Upaya meningkatkan pemanfaatan bahan pakan lokal sebagai alternatif jagung menjadi fokus penelitian Sazli Tutur Risyahadi, dari Program Doktor Ilmu Nutrisi dan Pakan (INP), Pascasarjana Fapet IPB. Melalui disertasinya berjudul “Optimasi Teknik Ekstrusi Bungkil Inti Sawit dan Umbi Singkong sebagai Bahan Baku Industri Pakan Unggas”, Sazli mengembangkan teknologi pengolahan campuran bungkil inti sawit (BIS) dan singkong atau “biskong” untuk meningkatkan nilai nutrisinya dan potensinya sebagai bahan pakan unggas.
Sidang Promosi Doktor dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026 di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB Dramaga. Penelitian ini dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Yuli Retnani, M.Sc., Prof. Dr. Anuraga Jayanegara, S.Pt., M.Sc., Dr. Ir. Heri Ahmad Sukria, M.Sc.Agr., dan Prof. Dr. Ir. Sumiati, M.Sc.
Menjawab Tantangan Bahan Baku Pakan
Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi unggas, sementara jagung menjadi salah satu bahan dengan proporsi terbesar dalam formulasi pakan. Harga jagung yang berfluktuasi dan sebagian pasokannya masih berasal dari impor mendorong perlunya alternatif bahan baku lokal yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap jagung tanpa menurunkan performa ayam.
BIS memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan dan kontinuitas pasokan karena merupakan hasil samping industri minyak sawit serta memiliki kandungan protein kasar yang relatif tinggi. Namun, BIS memiliki energi metabolis rendah dan kandungan polisakarida nonpati yang tinggi. Sementara itu, singkong memiliki energi metabolis tinggi, tetapi memiliki keterbatasan berupa kandungan HCN, protein yang rendah, serta karakteristik pati yang berbeda dengan jagung.
Teknologi ekstrusi digunakan dalam penelitian ini untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Berbeda dengan fermentasi yang membutuhkan waktu lebih panjang dan proses pengeringan tambahan, ekstrusi berpotensi dilakukan lebih cepat dan efisien untuk pengolahan bahan pakan.
Menggabungkan Meta-Analisis, Bibliometrik, dan Eksperimen
Penelitian Sazli tidak hanya menguji bahan biskong secara eksperimental, tetapi juga diawali dengan kajian meta-analisis dan bibliometrik. Pendekatan tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai perkembangan penelitian pakan terekstrusi pada unggas sekaligus mengidentifikasi celah penelitian.
Hasil bibliometrik terhadap publikasi tahun 1968–2025 menunjukkan terdapat 346 manuskrip dari 121 jurnal terkait pakan ekstrusi pada unggas. Pemetaan penelitian menghasilkan lima kluster utama, yaitu performa broiler, performa ayam petelur, kecernaan, kualitas daging, dan bahan pakan alternatif. Salah satu celah riset yang ditemukan adalah belum adanya kajian yang menghubungkan teknologi ekstrusi BIS dan singkong sebagai bahan pengganti jagung.
Sementara itu, meta-analisis menunjukkan bahwa secara umum penggunaan pakan terekstrusi tidak menurunkan kualitas daging dan telur. Pada ayam petelur, ekstrusi berpengaruh positif terhadap beberapa indikator performa, termasuk penurunan rasio konversi pakan. Pada kualitas daging broiler, parameter seperti SFA, MUFA, PUFA, TBARS, total lipid, dan drip loss tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara pakan terekstrusi dan non-ekstrusi.
Suhu 88°C dan Kadar Air 25% Menjadi Kondisi Optimum
Tahap utama penelitian dilakukan dengan mengoptimasi proses ekstrusi campuran BIS dan singkong menggunakan Response Surface Methodology (RSM). Rentang yang diuji meliputi suhu 80–100°C dan kadar air 25–50%.
