Pengembangan peternakan kerbau rakyat di Kabupaten Kerinci perlu mempertimbangkan karakteristik agroekosistem tempat ternak dipelihara. Hal tersebut menjadi temuan penting dalam penelitian Neko Riffiandi melalui disertasinya berjudul "Strategi Pengembangan Peternakan Kerbau Rakyat Berkelanjutan Berbasis Agroekosistem di Kabupaten Kerinci” pada Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Sekolah Pascasarjana IPB University (09/09/2026).

Penelitian dilakukan pada tiga agroekosistem, yaitu sawah di Desa Tanjung Tanah, perbukitan di Desa Ambai, dan rawa di Desa Sungai Rumpun. Kajian mengintegrasikan aspek produksi dan reproduksi, termoregulasi dan perilaku alami, keseimbangan nutrien, serta keberlanjutan sistem peternakan. Penelitian melibatkan 626 ekor kerbau dari 52 peternak.

Agroekosistem Rawa Paling Mendukung Performa Kerbau

Hasil penelitian menunjukkan bahwa agroekosistem rawa memberikan kondisi paling menguntungkan bagi produksi dan reproduksi kerbau. Kerbau pada agroekosistem ini menunjukkan performa morfometrik yang lebih baik, terutama pada kelompok umur muda dan anak. Pada kerbau dewasa, beberapa ukuran tubuh seperti panjang badan, lingkar dada, dan tinggi pundak juga cenderung lebih unggul.

Keunggulan tersebut juga terlihat pada aspek reproduksi, salah satunya melalui interval pascamelahirkan yang lebih singkat. Kondisi mikroklimat rawa yang lebih mendukung turut berperan dalam kenyamanan ternak. Suhu udara maksimum di wilayah rawa tercatat sekitar 26,77°C, lebih rendah dibandingkan sawah dan perbukitan yang mencapai sekitar 33–34°C.

Kondisi lingkungan tersebut membantu proses termoregulasi dan mengurangi tekanan panas pada kerbau. Temuan ini menunjukkan bahwa kesesuaian agroekosistem merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung produktivitas dan reproduksi kerbau rakyat.

Keseimbangan Nutrien Perlu Dikelola

Penelitian juga menemukan adanya perbedaan keseimbangan nutrien antar-agroekosistem. Pada agroekosistem sawah terdapat surplus nitrogen (N) dan fosfor (P) yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

Sebaliknya, agroekosistem perbukitan dan rawa menunjukkan defisit nutrien yang berpotensi mengurangi kesuburan lahan penggembalaan dalam jangka panjang. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan pakan, kotoran ternak, dan pengembalian nutrien ke lahan sesuai karakteristik masing-masing agroekosistem.

Keberlanjutan Membutuhkan Penguatan Kelembagaan

Penilaian keberlanjutan menggunakan pendekatan Multidimensional Scaling (MDS) melalui metode Rap-Buffalo pada lima dimensi, yaitu ekologi, ekonomi, teknologi, sosial, serta hukum dan kelembagaan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa belum ada agroekosistem yang sepenuhnya berkelanjutan. Dimensi ekologi pada sawah dan rawa berada pada kategori cukup berkelanjutan dengan indeks masing-masing 53,05 dan 53,07, sedangkan perbukitan berada pada kategori kurang berkelanjutan dengan nilai 44,69. Sementara itu, aspek ekonomi, teknologi, sosial, serta hukum dan kelembagaan masih memerlukan penguatan.

Berdasarkan hasil tersebut, strategi pengembangan diarahkan pada penguatan kelembagaan dan pengelolaan peternakan berbasis karakteristik agroekosistem. Peran pemerintah desa dan pemangku adat perlu diperkuat, disertai penyediaan ruang pembelajaran dan diskusi bagi kelompok peternak. Kerja sama antardaerah juga diperlukan untuk memperluas akses pasar serta mendukung penyediaan bibit atau ternak pengganti.

Penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan kerbau rakyat tidak dapat menggunakan pendekatan yang seragam. Strategi perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekaligus memperkuat aspek ekonomi, teknologi, sosial, dan kelembagaan agar sistem peternakan dapat berkembang secara produktif dan berkelanjutan.

Neko Riffiandi merupakan dosen Jurusan Peternakan Politeknik Negeri Lampung. Disertasi ini dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Rudy Priyanto, Dr. Ir. Lucia Cyrilla E. N. S. D, M.Si., Dr. Ir. Bagus Priyo Purwanto, M.Agr., dan Dr. Windi Al Zahra, S.Pt., M.Si.


Riset & Kepakaran