlanjutan usaha peternakan.  Pasalnya, industri pakan komplit untuk ternak ruminansia di Indonesia masih belum berkembang karena terlalu kompleks dalam penyediaan bahan pakan sumber serat.  “Umumnya hijauan pakan diproduksi secara tradisional dan dalam skala kecil oleh peternak bukan produsen khusus, “ ungkapnya.

    Dengan kondisi seperti ini, sebutnya, beternak menjadi lebih sulit dan tidak efisien, padahal di sisi lain minat beternak masyarakat terutama generasi milenial semakin tinggi, karena keuntungan yang menjanjikan dari bisnis ini. “Perusahaan peternak yang pemiliknya kaum milenial cenderung lebih menyukai cara beternak yang mudah, praktis namun harus menguntungkan, “ jelasnya.

    Ia menambahkan, berdasarkan testimoni di lapangan, Sorinfer disukai ternak. "Sebagian besar ternak yang memulai mengkonsumsi Sorinfer akan langsung memakannya. Hal ini disebabkan oleh aromanya yang wangi seperti aroma tape dan tekstur yang mewakili pakan hijauan berkualitas tinggi perpaduan sorgum dan Indigofera yang dipanen pada waktu yang tepat, sehingga disukai oleh ternak" tuturnya. Dengan kondisi tersebut, sebutnya, peternak tidak perlu repot-repot untuk mengarit atau mencari hijauan pakan, karena produk ini dapat disimpan hingga satu tahun selama plastik kemasannya tidak bocor, sehingga saat musim kemarau pun akan tetap tersedia bagi ternak.

    Keunggulan lain adalah kemasan Sorinfer terdiri dari dua jenis, yaitu menggunakan kantong ganda dengan bagian dalam (inner) kedap udara dan air, dan kantong bagian luar yang melindungi kantong bagian dalam. Dengan segala keunggulan yang ada, diharapkan Sorinfer bisa menjadi solusi permasalahan pakan bagi peternak dan memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat perdesaan dalam memasok biomassa sorgum dan Indigofera.

    Selain Sorinfer, inovasi menarik dan solutif untuk mengatasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) juga diperkenalkan pada kegiatan tersebut yaituHerbal Mineral Blok (HMB). HMB ini ditemukan oleh para peneliti dari departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi pakan, Fakultas PeternakanProf Dewi Apri Astuti dan Dr Sri Suharti .  Bahan herbal yang telah dicoba untuk dicampurkan dalam pakan antara lain kunyit, jahe, dan lerak. Bahan herbal tersebut digunakan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan mineral sekaligus untuk  meningkatkan imunitas.   Penelitian ini telah dimulai sejak tahun 2008.

    Prof Dewi Apri Astuti, Anggota Tim Peneliti HMB IPB University mengatakan, “Pada masa merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) saat ini, kami dari pasukan bidang peternakan mencoba mengantisipasi dalam bentuk usaha preventif/pencegahan dengan pemberian pakan yang dapat meningkatkan imunitas ternak’’ jelasnya.  Selain itu dijelaskan oleh Prof Dewi bahwa pola pemeliharaan ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba pada peternakan rakyat yang masih mengandalkan rumput sebagai pakan utama, sering menyebabkan ternak kekurangan nutrien. Kekurangan nutrien tersebut seperti energi, protein dan mineral.

    “Mineral merupakan unsur nutrient yang sangat diperlukan dalam proses fisiologis ternak. Mineral dibutuhkan bagi ternak yang sedang tumbuh dan untuk pembaharuan sel-sel yang berlangsung terus-menerus, serta untuk keperluan berproduksi. Apabila ternak kekurangan mineral, dapat menyebabkan kelainan proses fisiologis yang disebut defisiensi mineral, “ ungkapnya.

    Dr Sri Suharti, anggota Tim Peneliti lainnya turut menambahkan, salah satu pencegahan defisiensi mineral adalah dengan pemberian mineral blok. Menurutnya, mineral Blok Herbal mengandung mineral baik makro maupun mikro serta bahan herbal. “Bahan herbal tersebut seperti kunyit, temulawak dan bahan anti cacingan.  Bahan lain yang ditambahkan antara lain pollard/dedak sebagai sumber energy, maggot/BSF sebagai sumber protein, molasses sebagai sumber energi dan meningkatkan palatabilitas, garam serta kapur sebagai pengikat sekaligus sumber kalsium. Bahan-bahan tersebut dipres sehingga berbentuk padat yang berfungsi sebagai suplemen pakan untuk menjaga kesehatan ternak dan performa ternak meningkat, “ jelasnya.

    Lebih lanjut dikatakannya, pemberian Herbal Mineral Blok untuk dikonsumsi ternak dan diberikan dengan cara digantung di kandang sejajar dengan kepala sapi dan diusahakan agar dapat dijilati atau dijangkau oleh ternak. “Saat sapi menjilat-menjilat, sapi akan mengeluarkan air liur yang efektif sebagai buffer untuk menstabilkan pH rumen. Pada ternak ruminansia, pasokan nutrien lebih banyak bergantung pada mikroba rumen dan produk fermentasinya, “ jelasnya.

