Departemen IPTP

Producing Professionals
in Livestock Industry

Departemen INTP

Better Feed for Better
Animal Product

 

Pascasarjana

Kuliah Pascasarjana ?
Fapet IPB tempat yang tepat

Pendaftaran

Universitas Berkelas Dunia, Berkualitas, dan Terakreditasi Internasional

Sosok

  • Ir. Abdon Nababan, lahir (2 April 1964). Alumni S1 Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 19. Ramon Peraih Magsaysay Award 2017 ini, Memulai pendidikan dasar di SDN Paniaran, Kec. Siborongborong, berlanjut ke SMP RK St. Yosef berasrama di Lintong ni Huta, kemudian melanjutkan pendidikan di SMA RK Budi Mulia di Pematang Siantar, kelas 3 pindah ke SMAN II Jakarta dan lulus 1982. Pada 1987, Ia menamatkan pendidikan jenjang strata satu dari Institut Pertanian Bogor. Sejak mahasiswa telah aktif berorganisasi, di dalam kampus, di luar kampus (PMKRI), kepencinta-alaman (Lawalata IPB) dan menggeluti pendidikan lingkungan hidup bersama Yayasan Indonesia Hijau (YIH).

    Selesai Kuliah S1, Abdon Nababan terus mengembangkan gerakan lingkungan hidup di Indonesia dengan bergabung di WALHI sejak 1989, lalu ikut mendirikan dan memimpin Yayasan Sejati, Yayasan dan Perkumpulan Telapak dan Forest Watch Indonesia (FWI). Abdon Nababan juga secara tekun mendalami dan menggeluti bidang pengembangan dan pengelolaan strategis organisasi serta pengorganisasian masyarakat adat.Selama menggeluti bidang tersebut, Abdon Nababan, telah menggalang sinergi antarsesama aktivis Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dan beragam elemen gerakan sosial untuk melakukan pembelaan hak-hak masyarakat adat.

    Upaya itu antara lain diwujudkan dalam bentuk keterlibatannya sebagai Koordinator Komite Pengarah pada Jaringan Pembelaan Hak-Hak Masyarakat Adat (Indonesian NGOs Network for Indigenous Rights Advocacy, JAPHAMA) – suatu koalisi ORNOP yang secara bersama-sama melakukan pembelaan terhadap hak-hak masyarakat adat di tingkat nasional dan internasional.

  • Alumni Departemen INTP telah berkiprah di dunia internasional, salah satunya adalah Akhir Pebriansyah angkatan 44. Alumni kelahiran Tangerang, yang lulus pada tahun 2012 ini, sekarang telah menjadi asisten profesor di Czech University of Life Science Prague, dengan bidang keahlian pertanian, teknologi dan nutrisi.

    Kegalauan yang dialami pada masa awal menjalani perkuliahan sarjana perlahan sirna dalam dukungan dan bimbingan dosen di Departemen INTP. Motivasi yang dibangun secara akademik dan spiritual membawa Akhir menjadi salah satu alumni yang menonjol. Akhir berhasil lulus dengan nilai yang cukup baik sehingga mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan kuliah master di Europe-Czech University dengan beasiswa Erasmus Eurasia. Dengan beasiswa ini, Akhir menjalani perkuliahan master di Czech University of Life Sciences Prague, The Czech Republic 2012-2014 .

    Kendala bahasa yang sempat membuat Akhir mengulang tiga kali ujian TOEFL untuk mencapai standar Departemen INTP, menjadikan Akhir harus bekerja lebih keras dalam menempuh studi. Terutama pada beberapa bulan awal masa adaptasi. Kini Akhir telah menguasai empat bahasa asing, yaitu bahasa Inggris, Jerman, Arab dan Czech.

    Aktivitas yang tinggi dalam menempuh pendidikan doktor dan melakukan kegiatan penelitian membawanya terus berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Ilmu pengetahuan dan pengalaman tinggal di Eropa membawa Akhir semakin dekat dengan Islam. Akhir aktif dalam pengajian kota dan membantu sejumlah mualaf untuk lebih mengenal Islam. Akhir saat ini menjadi mahasiswa PhD di Czech University of Life Sciences Prague,The Czech Republic kuliah S3. (intp.fapet.ipb.ac.id)

  • Ir. Abdon Nababan, alumni Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 19 berhasil meraih penghargaan bergengsi tingkat Asia. Pria yang saat kuliah aktif dalam kegiatan Lawalata (pencinta alam) ini meraih Ramon Magsaysay Award 2017 untuk kategori Community Leadership dari seluruh Asia.

