Produksi Susu Stagnan? Prof. Idat Galih Permana Tawarkan Solusi Rekayasa Nutrisi Presisi !
Industri persusuan nasional saat ini tengah menghadapi tantangan berat. Dengan populasi sapi perah yang berkisar di angka 485 ribu ekor, produksi susu domestik dinilai masih stagnan. Imbasnya, lebih dari 80 persen kebutuhan bahan baku susu untuk industri di Indonesia terpaksa harus dipenuhi melalui keran impor.
Melihat urgensi tersebut, Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof. Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc., menawarkan solusi konkret melalui pendekatan rekayasa nutrisi presisi. Penerapan metode ini terbukti ilmiah mampu meningkatkan produksi susu sekitar 15 persen sekaligus memperbaiki kualitas kandungannya, terutama pada kadar protein susu.
“Rata-rata produksi sapi Friesian Holstein (FH) di Indonesia hanya 12–14 liter per ekor per hari, padahal potensi genetiknya bisa mencapai 20–25 liter. Jadi masalah utamanya bukan sekadar jumlah sapi, melainkan produktivitasnya,” jelas Prof. Idat dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University.
Akar Masalah: Kualitas Pakan Tropis dan Defisit Nutrien
Rendahnya produktivitas sapi perah di Indonesia erat kaitannya dengan karakteristik pakan di daerah tropis. Pakan hijauan yang tersedia umumnya tinggi serat kasar namun rendah protein, ditambah lagi dengan adanya faktor cekaman panas (heat stress) yang membuat sapi rentan kekurangan nutrien.
Kondisi lapangan menunjukkan fakta yang cukup memprihatinkan. Berdasarkan survei di Pulau Jawa, hampir 90 persen sapi perah tidak mendapatkan asupan energi, protein, maupun mineral yang cukup.
Padahal di sisi lain, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sangat tertinggal jauh dibanding negara-negara tetangga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat konsumsi susu nasional baru menyentuh 16,5 liter per kapita per tahun. Angka ini kalah telak dari Thailand (33 liter), Malaysia (50 liter), apalagi negara maju yang sudah menembus lebih dari 100 liter per tahun.
3 Strategi Utama Rekayasa Nutrisi Presisi
Guna menghentikan ketergantungan impor dan meningkatkan ketahanan pangan hewani, Prof. Idat Galih Permana merumuskan tiga strategi rekayasa pakan yang berfokus pada efisiensi pemanfaatan nutrisi:
1. Sinkronisasi Nutrien dalam Rumen
Strategi ini dilakukan dengan cara menyeimbangkan ketersediaan nitrogen (dari protein) dengan energi non-fiber karbohidrat. Keseimbangan yang pas akan merangsang mikroba rumen untuk bekerja secara optimal dalam menghasilkan protein mikroba berkualitas tinggi bagi sapi.
2. Proteksi Protein (Rumen Undegradable Protein / RUP)
Agar protein berkualitas tinggi tidak habis terdegradasi atau hancur di dalam rumen sebelum diserap tubuh, maka diperlukan langkah perlindungan (proteksi). Metode proteksi ini dapat diaplikasikan melalui:
- Pemanasan terkontrol.
- Perlakuan kimia.
- Pemanfaatan zat tanin alami.
Melalui proteksi ini, nitrogen tidak akan terbuang sia-sia sebagai gas buangan, melainkan dapat melaju langsung untuk diserap secara maksimal di usus halus sebagai Rumen Undegradable Protein (RUP).
3. Suplementasi Presisi
Langkah ini diwujudkan lewat pemberian paket nutrisi lengkap yang diformulasikan secara teliti. Formulasi wajib mempertimbangkan keseimbangan antara komponen protein, karbohidrat, serta pemenuhan mineral penting seperti sulfur.
Mengoptimalkan Potensi Bahan Pakan Lokal
Kunci keberhasilan dari implementasi rekayasa nutrisi presisi ini terletak pada kecerdasan peternak dalam mengombinasikan bahan pakan lokal. Salah satu contoh hijauan lokal potensial yang disorot adalah tanaman legum seperti Indigofera.
Indigofera dikenal memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Namun, protein pada legum ini memiliki sifat alami yang cepat terdegradasi di dalam rumen. Oleh karena itu, diperlukan teknik kombinasi dengan bahan pakan lain agar pemanfaatan proteinnya menjadi jauh lebih optimal dan efisien bagi produksi susu.
“Jika diterapkan secara luas, strategi ini dapat meningkatkan produktivitas sapi perah di daerah tropis hingga sekitar 15 persen, mengurangi ketergantungan impor, dan menjadi tonggak kemandirian industri persusuan nasional,” pungkas Prof. Idat.