Alumni Alumni News

  • Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar Studium Generale mata kuliah Produksi Unggas Komersial tentang manajemen perkandangan dan kesehatan unggas pedaging di masa pandemi COVID-19, (12/12). Kegiatan ini digelar berdasarkan kasus riil keberhasilan budidaya unggas pedaging di lapangan. Penyelenggaraan Studium Generale ini merupakan salah satu bentuk  kerjasama Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fapet IPB University dengan PT Aretha Nusantara Farm. Kerjasama ini juga diwujudkan dalam praktik lapang dan magang profesi bagi mahasiswa.

    Materi yang disampaikan pada Studium Generale tersebut antara lain diagnosis penyakit dan vaksinasi pada unggas pedaging yang disampaikan oleh drh Titis Wahyudianto (PT Bohringer Ingelheim) dan closed house untuk unggas pedaging yang disampaikan oleh Ading Nurjaman, SE (PT Aretha Nusantara Farm/AS Putra Goup).  

    Pada kesempatan ini, drh Titis mengenalkan jenis penyakit yang sering ditemui di peternakan unggas pedaging di Indonesia beserta faktor penyebabnya. Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan tentang tahapan diagnosa penyakit dan penerapan program vaksinasi yang benar pada unggas, termasuk tindakan biosekuritas dan alternatif pencegahan penyakit di masa pandemi COVID-19.

    Drh Titis Wahyudianto juga menjelaskan tentang teknologi terbaru di bidang peralatan vaksinasi dan produk vaksin untuk unggas pedaging yang diproduksi oleh PT Boehringer Ingelheim. Menurutnya, teknologi tersebut sudah banyak diadopsi dan diaplikasikan oleh peternak unggas pedaging di Indonesia.

    Sementara, untuk mendukung kesehatan dan performa unggas pedaging yang optimal sesuai dengan target bisnis, Ading Nurjaman menjelaskan kandang sistem tertutup (closed house) merupakan tipe kandang yang tepat bagi peternak dan terbukti sudah banyak diadopsi oleh peternak.

    Ia pun menyampaikan materi tentang manfaat, teknis operasional dan faktor-faktor yang perlu diperhatikan pada manajemen closed house. PT Aretha Nusantara Farm  merupakan perusahaan yang bergerak di bidang peternakan ayam yang berlokasi di Bandung yang saat ini memiliki 9 cabang perusahaan yang tersebar di wilayah Kuningan, Majalengka, Bandung Timur, Bandung Barat, Garut, Cirebon, Subang, Sumedang dan Tasikmalaya (ipb.ac.id)

  • Puluhan peternak sapi potong yang tergabung dalam tiga kelompok dari Kecamatan Pegajahan, Dolokmasihul dan Sipispis tampak antusias mengikuti program Sekolah Peternakan Rakyat (SPR), Sabtu (7/9) di Aula Pondok Bali Lestari, Jalan Deblod Sundoro, Kota Tebingtinggi.

    SPR merupakan program unggulan dari Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) hasil kerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University sejak 2016 lalu. Tujuannya adalah untuk melahirkan peternak sapi yang profesional, mandiri, dan berdaulat.

    Kadis Ketapang Sergai, M. Aliyuddin SP, MP di hadapan kelompok peternak saat membuka SPR 2019 mengatakan kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan ini juga bertujuan untuk menggenjot populasi sapi potong yang akhir-akhir ini sangat dibutuhkan masyarakat karena harga jualnya cukup tinggi. Hal ini sesuai  dengan visi dan misi Kabupaten Sergai agar tercipta peternak-peternak yang inovatif dan berkelanjutan.

    "Dengan adanya program SPR, populasi ternak di Sergai telah membuahkan hasil cukup memuaskan. Saat ini Kabupaten Sergai berada di peringkat keempat populasi ternak terbanyak se-Sumatera Utara (Sumut)," ujarnya.

    Harapannya  para kelompok yang sudah mengikuti program SPR dapat mengembangkan ternak sapi dan menampilkan ternak-ternak terbaiknya.

    Sedangkan Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketapang Sergai, drh Andarias Ginting MSi menjelaskan kepada para kelompok peternak terkait permohonan bantuan ke pemerintah guna peningkatan kualitas maupun kuantitas hewan, harus melalui Standard Operating Procedure (SOP) dan pedoman-pedoman yang ada.

    "Kami akan melakukan penilaian dan monitoring sesuai dengan pedoman dan SOP yang dalam waktu dekat akan dibakukan menjadi Peraturan Bupati Sergai," jelasnya.

    Sementara itu, dari LPPM IPB University, Dr Ir Afton Atabany, MSi menyampaikan bahwa pihaknya dalam SPR ini lebih menekankan bagaimana caranya menyemangati peternak untuk giat dalam mengurus hewan ternaknya. Dia menilai, setiap peternak minimal harus menjadi manager dengan kategori 25 ekor ternak per keluarga.

    Menurutnya, dalam SPR ini para peternak diajarkan bagaimana cara pemasaran hewan ternak, pengenalan berbagai penyakit dan pencadangan makanan yang bernutrisi tinggi bagi hewan ternak."Intinya, kami menginginkan para peternak yang mengikuti SPR dapat menjadikan pola beternak masyarakat menjadi lebih baik dan dapat ditularkan ke peternak-peternak yang lainnya,” imbuhnya.

    Dalam kesempatan itu, perwakilan kelompok ternak dari Kecamatan Pegajahan, Srianto mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Dinas Ketapang Sergai maupun LPPM IPB University yang mengajarkan tata cara beternak yang baik. Srianto berharap, Dinas Ketapang Sergai terus berkelanjutan untuk membimbing para peternak dalam hal kemajuan serta pengembangan usaha peternakan (ipb.ac.id)

  • Era disrupsi seperti saat ini berimplikasi pada bidang industri. Di Indonesia, akibat dari imbas era disrupsi, 12,5 persen pekerjaan hilang oleh otomatisasi.

    Hal ini disampaikan Prof. Dodik R. Nurrochmat, Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Sistem Informasi Institut Pertanian Bogor (IPB) saat menjadi keynote speaker di International Seminar on Animal Industry 2018. Kegiatan yang bertemakan “Harmonizing Livestock Industry Development, Animal Welfare, Environmental and Human Health” ini digelar di IPB International Convention Center, (28-30/8). Dalam seminar ini peserta yang hadir dari Belanda, Jepang, USA, Polandia, Australia, Mesir, Cina  dan Indonesia.

    Acara ini digelar oleh Forum Logistik Peternakan  Indonesia (FLPI). FLPI merupakan forum yang bertujuan sebagai wadah berbagi  ide dan menjalin kerja sama antara pendidikan tinggi, pemerintah, bisnis, dan komunitas peternak. Forum ini diinisiasi oleh Fakultas Peternakan IPB.