    Ramon Magsaysay Foundation  merupakan penghargaan untuk kepemimpinan yang menginspirasi dan membawa perubahan. Beberapa nama yang pernah mendapat penghargaan ini adalah Dalai Lama ke-14 pada 1959, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1993, dan Syafi’i Ma’arif (PP Muhammadiyah) pada 2008.

    Menurut pihak Ramon Magsaysay Award, Abdon merupakan seorang pemimpin yang membawa perubahan. Keberanian dan advokasinya menjadi suara dan wajah bagi masyarakat adat di Indonesia.

    Abdon merupakan pemimpin perjuangan Masyarakat Adat di Nusantara (AMAN) bahkan sebelum era reformasi. Acara lima-tahunan Kongres Masyarakat Adat Nusantara menunjuknya sebagai Sekretaris Jenderal AMAN, di dua periode berturut-turut, yaitu 2007-2012 dan 2012-2017. Kini Abdon duduk di Dewan AMAN Nasional 2017-2022 mewakili Region Sumatera.

    Dalam periode kepemimpinannya, kerja AMAN telah berkontribusi positif terhadap perjuangan hak-hak masyarakat adat di negara ini. Beberapa diantaranya adalah Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012 tentang Hutan Adat, Pencantuman Peta Wilayah Adat sebagai Peta Tematik oleh Badan Informasi Geospasial, dan Inkuiri Nasional oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia tentang pelanggaran hak-hak masyarakat adat di kawasan hutan. AMAN pun secara aktif mendorong dan memfasilitasi Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat (RUU MA). RUU ini kini ada di Program Legislasi Nasional DPR RI untuk 2017.

    Masih di periode kepemimpinannya, AMAN memastikan pencantuman enam poin terkait masyarakat adat di dalam visi dan misi Presiden Joko Widodo (dikenal sebagai NAWACITA). Hasil paling nyata adalah penyerahan Surat Keputusan Pengakuan Hutan Adat kepada sembilan masyarakat adat oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada akhir Desember 2016.

    Penghargaan tahunan ini diberikan oleh Ramon Magsaysay Foundation, yang berbasis di Filipina. Acara penyerahan tahun ini dijadwalkan pada 31 Agustus di Manila. Penghargaan Nobel Asia ini diumumkan resmi pada Kamis, 27 Juli 2017.(ipb.ac.id)

  • "Sarjana peternakan dapat membantu negara dan bangsa dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani yang berkualitas, harga yang terjangkau, aman dan berkelanjutan. Pilihan yang tepat memilih fakultas peternakan IPB, kualitas dosen yang sangat baik, fasilitas yang lengkap untuk menunjang pendidikan dan lulusan yang berkualitas yang dapat bekerja di industri peternakan dan bidang usaha lain yang terkait"
    Apriliani Purwanto
    (Manager, Asia Key Accounts at Elanco)

    Pendidikan : Fapet IPB  

    karir :

    Director - Elanco Indonesia
    (9 tahun)

     
    Director, Global Alliances - Asia Pacific
    (3 tahun)
     

    Manager, Asia Key Accounts at Elanco
    – Saat ini,  Jabodetabek, Indonesia

     
     
  • Sektor peternakan terkadang masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat, padahal di sisi lain kebutuhan daging nasional masih belum bisa tercukupi. Impor daging dari luar negeri menunjukkan bahwa bidang peternakan di Indonesia belum cukup mumpuni. Hal ini yang kemudian menggerakkan Budi Susilo Setiawan selaku alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk menggeluti bidang peternakan. Budi Susilo Setiawan adalah seorang sarjana dari Fakultas Peternakan IPB yang lahir di Solo, 14 Desember 1981. Minatnya di bidang wirausaha mendorong Budi dan tiga orang kawannya untuk membangun usaha agribisnis berbasis peternakan domba yang corcerndi bagian penggemukkan domba dan kaning. Usaha yang didirikan pada bulan September tahun 2004 ini dinamakan MT Farm yang terletak di Daerah Ciampea, Bogor. Budi berhasil mengelola MT Farm sehingga berhasil menjadi salah satu peternakan yang cukup berkembang dalam usaha penggemukan dan penjualan domba di wilayah Jawa Barat. “Selain usaha penggemukan dan penjulan, MT Farm juga melakukan pembibitan dan pengembangbiakan domba, kambing, dan sapi. Pengelolaan usaha ini menyerap warga sekitar sebagai karyawan,” ujar Budi.

