Prof Sri : Tiga Strategi Nutrisi untuk Produksi Daging yang Lebih Efisien dan Ramah Lingkungan
IPB University terus mendorong inovasi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Sri Suharti, memperkenalkan strategi pengembangan ternak ruminansia pedaging berkelanjutan melalui integrasi rekayasa nutrisi berbasis mikroba dan fitogenik aditif (phytogenic additives).
Strategi ini dirancang untuk menjawab tiga tantangan utama peternakan ruminansia di Indonesia, yaitu rendahnya produktivitas ternak, kualitas daging yang belum optimal, serta tingginya emisi gas metan yang berdampak terhadap lingkungan.
Menurut data Badan Pusat Statistik, Indonesia masih mengalami defisit suplai daging sapi dan kerbau. Pada tahun 2024, kekurangan pasokan mencapai 263,42 ribu ton. Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk terus melakukan impor sapi pedaging dan daging kerbau.
“Padahal Indonesia memiliki populasi kambing dan domba yang cukup besar, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber utama daging nasional,” ujar Prof Sri dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University.
Produktivitas Rendah dan Emisi Metan Tinggi
Prof. Sri menjelaskan bahwa salah satu persoalan utama peternakan sapi lokal adalah pertumbuhan yang masih relatif lambat. Pertambahan bobot badan harian sapi lokal hanya berkisar 0,4–0,8 kilogram per ekor per hari, terutama karena pakan yang digunakan didominasi limbah pertanian dengan kandungan serat tinggi dan kualitas nutrisi terbatas.
Sebagai perbandingan, sapi impor seperti Brahman Cross dapat mencapai pertambahan bobot badan hingga 1,2 kilogram per hari.
Selain itu, ternak ruminansia juga menghasilkan gas metan dari proses fermentasi di rumen. Emisi ini tidak hanya berkontribusi terhadap perubahan iklim, tetapi juga menunjukkan hilangnya sebagian energi pakan yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan ternak.
Tiga Strategi Utama
Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, Prof Sri menawarkan tiga strategi utama.
1. Pengembangan Probiotik Mikroba Selulitik Lokal
Strategi pertama adalah memanfaatkan mikroba lokal yang berasal dari herbivora endemik Indonesia serta ternak lokal seperti Sapi Madura dan kerbau. Mikroba ini mampu meningkatkan kecernaan serat dari limbah pertanian.
Salah satu mikroba potensial adalah Enterococcus faecium. Penggunaan probiotik ini terbukti meningkatkan populasi bakteri rumen, produksi asam lemak volatil (VFA), dan pertambahan bobot badan harian sapi Madura hingga 49 persen, dari 0,43 menjadi 0,64 kilogram per hari.
Agar tetap stabil selama penyimpanan, probiotik dikembangkan menggunakan teknologi enkapsulasi yang dapat mempertahankan viabilitas mikroba hingga 28 hari pada suhu ruang.
2. Pemanfaatan Fitogenik Aditif
Strategi kedua adalah penggunaan bahan tambahan pakan alami dari tumbuhan seperti Lerak, Kelor, dan Lamtoro. Tanaman-tanaman tersebut mengandung senyawa aktif seperti saponin dan tanin yang mampu menekan produksi gas metan.
Ekstrak lerak diketahui dapat mengurangi emisi metan hingga 11 persen dengan menghambat populasi protozoa di dalam rumen.
Untuk memudahkan aplikasi di tingkat peternak, bahan fitogenik ini diformulasikan dalam bentuk herbal mineral block yang praktis dan mudah diberikan kepada ternak.
3. Proteksi Asam Lemak Tidak Jenuh
Strategi ketiga bertujuan meningkatkan kualitas daging melalui proteksi asam lemak tidak jenuh menggunakan sabun kalsium dari Minyak kedelai dan Flaxseed.
Teknologi ini mempertahankan kandungan asam lemak esensial seperti asam linoleat sehingga menghasilkan daging yang lebih sehat, dengan kandungan lemak tidak jenuh yang lebih tinggi dan nilai ekonomi yang lebih baik.
Solusi Menyeluruh untuk Peternakan Masa Depan
Menurut Prof. Sri, integrasi ketiga teknologi tersebut menjadi solusi komprehensif bagi pengembangan peternakan ruminansia pedaging di Indonesia.
“Dengan memanfaatkan mikroba lokal, bahan alami dari tanaman, dan teknologi proteksi nutrien, kita dapat meningkatkan produktivitas ternak, menghasilkan daging yang lebih sehat, sekaligus menurunkan dampak lingkungan,” ujarnya.
Inovasi ini diharapkan mampu mempercepat swasembada daging nasional, mengurangi ketergantungan impor, serta meningkatkan daya saing produk peternakan Indonesia di pasar domestik maupun internasional.