    Saat ini IPB memiliki tantangan bagaimana membuat kurikulum yang cocok untuk masa depan.  Menurut Prof. Dodik, Rektor IPB mengharapkan sistem pembelajaran online mulai diterapkan di IPB. 

    “Tantangan lain yang dapat bermanfaat bagi masyarakat bisa dalam hal aplikasi mobile, misalnya apakah ada sistem aplikasi mobile yang dapat menguji kualitas daging atau aplikasi untuk cara membedakan daging babi dan sapi hanya dengan foto. Ini adalah tantangan,” ucapnya.

    Selain itu tantangan lainnya di industri hewan adalah semakin banyaknya barang buatan. Misalnya daging buatan, telur buatan yang lebih efisien dan isu daging yang tumbuh dari kultur sel hewan in vitro. Ini tantangan bagi industri. 

    “Implikasi internet of things pada industri hewan berpengaruh pada produk dan produksi. Akan semakin produktif namun juga akan semakin banyak produk pengganti. Dari sisi pasar dan pemasaran, akan lebih efisien namun juga akan banyak kompetisi. Kesehatan dan preferensi suatu produk pun akan lebih transparan. Namun bagaimana dengan batasan etikanya jika ada industri yang membuat rahim buatan dari plastik,” ujarnya.

    Dalam kesempatan ini, Fakultas Peternakan IPB menjalin kerjasama dengan Pusat Penelitian Pengembangan Peternakan RI, Universitas Adelaide Australia, Jaffa Foundation dan dengan PT. Lembu Jantan Perkasa. 

    Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr. M. Yamin menyampaikan bahwa kerjasama dengan Puslitbangnak ini sebetulnya sudah lama dilakukan. “Ini untuk penguatan di administrasi. Kita sudah kerjasama dalam bidang penelitian, pengembangan ternak secara umum, produksi nutrisi dan teknologi hasil. Demikian juga dengan Adelaide University, banyak program magang untuk mahasiswa seperti summer course dan joint degree untuk program master dan sarjana. Semoga banyak mahasiswa yang mampu untuk memanfaatkan potensi akademik di sana. Kerjasama dengan PT. Lembu Jantan Perkasa, untuk kegiatan akademik, penguatan usaha akademik,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Panitia Acara, Dr. Despal menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat mengakomodasi aspirasi, harapan dan ide-ide banyak pihak untuk pembangunan berkelanjutan Logistik Peternakan Indonesia. Kegiatan ini melibatkan banyak pemangku kepentingan untuk mengeksploitasi keberadaan FLPI.

    Konferensi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan dan lahirnya berbagai agenda kerja sama untuk keberlanjutan di FLPI.

    “Dengan demikian, FLPI dapat memberikan kontribusi nyata dan manfaat bagi kemajuan logistik hewan Indonesia. FLPI menyelenggarakan konferensi ini tidak hanya perspektif nasional tetapi juga internasional untuk menyelaraskan upaya para ahli logistik dalam meningkatkan keamanan dan distribusi produk hewan. Konferensi ini menjadi salah satu rangkaian pada Seminar Internasional Keempat tentang Industri Peternakan (ISAl) 2018,” terangnya (ipb.ac.id)

  • Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB University mengadakan Kuliah Umum Bagi Mahasiswa tentang “Climate Change, Sustainable Development Goals (SDGs) and Green Production Industry, akhir pekan lalu.

    Kuliah umum ini dihadiri oleh 400 mahasiswa dari berbagai program studi peternakan. Kuliah umum kali ini menghadirkan narasumber dari lintas bidang ilmu yang berbeda yaitu Hizbullah Arief, SIP Climate Leader, founder Hijauku.com dan Dr Eng M Donny Koerniawan, Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung. 

    Ketua Departemen IPTP, Prof Irma Isnafia Arief mengatakan kuliah umum tersebut diadakan untuk membahas konsep umum agrikultur dan peternakan yang mempengaruhi SDGs 2030 dan perlunya perhatian atas kontribusi sektor peternakan dari hulu sampai hilir bagi perkembangan SDGs. 

    Sementara, Hizbullah Arief memaparkan materi mengenai perubahan iklim dan dampaknya terhadap SDGs. Dalam paparannya ia mengatakan terdapat dua isu utama yaitu ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan. Kedua isu ini merupakan isu yang masih memiliki kesenjangan pengetahuan di tengah masyarakat.  

    Lebih lanjut ia menerangkan, kedua isu tersebut sangat berkaitan erat dengan perubahan iklim. Pasalnya perubahan iklim dan cuaca di Indonesia terbilang ekstrim dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 13 November 2020, bencana yang terjadi di Indonesia mencapai angka 2.524 bencana. Bencana ini didominasi oleh bencana hidrometeorologis seperti banjir, longsor, dan puting beliung dan terkait pula dengan kekeringan.

    Adapun Donny Koerniawan, memaparkan materi mengenai industri arsitektur dan kota hijau dalam pola produksi hijau.  Ia mengatakan, pembangunan kawasan industri, kota maupun perumahan yang ramah lingkungan memerlukan arsitek yang paham terhadap pembangunan hijau. “Kalau social contribution terhadap environment itu seimbang, pembangunan  kota kita akan menjadi livable, ekonomi dan environment seimbang maka akan menjadi feasible. Nah kita harus mencari di tengah-tengah ini,” jelasnya.

    Peran arsitek dan urban designer dalam mengurangi emisi energi menurutnya juga harus menerapkan empat teori utama yaitu master planning, community system planning, building design dan transport system. "Arsitek harus mengatur keselarasan konsep tersebut agar pembangunan kota sesuai dengan prinsip keberlanjutan melalui smart building, energy independent arsitektur, ataupun green building, " ungkapnya.

    Di penghujung acara, Dosen IPB University dari Departemen IPTP, Iyep Komala, SPt, MSi selaku moderator kuliah umum tersebut menyampaikan perlu ada kolaborasi penelitian dan kegiatan aksi antara Fakultas Peternakan IPB University dengan Sekolah Arsitektur ITB dan Hijauku.com agar menciptakan peternakan di perkotaan dengan pola produksi hijau dengan tetap memperhatikan iklim melalui penerapan arsitektur dan Kota Hijau (ipb.ac.id)

  • Tiga organisasi kemahasiswaan (Ormawa) Fakultas Peternakan IPB University yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan, Himpunan Mahasiswa Produksi Peternakan (Himaproter), Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter) berkolaborasi mengadakan kegiatan Webinar Nasional mengenai Pengoptimalan Protein Hewani sebagai Sumber Nutrisi Pangan di Masa Pandemi, (7/9). Webinar ini menghadirkan Dr Epi Taufik, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan dengan kepakaran di bidang susu sapi dan Tika Kartika, SP, perwakilan dari Kementerian Pertanian RI.