    Hal lain yang Budi lakukan sambil menjalankan usahanya ini ialah melakukan pemberdayaan masyarakat dan pengolahan limbah juga kotoran ternak. “Kotoran tersebut diubah menjadi biogas dan pupuk untuk rumput yang nantinya bisa menyalakan api dan genset untuk areal peternakan. Sementara itu, pengelolaan limbah bermanfaat agar masyarakat dapat menggunakan gas yang dihasilkan secara gratis,” tutur Budi. Usaha yang dilakukan Budi ini tak hanya memberikan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat secara langsung dalam usaha peternakan MT Farm tapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dengan berbagai hasil sampingan yang ada. (IPBMag)

  • Dunia logistik dan rantai pasok pangan nasional sering kali membutuhkan tangan dingin seorang praktisi yang paham betul dari mana makanan berasal. Frans Marganda Tambunan, S.Pt., adalah salah satu sosok tersebut. Perjalanan hidup pria kelahiran 5 Februari 1978 ini merupakan sebuah narasi tentang ketekunan, di mana keahlian teknis yang ia timba di bangku kuliah berhasil ia transformasikan menjadi kebijakan strategis di level nasional.

    Akar keahlian Frans tertanam kuat di Fakultas Peternakan IPB University. Sebagai alumni angkatan 33 yang lulus pada tahun 2001 dari jurusan Teknologi Hasil Ternak, Frans tidak hanya belajar tentang komoditas, tetapi juga tentang standar kualitas dan efisiensi produksi. Latar belakang pendidikan ini menjadi "senjata rahasia" yang membuatnya unggul dalam memahami industri hulu hingga hilir.

    Karier Frans dimulai dari garis depan industri ritel modern. Tak lama setelah menyandang gelar sarjana, ia mengasah insting bisnisnya di PT Hero Supermarket Tbk sebagai Category Manager. Selama lebih dari satu dekade berikutnya, ia berkelana di berbagai raksasa ritel seperti Carrefour, PT Makro Indonesia, hingga Lotte Shopping Indonesia. Pengalaman panjang di sektor swasta ini membentuk Frans menjadi sosok yang sangat paham mengenai perilaku konsumen, manajemen barang dagangan (merchandising), dan seluk-beluk pembelian produk segar (fresh purchasing).

    Titik balik kariernya di sektor publik dimulai saat ia dipercaya menjadi Direktur Operasional di PT Food Station Tjipinang Jaya pada tahun 2015. Di sana, Frans berhasil membuktikan bahwa efisiensi ritel swasta bisa diterapkan untuk menjaga stabilitas pangan daerah. Keberhasilan ini membawanya naik ke panggung yang lebih besar pada akhir 2020, ketika ia ditunjuk sebagai Direktur Komersial PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau yang kini dikenal sebagai ID Food.

    Puncak prestasinya tercapai pada Maret 2022, saat Frans dipercaya menduduki kursi Direktur Utama ID Food. Menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Arief Prasetyo Adi, Frans memikul tanggung jawab besar untuk memimpin Holding BUMN Pangan Indonesia. Di bawah kepemimpinannya hingga Mei 2024, ia berfokus pada penguatan rantai pasok dan transformasi perusahaan untuk memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Kisah Frans Marganda Tambunan adalah bukti nyata bagi setiap mahasiswa peternakan bahwa disiplin ilmu ini memiliki spektrum karier yang sangat luas. Ia menunjukkan bahwa seorang lulusan peternakan tidak hanya bisa berkutat di kandang atau laboratorium, tetapi juga mampu menjadi nakhoda bagi institusi pangan terbesar di negeri ini. Frans adalah perwujudan dari semboyan bahwa usaha memang tak pernah mengkhianati hasil; sebuah perjalanan dari seorang mahasiswa teknologi ternak menjadi salah satu tokoh kunci ketahanan pangan nasional.

  • Keamanan pangan dan standar kualitas dunia memerlukan ketelitian teknis yang tinggi serta visi digital yang tajam. Herdiansyah adalah sosok yang membuktikan bahwa latar belakang keilmuan spesifik dapat menjadi tangga menuju kepemimpinan lintas batas. Perjalanan kariernya merupakan kombinasi apik antara penguasaan materi di bidang peternakan dengan ketangkasan manajemen sistem informasi modern.

