Lahan Efisien, Daging Mandiri : Menakar Kedahsyatan Sistem SISKA Besutan Guru Besar Fapet IPB
Indonesia memiliki modal yang sangat masif dalam sektor perkebunan, namun di sisi lain masih terseok-seok memenuhi kebutuhan daging sapi domestik. Menjawab tantangan besar ini, Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc., menyodorkan sebuah konsep pertanian terpadu (integrated farming) yang sangat menjanjikan, yaitu Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA).
Pendekatan ini dinilai menjadi kunci pas untuk melipatgandakan efisiensi pemanfaatan ruang lahan sekaligus menjadi akselerator utama dalam mengejar target swasembada daging nasional secara berkelanjutan.
Satu Lahan Dua Hasil: Simbiosis Mutualisme Pekebun dan Peternak
Pada model konvensional, hamparan kebun sawit umumnya hanya dikelola tunggal untuk memanen tandan buah segar. Namun, lewat sentuhan sistem SISKA, optimalisasi lahan bergerak ke tingkat yang jauh lebih produktif. Lahan perkebunan yang sama kini bisa difungsikan ganda sebagai area penggembalaan ternak ruminansia.
Prof. Nahrowi memaparkan bahwa integrasi ini melahirkan skema saling menguntungkan yang secara drastis memangkas biaya operasional kedua belah pihak:
- Keuntungan bagi Peternak: Biaya pengadaan pakan dapat ditekan hingga titik terendah. Sapi-sapi tidak lagi bergantung pada pakan komersial mahal karena mereka bisa langsung memanfaatkan rumput dan vegetasi hijau yang tumbuh subur di bawah tegakan pohon sawit.
- Keuntungan bagi Pekebun: Keberadaan sapi bertindak sebagai "mesin pemotong rumput alami". Sapi yang memakan gulma secara otomatis memangkas anggaran belanja herbisida kimia.
Tidak berhenti di situ, SISKA juga menjadi solusi ramah lingkungan melalui pengurangan ketergantungan pada pupuk kimiawi. Kotoran dan urine yang dihasilkan oleh kawanan sapi selama merumput akan kembali ke tanah, bertransformasi menjadi pupuk organik berkadar hara tinggi yang menyuburkan tanaman sawit di atasnya.
Jalan Pintas Menuju Swasembada Sapi Nasional
Sebagai Kepala Pusat Studi Hewan Tropika (Centras) IPB University, Prof. Nahrowi melihat ada angka matematis yang sangat optimistis jika potensi ini diseriusi secara nasional.
Saat ini, Indonesia membentang ruang perkebunan sawit hingga mencapai 16,8 juta hektare. Jika komitmen nasional mampu mengonversi saja setengah dari total luas lahan tersebut (sekitar 8,4 juta hektare) menjadi kawasan SISKA, maka daya tampung lahan tersebut diperkirakan mampu mengakomodasi hingga 8,4 juta ekor sapi. Sebuah angka yang lebih dari cukup untuk menyumbang lonjakan produksi daging secara masif demi menyetop keran impor.
Dari Kalimantan hingga Miniatur Riset di Jonggol
Sistem ini bukan lagi sekadar cetak biru atau teori di atas meja laboratorium. Keberhasilan konkret di lapangan telah dibuktikan oleh alumni Fapet IPB University, Wahyu Darsono, melalui pengelolaan PT Simbiosis Karya Agroindustri (SISKA Ranch) di Kalimantan Selatan yang telah sukses berjalan lebih dari enam tahun.
Hingga saat ini, denyut nadi program ini terus berkembang dengan terbentuknya 58 klaster SISKA yang tersebar di wilayah strategis kelapa sawit nasional, meliputi:
- Kalimantan Selatan
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Timur
- Riau
Sebagai institusi pendidikan yang mengawal inovasi ini, IPB University tengah bersiap melakukan langkah strategis berikutnya. Kampus akan mendirikan sebuah miniatur sistem SISKA yang berlokasi di IPB Jonggol Innovation Valley. Pusat replika ini nantinya akan difungsikan sebagai episentrum pembelajaran, riset terapan, sekaligus tempat pelatihan bagi masyarakat dan pelaku industri yang ingin mengadopsi sistem ini.
Sinergi dan dukungan regulasi dari berbagai pemangku kebijakan menjadi prasyarat mutlak. Dengan ekspansi yang lebih luas, SISKA berpeluang besar menjadi roda penggerak utama pertanian dan peternakan masa depan yang hijau, efisien, dan mandiri secara pangan