    Dalam paparannya, Dr Epi menjelaskan tentang pentingnya mengkonsumsi protein hewani untuk tubuh di masa pandemi. Khususnya mengenai fungsi dan peran susu sebagai protein hewani. Menurutnya, dengan mengkonsumsi susu akan menjadikan tubuh sehat dan seimbang. Ini karena susu mengandung beberapa zat gizi yang tentunya dibutuhkan oleh tubuh manusia.

    “Dengan mengkonsumsi susu rutin setiap hari pada anak kecil atau ibu hamil maka ini akan dapat mengurangi atau menghindari resiko stunting pada anak. Mengkonsumi susu juga dapat meningkatkan imunitas pada tubuh, sehingga dengan minum susu setiap hari di masa pandemi akan membantu meningkatkan imun kita,” ujarnya.

    Webinar Nasional ini merupakan rangkaian acara dari Gerakan Protein Sehat 2020. Sebelumnya sudah dilakukan kegiatan bagi-bagi telur dan susu di Car Free Day (CFD) Kopasus Cijantung Jakarta, Desa Situ Udik Bogor, Desa Kedungbadak Bogor, Desa Cikarawang dan Desa Loji Bogor. Pembagian telur dilakukan oleh beberapa mahasiswa yang mengikuti Program KKN-T IPB University dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang berlaku (ipb.ac.id)

  • Dinas  Peternakan (Disnak) Kaltim dan  Institut Pertanian Bogor (IPB) menandatangani Memorandum Understanding (MoU) program kerjasama pengembangan ternak khususnya ternak ruminansia besar (sapi dan kerbau) dan pengembangan hijauan pakan ternak berkualitas.

    Penandatangan kerjasama MoU dilakukan di  IPB  Selasa (10/2).Ir  Dadang Sudarya mewakili  Disnak Kaltim, sementara Dekan Fakultas Peternakan  Prof.Dr. Ir. Luki Abdullah mewakli  Rektor  IPB, menandatangi  MoU tersebut.

    Kadis  peternakan, Ir Dadang Sudarya di dampingi Kepala Bidang Budidaya dan Perbibitan I Gusti Made Jaya Adhi menjelaskan, dalam kerjasama itu diharapkan IPB bisa mengirimkan tenaga ahlinya unt mendampingi pelaksanaan program Integrasi Ternak dengan tanaman dan pemanfaatan lahan ex tambang.

    Melalui APBN-P 2015 Kalimantan Timur direncanakan memperoleh pengembangan ternak Sapi Brahman Cross Impor sebanyak 10.000 ekor untuk 200 Kelompok Tani yang akan dibagikan untk 8 Kabupaten.

    Dalam  APBN Murni 2015 Kalimantan Timur memperoleh kegiatan pengembangan padang pengembalaan di lahan pasca tambang. Kegiatan ini untuk 2 Kabupaten yaitu Paser100 Ha dan Kutai Kartanegara 80 Ha dengan dana masing-masing 3 M.

    Fokus kegiatannya adalah pembuatan padang pengembalaan dan penanaman hijauan berkualitas, pembuatan pagar, sumur bor, embung, tandon air dan pengadaan ternak sebanyak 66 ekor. Khusus untuk Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi Satker Mandir.sup. (Sumber Dinas Peternakan Kaltim)

  • Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB University kembali menugaskan tim dosen dari Fakultas Peternakan dan peneliti dari Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia (P2SDM) untuk melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat pada Minggu, (24/11). Melalui program Dosen Mengabdi, LPPM menugaskan Ir M Agus Setiana, MS (Dosen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan), Muhammad Baihaqi, SPt, MSc (Dosen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan), Ir M Yannefri Bakhtiar, MSi dan fasilitator LPPM, Tika Mazda untuk mengabdi di Desa Neglasari, Bogor.

    Menurut Tika, potensi lain dari Desa Neglasari adalah banyaknya masyarakat desa yang melakukan kegiatan ternak domba. Pada minggu pertama penempatan di desa, telah dilakukan kegiatan pemetaan sosial dan ditemukan bahwa terdapat beberapa warga desa yang memiliki usaha ternak domba, sehingga perlu adanya kegiatan sosialisasi dan pemberian edukasi oleh dosen IPB University kepada masyarakat agar perekonomian masyarakat desa Neglasari dapat meningkat.

    Kegiatan pengabdian masyarakat kali ini terdiri dari tiga sesi penyampaian materi dan dilanjutkan sesi focus group discussion (FGD) serta tanya jawab. Materi pertama disampaikan oleh salah satu penggagas Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di desa lingkar kampus yang juga merupakan peneliti di P2SDM IPB University, Yanefri Bakhtiar.

    Yannefri menyampaikan tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat desa melalui program Kampus Desa.  “Kampus Desa hampir mirip dengan kegiatan Dosen Mengabdi LPPM IPB University, yaitu program pemberdayaan masyarakat dengan prinsip sharing sumberdaya dari para stakeholder yang terlibat (IPB University, masyarakat, pemerintah, dan swasta) dengan tujuan memberikan solusi permasalahan pertanian secara umum,” ujarnya.

    Melalui kelembagaan seperti Posdaya, Yannefri menghimbau agar masyarakat dapat ikut terlibat aktif dan partisipatif sehingga mampu mendapatkan informasi dan akses dengan lebih mudah.

  • Sebagai salah satu bentuk diseminasi hasil-hasil penelitian yang dilaksanakan oleh dosen-dosen departemen IPTP (DIPTP), diselenggarakan seminar hasil penelitian divisi yang ada di bawah naungan DIPTP.

    Kegiatan yang diselenggarakan secara luring dan daring pada Rabu (14/12) menyajikan seluruh hasil penelitian yang merupakan program hibah penelitian tahun 2022 dari DIPTP kepada 5 divisi di lingkungan IPTP yaitu Divisi Produksi Ternak Unggas, Divisi Produksi Ternak Perah, Divisi Produksi Ternak Daging, Kerja dan Aneka Ternak, Divisi Pemuliaan dan Genetika serta Divisi Teknologi Hasil Ternak. Masing-masing divisi menyajikan temuan penelitian yang dilaksanakan.

    Ketua Departemen menyatakan bahwa kegiatan hibah penelitian ini merupakan salah satu bentuk fasilitasi departemen untuk para peneliti (dosen/tenaga kependidikan) untuk melakukan penelitian sesuai dengan mandat divisinya. “Alhamdulillah pada tahun 2022 ini Departemen IPTP telah menganggarkan hibah penelitian untuk semua divisi yang ada di lingkungan IPTP, dengan harapan dapat menjadi bagian dari kegiatan tri dharma dosen dan tenaga kependidikan. Seminar hasil-hasil penelitian ini diselenggarakan sebagai sarana share informasi temuan-temuan penelitian yang telah dilakukan” ujar ketua Departemen, Dr. Tuti Suryati.