    Langkah profesional Herdiansyah berakar dari Fakultas Peternakan IPB University. Lulus pada tahun 2005 dari jurusan Teknologi Hasil Ternak (THT), ia membawa bekal pemahaman mendalam tentang rantai pasok dan keamanan pangan. Ia memulai pengabdiannya sebagai Konsultan Teknis di Dinas Peternakan & Perikanan Kabupaten Tasikmalaya, di mana ia terjun langsung dalam program pengembangan masyarakat, sebuah pengalaman yang membentuk dasar kepemimpinannya yang berorientasi pada manusia.

    Karier emasnya dimulai saat ia bergabung dengan raksasa pengujian Jerman, TÜV NORD, pada Mei 2008. Memulai posisi sebagai Business Development Officer, Herdiansyah secara bertahap menapaki tangga manajerial melalui dedikasi selama lebih dari 15 tahun. Perannya sangat sentral dalam sejarah perusahaan; salah satu pencapaian prestisiusnya adalah sebagai Project Manager yang bertanggung jawab penuh atas pembangunan laboratorium pengujian berstandar global di Indonesia, mulai dari konsep desain hingga operasional.

    Kepiawaiannya dalam menggabungkan ilmu Teknologi Hasil Ternak dengan gelar Magister Manajemen Sistem Informasi menjadikannya pemimpin yang unik. Ia memelopori digitalisasi dan modernisasi operasional laboratorium, sebuah langkah visioner yang menjaga organisasi tetap lincah di tengah perubahan bisnis yang cepat. Keberhasilannya mengelola berbagai pusat lab (Pangan, Lingkungan, hingga Kalibrasi) membawanya dipercaya menjabat sebagai Managing Director PT TÜV NORD Indonesia sejak Maret 2023.

    Cakupan kepemimpinannya kini melampaui batas nasional. Sebagai ASIA Testing Business Entity Head, Herdiansyah mengawasi aktivitas pengujian di seluruh wilayah Asia, termasuk Asia Tenggara dan India. Ia memimpin transformasi digital dan penguatan sumber daya manusia di tingkat regional, memastikan standar keamanan pangan dunia ditegakkan melalui sentuhan inovasi lokal.

    Kisah Herdiansyah adalah inspirasi bagi para praktisi peternakan bahwa disiplin ilmu THT memiliki relevansi yang sangat luas di industri global. Dari seorang konsultan lapangan di Tasikmalaya hingga menjadi pemimpin bisnis di Asia, Herdiansyah menunjukkan bahwa penguasaan teknologi hasil ternak adalah pintu gerbang menuju peran strategis dalam menjaga kualitas hidup masyarakat melalui standar keamanan pangan internasional.

  • Indra Lahir di Jakarta pada tahun 1959. Menyelesaikan S-1 di Fakultas Peternakan IPB, Bogor tahun 1983 dan memperoleh gelar MBA Finance di University of Denver, Colorado USA tahun 1994.

    Indra mengawali karier perbankan-nya di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., pada tahun 1985 dengan beberapa posisi yang pernah dijabat antara lain: Kepala Bisnis Korporasi III (1997-1998), Kepala Bagian Kredit Agribisnis (2000-2001), Group Head Agribisnis Perkebunan (2001-2004), Wakil Kepala Divisi Agribisnis (2004-2005), Wakil Pemimpin Wilayah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., Wilayah Jakarta 1 (2007-2008). Pada tahun 2009, Ia ditugaskan di PT Bank BRI Syariah sebagai Commercial Banking Group Head, dan kemudian diangkat sebagai Direktur PT Bank BRI Syariah pada tanggal 26 Januari 2012 dan mendapat persetujuan Bank Indonesia pada tanggal 11 April 2012 sesuai Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 14/16/GBI/DPbs.

    Berbagai pelatihan yang pernah diikutinya antara lain: Developing The First Class Manager Singapore (1989), International Conference on Sustainability of Oil Palm Plantation Agronomic and Environmental Perspective Malaysia (1996), Studi Banding Hortikultura di Malaysia (2003) dan 6th World Islamic Economic Forum Malaysia (2010)

    Saat ini Indra Praseno menjabat sebagai Direktur Bisnis dan Ritel BRI Syariah.