Hasil optimasi menunjukkan kondisi optimum proses ekstrusi biskong berada pada suhu 88°C dengan kadar air 25%. Pada kondisi tersebut, proses ekstrusi mampu meningkatkan nilai energi metabolis biskong dibandingkan bahan yang tidak diekstrusi.
Nilai energi metabolis semu (EMS) biskong terekstrusi mencapai 3.070 ± 213 kkal/kg, meningkat dibandingkan biskong yang tidak terekstrusi sebesar 2.635 ± 202 kkal/kg. Nilai tersebut semakin mendekati energi metabolis jagung yang mencapai sekitar 3.300 ± 219 kkal/kg.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa proses ekstrusi dapat memperbaiki kualitas biskong sebagai bahan pakan. Proses ini antara lain membantu mengubah komponen polisakarida nonpati menjadi bentuk yang lebih sederhana serta mengubah struktur pati singkong sehingga lebih mudah dicerna.
Penggantian Energi Jagung hingga 20 Persen
Potensi biskong terekstrusi kemudian diuji pada ayam broiler dengan membandingkannya terhadap jagung serta biskong yang tidak diekstrusi. Pengujian dilakukan selama lima minggu dengan level penggantian energi jagung sebesar 10% dan 20%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level penggantian 10%, performa ayam yang memperoleh biskong terekstrusi dan tidak terekstrusi tidak berbeda nyata. Namun, pada level 20% penggantian energi jagung, biskong terekstrusi menghasilkan performa yang lebih baik.
Biskong terekstrusi menghasilkan nilai feed conversion ratio (FCR) sebesar 1,58 ± 0,03, lebih rendah dibandingkan jagung sebesar 1,67 ± 0,06 dan biskong tidak terekstrusi sebesar 1,76 ± 0,111. Pada level penggantian energi 20%, biskong terekstrusi juga menghasilkan bobot badan yang paling tinggi secara signifikan dibandingkan perlakuan lainnya.
Temuan tersebut memperkuat potensi biskong terekstrusi sebagai bahan pakan lokal yang dapat menggantikan sebagian energi dari jagung. Disertasi ini bahkan menunjukkan peluang untuk mengkaji penggunaan biskong pada tingkat penggantian yang lebih tinggi pada penelitian selanjutnya.
Kontribusi bagi Industri Pakan Berbasis Bahan Lokal
Penelitian ini menghasilkan tiga kebaruan utama, yaitu memperoleh informasi agregat mengenai pengaruh ekstrusi terhadap kualitas pakan dan performa unggas, mendapatkan teknik optimasi proses ekstrusi BIS dan singkong, serta menghasilkan formula pakan broiler yang mengandung BIS dan singkong terekstrusi sebagai pengganti energi jagung.
Hasil penelitian diharapkan dapat mendorong peningkatan pemanfaatan bahan pakan lokal, khususnya BIS dan singkong, sehingga berpotensi membantu memitigasi dampak kenaikan harga jagung dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Selain itu, hasil penelitian dapat menjadi referensi bagi pengembangan teknologi ekstrusi bahan pakan lokal serta bahan pertimbangan bagi industri pakan dan pemerintah dalam implementasi teknologi tersebut.
Sazli menyarankan penelitian lanjutan untuk mengkaji pengaruh pakan ekstrusi terhadap parameter kesehatan ternak, mengoptimalkan faktor lain seperti kecepatan screw dan formula bahan, serta menguji penggunaan ekstruder ulir ganda. Penelitian berikutnya juga perlu mengevaluasi peningkatan level biskong sebagai pengganti energi jagung dalam pakan.
Melalui penelitian ini, teknologi ekstrusi tidak hanya ditempatkan sebagai teknologi pengolahan pakan, tetapi juga sebagai pendekatan untuk meningkatkan nilai guna bahan baku lokal dan memperkuat peluang substitusi sebagian bahan pakan konvensional dalam industri pakan unggas.