    Pada sambutannya ketua program hibah penelitian divisi Dr. Zakiah Wulandari menyampaikan apresiasi kepada semua divisi yang telah melaksanakan hibah penelitiannya.“kami berharap dengan adanya hibah ini, dapat membantu para dosen dan tenaga kependidikan untuk dapat mencapai target output kinerja pegawai. Selain itu, hasil hibah ini diharapkan dapat juga dipublikasikan pada jurnal penelitian”. Tema hasil-hasil penelitian yang disajikan oleh masing-masing divisi menyajikan topik yang komprehensif, mulai dari aspek lingkungan, energi, pangan serta logistic peternakan.

  • Peserta program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Sociopreneur One Village One CEO (OVOC) melaksanakan kegiatan Pendampingan dan Transfer Teknologi Pengembangan Komoditas Kambing Pedaging tahap kedua di Pondok Pesantren Al-Islam, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, pada 20/11

    Pondok Pesantren Al-Islam yang berada di Desa Kambitin masih minim dalam membudidayakan komoditas kambing, karena komoditas utama masyarakat desa yaitu karet. Tetapi masih ada peluang besar bagi Pondok Pesantren Al-Islam dalam mengembangkan ternak kambing dengan usaha tani rakyat.

    Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Bramada Winiar Putra mengajak santri untuk melakukan bisnis komoditas kambing, dengan mengumpulkan uang 50 ribu dalam seminggu dengan jumlah 20 orang.

    “Dengan jumlah modal yang ada mereka dapat menghasilkan kambing dengan mencari bibit yang unggul. Walaupun kambing yang dibeli masih ukuran yang kecil tetapi bisa dibudidayakan secara bersama sampai menghasilkan anak cempe,” ungkapnya.

    Ia melanjutkan para santri tidak hanya dapat membudidayakan hewan, tetapi masih bisa membuka peluang bisnis dengan mengolah kotoran kambing sebagai sumber pupuk sehingga menjadi salah satu keuntungan bagi santri di Pondok Pesantren Al-Islam.

    “Kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa IPB University sangat memberikan dampak yang positif hingga mendatangkan langsung dosen ahli dari Fakultas Peternakan IPB University,” ujar Hanafi selaku Ketua Pokja Pondok Pesantren Al-Islam.

    Ia mengatakan, banyak pengetahuan yang dapat diambil terutama mengenai mengelola bisnis usaha peternakan untuk Pondok Pesantren Al-Islam serta memberikan motivasi terhadap santri untuk membangun usaha bisnis (ipb.ac.id)

  • Iyep Komala, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan memberikan pelatihan Pembelajaran Orang Dewasa dan Komunikasi Efektif secara daring. Pelatihan dilakukan dalam rangka implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Fakultas Peternakan IPB University.

    Iyep menyampaikan materi pelatihan secara interaktif. Hal ini supaya mahasiswa dapat memahami dirinya sebagai orang dewasa dan berperan sebagai orang dewasa yaitu sebagai provider, public figure, pembuat keputusan dan pelaksana program aksi.

    “Mahasiswa sebagai orang dewasa, diharapkan dapat membantu secara psikologis pada perubahan sosial dan lingkungan, memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap baru yang dibutuhkan masyarakat,” ungkap Iyep saat pelatihan beberapa waktu lalu.

    Selain itu, lanjut Iyep, dengan semakin dewasa, diharapkan mahasiswa juga mampu memberikan keterampilan yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat, membantu mengubah kondisi sosial serta menjadi individu yang bebas dan otonom (mandiri).

    Dalam kesempatan itu, Iyep juga memberikan pelatihan komunikasi efektif dan bagaimana mahasiswa dapat melakukan penyuluhan dengan bekal komunikasi secara efektif. Mahasiswa dibekali dengan tiga kunci keberhasilan komunikasi melalui verbal (7 persen), vokal (38 persen) dan visual (55 persen). Iyep turut memberikan strategi komunikasi secara interaktif, teknik mendengarkan, dan teknik penyuluhan.

    “Dalam kehidupan bermasyarakat, mahasiswa harus dapat menghadapi berbagai macam golongan masyarakat berdasarkan klasifikasi adopter, yaitu innovator, early adopter, early majority, late majority dan laggards/kaum kolot. Sehingga mahasiswa dapat diterima oleh masyarakat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan,” terangnya.

    Tak hanya dihadiri mahasiswa IPB University, peserta juga berasal dari Universitas Negeri Padang, Universitas Padjadjaran, Universitas Mulawarman dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Sawahlunto Sijunjung, Universitas Udayana dan Universitas Andalas.

    Denisa Reni Fitriani, mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University, peserta pelatihan mengatakan,  setelah mengikuti kegiatan ini dirinya menjadi lebih aware mengenai pentingnya kemampuan public speaking dan dan personal branding. “Saya jadi paham tentang menjadi orang yang generalis dan spesialis. Secara keseluruhan, saya telah mendapatkan gambaran mengenai hal-hal yang harus dipersiapkan. Materi ini sangatlah bermanfaat untuk gambaran dan mempersiapkan diri menuju dunia kerja,” jelasnya.

    Hal sama diungkapkan Siti Zahwa Humaira. Mahasiswa Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University ini merasa semakin menghayati tentang arti dewasa. Rasa penasarannya tumbuh mengenai pengarahan diri dengan memunculkan kemampuan yang dimiliki, kelebihan yang ada dipertahankan dan ditingkatkan kekurangannya diperbaiki. 

    Manfaat pelatihan juga diakui Laras Asjanita, mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP).  Menurutnya, dalam berkomunikasi diperlukan sebuah keefektifan agar pemahaman/ide/gagasan diterima dengan baik.  “Maka dari itu, dalam materi juga dijelaskan bagaimana cara seseorang untuk berkomunikasi. Sehingga komunikasi yang terjadi bisa berakhir dengan baik, sesuai dengan tujuan yang diinginkan,” tandas mahasiswa program studi Peternakan Departemen Agroindustri Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNP ini (ipb.ac.id)

  • Dr Widya Hermana, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan mengurai jenis-jenis dan manfaat feed additive yang dapat digunakan oleh peternak layer maupun broiler. Ia berpendapat bahwa feed additive sangat diperlukan agar dapat meningkatkan performa, kesehatan, produksi, dan kualitas produk yang dihasilkan.

    Dosen IPB University itu menjelaskan, zat aditif pakan dikategorikan ke dalam probiotik, prebiotik, sinbiotik, enzim, herbal, vitamin dan mineral. Probiotik merupakan mikroorganisme yang ditambahkan ke dalam pakan, sedangkan prebiotik merupakan pakan dari mikroorganisme tersebut. Sementara sinbiotik merupakan gabungan dari probiotik dan prebiotik.