  • Setelah Lulus dari Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 1988, Rifda memulai karirnya di perusahaan-perusahaan besar terkemuka dari Indonesia dan dipercayakan untuk menjadi Public Relation dan Marketing Manager & Communication. Mengingat bahwa ia mampu untuk menjalankan bisnis sendiri, pada tahun 1993, Rifda mengambil langkah besar dalam dunia bisnis dan mendirikan perusahaannya di bidang teknik listrik dan pertambangan yang membawanya ke sukses besar. Melalui jaringan yang luas dan pemahamannya yang mendalam mengenai permintaan konsumen terhadap produk-produk,  menjadikan jalan dalam pendirian PT. Puteri Cahaya Kharisma (Performax) pada tahun 2002. Selain dalam bidang bisnis, kegiatan sehari-harinya juga diisi dengan kegiatan sosial dan aktif berorganisasi seperti menjadi pendiri Yayasan Amanah dan Yayasan Peduli Bangsa (YPB)  Rifda juga merupakan anggota dari KADIN , HIPMI , ARDIN , PII , MKI , dan ASPERAPI.

  • Bapak dengan dua anak bernama Syukur Iwantoro ini memang begitu mencintai dunia peternakan. Bahkan, untuk mengimplementasikan ilmu peternakan yang telah dikuasainya, usia kuliah Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan IPB, Syukur memilih bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang pembibitan peternakan di wilayah Bogor. Dan entah kebetulan atau tidak, hobi beternak tersebut telah mengantarkan pria kelahiran Situbondo pada 30 Mei 1959 ini menjadi Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2011-2015.

    Namun karena terpengaruh ajakan teman sejawatnya untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Pertanian (Kementan), ia kemudian tertarik juga untuk menjadi PNS Kementan karena ia juga memiliki keinginan untuk sekolah kembali dan ingin mengabdikan ilmu bagi dunia peternakan di Tanah Air.

    Setelah sekian lama terjun sebagai PNS, Syukur benar-benar makin mencintai pekerjaannya. Dalam bekerja, Syukur menerapkan strategi khusus untuk memuluskan kariernya, salah satunya dengan tampil beda dibanding rekan seangkatannya. Jika PNS lain masuk siang dan pulang siang, Syukur memilih kerja dari pukul 08.00 hingga 17.00 sore sehingga menarik perhatian atasannya.

  • Dalam dunia industri manufaktur pangan, konsistensi dan keamanan adalah segalanya. Bagi seorang pakar teknologi susu, perjalanan karier bukan sekadar tentang angka produksi, melainkan tentang menjaga kualitas nutrisi yang sampai ke tangan jutaan keluarga. Sosok profesional ini adalah perwujudan dari dedikasi tersebut—seorang pemimpin operasional yang telah menghabiskan lebih dari 23 tahun mengawal standar kualitas di salah satu raksasa industri susu dunia, PT Frisian Flag Indonesia.

    Fondasi keahliannya diletakkan di Fakultas Peternakan IPB University. Lulus pada tahun 2000 dari jurusan Teknologi Hasil Ternak, Fapet IPB, ia bukan sekadar mahasiswa biasa. Keunggulannya di bidang akademis terlihat saat ia dipercaya menjadi Asisten Dosen untuk mata kuliah Mikrobiologi dan Teknologi Pengolahan Susu. Di laboratorium kampus itulah, ia mulai mengasah kemampuannya dalam mempersiapkan praktikum dan memahami karakteristik susu secara mendalam, sebuah modal berharga yang membawanya langsung ke garis depan industri setelah lulus.

    Karier profesionalnya dimulai di PT Industri Susu Alam Murni sebagai Production Supervisor, sebelum akhirnya memulai perjalanan panjangnya di Frisian Flag pada tahun 2002. Selama lebih dari dua dekade, ia telah menduduki berbagai posisi manajerial krusial. Keahliannya mencakup spektrum yang sangat luas, mulai dari Milk Powder Processing, teknik Spray Drying, hingga pengelolaan lini produksi Sweet Condensed Milk (susu kental manis).

    Sebagai seorang Dairy Technologist Manager dan Milk Powder Blending Manager, ia dikenal sebagai pakar dalam sistem Cleaning in Place (CIP), validasi proses, serta eliminasi risiko kontaminasi. Kemampuannya mengelola operasional skala besar tidak perlu diragukan lagi; ia terbukti mampu memimpin tim yang terdiri dari lebih dari 200 personel dengan kapasitas produksi mencapai 230 ton per hari. Tak hanya mengejar target produksi, ia juga memegang teguh prinsip Operational Excellence dengan mempertahankan rekor zero accident (nol kecelakaan kerja).