    Selain itu, lanjutnya, bahan-bahan yang terdapat pada suplemen blok dapat dijadikan tambahan nutrien dan mineral sehingga diharapkan dapat meningkatkan produksi. “Dalam produk Mineral Herbal Blok ini juga ada tambahan herbal berupa kunyit yang berfungsi sebagai antibakteri patogen alami, meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan nafsu makan, “ tambahnya.

    Ia menyebut, pemberian HMB berbahan baku herbal kunyit yang dilengkapi dengan protein asal tepung black soldier fly (BSF) serta mineral Ca, P, Zn, Cr dan Se dapat meningkatkan imunitas. Produk dikemas dalam bentuk pakan blok dengan berat 2,5 sampai 3,0 kilogram per blok. Blok tersebut diberikan pada ternak sapi untuk dijilat sampai habis yang memakan waktu sekitar satu bulan.  Ia berharap dengan pemberian HMB dan pakan utama berupa konsentrat dan hijauan yang kaya vitamin A dan C dapat meningkatkan imunitas ternak sehingga terhindar dari serangan virus PMK.

    “Pakan blok ini dapat diformulasikan sesuai kebutuhan, contoh kasus defisiensi Yod, Fe, Mg, Zn ataupun dengan mencampurkan herbal untuk meningkatkan ketahanan tubuh. Herbal Mineral Blok merupakan campuran herbal dan mineral fungsional yang dibuat dalam bentuk pakan padatan (blok/pres), “ jelasnya. (SSI/Femmy)

  • Black Soldier Flies (BSF) yang diperoleh dari proses biofermentasi limbah organik memiliki potensial sebagai bahan pakan ternak karena memiliki kandungan protein yang tinggi (42 persen), lemak tinggi (37 persen) dan kandungan asam laurat sebagai antimikroba yang tinggi pula (40 persen). Larva BSF telah banyak diproduksi dan dikembangkan menjadi salah satu bahan pakan ternak, baik untuk unggas, hewan air, ruminansia dan hewan kesayangan. 

    Tim dosen IPB University dari Divisi Nutrisi Ternak Pedaging dan Kerja (NTDK), Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP), Fakultas Peternakan (Fapet) berhasil mengembangkan pakan berbasis BSF, antara lain BSF-Milk Replacer (susu pengganti), BSF-Starter Complete Feed dan BSF-Cat Food.

    Ketiga produk tersebut telah melalui kajian riset BSF sejak tahun 2014 hingga sekarang dilanjutkan dengan produksi pakan berbasis BSF serta aplikasi di lapang. Program ini di bawah kolaborasi riset tim dosen Divisi NTDK Fapet IPB University, antara lain untuk produk Milk Replacer (Prof Dewi Apri Astuti dan Kokom Komalasari, SPt MSi bekerjasama dengan PT Biocycle Indonesia), produk BSF-Starter Complete Feed (Prof Dewi Apri Astuti, Dr Didid Diapari dan Dr Dilla M bekerjasama dengan PT Biocycle Indonesia) serta produk BSF-Cat Food (Prof Dewi Apri Astuti dan Dr Sri Suharti bekerjasama dengan PT Bahagia Satwa Indonesia).

    “Pakan berbasis BSF ini memiliki keunggulan sebagai pakan anti diare yang dikhususkan untuk anak domba/kambing dan kucing. Produk pakan BSF-Milk Replacer dan BSF-Starter complete Feed ini diharapkan dapat turut menyelesaikan permasalahan pada peternakan ruminansia kecil,” kata Prof Dewi Apri Astuti saat Launching Inovasi Unggulan IPB Batch 8 yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University di Kampus Dramaga, Bogor, 4/10.

    Ia menjelaskan, salah satu permasalahan ternak ruminansia kecil, diantaranya tingkat kematian anak pra-sapih yang cukup tinggi hingga mencapai 20 persen. Di samping itu, ketersediaan pakan kucing yang didominasi produk impor dapat dikurangi dengan menghadirkan pakan kucing produk lokal.

    Dalam kesempatan itu, Prof Dewi menerangkan, BSF-Milk Replacer terbuat dari bahan BSF meal, minyak BSF, skim, tepung kuning telur, full krim, minyak bunga matahari, premix, CaCO3 dan DCP. Formula tersebut menciptakan susu pengganti yang menyerupai kandungan susu kambing/domba dengan kandungan protein 27 persen, lemak 20 persen, kalium 1,50 persen dan fosfor 0,70 persen, sesuai rekomendasi Food and Agriculture Organization (FAO) kandungan nutrient susu pengganti. 