    “Menurut saya, jenis sinbiotik dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada hanya probiotik atau prebiotik karena di dalamnya sudah terdapat mikroorganisme beserta makanan yang diperlukan untuk perkembangannya,” kata Dr Widya dia dalam Mimbar Trobos Livestock seri ke-38 dengan tema ‘Ragam Feed additive untuk Menunjang Performa Ayam’, 29/8.

    Untuk jenis enzim, kata Dr Widya, jumlahnya dapat ditambahkan sesuai tujuan, yakni nutrien apa yang ingin lebih cepat dicerna. Untuk jenis herbal, katanya, dapat berasal dari tumbuh-tumbuhan rimpang maupun dari dedaunan seperti daun sirsak, daun salam, dan daun binahong. Sedangkan, pemberian vitamin dan mineral dapat berupa bentuk langsung dari produsen farmasi.

    “Selain untuk menunjang performa ayam, feed additive juga dapat berfungsi untuk meningkatkan palatabilitas atau tingkat kesukaan pakan, pengawet, penghambat mikroorganisme patogen, meningkatkan kecernaan nutrien, antijamur, serta membantu pencernaan,” kata Dr Widya Hermana.

    Dosen IPB University itu menjelaskan, penambahan probiotik Lactobacillus sp pada pakan ayam petelur, misalnya, dapat memberikan peningkatan produksi telur dan peningkatan bobot karkas. Sementara, penambahan vitamin dan mineral, juga harus ada dalam pakan karena vitamin tidak disintesis oleh unggas padahal perannya sangat esensial untuk perkembangan jaringan normal untuk kesehatan, pertumbuhan dan hidup pokok.

    “Apabila vitamin tidak terdapat dalam pakan atau tidak dapat diabsorpsi oleh ternak, maka unggas akan mengalami defisiensi vitamin,” tutupnya (ipb.ac.id)

  • Dua orang Dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan meraih prestasi internasional di akhir bulan Juli 2016. Kedua dosen berprestasi tersebut adalah Prof.Dr.Ir. Yuli Retnani, MSc dan Prof.Dr.Ir. Sumiati, MSc, yang  meraih prestasi The Best Oral Presentation dalam Tropical Animal Science and Production (TASP 2016) pada 26-29 Juli 2016 di Bangkok Thailand.

    Tropical Animal Scence and Production dihadiri peserta dari berbagai negara diantaranya Malaysia, Thailand, Tiongkok, Netherland, Vietnam, Iran, Turki dan Jepang. Dari sekitar 150 peserta yang berpartisipasi dalam seminar ini, dua orang dosen INTP berhasil mengharumkan nama IPB dan Indonesia. Pada kesempatan ini, Departemen INTP mengirimkan empat orang dosen, yaitu Prof. Yuli Retnani, Prof. Sumiati, Prof. Nahrowi dan Dr. Asep Sudarman

    Tim dosen INTP memiliki perhatian khusus pada produk lokal, baik bahan pakan maupun jenis ternak yang dikembangkan. Dalam kesempatan ini, Prof. Yuli mengetengahkan materi berjudul “By Feeding Wafer Feed Supplement Stimulates Performance of Local Calves”. Sedangkan Prof. Sumiati membawakan presentasi berjudul "Performance and Production of Functional Duck's Egg Fed" dan "Diet Containing Indigofera Zollingeriana Leaves Meal and Lemuru Fish Oil". Prof. Nahrowi memaparkan “Performance of Laying Hens on Silage Juice Addition” dan Dr. Asep Sudarman menyampaikan “Feed Additive of Betel Leaves Meal (Piper beile I)Use on Ruminants as One of Methane Mitigation Efforts”. (intp.fapet.ipb.ac.id)

  • Fakultas Peternakan IPB University kembali mencatat prestasi membanggakan di bidang penelitian. Para dosen dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) serta Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) berhasil memperoleh 18 pendanaan Hibah Penelitian BIMA Lanjutan Tahun 2026, kelanjutan dari proposal yang diajukan pada 2025.

    Adapun dosen yang berhasil memperoleh pendanaan antara lain : Prof. Dr. Anuraga Jayanegara, Prof. Dr. Asep Gunawan, Prof. Dr. Cece Sumantri, Prof. Dr. Dewi Apri Astuti, Prof. Dr. Despal, Prof. Dr. Erika B. Laconi, Prof. Dr. I Komang G. Wiryawan, Prof. Dr. Idat G. Permana, Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, Prof. Dr. Jakaria, Prof. Dr. Luki Abdullah, Dr. M. Sriduresta Soenarno, Prof. Dr. Nahrowi, Prof. Dr. Panca Dewi MHKS, dan Prof. Dr. Ronny Rachman Noor.

    Keberhasilan ini mencerminkan komitmen para dosen Fapet dalam menghasilkan penelitian kompetitif dan inovatif di bidang peternakan. Program BIMA (Basis Informasi Manajemen Akademik) yang dikelola Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi merupakan skema pendanaan nasional yang kompetitif, bertujuan meningkatkan kualitas penelitian dosen serta mendorong lahirnya inovasi dan publikasi ilmiah yang berdampak bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

    Keberhasilan dosen Fapet ini juga menjadi bagian dari capaian institusional IPB University. Pada tahun pendanaan 2026, IPB University tercatat sebagai perguruan tinggi dengan jumlah proposal BIMA yang didanai terbanyak di Indonesia, yaitu 161 proposal penelitian, menunjukkan kuatnya budaya riset di lingkungan IPB.

    Pimpinan departemen menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian ini dan berharap prestasi tersebut mendorong peningkatan produktivitas riset di Fakultas Peternakan. Penelitian BIMA diharapkan menghasilkan publikasi internasional, inovasi teknologi peternakan, dan solusi berbasis riset untuk mendukung pengembangan sektor peternakan yang berkelanjutan.

    Dengan capaian ini, para dosen Fapet IPB University kembali menegaskan perannya sebagai peneliti aktif yang berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, serta penguatan sektor peternakan dan pangan nasional.

  • Dosen Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Dr Iyep Komala telah membuat panduan Good Dairy Farming Practices (GDFP) untuk peternakan sapi perah rakyat. 

    Panduan tersebut telah diterapkan kepada kelompok peternak di Cijeruk, Bogor, Jawa Barat sejak awal September lalu. 

    “Panduan ini disesuaikan dengan kondisi peternakan sapi perah rakyat saat ini. Penerapan GDFP yang baik akan berdampak kepada peningkatan produksi dan kualitas susu,” terang Dr Iyep.

    Ia menuturkan, implementasi panduan tersebut dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat. Berbagai pelatihan dan pendampingan GDFP disiapkan, di antaranya terkait pembibitan dan reproduksi, manajemen pakan dan air minum, pengelolaan kandang dan peralatan, kesehatan dan kesejahteraan ternak dan lingkungan, serta pengelolaan limbah ternak.