    Salah satu titik penting dalam kariernya adalah ketika ia dipercaya memimpin proyek implementasi SAP (Make to Demand Production Chair), yang menunjukkan bahwa ia tidak hanya mumpuni secara teknis di lantai produksi, tetapi juga adaptif terhadap transformasi digital dan sistem manajemen modern.

    Perjalanan karier selama hampir 24 tahun di satu institusi besar adalah bukti nyata dari loyalitas, integritas, dan kompetensi yang terus berkembang. Dari seorang asisten dosen di Bogor hingga menjadi manajer kunci di industri susu nasional, sosok ini menunjukkan bahwa kombinasi antara pemahaman sains peternakan yang kuat dengan kepemimpinan operasional yang tangguh adalah kunci dalam menjaga kedaulatan pangan dan kualitas nutrisi bangsa.

  • Jannes Humuntal Hutasoit atau yang lebih dikenal dengan nama J.H. Hutasoit lahir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara pada tanggal 16 September 1925.  Beliau menyelesaikan HIS di Tapanuli pada tahun 1938, kemudian melanjutkan ke MULO, Tarutung pada tahun 1942. Pendidikan SMA ditempuh beliau di Bogor dan selesai pada tahun 1947. Setelah lulus SMA, JH Hutasoit melanjutkan pendidikan tinggi pada Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI dan menyelesaikan pendidikan pada tahun 1954. Pada tahun 1956 – 1957, JH Hutasoit mengenyam pendidikan pascasarjana pada University of Florida, Gainsville, Amerika Serikat dalam bidang Animal Nutrition. Pendidikan Doktor diselesaikan oleh beliau pada tahun 1959 di Bogor.

    Karir sebagai pendidik dimulai Prof. Dr. drh. JH Hutasoit sejak tahun 1952 sebagai asisten ahli Kl.1. Pada tahun 1953 sebagai asisten ahli dan berturut-turut lector muda, lector dan lector kepala dicapai beliau pada tahun 1956, 1957 dan 1960. Sejak tahun 1961, Prof. Dr. drh. JH Hutasoit menjadi guru besar di FKHPPL-UI. Sejak 1973, beliau sudah mencapai jenjang kepangkatan pegawai negeri tertinggi (IV/e).

    Karir manajemen beliau dimulai dengan menjadi Kepala Bagian Ilmu Makanan Ternak di Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut (FKHPPL) UI. Pada tahun 1961 – 1963, beliau menjabat sebagai Sekretaris FKHPPL. Bersama dengan Dr. Didi Admadilaga, Prof. Dr. Moh. Mansjoer, Drs Suratno, M.Sc., Ir. Gunawan Satari dan Ir. Ahmadi Suharja, Prof. Dr. drh. JH Hutasoit menjadi panitia persiapan Kurikulum Fakultas Peternakan di Indonesia berdasarkan Surat Rektor UI, 10 Juli 1962, No. 743/03. Beliau merupakan salah satu pelopor pendirian Fakultas Peternakan IPB dan menjabat sebagai Dekan Fakultas Peternakan IPB Pertama periode 1963 – 1967. Pada tahun 1966, Prof. Dr. drh. Hutasoit dipercayakan sebagai Ketua Presidium IPB, kemudian beliau menjabat Rektor IPB pada tahun 1967 – 1971.

  • Rasa haru sekaligus bangga terasa ketika pembawa acara menyebut nama Susi Sianturi serta nama orangtuanya saat upacara wisuda mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB).

    Susi, mahasiswi S-2 IPB, berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat cum laude. Gelar S-2 itu tidak ia peroleh dengan mudah dan main-main.

    "Saat S-1, saya kuliah di IPB juga ambil jurusan peternakan. Terus saya nyambung S-2 lagi di IPB," katanya kepada TribunnewsBogor.com, Rabu (23/3/2016).

    Ia melanjutkan, saat kuliah S-1 sekitar sembilan tahun lalu, ia harus bersusah payah berjualan pisang goreng. Susi terpaksa berjualan karena orangtuanya yang berada di Tapanuli Utara, Medan, hanya memberinya uang bulanan Rp 300.000.

    Setiap subuh selama semester I dan II, ia berjualan pisang goreng di lingkungan asrama putri. Hasilnya lumayan, Rp 30.000 per hari. Uangnya ia gunakan untuk biaya sehari-hari dan membeli perlengkapan kuliah.

    Masuk di semester III, ia menjalani usaha kecil-kecilan bersama rekannya. Setiap hari Minggu, ia berjualan perabotan yang diperlukan oleh mahasiswa.

