Sama-Sama Lucu Tapi Beda Kasta: Mengupas Tuntas Perbedaan Kelinci dan Marmut Beserta Kandungan Gizinya
Banyak orang sering kali mengira kelinci dan marmut adalah hewan yang berkerabat sangat dekat karena sama-sama berbulu, menggemaskan, dan populer dijadikan sebagai hewan peliharaan di rumah.
Namun, anggapan tersebut diluruskan oleh pakar dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan IPB University, Dr. Muhamad Baihaqi, yang menegaskan bahwa secara taksonomi keduanya justru berasal dari ordo yang sama sekali berbeda.
Kelinci secara ilmiah dikelompokkan ke dalam ordo Lagomorpha, sementara marmut atau yang sering dikenal sebagai guinea pig tergolong ke dalam ordo Rodentia atau hewan pengerat.
Jika diperhatikan secara saksama, perbedaan fisik dan anatomi di antara kedua hewan ini sangatlah mencolok. Kelinci umumnya memiliki postur tubuh yang jauh lebih besar dan ramping, ditopang oleh sepasang kaki belakang yang panjang untuk melompat, telinga tegak yang panjang, serta ekor kecil berbulu. Sebaliknya, marmut tampil dengan perawakan yang cenderung lebih pendek, gempal, atau gemuk, didukung kaki-kaki yang pendek, telinga kecil berbentuk bulat, serta hampir tidak memiliki ekor sama sekali.
Dari sisi anatomi bagian dalam, perbedaan paling spesifik dan mendasar terletak pada struktur giginya, di mana kelinci memiliki sepasang gigi seri tambahan yang terletak tepat di belakang gigi seri utamanya, sebuah karakteristik unik yang tidak akan pernah ditemukan pada anatomi mulut marmut.
Selain bentuk luar, asal-usul geografis dan perilaku alami keduanya di alam liar juga berseberangan. Kelinci merupakan hewan asli yang berasal dari wilayah Eropa dan Afrika Utara, di mana mereka memiliki kebiasaan alami hidup dan berlindung di dalam liang-liang bawah tanah. Di sisi lain, marmut merupakan hewan yang berasal dari kawasan dataran tinggi atau Pegunungan Andes di Amerika Selatan, yang secara alami menghabiskan seluruh aktivitas hidupnya di atas permukaan tanah.
Meskipun kedua jenis hewan ini sama-sama tergolong sebagai herbivora murni dengan sistem pencernaan hindgut fermenter, kelinci memiliki tingkat efisiensi yang lebih tinggi dalam mencerna serat makanan karena didukung oleh ukuran sekum yang lebih besar serta adanya perilaku coprophagy, yaitu kebiasaan memakan kembali kotoran lunak mereka untuk menyerap sisa nutrisi yang belum tercerna optimal.
Perbedaan yang tidak kalah kontras juga terlihat dari aspek biologis reproduksinya. Kelinci dikenal sebagai hewan yang sangat produktif karena memiliki sistem induced ovulator, yang berarti proses ovulasi atau pelepasan sel telur pada induk betina baru akan terjadi setelah adanya proses perkawinan. Ditambah dengan masa kebuntingan yang relatif singkat yaitu hanya berkisar antara 28 hingga 32 hari, seekor induk kelinci mampu melahirkan anak dalam jumlah yang fantastis hingga mencapai 12 ekor dalam satu kali masa melahirkan.
Kondisi ini sangat berbeda dengan marmut yang membutuhkan masa kebuntingan jauh lebih panjang, yakni mencapai 59 hingga 72 hari, namun dengan produktivitas yang jauh lebih sedikit karena biasanya hanya melahirkan antara 2 sampai 4 ekor anak saja.
Beralih ke aspek pemanfaatan dan nilai konsumsi, daging dari kedua hewan ini sebenarnya sama-sama dapat dikonsumsi dan statusnya dinyatakan halal bagi umat Muslim. Mengenai hal ini, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa halal resmi untuk konsumsi daging kelinci, dan mayoritas ulama pun juga memperbolehkan konsumsi daging marmut.
Jika ditinjau dari kandungan gizinya, daging kelinci menawarkan kualitas nutrisi yang sangat prima karena karakteristiknya yang tinggi akan kandungan protein, namun sangat rendah lemak serta rendah kolesterol, menjadikannya pilihan sumber protein hewani yang sehat.
Sementara itu, daging marmut juga diketahui memiliki kandungan gizi yang tinggi protein, meskipun dari segi kuantitas hasil dagingnya tentu lebih sedikit karena ukuran tubuh marmut yang jauh lebih kecil dibandingkan kelinci. Di Indonesia sendiri, potensi ekonomi kelinci saat ini dinilai jauh lebih besar dan menjanjikan karena industrinya sudah berkembang pesat baik sebagai sumber daging komersial maupun sebagai kelinci hias, sedangkan marmut sejauh ini masih lebih umum terbatas dipelihara sebagai hewan kesayangan saja.