    “Saat ini, peternak sudah bisa membuat olahan susu menjadi susu pasteurisasi, dodol susu, kerupuk susu, keju mozarella dan yoghurt. Mereka juga sudah dapat mengolah limbah menjadi vermikompos,” kata Dr Iyep menerangkan capaian program. 

    Ia juga mengikutsertakan produk-produk olahan tersebut untuk dipamerkan di ajang International Livestock, Dairy, Meat Processing and Aquaculture Exposition (ILDEX) Indonesia 2023 di ICE BSD, 20-22 September lalu. Para peternak juga ikut hadir dalam seminar internasional yang digelar Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (Hanter) IPB University di pameran internasional tersebut.

    Program pengabdian diikuti oleh peternak dari 4 kelompok ternak, yaitu Kelompok Ternak Mandiri Sejahtera, Kelompok Kania, Kelompok Bina Mandiri, dan Kelompok Muda Berkarya. Pendampingan peternak dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Fapet IPB University. 

    “Dalam program ini, kami menerjunkan 8 orang mahasiswa dan menjadi program unggulan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Fapet IPB University, yaitu berupa program capstone yang bisa disetarakan dengan beberapa mata kuliah,” tutur Dr Iyep.

    Karena itu, program seperti ini sangat didukung oleh Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim IPB University, dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Pasalnya, kegiatan ini menguntungkan berbagai pihak. Peternak sapi perah bisa berkembang, mahasiswa juga mendapatkan satuan kredit semester (SKS). Sementara bagi dosen, mereka dapat melaksanakan kegiatan di luar kampus yang berdampak kepada pencapaian indikator kinerja utama (IKU). 

    “Program pengabdian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada peternak supaya lebih terampil dalam budi daya sapi perah dengan penerapan GDFP dengan baik. Dengan begitu, peternak bisa mendapatkan produksi susu yang optimal dengan kualitas yang baik, dan ke depannya mampu menjadi peternak yang mandiri dan tangguh,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Akademisi dari Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University kembali menunjukkan kiprahnya di forum global. Prof. Asep Gunawan, hadir memenuhi undangan sebagai pembicara kunci (Keynote Speaker) dalam gelaran International Conference on Agricultural Sciences (ICAS 2026).

    Konferensi internasional yang diselenggarakan di Can Tho University, Vietnam, pada 27–29 Maret 2026 ini mengusung tema besar mengenai inovasi pertanian cerdas iklim dan sistem pangan pertanian yang tangguh. Forum ini menjadi titik temu bagi para pakar dunia untuk berbagi praktik berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim dan gangguan rantai pasok global.

    Dalam sesi presentasinya, Prof. Asep Gunawan memaparkan topik strategis bertajuk "Transcriptome Analysis for the Improvement of Local Livestock: Genomic Technology and Precision Animal Breeding." Ia menjelaskan bagaimana pemanfaatan teknologi genomik, khususnya analisis transkriptom, dapat menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas ternak lokal melalui sistem pemuliaan presisi.

    "Pemanfaatan teknologi genomik memungkinkan kita untuk memahami potensi genetik ternak lokal secara lebih mendalam. Hal ini krusial untuk menciptakan sistem peternakan yang lebih tangguh dan adaptif terhadap tantangan lingkungan saat ini," ungkapnya di sela-sela konferensi.

    Kehadiran perwakilan IPB University dalam ICAS 2026 ini mempertegas komitmen fakultas dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam aspek ketahanan pangan dan kerja sama global. Selain memaparkan inovasi teknologi, forum ini juga menjadi sarana memperkuat jejaring akademik antara IPB University dengan berbagai institusi internasional dalam pengelolaan lahan berkelanjutan dan sistem agri-pangan yang resilien.

    Acara ICAS 2026 sendiri dihadiri oleh berbagai peneliti dan praktisi sektor pertanian dari mancanegara, yang secara kolektif berupaya mencari solusi atas degradasi lingkungan dan tantangan ketersediaan pangan di masa depan.

  • Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dunia, permintaan konsumsi daging turut meningkat. Para ilmuwan ‘memutar otak’ dengan cara membuat daging sintetis sebagai alternatifnya. Terlebih lagi dengan meningkatnya kesadaran akan lingkungan berkelanjutan dan aspek kesejahteraan hewan.
    Terkait dengan daging síntesis ini, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University menggelar kajian kauniyah Teropong Cercah Kauniyah (TerCerahKan) dengan topik “Daging Sintetis”, Selasa (05/04). Terutama untuk mengupas daging síntetis dari perspektif Islam.

    Prof Nahrowi, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan menilai bahwa produksi daging sintetis bisa menjadi peluang baik untuk industri peternakan. Terdapat kelebihan dan kekurangan terutama terkait aspek nutrisi. Daging sintetis biasa terbuat dari protein nabati hingga yang berbasis sel.

    “Daging sintetis ini merupakan hal yang tidak boleh dielakkan karena teknologi akan terus berkembang menurut pemikiran manusia agar lebih efisien,”ungkapnya.
    Menurutnya, alasan rasional lain ilmuwan mengembangkan daging sintetis ini terkait persoalan lingkungan. Umat muslim juga telah diajarkan untuk tidak merusak lingkungan. Selain itu, aspek kesejahteraan hewan (animal welfare) juga tidak kalah penting. Alasan lainnya yakni terkait penyusutan dan konversi lahan, penyakit menular dan meningkatnya tren hidup ala vegan. 

    “Maka saya katakan ini merupakan peluang industri peternakan untuk memperbaiki cara-caranya (industri peternakan) dalam mengelola industri. Agar lingkungan tidak rusak serta mengikuti animal welfare. Bila industri peternakan menjalankan syariat maka animal welfare ini seharusnya sudah dijalankan,” tambahnya.  

    Ia menambahkan, produksi daging síntetis masih terbilang mahal. Industri peternakan harus bersikap bijak untuk menganalisis produksi daging sintetis ini. Daging sintetis dinilai lebih cocok untuk olahan makanan. Namun ada kekhawatiran daging ini dioplos.

    Dari segi nutrisi, tambahnya, nutrisi makronya terbilang cukup baik. Namun nutrisi mikronya belum bisa disejajarkan dengan daging alami. Daging asli dan daging síntetis tidak dapat dipertukarkan secara nutrisi. Persepsi negatif terhadap daging alami juga kecil kemungkinan untuk berubah.  “Kekurangan dari industri peternakan ini menjadi peluang untuk berproduksi secara eco-friendly,” imbuhnya.