    "Jadi, tiap Minggu, saya dan teman saya berjualan sambil buka stan gitu. Hasilnya juga lumayan," katanya.

  • Prof. Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Sc. Agr Dekan Faultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menjabat selama dua periode berturut-turut yakni periode 2007-2011 dan 2011-2015.

    Prof. Luki sangat berupaya memajkuan pendidikan di bidang ilmu peternakan terutama bidang Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan.

    Tidak sedikit hasil risetnya di bidang nutrisi ternak, ilmu tanaman pakan, dan nutrisi tanaman peternakan yang masuk dalam Inovasi Indonesia Paling Prospektif versi Bussiness Innovation Center didukung Kementerian Riset dan Teknologi RI.

  • Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA dilahirkan di Kediri tanggal 24 Agustus 1961 dan merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara hasil perkawinan seorang ayah bernama Basar (almarhum) dan seorang ibu bernama Asyiati. Saat ini tinggal di Bogor bersama seorang istri bernama Sri Sulandari, PhD (peneliti LIPI dan lahir 23 Desember 1961) dan dua anak laki-laki bernama Aussie Andry Venmarchanto (lahir 11 Maret 1990) dan Endyea Mendelian Lecturariseta (lahir 18 November 1997).

    Pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di SDN Ringinsirah II Kediri, SMPN I Kediri, dan SMAN II Kediri; sedangkan pendidikan tinggi diselesaikan di Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta (sarjana, 1985), di University of New England, Armidale, Australia (master of science in agriculture, 1990) dan di University of Sydney, Australia (Doctor of Phylosophi, 1995).

    Pascapendidikan formal, memperoleh kesempatan mengikuti program post-doctoral dari Science and Technology Agency of Japan (1995-1996) di National Institute of Animal Industry, Tsukuba, Japan; kemudian dari Society for Agriculture, Forestry and Fisheries (STAFF) Institute (1996-1997) di Tsukuba, Japan; serta dari Japan Society for Promotion of Science (JSPS) tahun 1998 di Nagoya University, Japan; dan terakhir dari Program Kerjasama Indonesia-Australia tentang Specialized Training on Intellectual Property Rights di University of Technology, Sydney, Australia tahun 2000.

  •  

    Rahma Novianti Hardi, lahir di Solok, pada tanggal 1 Nopember 1967. Memperoleh Gelar Sarjana Peternakan dari Institut Pertanian Bogor pada tahun 1989. Beliau mengawali kariernya di PT Bank Lippo Tbk dari tahun 1990 sampai dengan 1996 dengan jabatan sebagai Operation Staff, International Banking Group.
          
    Kemudian bergabung dengan PT USI - IBM dari tahun 1996 sampai dengan 1999 di Banking and Financial Services. Tahun 1999 beliau pindah ke Citibank NA, bergabung di bagian Global Transaction and Service, Global Corporate & Investment sampai dengan tahun 2010. Kemudian pada tahun 2010 beliau pindah ke PT Bank Mandiri Tbk di Corporate Transaction Banking Sales Group hingga tahun 2013, dan dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2015 beliau bergabung di Deutsche Bank Indonesia dengan jabatan terakhir sebagai Global Transaction Banking - TFCMC Head.

  • Program Summer Course yang diselenggarakan Departemen INTP Fakultas Peternakan IPB telah diselenggarakan pada awal bulan Agustus 2017. Sebanyak  11 orang mahasiswa asing dari Universitas di 4 negara, yaitu dari Universiti Putra Malaysia (Malaysia), Chiang Mai University (Thailand), dan Nong Lam University serta Maejo University (Vietnam).  Summer Course yang bertema Exotic Tropical Animal Nutritionini resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Peternakan IPB  di Ruang ruang sidang Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (1/08/2017).

    Kegiatan Summer course yang dilakukan meliputi perkuliahan di dalam kelas, yang membahas tentang manajemen pakan untuk domba garut, ayam pelung dan ayam ketawa, kuda renggong, yang disesuaikan dengan budaya dan kearifan lokal. Selain itu, diberikan pula materi tentang manajemen dan konservasi bagi Jalak Bali dan Rusa Totol yang juga disesuaikan dengan budaya dan kearifan lokal.

    Rangkaian kegiatan selanjutnya diantaranya mengunjungi Konservasi Jalak Bali dan Rusa Totol, untuk melihat bagaimana manajemen pemberian pakan untuk Jalak dan Rusa Totol di Bogor, mengunjungi peternakan Ayam Pelung dan Ketawa di Cianjur, Melihat penampilan kontes adu domba di Garut, mengunjungi dan melihat penampilan kuda Renggong di Sumedang, dan terakhir mengunjungi Taman Burung di Jakarta.