    “Cara pemberian susu pengganti bagi ternak pra-sapih mulai umur satu minggu sebanyak 6 kali sehari dan berkurang terus hingga umur menjelang sapih, yaitu 8 minggu sebanyak 2 kali sehari. Pemberian susu pengganti ini dengan cara dilarutkan pada air hangat dengan perbandingan susu dan air sebanyak 1: 4 dan dimasukkan ke botol yang telah disterilkan,” ungkapnya.

    Lebih lanjut ia menguraikan, ternak akan mengkonsumsi susu tersebut sejumlah kurang lebih 3 persen bahan kering dari bobot badan ternak tersebut. Minyak BSF yang digunakan, memiliki kandungan asam laurat yang tinggi dan telah terbukti dapat mematikan bakteri e-coli. “Karena itu, produk BSF-Milk Replacer ini dijamin dapat mencegah diare, salah satu penyebab tertinggi pada kematian anak pra-sapih ruminansia,” sebut dia.

    Produk ini telah didaftarkan paten dengan nomor PID201806537 dan mendapatkan penghargaan karya inovatif 113.  BSF-Milk Replacer juga telah dikerjasamakan dengan pihak Industri PT Biocycle Indo yang selanjutkan akan memasarkan produk tersebut secara komersial.

    Lebih lanjut Prof Dewi menuturkan, BSF-Starter Complete Feed merupakan pakan pemula untuk anak ruminansia lepas sapih. Pakan ini terbuat dari bahan BSF meal, minyak BSF, dedak halus, tepung jagung, polard, bungkil kedelai, minyak sawit, premix, CaCO3 dan garam. Formula pakan starter ini mengandung 17 persen protein, 7 persen lemak, 75 persen Total Digestible Nutrient (TDN), 0,5 persen kalsium, 0,6 persen phosphor serta glisin dan methionine yang mencukupi untuk pertumbuhan anak domba/kambing fase starter. 

    Pakan starter ini, sebutnya, diberikan pada anak yang lepas sapih untuk mengawal pertumbuhan yang cepat dan menekan kematian. Kehadiran minyak BSF ditujukan untuk menekan kematian akibat diare yang sering terjadi pada anak lepas sapih, terutama di musim hujan.

    “Data menunjukkan anak domba lepas sapih yang diberi pakan BSF-Starter Complete Feed mengalami pertumbuhan 112 -120 g/ekor/hari. Pertumbuhan ini sangat mendukung program pemenuhan daging asal lokal dengan target bobot potong umur 5 bulan (balibu  atau kalibu) sebesar 21 kilogram.  Produk ini dalam tahap pengajuan paten dan selanjutnya akan dikerjasamakan dengan pihak industri terkait,” ulasnya.

    Sementara itu, untuk mengurangi ketergantungan dengan luar negeri, maka IPB University menghadirkan BSF-Cat Food untuk mengurangi kelangkaan pakan hewan kesayangan lokal. Pasalnya, selama ini pakan hewan kesayangan yang beredar di Indonesia kebanyakan merupakan produk impor. 

    “Kandungan nutrient dari BSF-Cat Food ini cukup mendukung pertumbuhan kucing, bulu yang halus dari kehadiran taurine didukung kehadiran protein sebesar 25 persen, fat 11 persen, serat 5 persen dan vitamin dan mineral yang mendukung pertumbuhan tulang yang kuat,” imbuh Prof Dewi.

    BSF-Cat Food terbuat dari bahan BSF meal, minyak BSF, tepung jagung, dedak halus, tepung udang, tepung daging ayam, meat bone meal, squid oil, bubuk saripati ayam, sari pati keju, pet basemix, taurine dan minyak ayam. 

    Produk BSF-Cat Food ini telah dikerjasamakan produksi komersilnya dengan PT Bahagia Satwa Indonesia (BSI) dengan pemasaran dibantu oleh kolega para dokter hewan praktik di sekitar Jabodetabek (ipb.ac.id)

  • IPB University kembali memperpanjang kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Dalam lawatannya itu, tim IPB University diwakili oleh Muhamad Baihaqi, SPt, MSc, Dr Iwan Prihantoro dan Edit Lesa Aditia, MSc. Tim IPB University diterima oleh Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Baperlitbang) yang diwakili oleh Sekretaris Dinas dr Junita Prasetyaningsih, MPh beserta jajarannya. 

    Dalam kunjungan kali ini, IPB University dan Pemerintah kabupaten Banjarnegara sepakat untuk terus memperpanjang kerjasama. IPB University berkomitmen akan terus mendorong kemajuan bidang pertanian secara umum di Kabupaten Banjarnegara. Upaya tersebut akan diwujudkan melalui beragam kegiatan, salah satunya adalah kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang akan dilakukan pada tahun 2022 dan kegiatan penelitian maupun pengabdian masyarakat lainnya.

    Muhamad Baihaqi menjelaskan bahwa kegiatan KKNT IPB university memiliki keunikan tersendiri sehingga menjadi pembeda dengan kegiatan sejenis dari perguruan tinggi lain. Dosen IPB University itu menyebut, KKNT IPB University dirancang sesuai dengan tema-tema spesifik di bidang pertanian secara umum yang menjadi core competence IPB University. Dengan demikian, kemanfaatan program ini dapat dirasakan lebih besar oleh mitra. 

    Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara juga berharap bisa terus menjadi wilayah binaan IPB University.  “Terdapat dua isu utama di Kabupaten Banjarnegara yaitu pengentasan kemiskinan ekstrem dan stunting, harapannya keberadaan sivitas akademika IPB University dengan reputasi di bidang pertanian mampu membuat terobosan dan inovasi untuk mengatasi hal ini,” ungkap dr Junita.  

    Di akhir pertemuan disepakati bahwa kerjasama antara IPB University dan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara akan ditindaklanjuti dengan pembuatan surat perjanjian kerjasama (ipb.ac.id)

  • Setelah Lulus dari Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 1988, Rifda memulai karirnya di perusahaan-perusahaan besar terkemuka dari Indonesia dan dipercayakan untuk menjadi Public Relation dan Marketing Manager & Communication. Mengingat bahwa ia mampu untuk menjalankan bisnis sendiri, pada tahun 1993, Rifda mengambil langkah besar dalam dunia bisnis dan mendirikan perusahaannya di bidang teknik listrik dan pertambangan yang membawanya ke sukses besar. Melalui jaringan yang luas dan pemahamannya yang mendalam mengenai permintaan konsumen terhadap produk-produk,  menjadikan jalan dalam pendirian PT. Puteri Cahaya Kharisma (Performax) pada tahun 2002. Selain dalam bidang bisnis, kegiatan sehari-harinya juga diisi dengan kegiatan sosial dan aktif berorganisasi seperti menjadi pendiri Yayasan Amanah dan Yayasan Peduli Bangsa (YPB)  Rifda juga merupakan anggota dari KADIN , HIPMI , ARDIN , PII , MKI , dan ASPERAPI.

  • Bapak dengan dua anak bernama Syukur Iwantoro ini memang begitu mencintai dunia peternakan. Bahkan, untuk mengimplementasikan ilmu peternakan yang telah dikuasainya, usia kuliah Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan IPB, Syukur memilih bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang pembibitan peternakan di wilayah Bogor. Dan entah kebetulan atau tidak, hobi beternak tersebut telah mengantarkan pria kelahiran Situbondo pada 30 Mei 1959 ini menjadi Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2011-2015.

    Namun karena terpengaruh ajakan teman sejawatnya untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Pertanian (Kementan), ia kemudian tertarik juga untuk menjadi PNS Kementan karena ia juga memiliki keinginan untuk sekolah kembali dan ingin mengabdikan ilmu bagi dunia peternakan di Tanah Air.

    Setelah sekian lama terjun sebagai PNS, Syukur benar-benar makin mencintai pekerjaannya. Dalam bekerja, Syukur menerapkan strategi khusus untuk memuluskan kariernya, salah satunya dengan tampil beda dibanding rekan seangkatannya. Jika PNS lain masuk siang dan pulang siang, Syukur memilih kerja dari pukul 08.00 hingga 17.00 sore sehingga menarik perhatian atasannya.

  • Jika membicarakan mengenai kuda nil tentunya bayangan kita langsung tertuju pada hewan mamalia dengan tubuh tambun yang menjadi penguasa sungai sungai di Afrika. Namun tidak banyak orang yang mengetahui ada spesies dari kuda nil ini yang tubuhnya sangat kecil dibanding dengan kuda nil normal yang dikenal dengan kuda nil kerdil atau Choeropsis liberiensis.

    Menurut Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor kuda nil kerdil tergolong hewan langka karena di alam liar jumlahnya hanya tersisa 2000-2500 ekor saja dan sebagian dari populasi ini dipelihara di penangkaran kebun binatang untuk mencegah kepunahan satwa langka ini.

    “Minggu ini kita mendengar berita gembira datang dari Taman Zoologi Attica di Athena terkait kelahiran kuda nil kerdil ini. Mengingat status hewan ini tergolong hewan yang hampir punah maka kelahiran kuda nil kerdil ini terasa sangat istimewa sekaligus memberi harapan bagi pelestari satwa liar untuk mengembangkan kembali populasi kuda nil kerdil ini agar tidak punah,” ujar Guru Besar IPB University ini.

    “Kelahiran kuda nil di kebun binatang memang tergolong jarang terjadi karena umumnya kebun binatang kekurangan pejantan di tempat penangkaran. Oleh sebab itu kelahiran kuda nil kerdil jantan ini akan berdampak besar bagi peningkatan populasi kuda nil kerdil di tempat penangkaran sebelum nantinya dilepas liarkan di alam,” jelas Prof Ronny.

    Menurut Prof Ronny, kuda nil kerdil berasal dari rawa dan hutan hujan di Afrika Barat dan biasanya melahirkan seekor anak setelah masa kebuntingan sekitar enam hingga tujuh bulan. Bagi pelestari satwa liar, mengembangbiakan kuda nil kerdil di tempat penangkaran tergolong sangat sulit karena secara alami kuda nil kerdil ini hidup menyendiri.