    Sementara itu, Prof Hamim, Dosen IPB University dari Departemen Biologi FMIPA menambahkan bahwa dalam perspektif ajaran Islam, binatang ternak telah dianjurkan untuk dipergunakan menjadi baju hingga dikonsumsi. Dagingnya memiliki berbagai manfaat, untuk memenuhi kebutuhan protein dan asam amino esensial. Islam dan Al-Qu’ran memandang daging penting sebagai sumber pangan.

    Menurut, Allah hanya membatasi konsumsi dan penggunaan beberapa jenis daging serta aturannya tidak menyulitkan umatnya. Al-Qu’ran lebih menekankan pada aspek kehalalannya. Selain itu, Islam menekankan agar daging tidak hanya dikonsumsi oleh orang kaya. Oleh karena itu, penyembelihan hewan kurban sejatinya dianjurkan agar daging dapat terdistribusi kepada fakir miskin.

    “Saya dorong bagi Bapak Ibu yang bergiat di industri peternakan bagaimana membuat industri yang baik. Karena Allah menekankan pentingnya ini (daging) menjadi barang yang tidak terlalu mahal dan bisa terjangkau bagi seluruh umat manusia,” sebutnya.

    Ia menambahkan, daging disebut sebagai salah satu hidangan surga. Dalam memenuhi permintaan daging ini, adanya daging sintetis masih diperdebatkan aspek kehalalannya. Paling tidak, unsur, proses, dan komponennya harus terbebas dari bahan haram.

    “Daging sintetis juga memiliki perbedaan dengan daging sembelih terutama harus bebas dari ghoror (penipuan). Terlebih industri daging ini termasuk ke dalam sistem yang kompleks dan mekanismenya panjang. Selain itu, dagingnya juga harus memenuhi kualitas yang baik yakni bergizi dan bebas dari unsur yang membahayakan. Aspek-aspek ini harus menjadi bagian yang harus diperhatikan dan menjadi PR bersama (ipb.ac.id)

  • Program Dosen Pulang Kampung IPB University sosialisasikan pembuatan silase bagi peternak kerbau di Desa Ujungjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten.  Kegiatan ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan peternak mengenai kebutuhan pakan ternak dan juga meningkatkan kepedulian terhadap kecukupan nutrisi ternak. Kegiatan Dosen Pulang Kampung IPB University ini  bekerjasama dengan Taman Nasional Ujung Kulon.

    Dr Afton Atabany, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan menerangkan kebutuhan pakan kerbau di Desa Ujungjaya selama ini hanya mengandalkan pakan alami. Ia menyebut, kerbau biasanya dibiarkan untuk mencari makan sendiri, yaitu dengan melepaskan kerbau di sekitar lokasi penggembalaan.  “Kami mencoba untuk memberikan teknik pengawetan pakan yaitu silase, yang dinilai paling mudah agar para peternak mudah untuk meniru,” katanya.

    Dosen IPB University itu melanjutkan, jenis tumbuhan yang digunakan juga sangat mudah ditemukan karena hanya menggunakan jenis tumbuhan yang ada di sekitar desa, seperti rumput dan dedaunan. Tidak hanya itu, pengawetan ini juga tidak perlu menggunakan campuran apapun. 

    “Media yang digunakan juga sangat mudah dicari, bisa menggunakan drum bekas atau menggunakan plastik berukuran besar. Hanya saja perlu diperhatikan saat penyimpanan benar-benar dipastikan tidak ada udara yang masuk,” kata Dr Afton.

    Ia menekankan, pakan sudah dapat digunakan dan diberikan pada kerbau setelah 14 hari pengawetan. Apabila berbau asam, katany, maka dapat dipastikan proses fermentasi berhasil.

    Para peternak mengakui bahwa teknik pengawetan pakan ini merupakan hal baru yang belum pernah mereka coba. Dengan adanya pakan awetan ini diharapkan dapat memberikan alternatif pakan bagi para peternak di Desa Ujungjaya. Pakan awetan ini juga dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama sehingga dapat memudahkan peternak dalam menyediakan pakan untuk kerbau, terutama pada musim kemarau.

    “Saya berharap kegiatan seperti ini akan rutin dilaksanakan, karena selain kami mendapatkan ilmu baru, kami juga bisa lebih banyak berdiskusi mengenai peternakan kerbau bersama para ahli,” ujar Jahri, anggota Kelompok Ternak Kerbau Desa Ujungjaya (ipb.ac.id)

  • Meningkatnya permintaan pangan produk ternak mengakibatkan perbesaran skala usaha dan perubahan dari sistem ekstensif menjadi intensif. Hal ini menyebabkan meningkatnya akumulasi jumlah kotoran dan dapat menyebabkan masalah lingkungan apabila limbah tidak dikelola dengan baik.

    Dr Salundik, dosen IPB University dari Departemen Imu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP)  menjelaskan pengelolaan dan pengolahan  limbah peternakan harus memperhatikan sifat dan karakteristik limbah. Sifat dan karakteristik limbah perlu diketahui untuk perencanaan pengolahan limbah ke depannya.

    Menurutnya, limbah ternak dapat dikategorikan menjadi limbah cair (5 persen padatan), lumpur atau semi padat (5-25 persen padatan), padat (lebih dari 25 persen padatan) dan gas. Jumlah, sifat dan karakteristik limbah tersebut dipengaruhi oleh identitas ternak (spesies, umur, ukuran dan kondisi fisiologis), sistem perkandangan, sistem pembersih kandang dan penanganan limbah, jenis ransum yang diberikan, industri ternak dan lingkungan.

    Perencanaan pengelolaan dan pengolahan limbah yang perlu diperhatikan antara lain: penentuan sistem dan tipe pengolahan limbah, penentuan skala pengolahan, lokasi pengolahan, fasilitas pengolahan, biaya instalasi dan manajemen proses pengolahan.

    “Pengelolaan dan pengolahan limbah ternak berfungsi mengurangi potensi pencemaran baik fisik, biologi maupun kimia. Pengelolaan dan pengolahan limbah ini juga dapat meningkatkan atau menambah nilai guna limbah tersebut,” jelas Dr Salundik pada sebuah Online Training yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) beberapa waktu lalu.

    Limbah padat, lanjutnya, dapat diolah secara composting, vermicomposting, penguburan atau penimbunan, penggunaan black soldier fly, anaerobik, pembakaran maupun penekanan. Sementara limbah cair dapat diolah melalui pengendapan, flotasi, penyaringan, riverse osmosa, maupun menggunakan bahan kimia seperti ion exchange.

    “Limbah ternak ini terutama limbah kotoran juga dapat dimanfaatkan sebagai biogas maupun pupuk organik. Dengan demikian pengolahan limbah ternak dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi peternak,” pungkas  Dr Salundik (ipb.ac.id)

  • Perkembangan industri tekstil di Indonesia yang sangat cepat memang telah menjadi andalan perekonomian nasional, namun dampak dari industri ini berupa pencemaran lingkungan juga semakin besar.