    Di akhir rangkaian summer course, peserta memberikan laporan dan mempresentasikan hasil pengamatan selama kegiatan summer course.

  • Suryopratomo atau lebih populer dengan nama Tommy (lahir 12 Mei 1961) adalah tokoh persuratkabaran berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui kiprahnya sebagai pewarta di beberapa surat kabar dan stasiun televisi di Indonesia, di antaranya Kompas, Media Indonesia, dan Metro TV. Sebelum menjabat sebagai pemimpin redaksi, Direktur Pemberitaan, dan Direktur Utama Metro TV, Tommy bekerja sebagai jurnalis Kompas yang pernah ditugaskan di berbagai daerah dan dipercaya sebagai pemimpin redaksi. Di kalangan sejawatnya, Suryopratomo dipercaya menjabat sebagai Ketua Forum Pemimpin Redaksi, 2015 sampai 2017.

    Suryopratomo lahir di Bandung 12 Mei 1961. Setelah lulus SMA, Tommy diterima kuliah di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, lulus pada tahun 1983. Pada tahun 1986, Tommy menyelesaikan studi pasca sarjananya di perguruan tinggi yang sama. Saat itu, dia punya dua pilihan: menjadi dosen dan kelak melanjutkan studi atau bekerja. Tommy memilih bekerja—sebuah keputusan yang ditentang Tjokroprawiro, sang ayah yang menghendaki Tommy melanjutkan studinya hingga S-3. Tommy kemudian mengirimkan empat lamaran pekerjaan, dan hanya Kompas yang memanggilnya. Tak pernah disangka jika akhirnya Tommy menjadi pemimpin redaksi Kompas, salah satu harian terkemuka di Indonesia di usianya yang masih muda kala itu, baru 39 tahun.

    Empat tahun bergabung dengan Kompas, dia menjabat sebagai wakil kepala desk olahraga. Setahun kemudian Tommy dipindahkan ke desk ekonomi. Setelah dipromosikan menjadi redaktur pelaksana, pada 1 Februari 2000 Tommy menerima tongkat estafet dari Jakob Oetama sebagai pemimpin redaksi, setelah 35 tahun dijabat langsung oleh pendirinya, Jakob Oetama.

    Suryopratomo dilantik sebagai Dubes LBBP RI untuk Republik Singapura melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 91/P tahun 2020 tanggal 11 September 2020, Nomor 92/P dan 93/P tahun 2020 tanggal 14 September 2020 tentang Pengangkatan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia. 

  • Menteri Pertanian (Mentan) RI merupakan sosok yang selalu menjadi dambaan dan panutan mahasiswa-mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). Selain karena peranannya yang sangat berdampak di Indonesia, hal ini juga karena IPB dan sosok menteri ini memiliki kesamaan yakni konsentrasinya di bidang pertanian. Dr. Ir. H. Suswono, MMA, yang merupakan mantan Menteri Pertanian periode 2009-2014 adalah salah seorang alumni Fakultas Peternakan IPB yang berhasil mengaplikasikan ilmu yang didapatnya selama berkuliah di IPB hingga akhirnya Suswono dapat menjabat sebagai salah satu petinggi di bidang pertanian Republik Indonesia.

    Suswono merupakan alumni dari Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan Fakultas Peternakan IPB angkatan 16 yang mendapat gelar sarjananya pada tahun 1984, selanjutnya dia meneruskan pendidikannya di Magister Manajemen Agribisnis, dan kini Suswono telah menyelesaikan disertasinya S3 nya yang berjudul “Strategi Peningkatan Daya Saing Organisasi Logistik Pangan Nasional yang Berkelanjutan: Studi Kasus Bulog” yang juga diambilnya di program Doktoral Manajemen Bisnis IPB.

Events

 

Lensa Inspirasi

Dalam dunia industri manufaktur pangan, konsistensi dan keamanan adalah segalanya. Bagi seorang pakar teknologi susu, perjalanan karier bukan sekadar tentang angka produksi, melainkan tentang...

Kapsul Inovasi

Innovator : Dr Iyep Komala, S.Pt, M.Si Dr Mohammad Fayruz, CEO PT Lana Ratifa D-Ruminansia adalah inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk memantau mikroklimat...