Kisah sukses seorang pakar dunia sering kali dimulai dari langkah-langkah yang mungkin terlihat jauh dari tujuan akhirnya. Begitu pula dengan perjalanan Prof. Beben Benyamin. Sebelum namanya dikenal sebagai pakar biostatistik dan genomik di tingkat internasional, pondasi keilmuannya diletakkan di Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University. Lulus pada tahun 2000, Beben adalah bukti nyata bahwa latar belakang ilmu peternakan adalah pintu gerbang yang luas menuju penguasaan teknologi data dan genetika yang kompleks.

Latar belakangnya sebagai lulusan peternakan bukan sekadar catatan di ijazah; di sanalah ia pertama kali bersentuhan dengan dasar-dasar pemuliaan dan genetika. Pemahaman tentang populasi dan statistik yang ia serap selama di Fapet menjadi modal berharga saat ia melanjutkan studi ke Australia. Ia meraih gelar Master of Agriculture di University of Sydney (2002), lalu terbang ke Skotlandia untuk menuntaskan gelar PhD di University of Edinburgh pada tahun 2007.

Karier akademiknya adalah sebuah perjalanan lintas benua yang luar biasa. Dari Edinburgh, ia kembali ke Australia untuk menjalani pelatihan pascadoktoral di QIMR Berghofer Medical Research Institute. Namanya kian diperhitungkan saat ia bergabung dengan tim peneliti di University of Queensland, hingga kini ia dipercaya menjadi Dosen Senior di bidang Biostatistik sekaligus pemimpin tema genetika dan genomik di Australian Centre for Precision Health, University of South Australia.

Keahlian utama Beben terletak pada kemampuannya "menjinakkan" data raksasa. Ia menerapkan statistik tingkat tinggi pada data 'omics' skala besar untuk membedah misteri genetik yang bersembunyi di balik penyakit-penyakit kompleks manusia, seperti skizofrenia dan penyakit neuron motorik (motor neuron disease). Fokusnya bukan hanya pada angka, tetapi pada upaya kemanusiaan untuk memahami mengapa seseorang bisa lebih rentan terhadap penyakit tertentu dibandingkan yang lain.

Menariknya, meski kini menetap di Australia, Beben tidak melupakan akarnya. Ia sangat tertarik pada analisis genomik lintas etnis. Ia ingin memastikan bahwa temuan medis yang didasarkan pada sampel orang Eropa juga dapat memberikan manfaat yang sama bagi populasi di Asia. Dedikasinya ini telah membawa karya-karyanya menembus jurnal-jurnal sains paling bergengsi di dunia, termasuk Nature, Nature Genetics, dan Nature Communications.

Sebagai seorang pendidik dan mentor, Prof. Beben Benyamin terus membuka pintu bagi generasi peneliti baru. Ia tidak hanya mengajar biostatistik dan epidemiologi, tetapi juga aktif membimbing mahasiswa riset di bidang big health data dan genomik.

Dari seorang mahasiswa peternakan di Bogor hingga menjadi profesor yang memetakan masa depan kesehatan manusia lewat data genetik, perjalanan Beben Benyamin adalah inspirasi bagi setiap mahasiswa. Ia membuktikan bahwa ilmu peternakan adalah disiplin yang tangguh, yang jika dipadukan dengan ketekunan, mampu membawa putra bangsa menjadi pemimpin di garis depan sains global.


Sosok Lainnya