    “Kesulitan lainnya yang dihadapi oleh pelestari kuda nil yakni terkait menjaga dan memonitor perkembangan bayi kuda nil kerdil untuk memastikan berkembang dengan baik selama masa kebuntingan. Selama kebuntingan para petugas harus melatih induk agar nyaman pada posisinya untuk dilakukan ultrasonografi (USG) dan memonitor perkembangan bayinya di dalam kandungan,” tutur Prof Ronny.

    Ia menjelaskan, bayi kuda nil kerdil ini bobot lahirnya sekitar 7 kilogram dan anak kuda nil akan bersama induknya di dalam ruang khusus sebelum nantinya mulai mengeksplorasi alam sekitarnya untuk tumbuh dan berkembang dan mencapai dewasa kelamin pada umur 4-5 tahun.

    “Setelah mencapai dewasa tubuh kuda nil kerdil ini memiliki panjang tubuh sekitar 1,7-1,75 meter, tinggi badan sekitar 75-100 centimeter dengan berat hanya sekitar 160-270 kilogram atau sekitar 10 persen bobot kuda nil normal,” ungkap Prof Ronny.

    Menurut Prof Ronny, pelestarian dalam dunia konservasi pada dasarnya digunakan dua metode yakni pelestarian in situ, yaitu pelestarian satwa langka di habitat alaminya dan pelestarian ex situ yaitu pelestarian diluar habitat aslinya.

    “Salah satu tantangan yang dihadapi pelestari satwa liar yang pelestariannya menggunakan metode ex situ adalah melepasliarkan hasil penangkarannya di alam liar setelah berhasil mengembangbiakannya,” ujar Prof Ronny.

    “Kelahiran kuda nil kerdil ini dapat dinilai sebagai keberhasilan pengembangbiakan satwa liar di tempat penangkaran dengan harapan setelah populasinya berkembang dapat dilepasliarkan sehingga populasinya di alam liar mengalami peningkatan,” jelasnya (ipb.ac.id)

  • Serangkaian kegiatan Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) dilaksanakan oleh IPB University, Selasa, 8 Agustus 2023 pagi hingga selesai. Sebanyak 386 mahasiswa yang mengambil Fakultas Peternakan (Fapet IPB University) Angkatan 60 yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti MPKMB yang diadakan IPB University.

    Dalam kegiatan ini, Fapet IPB University mendatangkan alumninya yang sukses di bidang masing-masing. Pembekalan Soft skill bagaimana Membangun Jejaring Secara luas dengan tema "Connection Empowering" diberikan oleh Dr. Ir. Audy Joinaldy,S.Pt, M.Sc, MM, IPM, ASEAN.Eng selaku Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) dan juga Ketua Dewan Pembina HANTER IP.

    Audy Joinaldy mengatakan, para calon mahasiswa baru IPB University harus mampu memperluas jaringan atau koneksi dengan baik, didalam maupun diluar kampus dan mampu mengembangkannya secara luas. Sebagai sosok alumni yang sukses, Audi juga mengakui awalnya ia masuk fapet IPB sempat merasa kesalahan dalam memilih jurusan.

    “Semuanya bermula dari kesalahan, tetapi kesalahan tersebutlah yang membawa saya menuju kesuksesan. Perbanyak networking dan jadilah bagian dari ikatan alumni peternakan IPB yang berpengaruh dilingkungan masyarakat, negara dan dunia,” kata Audy Jonialdi.

    Tema lainnya “Communication Skills dan Personal Branding” dibawakan oleh alumninya yang sukses dalam industri media massa, Rachmawati, S.Pt selaku Founder Polri TV dan Pemimpin Redaksi PMJ News.com yang juga menjabat sebagai CEO PT. Dunia Kreatif Indonesia.

    Seluruh calon mahasiswa baru antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan agar mahasiswa baru Fakultas Peternakan angkatan 60 memahami etika berkomunikasi yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam kampus maupun diluar kampus, kemudian memiliki kemampuan komunikasi yang efektif dan memiliki personal branding yang baik.

    "Kemampuan komunikasi sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam hal menjalin relasi, melakukan pengembangan usaha, melakukan promosi dan PERSONAL BRANDING," kata Rachmawati usai menyampaikan pemaparannya.

    “Membangun personal branding sendiri itu sangat penting. Apalagi kita memadukannya dengan komunikasi yang baik dan networking yang luas. Kita juga harus menggali apa yang menjadi passion kita, contohnya adalah menggali dan melatih soft skill kita. Karena semua boleh salah jurusan, tetapi semua tidak boleh salah tujuan,” sambungnya.

    "Kerja tidak sekedar mengejar uang atau penghasilan, tapi berkaryalah yang punya manfaat untuk orang banyak,” tutup Rachma.

    Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Peternakan IPB sekaligus Selayang Pandang Fakultas Peternakan IPB (Kegiatan LKMM Fakultas Peternakan) Dr. Ir. Idat Galih Permana, MSc.Agr.

