Wahyu Tri Sasongko, berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Doktor yang diselenggarakan pada 2 Juni 2026. Melalui disertasi tersebut, Wahyu mengembangkan inovasi suplemen pakan berbasis sambiloto (Andrographis paniculata) dan Slow-release Urea (SRU) berbasis kitosan iradiasi sebagai strategi untuk menekan emisi metana sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien pada ternak ruminansia.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya emisi metana enterik yang dihasilkan selama proses fermentasi rumen. Selain menjadi salah satu gas rumah kaca, pembentukan metana juga menyebabkan hilangnya sebagian energi pakan yang seharusnya dapat dimanfaatkan ternak untuk pertumbuhan dan produksi. Oleh karena itu, diperlukan inovasi teknologi pakan yang mampu meningkatkan produktivitas ternak sekaligus mendukung pembangunan peternakan rendah emisi.

Dalam disertasinya, Wahyu menerapkan pendekatan penelitian yang komprehensif, dimulai dari meta-analisis berbagai publikasi internasional, pengembangan formulasi SRU berbasis kitosan iradiasi, pengujian fermentasi rumen secara in vitro, hingga validasi secara in vivo pada domba lokal. Pendekatan bertahap tersebut menghasilkan formulasi suplemen pakan yang memiliki dasar ilmiah kuat sebelum diaplikasikan pada ternak.

Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa suplementasi sambiloto berpotensi meningkatkan pertambahan bobot badan harian dan efisiensi pakan tanpa menurunkan kecernaan nutrien maupun mengganggu kondisi fermentasi rumen. Temuan tersebut menjadi dasar pengembangan kombinasi sambiloto dengan teknologi pelepasan nitrogen secara bertahap melalui SRU berbasis kitosan iradiasi.

Salah satu kebaruan utama penelitian ini adalah pemanfaatan kitosan yang dimodifikasi menggunakan iradiasi gamma sebagai matriks pembawa urea. Dari empat formulasi yang dikembangkan, formulasi SRU3 menunjukkan karakteristik terbaik dengan kemampuan mengendalikan pelepasan nitrogen secara lebih bertahap dibandingkan urea konvensional, sehingga meningkatkan sinkronisasi antara ketersediaan nitrogen dan kebutuhan mikroba rumen.

Pada pengujian fermentasi rumen, penggunaan SRU3 mampu menurunkan produksi metana pada ransum berbasis jerami padi sekitar 26 persen dibandingkan perlakuan kontrol, tanpa memberikan dampak negatif terhadap proses fermentasi. Hasil ini menunjukkan bahwa inovasi suplemen pakan yang dikembangkan berpotensi menjadi salah satu teknologi mitigasi emisi gas rumah kaca di sektor peternakan tropis.

Selain menghasilkan formulasi suplemen baru, penelitian ini juga menghadirkan sejumlah kebaruan ilmiah, di antaranya pengembangan kombinasi sambiloto dan SRU berbasis kitosan iradiasi, pemanfaatan teknologi iradiasi gamma untuk memodifikasi kitosan sebagai matriks pelepas nitrogen, integrasi pendekatan meta-analisis hingga validasi in vivo, serta penggunaan Laser Methane Detector (LMD) untuk mengukur emisi metana secara real-time pada ternak lokal Indonesia.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan teknologi pakan ruminansia yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan memanfaatkan sumber daya lokal. Inovasi tersebut juga berpotensi mendukung pencapaian target nasional penurunan emisi gas rumah kaca, sekaligus memperkuat pembangunan peternakan berkelanjutan dan ketahanan pangan di Indonesia.


Riset & Kepakaran