    Oleh sebab itu Dr Yuni Cahya Endrawati yang merupakan pakar sutera alam IPB University mengatakan, “Salah satu fokus penelitian dan pengembangan Laboratorium Non Ruminansia dan Satwa Harapan Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan adalah mengembangkan komoditas yang menunjang industri tekstil nasional. Yakni berupa serat alami, baik yang dihasilkan dari ulat sutera murbei maupun non murbei berbasis Zero Waste Technology.”

    Dalam penjelasannya, riset hasil kerjasama lintas disiplin ilmu dari Divisi Pemuliaan dan Genetika IPB University maupun dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menghasilkan benang sutera kualitas unggul.

    “Benang ini dihasilkan dari galur ulat sutera non murbei Samia Cynthia ricini unggul yang dapat dipelihara dengan pakan 100 persen menggunakan daun singkong dan wilayah marjinal yang panas dan kering,” ujar Dr Yuni.

    Ia menambahkan, saat ini pengembangan serat sutera alami ini sangat diperlukan dan tentunya akan mendukung perekonomian nasional. Melalui pengembangan sutera alam, hal ini sangat berperan dalam mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor benang sutera yang saat ini jumlahnya sangat besar.

    Dr Yuni Cahya sangat optimis bahwa ke depan Indonesia akan dapat secara bertahap mengurangi ketergantungannya pada impor benang sutera. Hal ini mengingat Indonesia merupakan wilayah yang sangat ideal untuk mengembangkan jenis ulat sutera non murbei Samia Cyntia Ricini yang pakannya berbasis daun singkong dan daun jarak, sehingga jenis ulat sutera ini dapat dikembangkan secara luas.

    “Kelompok peneliti kami saat ini tidak saja memfokuskan pada pengembangan galur unggul saja namun juga mengembangkan berbagai teknologi pengolahan produk samping yang memiliki nilai lebih. Seperti biskuit khusus balita untuk mencegah stunting yang proteinnya berbasis pupa sutera dan juga tepung pupa sebagai feed suplement untuk pakan ikan dan ternak,” ujar Dr Yuni.

    Ia menambahkan, pengembangan teknologi serat sutera alam jenis Samia cyntia ricini yang panjang dan berkilau ini untuk meningkatkan nilai jual benang sutera. “Ini sangat penting, kami telah memiliki teknologinya,” tambahnya.

    Dr Yuni dan tim juga telah menerapkan konsep zero waste dalam mengembangkan budidaya sutera alam ini. Mereka mengembangkan teknologi pengolahan pupuk dari sisa pakan, kotoran dan urine ulat sutera.

    “Di samping itu kami juga mengembangkan teknik eco printing dengan menggunakan bahan-bahan alami dari berbagai tumbuhan dan bahan lainnya untuk pewarnaan kain suteranya yang ramah lingkungan,” ujar Dr Yuni.

    Menurutnya, dengan teknik eco printing ini tim peneliti berusaha agar industri tekstil nantinya akan ramah lingkungan. Hal ini juga dapat menggairahkan perekonomian nasional karena tren permintaan produk tekstil dari sutera semakin meningkat. Selain itu, produknya sangat eksotik dan diminta pelaku industri fashion.

    Dr Yuni mengharapkan bahwa apa yang telah dikembangkan selama ini dapat menarik minat generasi muda dalam membuka usaha baru yang sangat prospektif dan ramah lingkungan.

    “Kami sudah sejak dini memberi bekal pengetahuan pada mahasiswa terkait teknik budidaya sutera alam berbasis Zero Waste Technology. Nantinya setelah lulus, mereka dapat mengembangkan wirausaha yang unik dan berdaya saing tinggi dan ramah lingkungan,” pungkas Dr Yuni Cahya Endrawati (ipb.ac.id)

  • Dosen muda IPB University melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program Dosen Mengabdi. Program Dosen Mengabdi kali ini mengenai peningkatan keterampilan pembiakan sapi potong di Yayasan Arriyadl Bogor, di Desa Pangkal Jaya, Kecamatan Nanggung, Bogor (20/10). Tim IPB yang terdiri dari M Baihaqi, MSc, Edit Lesa Aditia MSc dan Prof Asep Gunawan yang merupakan dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, serta Dr Iwan Prihantoro dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB University.

    Baihaqi mengatakan, “Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan respon IPB University atas permintaan langsung dari masyarakat setempat yang mempunyai permasalahan pada usaha peternakan yang telah dijalankan.” 

    Ia juga menjelaskan, program ini bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam pembiakan ternak sapi potong. Selain itu, kegiatan ini dilakukan untuk memeriksa kondisi saluran reproduksi sapi calon induk yang ada di lokasi pengabdian serta pemberian bantuan pakan, bibit pakan dan sarana produksi sapi.

    Terdapat tiga kegiatan utama yaitu pelatihan budidaya sapi potong untuk pembiakan; pemeriksaaan dan evaluasi performa dan saluran reproduksi sapi dan diskusi identifikasi sumberdaya pakan dan evaluasi ketercukupan pakan. 

    Menurut Iwan Prihantoro, sumberdaya pakan merupakan hal yang penting karena merupakan pondasi pada peternakan khususnya pembiakan. “Beberapa potensi pakan yang sudah ada merupakan basis by product pertanian padi dan jagung serta hijauan pakan. Potensi yang memungkinkan dikembangkan adalah kebun pakan potongan seperti odot, rumput gajah dan indigofera,” ujarnya. 

    Pada kegiatan ini juga, diserahkan bantuan bibit tanaman pakan odot dan Indigofera sp. sebagai upaya untuk peningkatan ketersediaan pakan. Masyarakat pada umumnya belum memahami tentang kebutuhan nutrisi pakan program pembiakan. Sehingga kegiatan ini sangat tepat dilakukan.

    Selain itu, tim kegiatan melakukan identifikasi kondisi tubuh (body condition score) serta pemeriksaan saluran reproduksi yang dilakukan melalui palpasi (perabaan). Kegiatan ini juga melibatkan Gatot Muslim, MSi dan Winarno, S.P yang merupakan mahasiswa S3 dan S2 Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Ternak, IPB University.

    “Rata-rata kondisi reproduksi sapi-sapi yang ada di desa tersebut masih mempunyai kemampuan untuk bereproduksi dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi BCS dan organ reproduksi yang kami identifikasi melalui palpasi yang dilakukan. Meskipun ada beberapa ekor perlu dilakukan peningkatan skor BCS nya,” ujar Edit Lesa Aditia. 

    Ketua Yayasan Arriyadl Ust. Saminan Al Ghiffary menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas respon cepat dari IPB University melalui program dosen mengabdi LPPM IPB University. Ia berharap kerjasama terus terjalin dengan pihak IPB University untuk membimbing peternakan (ipb.ac.id)