    Hadir juga Ketua Umum HANTER IPB Aif Arifin Sidhik, S.Pt., M.Sc dan Sekjen HANTER IPB Dr. Iyep Komala, S.Pt., M.Si, serta Pengenalan Department dimoderatori oleh Dr. Ir. Widya Hermana, MSi.. Termasuk kehadiran Ketua Departemen IPTP dan INTP Prof. Dr. Asep Gunawan, S.Pt, MSc dan Dr. Ir. Heri Ahmad Sukria, MSc.Agr yang juga menyampaikan materi Pengenalan Departemen IPTP dan INTP.

    Diakhir acara ditutup dengan sesi tanya jawab terkait pengenalan department dan juga ramah tamah antara mahasiswa baru bersama dengan alumni dan juga dosen serta senior dari Fakultas Peternakan IPB Universty (pmjnews)

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar Kuliah Pembekalan (Kuliah Kerja Nyata Tematik) KKNT Inovasi bagi seluruh mahasiswa yang mengikuti program KKN  di Auditorium JHH, (25/5). Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 300 mahasiswa Fapet ini menghadirkan empat orang narasumber. Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Fapet IPB Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt, M.Si  hadir memberikan arahan “Tahun ini Fapet ada 3 koordinasi wilayah, yaitu Kab. Banjarnegara, Kab. Brebes dan Kab. Batang, namun demikian mahasiswa Fapet tidak hanya disebar ke 3 korwil tersebut dan kita mengharapkan KKN ini diikuti full oleh mahasiswa yang mengisi KRS” jelasnya.

    Selain itu Prof. Irma juga menyampaikan agar peserta memperhatikan keselamatan, selalu berhati-hati dalam berkendara di daerah KKN. “Dalam berinteraksi dengan masyarakat juga harus mengetahui adat istiadat. Selama ini (dalam KKN sebelumnya) kita tidak ada komplain dari pemda atau masyarakat, sehingga atittude atau karakter dan tingkah laku adik-adik selama disana untuk IPB dinilai baik. ” lanjutnya. “Lalu ini musim Pilkada, jadi tidak boleh sama sekali ikut dalam politik praktis yang ada disana, diperhatikan juga hal teknis seperti tidak perlu membawa barang yang terlalu banyak, bawa secukupnya dan yang paling penting digunakan. Kemudian jangan lupa untuk minta izin dan doa restu kepada orangtua”pungkasnya.

    Kuliah pembekalan ini menghadirkan empat dosen Fapet sebagai narasumber. Materi pertama disampaikan oleh M. Baihaqi, S.Pt, M.Sc, dosen dari program studi Teknologi dan Produksi Ternak ini menyampaikan beberapa tahapan KKN dari mulai membuat proposal hingga akhir pelaksanaan. “Mahasiswa yang melaksanakan KKN bisa menjadi narasumber, fasilitator dan motivator untuk masyarakat”terangnya. Selanjutnya Dr. Iwan Prihantoro, S.Pt, M.Si dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan memberikan materi seputar aspek hijauan dan pakan ternak.

    Sesi ketiga pembekalan membahas aspek teknologi hasil ternak disampaikan oleh M. Arifin, S.Pt, M.Si. diawali dengan pengenalan produk hasil ternak yaitu produk utama, ikutan dan limbah. Arifin juga membagikan tips bagaimana cara memilih kemasan produk dengan memperhatikan anggaran, material, ukuran dan desain. Materi terakhir terkait softskill menghadirkan Dr. Sigid Prabowo, S.Pt., M.Sc yang berbagi teknik komunikasi massa saat KKN.”Perhatikan etika, ikuti adat istiadat dan jangan lupa untuk murah senyum”pesannya. (Femmy)

  • Pada hari Kamis, 18 Desember 2014, diselenggarakan joint general lecture di Ruang Sidang Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Dalam kesempatan ini hadir dua dosen tamu, Prof. Hiroshi Takagi, PhD dari Nara Institute of Science and Technology dan Berry Juliandi, PhD dari Departemen Biologi, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

    Berry Juliandi, PhD memberikan paparan yang berjudul "Stem cells biology and its application in biomedicine". Berry Juliandi, PhD menjelaskan mengenai dasar-dasar biologi sel punca atau sel batang. Sel punca memiliki fungsi untuk sistem perbaikan penggantian sel-sel tubuh. Sel punca telah digunakan untuk percobaan pengobatan biologis pada tikus penderita paralisis dalam skala laboratorium. Untuk selanjutnya sedang dikembangkan penelitian yang aplikatif untuk manusia.

    Prof. Hiroshi Takagi memaparkan "Overexpression of the yeast transcription activator msn2 confers stress resistance in industrial yeast". Dalam paparannya, Prof. Hiroshi Takagi menjelaskan mengenai penggunaan yeast dalam industri roti dan berbagai usaha lain. Penggunaan aktivator msn2 mampu menekan efek stress akibat pemanasan, pengeringan dan pembekuan. Sistem ini dapat diterapkan pada berbagai industri lain, termasuk industri pakan. Prof. Hiroshi Takagi juga menjelaskan mengenai ruang lingkup Nara Institute of Science and Technology serta kesempatan beasiswa untuk belajar di sana.

    Dalam kesempatan ini hadir sekitar 30 mahasiswa pasca sarjana dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Teknologi Pangan IPB. Mahasiswa tampak antusias mengikuti perkuliahan dan aktif bertanya kepada kedua dosen undangan.(sumber: intp.fapet.ipb.ac.id)

  • Jurnal Internasional Tropical Animal Science Journal (TASJ) yang dikelola Fakultas Peternakan, IPB University berhasil mencapai ranking Quartil 2 (Q2) berdasarkan Scimago Journal & Country Rank, pada kategori Animal Science and Zoology dengan nilai SJR 0.39. Pada Peringkat Asia di bidang Animal Science and Zoology, TASJ menempati peringkat 13 dari 50 jurnal, sedangkan di bidang veteriner TASJ menempati peringkat 7 dari 27 jurnal.

    SJR dihitung berdasarkan jumlah kutipan rata-rata per artikel yang diterbitkan dalam suatu jurnal dalam tiga tahun terakhir dari database Scopus. Dalam menilai jurnal, Scopus membuat klasterisasi kualitas jurnal yang terbagi menjadi empat Quartile, yaitu Q1, Q2, Q3 dan Q4. Q1 adalah klaster paling tinggi dari segi kualitas jurnal, kemudian diikuti Q2, Q3, dan Q4. Berdasarkan Science and Technology Index SINTA dari Kementerian Riset dan Teknologi RI, saat ini Indonesia memiliki 4.985 jurnal. Jika ditelusuri dengan SJR, hanya 58 jurnal dari Indonesia yang terindeks Scopus sebagai jurnal bereputasi internasional dengan ranking Q1-Q4 serta Q Unindexed.

    Hasil pemeringkatan tersebut dapat diakses pada laman https://www.scimagojr.com/journalsearch. Scopus menggunakan parameter pemeringkatan yang disebut Scimago Journal and Country Rank atau SJR.

    Tropical Animal Science Journal (TASJ) sebelumnya bernama Media Peternakan adalah jurnal ilmiah yang mencakup aspek luas dari ilmu hewan tropis. Mulai tahun 2018, Media Peternakan berubah namanya menjadi Tropical Animal Science Journal dengan tujuan untuk mengembangkan dan memperluas distribusi serta meningkatkan visibilitas jurnal. TASJ diterbitkan EMPAT kali setahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember dimulai dari tahun 2020 oleh Fakultas Peternakan, IPB University. Edisi pertama dengan judul TASJ baru diterbitkan pada edisi April 2018 (Vol 41 No 1 2018), sedangkan edisi sebelumnya (hingga 2017) masih menggunakan nama Media Peternakan sebagai judul dan dapat diakses di situs web lama (http: //medpet.journal.ipb.ac.id/).

    TASJ ini telah diakreditasi oleh Akreditasi Jurnal Nasional (ARJUNA) yang dikelola oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Republik Indonesia dengan Kelas Satu (Sinta 1) sejak tahun 2018 hingga 2022 sesuai dengan keputusan No. 30 / E / KPT / 2018.

    TASJ telah diindeks dan diabstraksi dalam produk-produk Elsevier (Scopus, Reaxys), produk-produk Analisis Clarivate (Indeks Kutipan Sumber Muncul), Peringkat Jurnal Scimago, Indeks Kutipan ASEAN, DOAJ, Dimension Digital Science, CABI, EBSCO, SINTA, Google Scholars, dan basis data ilmiah lainnya. Jurnal ini juga menggunakan Pemeriksaan Kesamaan untuk mencegah dugaan plagiarisme dalam naskah.

    Tropical Animal Science Journal menerima manuskrip yang mencakup beragam topik penelitian dalam ilmu hewan tropis: pembiakan dan genetika, reproduksi dan fisiologi, nutrisi, ilmu pakan, agrostologi, produk hewan, bioteknologi, perilaku, kesejahteraan, kesehatan dan kesehatan hewan, sistem peternakan, sosial-ekonomi, dan kebijakan.

     

     

  • Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University sepakat menjalin kerjasama dengan PT Lestari Masa Depan. Penandatanganan Perjanjian Kerjasama dilaksanakan di Ruang Sidang Fapet, Kampus IPB Darmaga Bogor, pada Senin 1 Desember 2025. “Penandatanganan perjanjian kerjasama ini sudah melewati proses yang panjang dan PT. Lestari juga sebeleumnya sudah melakukan MoU dengan Rektor IPB” jelas Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fapet Prof. Dr. Sri Suharti, S.Pt, M.Si. dalam kerjasama ini, PT Lestari Masa Depan yang merupakan suatu perseroan yang bergerak di bidang konsultasi manajemen, bersama Fapet bermaksud untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi.

    Dekan Fapet  Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr menyambut baik kerjasama ini. “Kalau kita lihat tentang rencana kerjasama ini, tentunya ini sangat in line dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah. Karena pemerintah juga mendorong agar kita meningkatkan produksi produk-produk petanakan, termasuk ayam”ungkapnya. Prof. Idat juga berharap pilot project ini bisa dijadikan wadah bagi para mahasiswa nanti untuk semacam praktik atau riset serta memperluas produksi. “Dalam kerja sama ini, rencananya ayam IPB D1 akan dikembangkan di masyarakat dan kemudian hasilnya dapat diperluas penyebarannya. Harapan kami, pengembangan ini dapat menjadi kontribusi penting, terutama karena inovasi ayam IPB D1 sebenarnya sudah sangat established; yang dibutuhkan tinggal perluasan skala pengembangannya. Selama ini sudah ada beberapa kerja sama, namun sifatnya masih terbatas dan belum pada tahap pengembangan massal”jelasnya. 

    Jika program ini berjalan, ayam IPB D1 dapat menjadi alternatif ayam unggul bagi masyarakat, dibandingkan ayam kampung yang kualitasnya sangat beragam dan tidak selalu terstandar. Dengan adanya pengembangan ini, masyarakat bisa memperoleh ayam unggul yang lebih produktif.

    Cynthia Krisanti, Direktur PT Lestari Masa Depan turut menyimpan harapan yang besar atas kolaborasi ini. “Harapan kami dengan adanya PKS ini adalah terciptanya kerangka yang jelas mengenai bagaimana kita akan melaksanakan pilot project. Dari sisi kami, karena grup perusahaan kami juga memiliki unit non-for-profit, kami melihat pilot ini memiliki potensi yang sangat tinggi, baik dari nilai ekonomi maupun nilai sosial.”

    Menurut Chynthia, dari sisi sosial ada peluang besar untuk regenerasi petani dan peternak muda. “Kami melihat kerja sama ini sebagai peluang sosial yang sangat baik, terutama untuk mengajak generasi muda, yang selama ini lebih banyak tertarik pada ekonomi kreatif dan dunia digital, untuk kembali melihat bahwa sektor riil seperti peternakan adalah sektor yang mampu menciptakan nilai ekonomi yang kuat dan berkelanjutan”ungkapnya.

    “Sejalan dengan apa yang disampaikan Pak Dekan terkait sinergi dengan MBG, mengingat pemerintah pusat saat ini juga memberikan perhatian khusus dan investasi pada pengembangan chicken farm. Kami melihat peluang untuk menghadirkan pilot project yang dapat dikenal dan diakui, baik oleh pemerintah daerah maupun secara nasional. Dengan demikian, peluang untuk di-scale up dan mendapatkan dukungan investasi dari berbagai pihak menjadi sangat terbuka”pungkasnya.

    Kegiatan ini dihadiri oleh para pimpinan dari kedua belah pihak yaitu dari Fapet IPB Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr selaku Dekan, beserta para Wakil Dekan yaitu Prof. Irma Isnafia Arief, S.Pt, M.Si dan Prof. Sri Suharti, S.Pt, M.Si. Komisi Kerjasama Fapet, Prof. Dr. Jakaria, S.Pt, M.Si turut hadir dan menyaksikan penandatanganan PKS ini. Dari pihak PT. Lestari, hadir Cynthia Krisanti Direktur yang didampingi oleh Tim. (Femmy)

  • Institut Pertanian Bogor (IPB) dan PT. Surya Agro Pratama serta Infrabanx sepakat mengadakan kerjasama dalam bidang peningkatan kapasitas peternak, pemanfaatan ilmu dan teknologi, serta penerapan bisnis kolektif melalui program Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) di seluruh Indonesia. Kesepakatan disahkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) seluruh pihak di Ruang Sidang Rektor Kampus IPB Dramaga (22/5). MoU ini berlaku selama 10 tahun. 

    Rektor IPB, Dr.Arif Satria berharap dengan adanya kerjasama IPB dan PT Surya Agro Pratama, inovasi kelembagaan yang telah diciptakan oleh tenaga ahli IPB dapat memecahkan problem social capital yang biasanya ada dalam usaha peternakan. Apa yang  dikembangkan dapat  mengarah pada penguatan sistem.

    “Ini dapat menjadi kekuatan kita ke depan. Semoga dengan hadirnya Infrabanx akan lebih masif, lebih baik lagi dan dapat meningkatkan kesejahteraan para peternak,” ujar rektor.

    Selain itu menurut rektor, SPR dapat menjadi learning center, pusat pembelajaran dan penyuluhan yang berbasis pada riset. Kemudian prinsip sosial capital dapat terus dikembangkan dan dapat menjadi solusi dari problem baik di bidang sumbedaya alam, hubungan  antar kelompok, hubungan peternak dengan pihak luar atau investor.